NovelToon NovelToon
Kebangkitan Di Zaman Modern

Kebangkitan Di Zaman Modern

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Transmigrasi
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.

Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.

Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.

Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan Takdir

Berbeda dengan Jia Li yang saat ini sedang menyusun rencana matang demi menyelamatkan dunia modern dari ambang kehancuran, nasib kontras justru menimpa dua pemuda yang berjalan gontai di pinggir kota.

Sebenarnya mereka adalah dua pemuda yang memiliki wajah sangat tampan dan menawan. Hanya saja, saat ini ketampanan itu sama sekali tidak terlihat. Wajah mereka tertutup oleh debu jalanan.

Mereka berjalan di pinggir trotoar dengan langkah gontai yang nyaris terseret. Rambut panjang mereka yang biasanya rapi kini acak-acakan, mencuat ke segala arah akibat tertiup angin malam yang dingin.

Pakaian bangsawan mereka pun sudah koyak dan robek di beberapa bagian, menyisakan pemandangan yang memprihatinkan.

Siapa pun yang berpapasan dengan mereka pasti akan langsung menganggap mereka sebagai gelandangan, pengemis, atau orang gila yang nyasar dari rumah sakit jiwa.

Namun, dunia tidak tahu rahasia besar mereka. Sebenarnya, kedua pemuda mengenaskan ini adalah Putra Mahkota dan Pangeran dari Kekaisaran besar bernama Awan Emas—Yun Shadom dan Yun Sharam.

Kruyuk~!

Suara nyaring itu memecah keheningan malam. Yun Sharam seketika menghentikan langkahnya dan memegangi perutnya yang sejak beberapa hari lalu terus berdemo menyuarakan kelaparan.

Wajah tampannya berkerut memelas, matanya berkaca-kaca, dan air matanya sudah siap tumpah kapan saja karena menahan perih di lambung.

"Kakak, aku lapar..." rengek Yun Sharam dengan suara bergetar.

Tanpa memedulikan harga dirinya sebagai seorang pangeran, ia langsung memeluk erat lengan sang kakak, menjadikannya tumpuan tubuhnya yang lemas. "Kita sudah berhari-hari tidak makan dan terus-menerus hidup di jalanan yang keras ini. Aku benar-benar tidak kuat lagi, Kak..."

Yun Shadom hanya bisa menghela napas panjang dan pelan. Jelas sekali rasa lelah sangat terpancar dari sorot matanya. Jangankan adiknya, ia sendiri pun tidak tahu mengapa takdir bisa mempermainkan mereka seperti ini.

Setiap kali ia memejamkan mata, ingatannya selalu terlempar kembali pada malam nahas itu—malam di mana adik perempuan mereka terjatuh ke dalam jurang yang gelap. Tanpa pikir panjang, didorong oleh rasa cinta yang besar, mereka berdua melompat bersama demi menyelamatkan adik kesayangan mereka.

Namun, takdir justru membelokkan arah hidup mereka.

Saat mereka membuka mata kembali, mereka sudah terdampar di dunia yang sangat asing namun sekaligus terasa familiar.

Dunia yang aneh ini hanya pernah mereka dengar sekilas dari cerita sang Ibu sejak kecil—sebuah dunia yang peradabannya berputar berbalik arah dari dunia kultivasi tempat mereka tinggal.

"Jangan terus merengek," kata Yun Shadom akhirnya dengan nada bicara yang pasrah dan berat.

Ia mencoba melepaskan cengkeraman adiknya, namun gagal. "Bukan hanya kau saja yang kelaparan di sini. Aku pun sama."

Yun Sharam, yang memang memiliki sifat paling sensitif, manja, dan jauh berbeda dari ketegasan kakak serta adiknya, justru malah tidak bisa membendung air matanya lagi.

Tangisnya pecah di pinggir jalan, membuat beberapa pejalan kaki modern yang lewat menatap mereka dengan pandangan risih sekaligus aneh.

"Lalu bagaimana keadaan Adik sekarang? Hiks... Jika kita berdua saja bisa terlempar ke tempat ini, apa mungkin Adik juga ikut terlempar ke sini?" tangis Yun Sharam, hatinya mendadak mencelos memikirkan nasib Yun Sheren.

