Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam di restoran
"Setiap helai kain yang baru saja jari kotormu rusak akan kamu ganti dengan nominal seratus kali lipat, atau saya pastikan suami dan keluargamu kehilangan seluruh aset perusahaannya besok pagi!" ancam Faris dingin.
Insiden perusakan itu berakhir dengan ganti rugi telak yang langsung dibayarkan tunai oleh Arkananta keesokan harinya demi menyelamatkan perusahaan keluarga Clara dari tuntutan .
.Sebagai bentuk permintaan maaf secara tidak langsung atas teror yang dilakukan oleh keluarga mantan suaminya, Faris mengajak Adelia dan kedua anaknya makan malam bersama di sebuah restoran keluarga berkonsep taman yang tenang di pusat kota.
Suasana restoran malam itu tampak hangat dengan lampu-lampu gantung temaram dan alunan musik instrumental lembut.
Di meja kayu bundar sudut ruangan, Faris duduk berdampingan dengan Kenzie, sementara Adelia dan Kayla duduk di seberang mereka.
"Silakan dicoba menu iga bakar madunya, Kayla. Katanya ini makanan kesukaanmu," tawar Faris ramah sambil menuangkan jus jeruk ke gelas gadis kecil itu.
Kayla menerima gelas itu dengan senyuman lebar. "Terima kasih banyak, Om Faris! Om perhatian banget, beda banget sama... ya sudahlah," ucap Kayla terhenti, lalu melahap potongan iga bakarnya dengan lahap.
Adelia melirik putrinya sambil tersenyum tipis penuh rasa sungkan. "Maaf ya, Pak Faris. Kayla memang kadang suka blak-blakan kalau ngomong."
Faris,tertawa kecil, sebuah tawa tulus yang menyejukkan. "Tidak apa-apa, Bu Adelia. Saya justru senang melihat Kayla ceria lagi setelah apa yang terjadi kemarin."
Selama makan malam berlangsung, Faris menunjukkan perhatian yang sangat tulus kepada Kenzie dan Kayla tanpa jarak. Pria itu tidak sedikit pun menampilkan kesan sebagai bos besar atau konglomerat angkuh.
Ia mendengarkan cerita Kenzie tentang Kuliahnya sambil bekerja paruh waktu dengan saksama, bahkan memberikan beberapa masukan bisnis yang berguna bagi masa depan pemuda itu.
Kenzie, yang biasanya bersikap dingin dan waspada terhadap pria asing akibat trauma perceraian ibunya, tampak mulai terbuka dan menikmati obrolan hangat tersebut.
Menjelang hidangan penutup disajikan, Kayla bergeser mendekati kursi ibunya. Gadis kecil itu menarik lengan baju Adelia pelan, lalu berbisik tepat di telinga ibunya dengan suara yang cukup pelan namun masih bisa didengar sekilas oleh Faris.
"Ibu..." bisik Kayla lirih, "Om Faris baik banget, ya. Jauh lebih baik, sabar, dan perhatian daripada Papa. Kalau suatu hari nanti Om Faris jadi bagian dari keluarga kita, Kayla pasti senang banget."
Adelia seketika tersedak air minumnya sendiri. Wajahnya merona merah padam menahan rasa salah tingkah. Ia buru-buru mencubit pelan hidung putrinya. "Hus! Jangan ngomong sembarangan, Kayla."
Faris yang duduk di seberang meja tersenyum simpul, matanya menyiratkan binar hangat penuh makna, meski ia memilih pura-pura sibuk memotong puding cokelat di piringnya.
Usai makan malam, saat Kenzie dan Kayla berjalan duluan menuju mobil jemputan, Faris berjalan berdampingan dengan Adelia di trotoar malam yang tenang.
"Bu Adelia," panggil Faris lembut, menghentikan langkahnya sejenak di dekat pilar taman restoran.
Adelia ikut berhenti, menoleh menatap pria di sampingnya. "Iya, Pak Faris?"
"Saya tahu perjalanan hidup Ibu beberapa bulan belakangan ini sangat berat," tutur Faris menatap lurus ke dalam manik mata Adelia dengan kesungguhan mutlak.
"Tapi saya ingin Ibu tahu satu hal: keberadaan Zuri Couture dan kesuksesan yang Ibu raih sekarang adalah buah dari bakat murni Ibu sendiri. Saya bertekad akan terus mendukung karir dan kebahagiaan Ibu ke depannya,tanpa paksaan, tanpa syarat apa pun."
Adelia tertegun, menahan napas sejenak. Kalimat itu meluncur begitu tulus, tanpa ada nada merendahkan atau maksud tersembunyi.
Selama belasan tahun dalam pernikahan sebelumnya, Adelia hanya mendengar tuntutan, caci maki, dan perlakuan dianggap remeh.
Namun malam ini, di temaram lampu taman kota, rasa hatinya yang dulu membeku akibat luka pengkhianatan mulai menghangat secara perlahan. Ada debar halus yang menyapa dinding dadanya, memberi keyakinan bahwa hidupnya benar-benar telah lembaran baru.
"Terima kasih, Pak Faris," ucap Adelia tulus dengan suara bergetar halus. "Kehadiran dan bantuan Bapak selama ini telah mengembalikan harga diri saya sebagai seorang wanita dan ibu."
Faris tersenyum hangat, mengangguk pelan sebelum membukakan pintu mobil untuk Adelia.
Namun, kontras dengan kehangatan malam yang dirasakan Adelia, situasi di tempat lain justru berada di ambang kehancuran total.
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel