NovelToon NovelToon
DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:987
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adik Tiri Tak Tau Diri

Di dalam kamar rawat inap kelas 1 itu, rahang Mas Brayen mengeras. Urat di pelipisnya muncul. Aku tahu betul, itu tanda Mas Brayen sedang menahan amarah yang sangat besar. Tatapannya yang dingin menusuk ke arah Ibu tiri dan Lalita.

Tapi Mas Brayen tidak terpancing. Ia justru memilih untuk melindungi ku.

"Maaf Ayah, saya pamit pulang ya," ucapnya dengan suara tetap hormat kepada Ayah, tapi tegas. "Ayah tidak perlu khawatir untuk biaya rumah sakit, semua nanti saya yang urus. Hari ini Isyana, istri saya, harus segera istirahat. Karena di hamil muda seperti ini kandungannya masih rawan, Ayah. Maaf ya Ayah, semoga lekas sembuh."

Ayah mengangguk dengan mata berkaca-kaca, "Hati-hati ya, Nak... Jaga Isyana..."

Dengan sigap, tanpa menunggu lama, Mas Brayen langsung mendudukkan ku di atas kursi roda yang sudah disiapkan suster. Gerakannya cepat, lembut, tapi sangat protektif. Seolah ia tidak ingin aku satu detik pun lebih lama menghirup udara yang sama dengan mereka.

Aku pun pamitan ke Ayah dan ke ibu tiriku sekilas, "Ayah, Isyana pulang dulu ya... Ibu, kami pamit." Aku sengaja tanpa menghiraukan perkataan Lalita yang tadi menyindir perutku. Aku sudah terlalu lelah untuk drama.

Sontak Lalita yang tadi masih pasang senyum genit pun menunduk malu karena diabaikan. Wajahnya merah menahan malu.

Dan saat Mas Brayen mendorong kursi rodaku melewati Lalita, ia berhenti sepersekian detik. Ia membungkuk sedikit, dan membisikkan kata-kata yang menusuk tepat di depan mukanya, dengan suara yang hanya bisa didengar Lalita dan aku.

"Jaga bicaramu, jangan sampai kau menyesal."

Kata-kata itu pelan, tapi dinginnya seperti es. Membuat Lalita mematung, wajahnya pucat pasi, tak berkata sepatah kata pun. Ia tahu, Brayen Wijaya tidak pernah main-main dengan ancamannya.

Kami pun keluar dari rumah sakit itu. Sampai di dalam mobil Alphard hitam, aku langsung pegang erat tangan Mas Brayen. Tangan ku masih gemetar. Mobil pun melaju dengan supir pribadi kami yang menjalankan nya dengan sangat hati-hati, karena tahu Nyonya sedang hamil.

Di dalam mobil yang hening, ku tatap mata tegas suamiku yang kini menatapku balik dengan lembut.

"Mas... terima kasih ya... tadi Mas sudah menenangkan Ayah dan melindungi ku dari Ibu dan Lalita," bisikku lirih.

Mas Brayen membalasnya bukan dengan kata-kata, tapi dengan kecupan yang sangat dalam dan lama di keningku. Kecupan yang membuat semua ketakutanku hilang.

"Itu kewajiban ku, Sayang," ucapnya sambil merentangkan tangannya, memberikan isyarat. "Sudah, jangan banyak pikiran. Tidurlah."

Aku pun menurut. Aku bersandar, kepala ku di pelukannya yang bidang dan hangat. Aroma parfumnya yang khas, aroma yang selalu membuatku candu selama di Bali, membuatku tenang. "Hmm... iya Mas..." Dan aku pun terlelap di pelukannya sepanjang perjalanan pulang.

Beberapa jam berlalu.

Aku terbangun karena AC kamar yang terlalu dingin. Perlahan aku membuka mata. Aku sudah ada di dalam kamar mewah Mas Brayen, yang sekarang menjadi kamar tidur kami berdua. Selimut tebal sudah menyelimuti tubuhku dan perutku. Lampu kamar diredupkan.

Aku lihat ke sekelilingnya. Kosong. Aku tidak menemukan suamiku.

Jantungku langsung berdegup kencang. Panik.

"Mas... Mas...?" panggilku khawatir, suaraku serak. Setelah sebulan di Bali, aku tidak percaya sedetik pun tanpa kehadiran Mas Brayen. Kemanapun aku melangkah, bayangannya selalu ada. Tapi saat ini tidak ada dia, kamar semewah ini serasa hampa dan sangat dingin. Aku takut. Aku takut ditinggal.

