NovelToon NovelToon
PERJALANAN MENUJU DENDAM LAMA

PERJALANAN MENUJU DENDAM LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: CICAK rawa

DENDAM BERSELIMUT TAWA

Bagaimana jika pemuda paling santai di desa ternyata adalah pewaris takhta yang seharusnya sudah mati?

Namanya Raka. Hidupnya sederhana, hobinya bercanda, dan ia paling tidak suka berurusan dengan masalah orang lain. Baginya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan memikirkan hal-hal yang merepotkan.

Namun, kematian seseorang yang telah membesarkannya mengubah segalanya.

Perjalanan untuk mengungkap kebenaran justru menyeret Raka ke dalam rahasia kelam kerajaan Sangkara—sebuah kerajaan yang kini dipimpin oleh raja yang dicintai rakyatnya, tetapi menyimpan dosa berdarah di balik mahkotanya.

Raka tidak tahu bahwa masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan sedang mengejarnya.

Terlebih lagi, di balik senyumnya yang jahil, tersimpan kekuatan misterius dalam kedua matanya: merah seperti kegelapan yang menuntut balas, dan biru seperti cahaya yang melindungi.

Bersama Kirana, sahabat masa kecilnya yang memiliki sihir bayangan langka, Raka harus menghadapi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7-darah di mata

 "tanda bahaya" ungkap Tito yang melihat asap merah mengepul.

 Raka yang baru saja selesai mendirikan tinda menghampiri Tito.

 "bang, Ini...."

 tito mengangguk.

 "sepertinya ini adalah tanda dari kelompok yang pergi mencari kayu bakar"

 seketika pikiran Raka terpikir satu nama.

 Kirana....

 Tanpa bertanya lagi, Raka berlari ke hutan.

 "ka... Tunggu"

 Tito berbalik.

 "beberapa ikut aku, dan sisakan untuk menjaga tenda." ungkap Tito.

 Setelah itu mereka langsung bergegas menyusul Raka.

 Di sisi Kirana, kini ia telah berdiri menatap ke 4 sosok berkepala babi di depan.

 Tanpa ada ucapan, mereka bergerak bersamaan.

 Memanfaatkan salah satu babi yang sedikit berpisah dengan rombongan, kirana melesat maju.

 Memukul dengan kuat ke arah kepala babi itu.

 Namun sosok berkepala babi itu tak lemah, ia bisa dengan gesit dengan lengan lengan kekarnya.

 Tinju Kirana yang kecil langsung menabrak tangan sosok berkepala babi.

 Tangan keduanya beradu, kepalan tangan Kirana sangat terlihat mungil saat bersentuhan langsung dengan tangan sosok itu.

 Krak....

 Bunyi tulang terdengar.

 "EeeAaaaaa..."teriak Kirana.

 bayangan hitam mengepul menyelimuti lengan Kirana.

 Membuat sosok berkepala babi itu langsung berguling mundur dengan tangan terlihat menjuntai seperti tak memiliki tulang.

 tak ada teriakan dari sang babi, ia langsung kembali berdiri.

 Memegang tangan yang menjuntai itu, lalu sedikit menggeser geserkannya seakan tengah membenarkan posisi tangan.

 Seketika, tangan yang seperti tak memiliki tulang sebelumnya kembali normal.

 Melihat ini Kirana terbelalak.

 "bagaimana bisa...? Kenapa regenerasi-nya sebagus ini"

 saat tengah terkejut dengan fenomena di depannya, tiba tiba Kirana merasakan ada hawa dingin di belakang.

 Tanpa menoleh, dan hanya mengandalkan intuisi saja.

 Karina menyatukan tangan dan membentuk beberapa segel tangan. seketika itu, bayangan di bawah Kirana melonjak membentuk perisai di belakang, lalu memadat.

 dung.....

 Bunyi menggema seakan sebuah gong terpukul.

 Kirana menoleh sambil sedikit menutup telinga.

 Kini ia melihat perisai bayangan yang ia buat bergetar hebat dengan tinju besar di balik perisai.

 Belum sempat bereaksi, beberapa sosok lain kembali menyerang.

 Kirana terus melawan dengan teknik bela dirinya.

 pupil matanya terus bergerak memperhatikan setiap serangan.

 Sesekali ia mengubah bayangan menjadi senjata.

 Namun setiap kali ia melukai tubuh sosok itu, luka luka di tubuh mereka bisa dengan cepat beregenerasi.

 Kini Kirana sudah mundur cukup jauh dengan napas memburu beserta keringat yang sudah terus menetes sedari tadi.

 "sial, mahluk apaan mereka ini." batin Kirana.

 Lalu ia memeriksa dirinya sendiri.

 "energiku sudah hampir habis, jika begini terus. Aku akan mati di tangan mereka" lanjutnya.

 Namun sayangnya, baru saja ia mundur.

 Ke 4 sosok itu kembali menyerang, mereka sama sekali tak membiarkan Kirana beristirahat.

 Mau tak mau Kirana kembali bertarung sebisanya.

