Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.
Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.
Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.
Hati Jihan hancur.
Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.
Jihan hanya terdiam.
Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.
Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Rasa Lain
Hansen masih duduk di ruangannya dengan wajah muram. Sejak mengetahui Jihan sudah mengundurkan diri, suasana hatinya benar-benar berantakan.
Ia kembali mencoba menghubungi nomor lama Jihan, tetapi hasilnya tetap sama. Nomor tersebut tidak aktif.
Kesal karena tidak mendapatkan jawaban, Hansen menekan tombol interkom di meja kerjanya.
"Juan, masuk ke ruanganku sekarang!"
"Baik, Pak."
Tidak lama kemudian, Juan muncul di ambang pintu.
"Ada apa, Pak?"
Hansen langsung menatapnya tajam.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau Jihan sudah berhenti bekerja di rumah sakit?"
Juan mengerutkan kening. Ia tampak kebingungan mendengar pertanyaan tersebut.
"Maaf, Pak. Maksudnya bagaimana?"
"Jihan sudah mengundurkan diri sejak dua minggu lalu. Kenapa kamu tidak memberitahuku?"
Juan terdiam beberapa saat.
"Maaf, Pak. Saya justru baru tahu sekarang."
Hansen semakin kesal.
"Kamu asisten pribadiku. Seharusnya kamu tahu kalau ada sesuatu yang berkaitan denganku! Maksud... kamu tau lah... " Hansen memasang wajah kesal.
Juan menarik napas pelan sebelum menjelaskan.
"Maaf, Pak. Setelah saya tiba di Jakarta, keesokan harinya saya langsung berangkat ke Malang untuk mengurus beberapa keperluan. Saya berada di sana selama tiga hari. Setelah itu, saya baru kembali dan menjemput Bapak di bandara semalam."
Juan berhenti sejenak, lalu melanjutkan penjelasannya.
"Sejak kembali dari Jepang, saya memang belum sempat datang ke rumah sakit. Jadi, saya benar-benar tidak tahu kalau Bu Jihan sudah mengundurkan diri."
Hansen terdiam.
Ia menatap Juan beberapa saat, berusaha mencerna penjelasan tersebut. Rupanya, asistennya memang tidak mengetahui apa pun mengenai pengunduran diri Jihan.
Namun, hal itu tidak serta-merta menghilangkan kegelisahannya.
"Jadi, kamu sama sekali tidak tahu?" tanyanya memastikan.
Juan menggeleng.
"Tidak, Pak. Saya baru mendengarnya dari Bapak sekarang."
Hansen mengembuskan napas kasar, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Kenapa dia harus berhenti tanpa memberitahuku?"
Juan tidak langsung menjawab. Ia tahu hubungan Hansen dan Jihan sudah berakhir. Namun, melihat sikap atasannya sekarang, ia bisa merasakan bahwa masih ada sesuatu yang mengganjal di hati pria itu.
"Maaf kalau saya lancang, Pak. Bukankah Bapak dan Bu Jihan sudah resmi bercerai? Mungkin beliau ingin memulai kehidupan baru dan memilih meninggalkan pekerjaannya yang lama."
Tatapan Hansen langsung beralih kepadanya.
"Aku tahu kami sudah bercerai. Tidak perlu mengingatkanku!"
"Maaf, Pak."
Ruangan kembali hening.
Juan menundukkan kepala, sementara Hansen terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Hansen kembali membuka suara.
"Besok cari tahu alamat tempat tinggal Jihan, aku harus kasih dia hukuman. Berani-beraninya dia ninggalin aku."
Juan mengangkat wajah. Hatinya menggegrutu geram. Bagaimana tidak? Sejak awal Hansen memutuskan untuk cerai, Juan sudah mengingatkan. Giliran ditinggal beneran, sekarang bingung nyariin. Aneh plus merepotkan bukan?
"Alamat Bu Jihan, Pak?"
"Iya. Aku ingin tahu dia tinggal di mana."
"Baik, Pak. Saya akan mencoba mencari informasinya."
"Dan cari tahu juga apakah dia sudah bekerja di tempat lain."
"Baik, Pak."
Juan hendak keluar, tetapi suara Hansen kembali menghentikan langkahnya.
"Juan."
Juan berbalik. "Ya, Pak?"
"Jangan sampai orang lain tahu kalau aku sedang mencarinya."
Juan mengangguk mengerti.
"Baik, Pak."
Setelah Juan keluar, Hansen kembali sendirian di ruangannya.
Ia membuka laci dan mengambil kotak kecil berisi kalung berlian yang dibelinya di Jepang. Perlahan, ia membuka kotak itu dan menatap perhiasan indah di dalamnya.
Awalnya, ia ingin memberikan kalung tersebut kepada Jihan sebagai bentuk perhatian. Namun, sekarang hadiah itu justru membuatnya semakin gelisah.
Hansen menutup kotak tersebut.
"Jihan, kenapa kamu membuat semuanya jadi sesulit ini?"
Ia mengusap wajahnya, lalu menatap layar ponsel yang masih menampilkan nomor Jihan.
Hansen tidak menyadari bahwa perempuan itu memang sengaja memutus semua jalan yang bisa menghubungkannya kembali dengan sang mantan suami.
Dan semakin keras Hansen berusaha mencari, semakin jauh pula Jihan melangkah meninggalkan masa lalunya.
***
Di lain pihak, Jihan sedang menjalani aktivitasnya di kantor baru. Sudah beberapa hari ia bekerja di perusahaan tersebut dan perlahan mulai terbiasa dengan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.
Namun, pagi itu ada sesuatu yang terasa berbeda.
Sejak bangun tidur, perut Jihan terasa tidak nyaman. Awalnya ia mengira hanya masuk angin biasa. Ia bahkan sempat memaksakan diri untuk sarapan sebelum berangkat bekerja.
Sayangnya, baru beberapa suap makanan masuk ke mulutnya, rasa mual tiba-tiba menyerang.
Jihan segera meletakkan sendok dan bergegas menuju kamar mandi.
"Ugh..."
Ia menutup mulutnya sambil membungkuk di depan wastafel. Perutnya terasa bergejolak, tetapi tidak ada sesuatu yang keluar.
Setelah beberapa saat, Jihan membasuh wajahnya dengan air dingin.
"Ada apa, sih? Kenapa perutku begini?" gumamnya.
Ia mencoba mengingat makanan yang dikonsumsinya semalam.
Mangga.
Ya, semalam ia memang makan beberapa potong mangga yang dibelinya sepulang kerja.
Jihan mengernyit.
"Jangan-jangan gara-gara mangga semalam?"
Namun, ia segera menggelengkan kepala.
Rasanya tidak mungkin. Selama ini ia tidak pernah memiliki masalah ketika makan mangga. Bahkan, buah itu termasuk salah satu makanan yang cukup disukainya.
"Mungkin cuma perutku sedang tidak enak."
Jihan kembali ke meja makan dan meminum segelas air putih. Setelah merasa sedikit lebih baik, ia segera bersiap berangkat kerja.
Di kantor, Jihan berusaha berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaannya. Akan tetapi, rasa tidak nyaman di perutnya kembali muncul menjelang siang.
Saat salah seorang rekan kerjanya meletakkan sebungkus makanan di atas meja, aroma masakan yang tercium justru membuat Jihan menahan napas.
"Jihan, kamu tidak makan siang?" tanya seorang rekan kerjanya.
Jihan menggeleng.
"Nanti saja. Perutku agak tidak enak."
"Kenapa? Sakit?"
"Entahlah. Dari pagi aku merasa mual."
Rekannya itu memperhatikan wajah Jihan sejenak.
"Kamu sudah sarapan?"
"Sudah, tapi tadi cuma sedikit."
"Kalau begitu, coba makan sedikit. Jangan sampai sakit karena belum terbiasa dengan pekerjaan baru."
Jihan tersenyum tipis.
"Iya, nanti aku coba."
Namun, ketika mencoba membuka bekal yang dibawanya, rasa mual itu kembali datang. Ia akhirnya hanya memakan beberapa potong biskuit dan kembali minum air putih.
Sepanjang siang, Jihan beberapa kali mengusap perutnya.
Ada sesuatu yang terasa aneh. Bukan sakit yang menusuk, melainkan rasa tidak nyaman yang datang dan pergi.
Ia sempat berpikir untuk pergi ke dokter, tetapi kemudian mengurungkan niatnya. Mungkin tubuhnya hanya sedang menyesuaikan diri dengan rutinitas baru.
Meski begitu, ada satu kemungkinan yang belum berani ia pikirkan terlalu jauh.
Jihan menatap kalender kecil di meja kerjanya.
Ia mulai menghitung tanggal terakhir kali mengalami menstruasi.
Keningnya perlahan berkerut.
"Sebentar..."
Ia kembali menghitung, kali ini dengan lebih teliti.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Namun, Jihan segera menggelengkan kepala, berusaha menepis dugaan yang baru saja muncul.
"Tidak mungkin," bisiknya.
Ia belum berani mengambil kesimpulan hanya berdasarkan rasa mual. Tetapi untuk pertama kalinya hari itu, pikirannya mulai dipenuhi sebuah pertanyaan.
Bagaimana jika rasa mual yang dialaminya bukan karena mangga semalam?
Bagaimana jika ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi pada dirinya?
Bersambung...