Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Pagi setelah Perjamuan Bulan Purnama terasa seperti pagi yang salah.
Kayna terbangun di dipan kecilnya di kamar batu pualam, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Tubuhnya terasa pegal-pegal akibat berguling di lantai marmer dan tertimpa debu kristal. Tapi yang lebih parah adalah rasa aneh di dadanya. Rasa hangat yang tidak ia inginkan.
Jangan berpikir tentang itu, batin Kayna, duduk dengan kasar.
Jangan berpikir tentang bagaimana Adrian menangis di bahumu. Jangan berpikir tentang bagaimana dia memanggil namamu. Itu semua tidak penting. Yang penting adalah: hukuman matimu dibatalkan, dan kau harus mencari cara baru untuk mati.
Ia bangkit dari dipan, berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan. Wajah yang menatapnya kembali adalah wajah Kayla von Ardent yang cantik, angkuh, dengan mata yang biasanya penuh kebencian. Tapi sekarang, mata itu terlihat... lelah. Dan ada sesuatu yang lembut di sana yang tidak seharusnya ada.
"Kau lemah, Kayna," gumam Kayna pada pantulannya sendiri. "Dua puluh tahun disiksa oleh ayahmu, dan kau hampir menangis hanya karena seorang pria memelukmu. Memalukan."
Pintu kamar berderit terbuka. Rosa masuk dengan nampan sarapan, diikuti oleh Adrian yang sudah berpakaian rapi dalam seragam hitamnya. Wajah Adrian kembali dingin dan tidak terbaca, tapi Kayna memperhatikan bahwa pria itu tidak membawa pedangnya hari ini.
"Selamat pagi, Nona Kayla," ucap Rosa dengan suara yang sedikit lebih stabil dari biasanya. "Sarapan Anda."
Adrian duduk di kursinya, menatap Kayna dengan tatapan yang intens. "Tidurmu nyenyak?"
"Tidak," jawab Kayna datar, duduk di kursinya sendiri. "Aku bermimpi tentang lampu gantung yang mengejarku. Sangat mengganggu."
Adrian hampir tersenyum. "Mimpi yang buruk memang sering terjadi setelah trauma."
"Itu bukan trauma, itu kegagalan," koreksi Kayna, menatap piring sarapannya. Di atas piring itu ada roti panggang yang kini Kayna tatap dengan curiga, telur rebus, dan secangkir teh hangat.
Teh, Teh panas. Jika aku menuangkannya ke wajahku, aku bisa merusak kulitku cukup parah untuk menyebabkan infeksi. Atau... jika aku minum cukup banyak, aku bisa tenggelam di dalam cangkir sendiri. Tidak, itu tidak mungkin. Cangkirnya terlalu kecil.
Kayna meraih cangkir teh, menatap cairan cokelat di dalamnya dengan tatapan kalkulatif.
"Jangan," ucap Adrian tiba-tiba.
Kayna mendongak. "Apa?"
"Kau sedang memikirkan cara melukai dirimu dengan teh itu, bukan?" Adrian menatapnya dengan tatapan yang terlalu tajam. "Jangan mencoba menumpahkannya ke wajahmu. Atau meminumnya sampai tenggelam. Atau apapun yang ada di pikiranmu."
"Aku tidak..."
"Kau menatap cangkir itu seperti sedang menghitung volumenya," potong Adrian. "Minumlah seperti orang normal. Dan makan rotimu. Aku akan mengawasimu."
Kayna menggeram pelan, lalu mengambil sepotong roti. Ia menggigitnya dengan kesal, mengunyahnya dua puluh kali seperti yang diperintahkan Adrian, lalu menelannya dengan teh.
"Bagus," ucap Adrian, seolah sedang memberi nilai pada anak kecil. "Sekarang telurmu."
Kayna menatap telur rebus itu. Telur rebus. Jika aku menelannya bulat-bulat, aku bisa tersedak lagi. Tapi Adrian pasti akan melakukan Heimlich maneuver lagi. Menjijikkan.
Dengan napas berat, Kayna mengupas telur itu, memotongnya kecil-kecil dengan garpu yang untungnya tidak tajam, dan memakannya satu per satu.
Adrian mengawasi setiap gerakannya dengan mata elang. Tapi ada sesuatu yang berbeda hari ini. Tatapannya tidak hanya waspada tapi tatapannya... lembut. Dan itu membuat Kayna semakin kesal.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Kayna akhirnya, meletakkan garpunya.
"Seperti apa?"
"Seperti... seperti aku adalah makhluk asing yang menarik untuk dipelajari."
Adrian terdiam sejenak. Lalu, dengan suara yang pelan, ia berkata: "Aku sedang mencoba memahami siapa kau sebenarnya, Kayna."
Kayna membeku. Garpu di tangannya hampir jatuh. "Kau... kau tidak boleh memanggilku seperti itu."
"Kenapa tidak?"
"Karena itu bukan namaku! Namaku Kayla! Kayla von Ardent!"
"Kau mengigaukannya," ulang Adrian tenang. "Kau berkata, 'Semoga di kehidupan selanjutnya, aku bisa menjadi anak yang dicintai.' Dan kau menyebut dirimu Kayna. Siapa Kayna?"
..gagal terus🤣