Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Hasutan
Langit mulai berubah jingga saat Rahman akhirnya menyerah.
Tidak ada lagi yang bisa ia katakan pada Mela. Tidak ada lagi alasan untuk bertahan di sana.
"Ayo, Ma. Kita pergi," ajak Rahman dengan suara yang terdengar berat.
Dyah langsung berdiri dengan wajah kesal. Sedangkan, Lina masih beberapa kali menoleh ke arah Mela, berharap wanita itu akan memanggil mereka kembali.
Namun, Mela tidak bergerak. Ia hanya berdiri diam di dekat Dino dengan tatapan tenang.
Dan ketenangan itu, jauh lebih menyakitkan bagi Rahman dibanding amarah Mela yang meledak.
Rahman akhirnya berbalik, melangkah pergi bersama Dyah dan Lina.
Darmi dan yang lain langsung mendekati Mela, mendengus pelan melihat mereka.
"Sekarang, baru tahu rasanya susah," gerutunya.
"Makanya, jangan nyakitin orang baik," timpal Asih.
Namun, Mela tidak ikut menanggapi. Tatapannya hanya mengikuti punggung Lina yang semakin menjauh.
Bagaimanapun juga, Lina tetap anaknya. Tapi, gadis itu bukan anak kecil lagi. Dia sudah mengerti mana yang baik dan, mana yang buruk.
Dulu, dia selalu melarang ini, itu. Mengatur ini, itu. Semua ia lakukan demi kebaikan Lina. Tapi, gadis itu justru menganggapnya kuno. Dan, lebih menyukai Camila yang selalu memanjakan nya.
Kini, Lina harus berusaha bertahan dengan kehidupannya yang sekarang, yang jauh dari kemewahan.
Meski begitu, melihat Lina hidup sekarang, tetap meninggalkan luka di hatinya.
Sementara itu, Rahman kembali mengambil koper-koper mereka yang tadi di tinggal, di teras rumah Mela. Lalu, mereka kembali berjalan menyusuri desa tanpa tujuan jelas.
Beberapa warga memandangi mereka penuh rasa penasaran.
Ada yang berbisik-bisik. Ada juga yang merasa iba. Tapi, tidak sedikit yang mencibirnya.
Namun, Rahman tidak peduli lagi. Harga dirinya sudah hancur sejak lama.
"Apa masih jauh, Pa?" keluh Lina dengan wajah lelah. "Kakiku sakit."
Dyah pun mulai mengeluh. "Man, Mama nggak kuat jalan terus."
Rahman memejamkan mata sesaat. Lalu, kembali bertanya pada beberapa warga tentang tempat tinggal yang disewakan.
Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya seorang warga tua memberi tahu tentang rumah kosong di pinggir desa.
"Kalau kalian nggak keberatan, ada satu rumah di ujung sana. Tapi, tempatnya jelek."
Rahman langsung mengangguk cepat. "Kami mau."
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan rumah itu.
Rumah kecil dengan dinding kusam, atapnya bocor sebagian dan, halamannya dipenuhi rumput liar.
Dyah langsung mengernyit jijik. "Kamu yakin kita mau tinggal di sini, Man?"
Lina membelalak tak percaya. "Ini rumah atau kandang?"
Rahman hanya diam karena mereka tidak punya pilihan lain.
Pemilik rumah tersenyum mendengar ucapan Dyah dan Lina. "Kalau mau sewa rumah yang murah, ya... Adanya hanya ini."
Rahman mengangguk pelan. Lalu, memberikan beberapa lembar uang yang ia miliki. "Kami tetap ambil rumah ini."
"Baiklah, ini kuncinya." Pemilik rumah menyerahkan kunci pada Rahman. "Selamat beristirahat," ucapnya sebelum berbalik pergi.
Rahman menghela napas. Tangannya terangkat, memasukan kunci dan, saat pintu dibuka, bau lembap langsung menyeruak keluar.
Lina spontan menutup hidungnya. "Ih! Bau banget!"
Dyah terlihat hampir menangis. "Dulu, Mama punya kamar sebesar rumah ini."
Kalimat itu terasa menyakitkan tapi, Rahman tidak menjawab. Ia hanya masuk perlahan, menatap rumah kecil itu.
Dulu, ia bahkan tidak akan melirik tempat seperti ini. Namun sekarang, tempat rusak ini menjadi satu-satunya tempat berteduh mereka.
Rahman menghela napas panjang. "Ayo, kita bersihkan dulu."
Dyah langsung menatap tidak percaya. "Bersihkan?"
Rahman menatap ibunya lelah. "Kalau tidak dibersihkan, kita mau tidur di mana?"
Tidak ada jawaban.
Akhirnya, mereka mulai membersihkan rumah itu bersama-sama.
Rahman menyapu lantai penuh debu, memperbaiki kursi rusak, menutup bagian atap yang bocor seadanya.
Sedangkan, Lina hanya mengeluh sepanjang waktu.
"Aku nggak kuat tinggal di sini, terlalu panas dan banyak nyamuknya."
Dyah pun tidak kalah. "Punggung Mama sakit, airnya kran juga keruh."
Rahman hanya diam. Biasanya, saat hidup mereka berantakan, Mela yang akan menyelesaikan semuanya. Tapi, sekarang ia harus menghadapi semuanya sendiri.