Lalu pintu kamar terbuka pelan. Bukan Mas Brayen, tapi Bibi Sumi masuk membawa segelas susu hamil hangat.

"Nyonya sudah bangun? Tadi Nyonya tertidur pulas sekali di mobil sampai digendong Tuan ke kamar," kata Bibi dengan senyum.

"Bi... Mas Brayen kemana, Bi?" tanyaku langsung, tidak peduli dengan susu itu.

"Tuan ada rapat Direksi mendadak langsung ke kantor, Nyonya. Tadi Tuan sudah 2 jam menunggu Nyonya bangun, tapi ditelepon terus dari kantor. Katanya ada masalah besar di proyek. Tuan berpesan, katanya sebentar saja, Nyonya tunggu saja ya... Jangan kemana-mana. Tuan tidak lama."

"Oh... iya Bi, makasih ya..."

Bibi pun keluar lagi. Aku sendirian lagi.

Aku mengelus perutku. "Dedek... Papa kemana ya, Dek? Mama kangen Papa..."

Aku mencoba untuk tidak overthinking. Aku tahu Mas Brayen adalah CEO, tanggung jawabnya besar. Tapi firasat seorang istri yang sedang hamil itu kuat sekali. Rapat mendadak setelah kita bertemu Lalita? Apakah ini ada hubungannya?

Aku mengambil hp ku. Ada 1 pesan WA masuk.

Bukan dari Mas Brayen. Tapi dari nomor tidak dikenal, dengan foto profil Lalita.

Isinya adalah foto. Foto Mas Brayen di lobi kantornya, dan Lalita sedang berdiri di sebelahnya sambil tersenyum genit, memegang lengan jas Mas Brayen.

Captionnya: _"Kak Isyana, Kak Brayen kerja keras banget ya. Aku kebetulan interview kerja di kantor Kak Brayen hari ini. Kak Brayen baik banget mau terima aku jadi sekretaris pribadinya. Doain ya Kak! ;)"_

_PRANGGG!!!_

Gelasku jatuh. Pecah.

Darahku mendidih! Jadi ini rapat direksi mendadak nya? Lalita? Sekretaris pribadi?

Air mataku tumpah deras. Hormon hamil membuatku semakin sensitif. Aku merasa dikhianati. Mas Brayen yang tadi membisikkan ancaman pada Lalita, sekarang malah berfoto dengannya?

Saat itu juga, pintu kamar terbuka dengan keras.

Mas Brayen masuk dengan jas yang sudah dilepas, dasinya longgar, wajahnya sangat lelah dan... marah.

"ISYANA!"

Aku kaget, menangis semakin kencang.

Mas Brayen langsung berlari, berlutut di depan ku, memeluk ku erat.

"Sayang, kamu lihat foto itu? Jangan percaya! Itu jebakan! Lalita datang ke kantor tanpa izin, dia memaksa masuk! Security sudah Mas pecat karena membiarkan dia masuk!"

Aku memukul dadanya pelan, "Tapi... tapi dia bilang mau jadi sekretaris pribadi Mas..."

"APA?!" Mas Brayen membelalakkan matanya, rahangnya kembali mengeras seperti di rumah sakit tadi, tapi kali ini lebih mengerikan. "Tidak akan pernah! Dengar ya, Sayang... Di dunia ini, hanya ada satu wanita yang boleh ada di dekat Mas, di kantor Mas, di hidup Mas. Itu kamu, Isyana. Dan calon anak kita. Tidak ada Lalita. Tidak ada wanita lain. Mengerti?"

Ia lalu mengambil hp ku, memblokir nomor Lalita dengan kasar, lalu membuang hp itu ke sofa.

"Mas sudah suruh HRD blacklist nama Lalita dan ibu tirimu dari semua perusahaan Mas. Mereka tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di gedung Mas lagi. Mas janji."

Aku masih sesenggukan di pelukannya.

Mas Brayen lalu mengangkat daguku, menatap mataku dalam-dalam.

"Sekarang, tarik nafas... Hamilnya tidak boleh stres. Ingat kata Dr. Ayu? Kalau kamu stres, Mas yang paling sakit."

Dan malam itu, Mas Brayen tidak pergi lagi. Ia membatalkan semua rapatnya. Ia hanya memelukku di atas ranjang, mengelus perutku semalaman, memastikan aku dan calon anak kami baik-baik saja, sambil terus berbisik, "Mas di sini... Mas tidak kemana-mana..."

---Bersambung---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!