Satu Atap Bersama Mantan
Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.
Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.
Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.
Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.
Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Langkah Tergesa
Hari Pernikahan pun tiba.
Pagi itu, di kediaman Hermawan diubah menjadi sebuah area berkeamanan tingkat tinggi.
Udara dingin dari mesin pendingin ruangan beradu dengan aroma bunga melati dan mawar putih yang merebak di setiap sudut ruangan.
Di luar, puluhan pria dengan setelan jas hitam tampak bersiaga dengan earpiece menempel di telinga, memastikan tidak ada satu pun media, penyusup, atau bahkan tamu tanpa undangan khusus yang bisa melangkah masuk.
Di dalam ruang rias, Aira duduk kaku di depan cermin.
Dua orang MUA sibuk memoleskan riasan terakhir di wajahnya, sementara seorang perancang busana sibuk membetulkan gaun yang melekat sempurna di tubuhnya.
Rambut hitamnya disanggul anggun dengan hiasan roncean melati yang menjuntai halus di bahunya.
Aira tampak sangat cantik. Kecantikan yang sanggup membuat siapapun menahan napas.
Tapi raut di wajah itu? Murni penderitaan.
"Kak Aira, senyum dikit dong... masa calon pengantin tercantik se-Jakarta mukanya tegang banget kayak mau ikut ujian CPNS?" goda MUA wanita yang memegang kuas blush on.
Aira cuma bisa memaksakan senyum tipis yang amat sangat palsu. "Lagi deg-degan aja, Kak..."
Deg-degan murni karena panik mau kabur, tambah Aira dalam hati.
Jantung Aira berdetak sangat cepat. Tangannya yang memangku tas genggam kecil berisi paspor, perhiasan emas, dan sisa uang tunainya makin dingin.
Di balik gaunnya, ia menyembunyikan sebuah sepatu flat cadangan agar bisa berlari cepat begitu berhasil keluar dari ruangan ini.
Pintu ruang rias terbuka pelan. Sandy masuk dengan gaun bridesmaid. Matanya langsung menangkap tatapan Aira lewat cermin. Sandy melempar tatapan cemas yang seolah bilang, Lu beneran mau nekat kabur, Ra?
Aira memberi isyarat kedipan mata yang sangat jelas: Jadi. Pokoknya harus jadi.
"Kakak-kakak sekalian, maaf ya," Sandy memotong pembicaraan dengan suara yang dibuat sehalus mungkin pada tim MUA dan perancang. "Tante Maya tadi minta tolong dicek dekorasi bunga di meja akad bawah. Katanya ada yang kurang simetris."
Perancang busana itu menepuk jidatnya pelan. "Oh iya? Ya ampun, saya cek ke bawah sebentar ya. Kak Aira, duduk manis dulu, jangan banyak gerak biar gaunnya gak kusut."
"Iya, Kak, santai aja," sahut Aira kooperatif.
Begitu tim rias dan perancang itu melangkah keluar dan menutup pintu, Aira langsung melompat dari kursinya. Ia menendang heels delapan sentimeternya ke kolong meja, lalu dengan cepat merogoh flatshoes dari balik lipatan gaun dan memakainya.
"Ra! Lu beneran mau gila?!" Sandy menahan lengan Aira, matanya hampir melompat keluar. "Di luar itu pengawal Om Surya rame banget! Lu yakin mau terobos?!"
"Gue gak akan terobos pintu depan, goblok!" bisik Aira panik, sibuk mengaitkan tali flatshoes-nya. "Gue bakal lewat pintu akses staf di lorong samping! Di situ ada tangga darurat yang langsung tembus ke area parkir belakang tempat mobil lu!"
"Kalau ketahuan gimana?!"
"Gak bakal! Fokus mereka kan di ruang utama!" Aira memegang kedua bahu Sandy, menatap sahabatnya itu dengan mata berbinar. "Sandy, lu langsung jalan ke parkiran sekarang. Nyalain mesin mobil lu. Begitu gue keluar dari pintu belakang, gue langsung masuk!"
