NovelToon NovelToon
BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.

Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.

Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.

Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Suasana desa pagi itu terlihat sangat berbeda dari pagi-pagi biasanya.

Banyak warga desa yang berkerumun di halaman depan gubuk kayu milik keluarga Arga.

Suara bisik-bisik dan gumaman cemas terdengar bersahut-sahutan dari mulut orang-orang di kerumunan tersebut.

"Kenapa banyak orang berkumpul di depan rumah kita, Ayah?"

Natasya menarik ujung baju ayahnya dengan perasaan was-was yang tiba-tiba muncul.

"Apa terjadi sesuatu yang buruk pada Ibu saat kita pergi?"

Arga tidak menjawab pertanyaan itu dan langsung mempercepat langkah kakinya menembus jalanan desa.

"Permisi, tolong beri aku jalan untuk masuk."

Arga mendorong tubuh beberapa warga dengan paksa agar bisa merangsek masuk ke halaman rumahnya sendiri.

"Lihat itu, Arga sudah pulang dari pelariannya."

Bu Rini yang berdiri di barisan paling depan berteriak dengan nada suara yang sangat nyaring dan menyebalkan.

"Dari mana saja kau menghilang semalaman ini, Arga?"

Bu Rini melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut wajah mencemooh.

"Istrimu sedang sekarat di dalam tapi kau dan anak pungutmu malah menghilang entah ke mana."

"Apa kau lari ke desa sebelah karena tidak mau mengurus biaya pemakaman istrimu nanti?"

"Tutup mulut kotor itu atau aku benar-benar akan memotong lidahmu sekarang juga, Bu Rini."

Arga menatap wanita paruh baya itu dengan sorot mata membunuh yang sangat tajam dan tidak main-main.

Tatapan mengerikan dari pria yang baru saja mempertaruhkan nyawa di Hutan Larangan itu sukses membuat nyali Bu Rini menciut.

Bu Rini langsung mundur ketakutan dengan wajah pucat dan bersembunyi di belakang punggung suaminya.

"Awas saja kau nanti, Arga."

Wanita itu menggerutu pelan tanpa suara dan tidak berani menatap mata Arga lagi.

Brak.

Arga menendang pintu rumahnya hingga terbuka kasar dan langsung berlari masuk ke dalam ruangan tengah.

Ruangan sempit itu terasa sangat pengap dan dipenuhi oleh aroma pahit dari obat-obatan herbal yang direbus.

Di atas ranjang bambu yang berderit, Mira terbaring tak bergerak dengan wajah yang sudah memutih seperti kertas kosong.

Napas wanita malang itu terdengar sangat lambat dan halus, bahkan hampir tidak terdengar sama sekali.

Tabib Karta duduk di kursi kayu tepat di samping ranjang dengan raut wajah yang sangat muram dan pasrah.

"Bagaimana keadaan istriku saat ini, Tabib Karta?"

Arga langsung menjatuhkan lututnya di samping ranjang dan menggenggam tangan istrinya yang terasa sedingin es.

"Mira belum meninggal kan?"

Tabib Karta menggelengkan kepalanya perlahan dengan tatapan penuh penyesalan ke arah Arga.

"Denyut nadinya sudah sangat lemah dan hampir hilang, Arga."

"Racun demam darah itu sudah menyebar merusak seluruh tubuhnya dan waktu yang dia miliki tinggal menghitung menit."

"Aku minta maaf sebesar-besarnya, tapi ramuan akarku sudah tidak bisa menahan penyebaran racunnya lagi."

Tabib tua itu menepuk bahu Arga dengan pelan untuk mencoba memberikan penghiburan terakhir.

"Sebaiknya kau ikhlaskan kepergian istrimu dan mulai bacakan doa untuk ketenangannya."

"Ibu tidak boleh pergi ke mana-mana."

Natasya tiba-tiba menyeruak masuk membelah kesunyian ruangan dan berdiri tepat di samping ayahnya.

"Aku dan ayah sudah membawa obat yang Tabib sebutkan semalam."

Tabib Karta menatap gadis kecil yang seluruh pakaiannya dipenuhi lumpur hitam berbau busuk itu dengan kening berkerut heran.

"Obat apa yang kalian maksudkan ini, Natasya?"

"Sudah kubilang obatnya hanya Bunga Teratai Merah di Hutan Larangan, dan tidak mungkin manusia biasa bisa mendapatkannya hanya dalam semalam."

Natasya tidak mempedulikan omongan keraguan dari tabib tersebut dan langsung merogoh kantong celananya.

Gadis kecil itu mengeluarkan botol bambu berukuran kecil dan membuka tutup gabusnya dengan gerakan cepat.

"Aku sudah berhasil mengambil sari embun dari bunga teratai merah itu."

Cahaya merah keemasan tiba-tiba memancar lembut keluar dari dalam lubang botol bambu tersebut.

Cahaya hangat itu menerangi ruangan sempit yang tadinya gelap gulita dan membuat Tabib Karta terbelalak sangat kaget.

"Itu benar-benar memancarkan aura kemurnian mutlak dari Bunga Teratai Merah pelenyap racun."

Tabib tua itu langsung melompat berdiri dari kursinya dengan kedua tangan gemetar hebat tidak percaya melihat hal itu.

"Cepat minumkan embun ajaib itu ke mulutnya sekarang juga, Natasya."

Arga menahan posisi kepala istrinya agar sedikit terangkat dan membuka rahang Mira secara perlahan.

"Waktu ibumu benar-benar sudah tidak banyak lagi."

Natasya melangkah maju dan memiringkan botol bambu itu tepat di atas mulut ibunya yang terbuka.

Tes.

Setetes embun yang bersinar kemerahan itu jatuh menetes tepat menimpa lidah pucat Mira.

