Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Ardio tidak memotong. Ia membiarkan Devan menyelesaikan kalimatnya.
"Saya tahu penyesalan saya tidak bisa menghapus rasa sakit dan penghinaan yang dialami Adelia. Tapi saya sungguh-sungguh menyesal, Tuan. Jika Anda ingin melampiaskan kemarahan Anda... tolong salahkan saya. Jangan libatkan keluarga saya atau rumah sakit ayah saya. Saya yang bersalah, Tuan Ardio!" lanjut Devan dengan mata berkaca-kaca.
Suasana menjadi sei dalam beberapa detik.
Ardio menyunggingkan senyum miring yang tidak ramah.
"Kamu punya sedikit keberanian, Devan. Keberanian yang jarang dimiliki anak seusiamu. Dan jujur saja... aku memang sempat berniat menghancurkan seluruh jaringan rumah sakit milik ayahmu dua hari yang lalu," bisik Ardio dengan suara rendah tapi bernada ancaman.
Tubuh Devan gemetaran hebat mendengarnya.
"Tapi... putriku yang baik hati memohon padaku untuk tidak memanjangkan masalah sepele di sekolah. Dia melindungimu dari kemarahanku tanpa kamu ketahui," lanjut Ardio seraya menepuk bahu Devan pelan, sebuah tepukan ringan tapi terasa amat berat bagi Devan.
"Dengar baik-baik peringatanku ini, Devan Putra Dewanta. Aku memaafkan kebodohanmu kali ini hanya demi putriku. Tapi ingat... ini adalah kesempatan pertama sekaligus yang terakhir bagimu," ujar Ardio, matanya tajam.
"Jauhi putriku. Jangan pernah membawakan bunga, makanan, atau drama masa mudamu lagi ke hadapannya. Jangan pernah muncul di radius lima meter dari Adelia. Jika sampai aku melihat putriku merasa risih atau terganggu lagi karena ulahmu..."
Ardio meremas pelan bahu Devan hingga Devan menahan sakit.
"...bukan cuma impianmu yang akan hancur, tapi aku pastikan nama keluarga Dewanta hilang dari dunia medis sebelum kamu sempat menyelesaikan sekolah ini. Paham?"
"P-Paham, Tuan Ardio! Saya paham... saya janji!" seru Devan cepat dengan napas tersengal-sengal.
"Bagus," kata Ardio dingin, melepaskan cengkeramannya dari bahu Devan.
Ia merapikan kembali jas mewahnya, lalu melangkah melewati Devan tanpa menoleh lagi. "Sekarang, enyah dari pandanganku."
Devan terduduk lemas di atas lantai marmer begitu Ardio menjauh. Ia menyandarkan punggungnya di dinding, napasnya naik turun memburu.
Ia memejamkan mata, memegang dadanya yang berdegup kencang.
Ia beruntung masih diberikan kesempatan hidup oleh sang King Mafia berkat Adelia.
...********...
Suasana di ruang keluarga kediaman Ardio terasa sunyi dari biasanya.
Malam itu, setelah kehebohan besar di SMA Garuda Bangsa mereda.
Adel memilih untuk duduk berhadapan langsung dengan ayahnya di sofa panjang ruang tamu.
"Papa....Sampai kapan Papa mau terus menyembunyikan identitas asli Papa dari Adel?" panggil Adel pelan.
"Sayang... Papa tidak pernah berniat membohongimu. Papa cuma... cuma ingin melindungimu dari dunia gelap yang kotor ini," kata Ardio terdengar serak.
"Tapi dunia gelap itu sudah ada di depan mata Adel, Pa! Kemarin Sisca gemetar ketakutan menyebut nama Ardio. Hari ini, seluruh sekolah melihat sendiri helikopter perang dan pasukan bersenjata datang ke sekolah cuma buat nganter bekal makanan! Semua orang di sekolah sekarang tahu kalau Papa bukan sekadar pengusaha kaya biasa..." kata Adel dengan nada yang sedikit meninggi.
"...Papa sebenarnya siapa? Apakah benar apa yang dikatakan orang-orang... kalau Papa adalah pimpinan mafia paling ditakuti di dunia bawah?" tanya Adel yang ingin mengetahui lebih dalam lagi.
Ardio terdiam kaku.
Ketakutan terbesar yang ia pendam selama lima belas tahun terakhir, ketakutan bahwa putri kecilnya akan memandangnya dengan jijik, takut, atau benci setelah mengetahui siapa dirinya yang sesungguhnya.
Kini benar-benar terjadi di hadapannya.
Ardio perlahan meraih tangan Adel.
"Iya, Adel... Apa yang mereka katakan itu benar. Papa adalah penguasa dunia bawah... seorang pria berlumuran darah yang membangun kekaisaran ini di atas mayat para musuhnya," bisik Ardio sangat pelan.