"Dia pasti sangat ketakutan sekarang! Dia pasti menangis sendirian di suatu tempat! Entah di mana Adik berada saat ini, bagaimana kalau dia diculik oleh monster-monster besi yang mondar-mandir di jalanan itu?" lanjutnya lagi dengan wajah yang benar-benar mewek dan hidung yang memerah.

Yun Shadom hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Ia melirik tajam penuh kekesalan pada adik laki-lakinya yang cengeng itu.

"Adik perempuan kita tidak selemah dan secengeng dirimu!" potong Yun Shadom dengan nada suara yang sinis. "Dia tidak akan menangis hanya karena tersesat di tempat asing."

"Tapi tetap saja!" bentak Yun Sharam, meski suaranya terdengar lemah dan kehabisan energi. "Adik pasti ketakutan melihat dunia aneh ini... Dunia ini jauh lebih menakutkan daripada semua cerita ibu kepada kita! Lihat diri kita, di sini kita bahkan terlihat seperti gembel!"

Yun Sharam kemudian mendekatkan lengan ke hidungnya. Begitu mencium aroma tubuhnya sendiri, wajahnya langsung mengkerut menahan mual yang luar biasa.

"Tubuhku sangat bau... Aku ingin segera kembali ke istana dan berendam di air panas," keluh Yun Sharam pasrah, lalu menyandarkan kepalanya yang terasa berat di bahu kokoh sang kakak. Sambil menghapus sisa air mata di sudut matanya, ia berbisik lirih, "Semoga saja... adik tidak kelaparan di luar sana."

Namun, seluruh kekhawatiran dan ketakutan kedua pemuda itu nyatanya sama sekali tidak terbukti.

Di sudut lain, tepatnya di dalam Club Malam terbesar di kota Beijing, suasananya justru berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.

Jia Li tampak duduk diam di salah satu sofa empuk di area VIP. Matanya terpejam rapat, sementara tangannya sesekali memijat pelipis karena gendang telinganya rasanya hampir pecah akibat dentuman musik remix yang memekakkan telinga.

Saat perlahan membuka mata, pemandangan di depannya langsung membuat kepala Jia Li makin pening. Ia melihat Liu Yue dan Song Ying sedang asyik melompat-lompat kegirangan mengikuti irama lagu, tanpa beban sedikit pun.

Liu Yue melirik Jia Li sambil terus menari "Jangan hanya diam! Kita harus merayakan Jia Li yang baru." katanya dengan semangat.

Song Ying mengangguk."Benar! Mulai sekarang, tidak ada lagi Jia Li yang penurut... hiduplah sebagai pemberontak. Kami di pihakmu!"

Jia Li hanya bisa menghela napas panjang, menatap kosong ke arah lantai dansa yang penuh sesak.

"Inikah yang mereka sebut dengan arti kata bersenang-senang?" gumam Jia Li dengan nada pasrah." Jika aku memakai pakaian seperti ini di depan umum---- Ayah akan langsung memenggal kepala semua pria yang menatap ku."

Ia hanya bisa meratapi nasibnya malam itu. Mengingat kembali bagaimana satu jam yang lalu, kedua sahabat ibunya yang ajaib itu dengan paksa menarik tangannya, mendandaninya dengan pakaian mini pilihan mereka yang mencolok, lalu menyeretnya tanpa ampun ke tempat bising ini.

Sementara itu, Yun Shadom dan Yun Sharam berjalan dengan langkah yang sangat kontras dengan kemewahan kota Beijing.

Langkah kaki mereka sempat melambat saat melewati sebuah restoran dengan dinding kaca transparan yang besar.

Di balik kaca itu, aroma makanan seolah menembus keluar, memperlihatkan orang-orang yang sedang menyantap hidangan lezat dengan sukacita.

Pemandangan itu langsung membuat perut kedua pria itu berbunyi nyaring, memicu rasa lapar yang semakin menyiksa.

Yun Sharam menoleh ke arah kakaknya dengan bibir melengkung ke bawah, wajahnya tampak luar biasa merana. "Kakak... perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Apakah kita tidak bisa meminta sedikit makanan dari mereka?"

Yun Shadom hanya bisa menghela napas berat, menepuk pundak adiknya dengan tatapan kosong. "Jangankan meminta, mendekat pun kita mungkin akan diusir. Kita tidak punya uang dunia ini, Sharam. Aturan di sini sangat berbeda. Ayo jalan lagi."