Begitu menyentuh permukaan lidah, tetesan embun itu langsung melebur menjadi cahaya yang mengalir masuk ke dalam tenggorokannya.

Suasana di dalam ruangan berbau obat itu mendadak menjadi sangat sunyi dan kaku.

Arga menahan tarikan napasnya sambil terus menatap lekat wajah istrinya dengan perasaan penuh harap.

Natasya menggenggam telapak tangan kiri ibunya erat-erat sambil memejamkan mata memanjatkan doa kesembuhan.

Satu menit penuh berlalu begitu saja tanpa ada perubahan fisik yang terjadi pada tubuh Mira.

"Kenapa obat ajaib ini belum bereaksi sedikitpun, Tabib?"

Arga bertanya dengan suara serak menatap pria tua berjanggut putih di sebelahnya.

"Berikan waktu sedikit lagi, embun suci itu butuh waktu untuk membersihkan darah beracun di seluruh pembuluh darahnya."

Tabib Karta menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari pergerakan dada Mira.

"Aku sendiri belum pernah melihat langsung efek dari embun ini, jadi kita berdua hanya bisa menunggunya bekerja."

Tiba-tiba, suhu tubuh Mira yang tadinya sedingin mayat mulai berangsur-angsur terasa hangat di dalam genggaman Natasya.

"Tangan Ibu sudah mulai terasa hangat, Ayah."

Natasya membuka matanya dengan cepat dan berseru girang merasakan perubahan positif tersebut.

Warna pucat pasi di kulit wajah Mira perlahan mulai memudar digantikan oleh rona merah darah yang sehat.

Napasnya yang tadinya tersengal-sengal dan pendek kini berubah menjadi tarikan napas panjang yang teratur dan sangat tenang.

Garis-garis kehitaman keracunan di sekitar urat lehernya terlihat memudar dan menghilang perlahan seperti terhapus oleh kekuatan sihir.

Ukh.

Mira tiba-tiba terbatuk kecil dan perlahan membuka kedua kelopak matanya yang sejak semalam tertutup rapat.

Mata wanita paruh baya itu mengerjap beberapa kali mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu minyak di dalam ruangan.

"Mas Arga?"

Suara Mira terdengar masih agak serak dan pelan, namun cukup jelas untuk menembus telinga semua orang di ruangan itu.

"Kenapa aku terbaring lemas di sini dan kenapa kalian berdua menangis seperti itu?"

"Mira."

Arga langsung memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat sambil menangis tersedu-sedu meluapkan perasaannya.

Pria kekar yang semalaman tak kenal takut menghadapi monster Hutan Larangan itu kini menangis lepas layaknya anak kecil.

"Syukurlah kamu kembali hidup padaku, Mira."

"Ibu akhirnya sudah sembuh."

Natasya ikut memeluk ibunya dari arah samping dan membenamkan wajah kotornya di lengan Mira.

"Aku sangat takut kalau Ibu akan benar-benar meninggalkan Natasya sendirian di dunia ini."

Mira yang pikirannya masih dilanda kebingungan hanya bisa membalas pelukan suami dan anak perempuannya itu dengan senyuman yang lemah.

"Ibu tidak akan pergi meninggalkan kalian berdua ke mana pun, sayang."

"Tapi kenapa baju kalian berdua sangat kotor dan bau lumpur busuk seperti ini?"

"Itu adalah cerita petualangan yang sangat panjang untuk dijelaskan sekarang, Mira."

Arga melepaskan pelukannya dan mengusap sisa air mata di pipi istrinya dengan gerakan yang sangat lembut.

"Yang paling penting saat ini adalah kamu sudah sehat dan benar-benar selamat dari penyakit demam darah itu."

Tabib Karta maju selangkah dan mulai memeriksa kembali denyut nadi pergelangan tangan Mira dengan saksama.

Senyuman lebar kelegaan mengembang di wajah keriput pria tua itu setelah beberapa saat berkonsentrasi.

"Ini benar-benar sebuah keajaiban yang belum pernah tercatat dalam sejarah pengobatan desa."

Tabib Karta menatap Arga dan Natasya secara bergantian dengan pandangan rasa hormat dan takjub yang luar biasa.

"Aliran darahnya sudah benar-benar bersih sempurna dan dia sehat seperti sedia kala tanpa meninggalkan cacat sedikitpun."

Berita tentang kesembuhan instan Mira seketika menyebar ke luar rumah dari mulut para warga.

Warga desa yang tadinya berkumpul bersiap untuk melayat kini saling berbisik takjub dan tidak percaya dengan pendengaran mereka.

Bagaimana mungkin penyakit mematikan seperti demam darah yang mewabah bisa disembuhkan dalam hitungan menit saja?

"Keluarga Arga pasti telah menggunakan praktik ilmu hitam pesugihan untuk menyembuhkan penyakit mengerikan itu."

Bu Rini kembali berbisik menyebarkan fitnah ke telinga tetangga di sebelahnya dengan raut wajah yang dipenuhi rasa iri.

"Atau jangan-jangan anak angkat yang mereka temukan di batas Hutan Larangan itu memang benar-benar benih penyihir pembawa sial."

Tanpa pernah mereka sadari sebelumnya, keajaiban yang baru saja menyelamatkan nyawa Mira juga membawa sebuah masalah sosial yang baru.

Rumor tentang kesembuhan instan dan ajaib itu mulai menjadi benih perbincangan liar yang perlahan akan merubah nasib desa miskin tersebut.

Dan di tengah kebahagiaan keluarga kecil yang kembali utuh itu, eksistensi kekuatan Natasya mulai memancing perhatian dari dunia luar.

1
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Fauziah Daud
mantap Natasha 👍👍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!