Malam pun tiba. Rumah kecil itu masih terasa pengap dengan pencahayaan redup.
Dyah duduk sambil memegangi dada. Napasnya mulai berat. Wajah Dyah pucat, tubuhnya berkeringat dingin
"Man... "
Rahman langsung menoleh, panik. "Ma!"
"Obat Mama... " Dyah menunjuk ke tas kecilnya.
Rahman mencari obat Dyah dan langsung membantunya meminum obat. Namun, kondisi wanita tua itu tidak juga membaik. Napasnya semakin tersengal.
"Mama nggak kuat."
Lina menatap sekeliling rumah dengan mata berkaca-kaca.
"Aku juga nggak bisa tinggal di tempat kayak gini, Pa." Tangisnya pecah. "Aku mau pulang."
Namun, kalimat itu langsung membuat suasana hening.
Pulang? Mereka bahkan sudah tidak punya rumah lagi. Dan kali ini, Rahman benar-benar merasakan betapa sulitnya hidup tanpa Mela.
Malam semakin larut. Lampu redup menggantung di tengah ruangan. Angin dingin masuk dari celah-celah dinding kayu yang mulai lapuk.
Dyah berbaring di kasur tipis sambil memegangi dadanya. Sedangkan, Lina duduk di sudut ruangan dengan wajah kusut.
"Aku nggak bisa tidur." Keluhannya terdengar lagi. "Nyamuknya banyak banget."
Rahman yang sedang memperbaiki bagian jendela hanya diam.
"Aku juga nggak tahan tinggal di tempat kayak gini." Lina mulai menangis kecil. "Papa, kita pulang aja."
Rahman menghentikan gerakannya..Tangannya mengepal perlahan.
Dyah menghela napas berat. Lalu, perlahan bangkit duduk.
"Man!"
Rahman menoleh pelan.
"Coba bicara lagi dengan Mela," ucap Dyah.
Rahman langsung menggeleng. "Tidak, Ma."
"Kenapa tidak? Kita bisa minta bantuan dia mencarikan rumah yang lebih layak daripada rumah ini."
Rahman tertawa pahit. "Ma... Aku sudah terlalu malu. Tadi saja, dia sudah menolak ku mentah-mentah."
Rahman memejamkan mata sesaat. "Dan sekarang... " Bayangan Dino muncul di kepalanya. Pria itu berdiri di depan Mela dan melindunginya.
Rahman mengepalkan tangan. "Sekarang sudah ada Dino di sisi Mela."
Dyah langsung berdecak kesal. "Laki-laki itu lagi!"
Rahman diam. Namun justru diamnya, menunjukkan sesuatu. Dan, Dyah menyadari jika Rahman cemburu.
"Mela itu istrimu," ucap Dyah.
Rahman langsung menatap ibunya.
Dyah melanjutkan dengan nada penuh hasutan. "Kamu yang menikahinya dulu, bukan pria itu. Kalau dia bisa mendekati Mela, kenapa kamu tidak bisa merebutnya kembali?"
Rahman langsung mengernyit. "Maksud Mama?"
"Kamu masih mencintai Mela, kan?"
Rahman membeku. Ia ingin menyangkal tapi, tidak bisa karena jauh di dalam hatinya, ia memang belum benar-benar melepaskan Mela. Atau mungkin... baru sekarang ia sadar, betapa berharganya wanita itu.
Melihat Rahman yang diam, membuat Dyah tersenyum tipis dan kembali berbicara. "Buat Mela menerima kita lagi. Bagaimanapun caranya."
Rahman menunduk dalam. "Semua tidak semudah itu, Ma."
"Kenapa tidak?" Dyah memotong cepat. "Mela adalah wanita yang lembut. Kalau kamu terus menunjukkan penyesalan, cepat atau lambat dia pasti luluh."
Dyah melirik Lina yang masih mengeluh di sudut ruangan.
"Apalagi, ada Lina. Mana mungkin seorang ibu tega terus melihat anaknya hidup seperti ini?"
Lina menatap Rahman dengan mata merah. "Papa, aku nggak mau tinggal di sini terus. Aku mau Mama, Pa."
Rahman perlahan melihat sekeliling rumah itu. Dinding kusam, atap bocor, kasur tipis dan bau yang lembap.
Dulu, ia hidup di rumah mewah. Kini, ia bahkan tidak mampu memberi kenyamanan untuk ibu dan anaknya sendiri.
Dyah kembali menambahkan perlahan, "Yakinkan Mela kalau kita benar-benar menyesal. Buat dia percaya kalau kita berubah."
Rahman menutup mata. Entah kenapa, kalimat itu terdengar seperti harapan terakhir mereka.
Beberapa detik berlalu. Sunyi memenuhi ruangan kecil itu. Hingga akhirnya, Rahman membuka mata kembali. Tatapannya perlahan berubah. Lalu, ia menoleh ke arah Dyah dan mengangguk pelan.
Dyah langsung tersenyum puas.
"Bagus. Besok, kamu harus menemui Mela lagi," ucap Dyah.
"Iya, Ma."
siapa lagi itu?
Ingin berbagi bukan dari hati namun hanya karena ingin hidup enak,tanpa kerja.Dan Lina kau juga nggak berusaha mendekatkan diri pada ibumu,atas kemauan sendiri.
udah jadi mantan aja masih tetep nyusahin 🥴