 Karena energi yang semakin menipis, ia tak bisa terus menerus menggunakan kekuatan energi.

 Bahkan beberapa kali ia terpental mundur, dan sayangnya saat salah satu berhasil memukul dan membuatnya berguling.

 Ada sosok lain yang dengan sigap menangkapnya.

 dari tangan yang memegang pundaknya, Karina bisa menebak siapa itu.

 Seketika itu Kirana menegang, merasa tak akan ada kesempatan untuk selamat lagi.

 dalam pikirannya sudah terpikir kalau percuma menyerang jika mereka tetap akan beregenerasi terus menerus.

 Di tengah diamnya ini, sosok di belakangnya sudah membuka mulut. Memamerkan 2 taring panjang yang siap meremukkan leher Kirana.

 Saat ini, tiba tiba ujung mata Kirana melihat sosok yang sudah ia bunuh di awal.

 "kepala" gumamnya.

 Seketika dia mengingat serangannya yang di tepis sosok babi sebelumnya.

 Serangan itu sangat berbeda dengan serangan serangan lain yang di lancarkan ke tubuh para sosok itu, mereka tak terlalu menggubris.

 Dengan sia kekuatannya, Kirana menunduk.

 Membuat babi yang sudah siap menghancurkan tengkorak Kirana, hanya menggigit angin kosong.

 Tau kepala babi itu sudah sangat dekat.

 Kirana memutar tubuh dengan siku yang siap menghantam kepala babi.

 Namun babi itu sigap menahan serangan ini dengan kedua tangannya.

 cengkraman telah terlepas membuat Kirana mendapatkan kesempatan berlari.

 Kirana mengeluarkan logam komunikasi, ia terus memanggil siapapun yang bisa menjawab.

 Namun hasilnya tetap nihil, tak ada sautan apapun di benda itu.

 "sial..."

 Kirana menoleh ke belakang, melihat babi babi itu yang telah mengejarnya.

 Kirana juga tak hanya lari ke depan, ia beberapa kali berbelok.

 Dan benar saja, beberapa binatang iblis itu lebih sulit mengimbangi Kirana yang terus berubah arah.

 "babi tetaplah babi" ungkap Kirana.

Sedangkan di tempat, Raka.

Kini wajahnya tampak suram, ia sudah mendatangi tempat tempat asap merah.

namun ia sama sekali tidak menemukan barang seorang pun yang pergi mencari kayu.

"ka.... Apa kamu menemukan sesuatu" tanya tito yang datang setelah berkeliling.

Raka menggeleng...

"bagaimana bisa... Padahal tak ada jejak pertarungan sama sekali, kenapa mereka bisa menghilang" lanjut Tito.

Raka hanya diam, tapi matanya terus menelusuri tempat ini.

entah mengapa dia merasa kalau Kirana ada di sekitar sini.

"ka... ada apa, kenapa kau diam" tanya tito.

Raka kembali menggeleng, namun pupil matanya mulai berputar.

Warna hitam di pupil mata mulai berubah.

dengan dua warna berbeda, satu biru terang dan satu warna lagi menjadi merah darah.

Seketika pandangannya berubah, tempat yang sebelumnya terlihat sunyi dan terang.

Kini di mata Raka tempat ini penuh kabut gelap.

"buka" ucap Raka.

Saat itu darah segar mengalir dari ujung kedua matanya.

Raka menggerakkan gigi, menahan rasa pedih di mata.

Namun itu tidak sia sia, suasana tempat itu berubah seketika.

Masih di tempat yang sama, tapi seakan cahaya mulai meredup.

Langit langit yang biru terang menjadi merah samar.

Bekas pertarungan di mana mana, dan satu mayat sosok berkepala babi terbaring dengan kepala berlubang.

Semua pengawal terdiam, seakan tak dapat mengetahui apa yang baru saja mereka alami.

Namun Tito seketika tersadar saat melihat Raka jatuh berlutut dengan tangan memegang wajah.

"ka, kau tak apa."

"aku tak apa bang" jawab Raka sambil memegang wajah.

Kini darah dari matanya sudah membasahi tangannya sendiri.

"ka, ada apa. Kenapa matamu berdarah" panik Tito.

Raka menggeleng, ia berdiri.

"aku tak apa, lebih baik kita cari Kirana sekarang"

saat ingin bertanya lagi, mereka mendengar suara ribut dari kejauhan.

Raka tak menunggu, sambil membersihkan darah di wajah.

Ia berlari menuju ke sumber suara.

Tito bersama beberapa pengawal yang kini sudah sadar tentu mengikuti.

Sepanjang jalan, banyak sekali pepohonan yang ambruk dan rumput rumput yang terbaring seakan telah terinjak beberapa orang.

Melihat ini mereka langsung mempercepat langkah.

Raka langsung membuka dua tas belatinya, beberapa belati langsung keluar dari sana.

tak ada keraguan di matanya, apa lagi melihat 4 sosok yang kini telah mendekat ke satu sosok wanita yang sudah duduk bersandar di pohon.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!