**Surat Terakhir Bapak**
*Ada rahasia yang dikubur bersama Bapak. Dan ada yang sudah lama menunggu untuk digali.*
Tiga hari setelah pemakaman Hartono, keluarganya berkumpul untuk mendengar surat wasiat. Harta dibagi rapi, seperti sifat Bapak yang selalu teliti. Tapi di balik segel lilin merah, ada satu pengakuan yang meruntuhkan segalanya: Bapak punya anak lain, seorang pemuda bernama Dimas.
Laras, sulung yang dua belas tahun lari ke Jakarta, harus menghadapi kenyataan bahwa kecurigaannya dulu benar. Bima, yang menjaga toko dan keluarga seorang diri, tak sanggup menerima orang asing berwajah Bapak. Sekar, si bungsu, kehilangan sosok ayah yang ia kira ia kenal. Dan Ibu, yang paling tenang di antara semuanya, ternyata sudah tahu sejak awal.
Ketika satu per satu kebenaran terbuka, mereka sadar luka terbesar bukan pada apa yang Bapak sembunyikan, tapi pada siapa saja yang ikut diam selama dua puluh tiga tahun.
*Surat Terakhir Bapak* adalah kisah tentang pengkhianatan, pengampunan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachman Santoso, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suster Sri
Haryo sudah di pintu sebelum gordennya selesai bergerak.
Ia tidak menarik senjata. Ia hanya berdiri di ambang dengan dua tangan terbuka dan badan menutupi seluruh bukaan, seperti dinding. "Keluar," katanya ke arah dalam rumah. "Pelan-pelan, dan tangan kelihatan."
Kain gorden lusuh itu tersingkap oleh jari-jari yang keriput di sendi. Seorang perempuan lima puluhan melangkah keluar ke cahaya beranda. Tubuhnya gemuk dan pendek, kerudung krem terikat rapi di bawah dagu, tas jinjing hitam tergantung di lengan kiri. Wajahnya bulat dan lembut, wajah yang biasa dilihat orang di ruang tunggu rumah sakit, yang selalu bertanya *sudah makan belum, Pak?* sebelum menyuntik.
Dokter Pramono yang bereaksi lebih dulu. Map birunya jatuh ke tanah.
"Suster Sri?"
Perempuan itu tersenyum kecil pada dokter, senyum minta maaf yang sangat terlatih. "Dokter. Maaf, Dokter tidak tahu saya ikut. Tadi saya menumpang di mobil belakang."
"Kamu ... kamu perawat saya di poli onkologi," kata Dokter Pramono, suaranya naik. "Tiga belas tahun. Kamu yang menyiapkan kartu rekam medis Pak Hartono."
"Iya, Dok."
"Kamu yang menerima telepon-telepon itu."
Sri tidak menjawab. Matanya tidak lagi tertuju pada dokter. Ia memandang Ibu, dan wajah bulatnya perlahan kehilangan kehangatan, seperti lilin yang tersiram udara dingin.
"Wulan," katanya. "Lama sekali."
---
Ibu mundur setengah langkah. Hanya setengah, tetapi Laras melihatnya, dan itu sudah cukup untuk membuat dadanya sesak.
"Sri?" bisik Ibu. "Sriwahyuni?"
"Akhirnya kamu ingat namaku."
"Kamu ... anaknya Budhe Sumi."
"Anak kandungnya," ralat Sri, dan kata *kandung* diucapkannya lebih tajam dari yang lain. "Satu-satunya. Walau selama dua puluh tahun Ibuku lebih sering memanggil namamu daripada namaku."
Laras memandang Ibu. Wajah perempuan itu pucat, tetapi tidak terkejut. Ada sesuatu yang lain di sana, lebih tua dan lebih letih: rasa bersalah yang sudah lama tahu alamatnya sendiri.
"Waktu Bapak dan Ibu kalian meninggal," Sri mulai, kepada semua orang, nada suaranya datar seperti membaca berita, "Ibuku mengambil Wulan ke rumah. Aku sepuluh tahun waktu itu. Aku senang. Aku pikir aku akan punya kakak."
"Sri ..." panggil Ibu.
"Tapi Ibuku tidak pernah memandangku lagi sejak hari itu." Sri tersenyum, dan senyum itu lebih menakutkan daripada amarah. "Wulan yang pintar. Wulan yang rapi. Wulan yang bicara sopan, *Mbak, mohon, ya*. Ibuku menyuruhku meniru caranya bicara supaya aku 'tidak kasar seperti anak kampung'. Aku latihan di depan cermin sampai suaraku sama persis."
Laras merasakan sesuatu jatuh di perutnya.
"Itu yang di rekaman," gumamnya.
"Empat puluh dua detik." Sri mengangguk pada Dokter Pramono. "Bagus, kan, Dok? Tak seorang pun dalam klinik curiga. Resepsionis cuma bilang, 'Bu Wulan suaranya lembut ya.'"
"Kenapa?" Suara Dokter Pramono pecah. "Kenapa kamu lakukan itu pada pasien saya?"
"Karena saya diminta."
"Oleh siapa?" Dewi sudah di tangga paling atas, satu tangan di jaket.
Sri tidak menjawab Dewi. Ia menatap Darmawan, yang selama ini duduk di kursi bambunya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Bukan beliau," ucap Sri. "Mas Darmawan tidak pernah menyentuh saya sampai tiga bulan lalu. Dia cuma menelepon dan bertanya apakah saya benar kerja di klinik yang merawat Hartono. Itu saja."
"Kalau bukan dia?" tanya Laras.
"Tanyakan pada ibumu." Sri mengangkat dagu ke arah Ibu. "Tanyakan apa yang dia janjikan pada Ibuku waktu Ibuku sekarat, di kamar tidur rumah Cilacap, tahun dua ribu tiga belas."
---
Semua mata tertuju pada Ibu.
Ibu berdiri kaku, dua tangan menggenggam tali tasnya sampai buku jarinya memutih. Laras tidak pernah melihat Ibu setakut ini bahkan di depan Darmawan. Kali ini yang ia hadapi bukan musuh. Ia menghadapi utang paling tua yang pernah ia simpan.
"Aku berjanji menjaga rumah itu," kata Ibu, dengan suara yang nyaris tak keluar. "Untukmu."
"Dan?"
"Dan aku menjualnya."
"Tahun dua ribu lima belas." Sri mengangguk. "Dua tahun setelah Ibuku dimakamkan. Kamu jual ke developer, dengan harga murah karena butuh uang cepat. Aku baru tahu setelah pulang dari Arab Saudi dan menemukan rumah masa kecilku sudah jadi lahan parkir."
"Bapak butuh uang untuk bayar Darmawan," bisik Ibu. "Bulan itu tagihannya naik tiga kali lipat. Aku tidak punya pilihan."
"Pilihan selalu ada, Wulan." Sri menarik napas dalam. "Kamu bisa menelepon. Kamu bisa bilang, 'Sri, aku butuh bantuan'. Aku akan membantu. Aku keluargamu."
"Aku malu."
"Kamu malu pada seorang yang sudah kamu tinggalkan di Cilacap selama tiga puluh tahun?" Suara Sri akhirnya pecah, dan untuk pertama kalinya Laras mendengar bukan dendam tetapi sakit yang sudah terlalu lama dibiarkan membusuk. "Kamu tidak pernah menjenguk Ibuku sekali pun di tahun terakhirnya. Aku yang mengurus semuanya. Aku yang memandikannya. Dan di detik terakhir, kamu tahu apa yang dia sebut?"
Ibu tidak menjawab.
"*Wulan, Wulan, Wulan.*" Sri tertawa pendek, serak. "Tiga kali. Bukan namaku."
Hening. Angin menggoyang daun pinus di kejauhan. Kardi menunduk, topinya menutup matanya, dan Haryo bergeser sedikit mendekat pada Ibu, tanpa berkata apa-apa.
"Aku minta maaf," ucap Ibu. Kalimat itu keluar sendiri, kecil dan tulus. "Tapi kamu tidak membunuh Hartono untuk membalasku."
"Siapa bilang aku membunuh?"
Laras tersentak. Dewi, di tangga atas, mengangkat alis.
"Kamu mengganti kapsulnya," kata Dewi.
"Kapsul itu bukan racun." Sri membuka tas jinjingnya dengan tenang, mengeluarkan sebuah botol cokelat kecil, dan meletakkannya di meja bambu di samping teko seng. Tidak ada label. "Itu pil gula. Plasebo. Aku menukar obat Hartono dengan ini dua minggu sebelum dia meninggal."
"Kenapa?" tanya Dokter Pramono, hampir tak terdengar.
"Karena obat aslinya sudah tidak bekerja." Sri menatapnya. "Dokter ingat hasil lab bulan Maret? Kanker pankreasnya menyebar ke hati. Kemoterapi tidak lagi membantu, dan dosis morfin yang Dokter resepkan membuatnya muntah dan kejang. Aku melihatnya dari ruang perawat. Setiap malam dia menahan sakit supaya tidak mengganggu Wulan."