Sandy mengusap dadanya yang berdebar kencang, memasrahkan diri pada takdir. "Ya Tuhan, lindungi gue dari amukan Om Surya... Ya udah, gue jalan duluan ke parkiran. Jangan sampai ketahuan, Ra!"
"Sip! Wish me luck!"
Sandy menyelinap keluar pintu lebih dulu. Aira menanti sekitar tiga puluh detik, memastikan koridor di depan ruang rias sepi. Setelah merasa aman, ia mengangkat sedikit bagian bawah gaunnya yang berat, memegang tas genggamnya erat-erat, lalu membuka pintu perlahan.
Klek.
Koridor lantai dua tampak lengang. Keberuntungan tampaknya sedang memihak Aira. Suara riuh acara di lantai bawah terdengar sayup-sayup, menandakan bahwa perhatian semua orang sedang terpusat ke sana.
Aira menghembuskan napas lega, lalu mulai berjalan setengah berjinjit menyusuri koridor. Langkah kakinya dipercepat. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Tinggal sepuluh meter lagi menuju pintu darurat bertuliskan EXIT warna hijau di ujung lorong. Hati Aira sudah melonjak kegirangan. Bebas! Gue beneran bakal bebas dari pernikahan gila ini!
Namun, hukum karma tampaknya bekerja lebih cepat dari yang dibayangkan.
Tepat saat Aira berjarak lima langkah dari pintu EXIT, suara langkah kaki berdentum keras dari arah tangga darurat. Sebelum Aira sempat berbalik buat sembunyi, pintu EXIT terdorong terbuka dari luar.
Dua orang pengawal pribadi berbadan tegap dan berotot besar—lengkap dengan setelan jas hitam dan earpiece—melangkah masuk.
Langkah Aira terhenti seketika. Matanya membelalak sempurna.
Dua pengawal itu juga ikut berhenti. Mereka menatap Aira dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Suasana mendadak hening seketika. Suara napas Aira terdengar memburu.
"M... Mbak Aira?" salah satu pengawal yang berkepala botak menatapnya bingung. "Mbak Aira ngapain di lorong service? Acara akad nikah kan ada di bawah."
Otak Aira berputar kencang mencari alasan paling masuk akal di muka bumi. "E-eh... ini! Anu, Pak! Saya... saya lagi cari toilet!"
Pengawal satunya yang bermuka rata menunjuk ke arah belakang Aira. "Mbak, toilet VIP kan ada di dalam ruang rias Mbak Aira sendiri."
Aduh, bego banget gue! maki Aira dalam hati.
"Maksud saya... toiletnya mampet!" sergah Aira panik, mencoba berakting meyakinkan sambil memegangi perutnya. "Iya! Mampet banget! Makanya saya mau cari toilet staf di bawah lewat tangga darurat!"
Pengawal berkepala botak itu memiringkan kepalanya, lalu menyentuh earpiece di telinganya. "Maaf, Mbak Aira. Bapak Surya Hermawan sudah memberi instruksi ketat. Seluruh akses tangga darurat ditutup untuk umum demi keamanan. Mari saya antar Mbak kembali ke ruang rias."
"Nggak mau!" Aira mundur dua langkah, memeluk tasnya erat-erat. Gengsi dan rasa frustrasinya meledak. "Saya mau ke toilet! Bapak nggak usah mengatur-ngatur saya ya!"
Tanpa pikir panjang lagi, Aira nekat memutar badan dan berlari kencang kembali menyusuri koridor, berniat memutar lewat tangga tengah.
"Mbak Aira! Jangan lari, Mbak!" teriak pengawal itu panik.
Suara kejar-kejaran tak terelakkan. Biarpun memakai flatshoes, gaun dan ekor kainnya yang panjang sangat menghambat pergerakan Aira. Ia berlari bagai kesurupan, napasnya tersengal-sengal, ronce melatinya sampai terlepas sebagian dan jatuh ke lantai.