Dengan langkah gontai dan kepala tertunduk, Yun Shadom kembali melangkah. Mau tidak mau, Yun Sharam mengikuti dari belakang sambil terus memegangi perutnya yang keroncongan.

45 menit kemudian...

Takdir tampaknya sedang gemar mempermainkan jalan hidup mereka malam itu. Langkah kaki mereka mendadak terhenti tepat di depan sebuah bangunan megah yang memancarkan cahaya lampu kelap-kelip, dengan suara musik berisik yang berdentum hingga ke jalan raya.

Tepat di area parkiran club tersebut, pandangan Yun Shadom dan Yun Sharam tertuju pada tiga orang wanita yang sedang berdiri. Ketiga wanita itu mengenakan pakaian yang sangat minim dan terbuka, mengekspos kulit mereka dengan bebas.

Karena posisi ketiganya sedang memunggungi jalan, Yun Shadom dan Yun Sharam sama sekali tidak bisa melihat wajah mereka.

Yun Sharam seketika membelalakkan matanya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi syok sekaligus jijik.

"Kakak, lihat itu! Jika mereka berani memakai pakaian kurang bahan seperti itu di Kekaisaran Awan Emas, mereka pasti sudah kehilangan kepala mereka sebelum matahari terbit!" bisik Yun Sharam dengan nada tak habis pikir. Ia mencibir, "Ternyata wanita di dunia ini benar-benar sangat tidak tahu malu. Di mana harga diri mereka?"

Yun Shadom hanya menatap datar, enggan peduli lebih jauh. "Sudahlah, itu bukan urusan kita. Ayo pergi dari tempat berisik ini."

Mereka berdua pun kembali melanjutkan langkah kaki mereka yang kelaparan.

Namun, baik Yun Shadom maupun Yun Sharam sama sekali tidak menyadari satu kenyataan: bahwa salah satu dari tiga wanita yang baru saja mereka cap 'tidak tahu malu' itu adalah adik mereka sendiri yang sejak tiba di dunia itu selalu mereka cari.

Beberapa menit lalu...

Di area VIP, dua sahabat ibunya itu mulai limbung karena pengaruh alkohol. Sambil menghela napas panjang demi menahan kekesalan yang sudah di ubun-ubun, Jia Li bangkit berdiri untuk memegangi tubuh Liu Yue dan Song Ying agar tidak terjatuh.

Jia Li membawa mereka keluar dari club. Di parkiran, lagi-lagi Jia Li harus bersabar menghadapi kedua sahabat ibunya yang malah muntah.

Tiba-tiba, ada getaran aneh yang mendadak menyelinap di hatinya.

Ia membalikkan badannya menghadap ke arah jalanan luar—tepat ke arah punggung dua pria yang baru saja melintas—perasaan Jia Li mendadak tidak enak. Dadanya terasa berdesir aneh, seolah ada ikatan tak kasatmata yang baru saja terpicu.

Jia Li mengernyitkan dahi sambil menatap jalanan. "Aneh... ada apa dengan perasaan ku? Seperti ada yang sedang membicarakan kejelekanku di belakang," gumam Jia Li penasaran, tanpa tahu bahwa dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya baru saja berjalan melewatinya.

1
Thewie
pindah kemari kami bah.. kejaman modern🤭
Lee Yaa
tak kira kaisar yun shang yg dteng🤭
Sekar
lanjut thor💪💪💪💪
Atik Kiswati
next ...
Atik Kiswati
gk sabar tgg lnjt nya.....
Sekar
lanjut thor💪💪💪💪
Atik Kiswati
ada hubungan masa lalu kah....
Sekar
lanjut thor💪💪💪💪
Aeriah Kayla
tidak apa Thor better than nothing. get well soon ya thor
Sri Wulan
semoga cepat sembuh ya Thor..
Ayra Hijab
lekas sehattt thoorr 💪
Inay
semoga lekas sehat, dan semangat 💪!
Sekar
akhirnya ketemu
Anonim
Sedikit sekali updatenya
Dewiendahsetiowati
akhirnya ketemu juga
Aeriah Kayla
bagus Thor jangan di buat belibet ya kasian kkk kembarnya terlunta" . kumpulkan mereka jadi satu.
Atik Kiswati
gk sabar tgg lnjt nya.....
Ayra Hijab
asliii, karyanyaa keren skaalii thorrr
Anonim
Ditunggu bab yg banyak thor
Ayra Hijab
serruuuuu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!