"Kamu ... kamu mengganti morfinnya?" Dokter pucat.
"Dengan dosis lebih rendah, ya. Dan sisanya plasebo, supaya dia masih merasa diobati." Sri menunduk. "Aku tidak membunuhnya. Aku memberinya enam minggu terakhir yang tidak berisi sakit."
Dimas menarik napas dalam-dalam. Sekar tidak di sana, tetapi Laras membayangkan wajahnya. Wajah yang akan menangis dan marah dan lega dalam waktu bersamaan.
"Tapi kapsul abu-abu itu ..." gumam Laras. "Dewi bilang itu tanda kapsul dibuka ulang."
"Itu aku." Sri mengangguk. "Dan hanya satu kapsul yang berbeda. Yang lain, yang masih ada di botol Hartono waktu dia meninggal, aku tidak tahu siapa yang ganti."
Ruangan seakan kehabisan udara.
"Maksudmu ada orang lain yang mengutak-atik obat itu?" Ratih akhirnya bicara dari kap mobil, nadanya tajam.
"Aku yang pertama," kata Sri. "Tapi ketika aku memeriksa lagi dua hari setelah Hartono wafat, isi botolnya bukan lagi plasebo dan bukan morfin yang kuganti. Itu sesuatu yang lain. Warnanya sama, bentuknya sama, tapi ketika kutes di lab klinik, hasilnya positif untuk digoksin."
Dokter Pramono menutup mulut dengan telapak tangan.
"Digoksin dosis tinggi," lanjut Sri pelan. "Obat jantung. Pada pasien kanker yang sudah lemah, itu cukup untuk menghentikan jantung dalam satu malam tanpa meninggalkan jejak yang jelas." Ia menatap Ibu. "Dan Hartono meninggal karena serangan jantung. Bukan kanker."
Laras menutup mata sebentar. *Kata Bima serangan jantung*, ia ingat Ibu berkata di dapur subuh itu, dan wajah Ibu waktu itu.
"Bukan sekadar menyuruh orang memperlambat kematiannya," bisik Dewi. "Seseorang mempercepatnya."
"Seseorang yang tahu persis kapan dia lemah." Sri mengangguk. "Seseorang yang punya akses ke rumah, ke lemari obat, ke kotak pil mingguan, dan ke jadwal Hartono. Orang yang bukan aku, dan bukan Darmawan."
"Kamu tahu siapa," kata Laras.
"Tidak." Sri menggeleng. "Tapi aku tahu cara menemukannya. Itu sebabnya aku datang."
Ia merogoh tas jinjingnya sekali lagi dan mengeluarkan sebuah kamera kecil, sebesar bungkus rokok, dengan kabel pendek yang masih terhubung ke baterai. Ia meletakkannya di atas meja, di sebelah botol cokelat itu.
"Aku memasang ini di dalam lemari obat Hartono sebulan sebelum dia wafat," katanya. "Awalnya karena curiga ada yang masuk malam-malam. Kamera ini merekam setiap kali pintu lemari dibuka."
Dewi sudah maju dan mengambilnya. Ia memutar kamera itu di tangannya dengan wajah mengeras.
"Rekamannya?"
"Ada di dalam." Sri menatap Laras, lama, dengan sorot mata yang tidak bisa ditebak. "Tapi aku belum berani menontonnya. Aku takut melihat wajah yang kukenal."
Ratih menyerahkan laptop kecil dari mobilnya tanpa ditanya, dan Dewi mencolokkan kabel itu ke port dengan tangan yang mantap. Layar menyala, menampilkan satu folder tunggal. Berkas video, ratusan klip pendek, masing-masing berdurasi beberapa detik, bertanggal berurutan selama tiga puluh dua hari terakhir hidup Hartono.
Dewi menggulir ke berkas paling bawah, tanggal malam sebelum Hartono wafat, dan menekan putar.
Gambar kasar hitam-putih, sudut atas dari dalam lemari. Pintu terbuka. Cahaya lampu dapur menyorot dari belakang bahu seseorang yang berdiri membelakangi kamera, tangan terulur mengambil botol. Wajahnya tak terlihat. Hanya punggung, rambut disanggul, dan kerudung abu-abu.
Orang itu menoleh sedikit, menengok ke arah pintu kamar, dan di sudut layar sesaat tampak profil sisi wajahnya.
Laras tidak butuh lebih dari satu detik.
Napasnya tertahan. Di sampingnya, Dimas menyebut satu nama dengan suara yang bukan miliknya, dan di belakang mereka Ibu jatuh berlutut di papan beranda, kedua tangan menutup mulut.