Aira berbelok di persimpangan lorong utama, berharap bisa langsung menuju balkon atau ruang Santorini di ujung lorong yang sepi buat bersembunyi. Tapi begitu sampai di persimpangan...
"Aira?!"
Suara melengking Maya Hermawan memotong langkahnya. Di depan tangga utama, Mami Maya, Papi Surya, dan beberapa panitia WO sedang berdiri dengan wajah kaget luar biasa.
Aira mengeram pelan. Apes banget gue hari ini!
"Aira Calista! Kamu ngapain lari-larian begitu?!" bentak Papi Surya dengan suara menggelegar, matanya menatap tajam ke arah sepatu flat yang melekat di kaki Aira. "Mana heels kamu?! Kenapa kamu ada di lorong luar?!"
Dua pengawal tadi akhirnya sampai, berdiri di belakang Aira sambil terengah-engah. "Maaf, Pak Surya... Mbak Aira tadi mencoba lewat tangga darurat."
Mata Papi Surya makin membelalak murka. "Kamu... kamu mau kabur, Aira?!"
Aira yang merasa terpojok akhirnya tidak bisa menahan rasa frustrasinya lagi. Ia berdiri tegak, membusungkan dadanya meski napasnya masih ngos-ngosan.
"Iya! Aira emang mau kabur!" teriak Aira lantang, membuat beberapa panitia WO di sekitar sana langsung menunduk takut. "Aira gak mau nikah sama orang asing! Papi jahat banget maksa Aira kayak gini! Aira benci Papi!"
"Aira! Jaga bicara kamu!" potong Mami Maya sambil memegangi dadanya yang kaget.
"Papi nggak peduli kamu benci Papi atau enggak!" ancam Papi Surya, melangkah mendekati Aira dengan aura mengintimidasi yang sangat kuat. "Hari ini kamu TETAP harus nikah! Jangan bikin malu keluarga Hermawan di depan keluarga Argawinata!"
Surya memberi kode pada dua pengawal itu. "Pegang tangan dia. Bawa dia ke ruang privat Santorini di ujung lorong. Kunci pintunya dari luar sampai pengantin pria siap!"
"Papi! Lepasin! Jangan sentuh Aira!" jerit Aira histeris saat kedua pengawal tegap itu memegang kedua lengannya dengan mantap namun tetap hati-hati agar tidak melukai kulitnya.
"Lepasin nggak?! Aira aduin ke polisi ya! Ini penculikan!" Aira memberontak, menendang-nendang kakinya ke udara.
Tapi tenaga Aira jelas bukan tandingan dua pria berotot itu. Dengan mudah, mereka memapah Aira yang terus mengamuk dan menjerit menyusuri lorong menuju ruangan paling ujung.
Brak!
Aira didorong masuk ke dalam ruangan Santorini yang remang-remang itu. Pintu langsung ditutup dari luar.
Klek.
Suara kunci diputar dari luar terdengar begitu menyakitkan di telinga Aira.
"Papi! Buka pintunya! Aira nggak mau nikah! BUKA!" Aira menggedor-gedor pintu itu dengan kedua telapak tangannya sampai terasa panas dan perih.
Tidak ada balasan dari luar. Hanya suara langkah kaki orang-orang yang menjauh.
Aira merosot jatuh di depan pintu. Napasnya memburu, matanya sembab oleh air mata dan rencana kaburnya berantakan.
Ia terduduk di lantai, mengusap matanya yang basah dengan kedua tangan.
"Gue benci hidup gue..." tangis Aira pecah di dalam ruangan yang sunyi itu. "Gue benci Papi... gue benci perjodohan gila ini..."
Ia tidak menyadari, bahwa di dalam ruangan itu, ia sama sekali tidak sendirian. Ada seseorang yang sejak tadi berdiri di dekat balkon, memperhatikan setiap detik kehebohan dan jeritan keputusasaannya dengan tatapan mata yang teramat dalam.
semangat thorr💪💪😍
siapa ya yang di ruangan itu🤔