"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."
Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.
Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.
Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Dongeng Sebelum Tidur - 1
Naya melepaskan ikatan celemeknya dengan gerakan yang sangat anggun dan teratur. "Saya sudah sarapan lebih awal bersama para pelayan di dapur belakang tadi subuh. Ini waktu Anda bersama Kenzie. Saya permisi ke atas untuk merapikan kamar tidur Kenzie."
"Naya, tunggu," sela Arka cepat, menghentikan langkah wanita itu. Arka melirik para pelayan lain yang mulai berseliweran di koridor luar. "Ibuku ... Mama Ambar baru saja mengirim pesan. Beliau bilang jadwal arisan keluarga besar dimajukan menjadi akhir pekan ini. Clarissa juga akan membawa pengacara keluarganya dengan dalih membahas bisnis konsorsium yang sempat tertunda."
Naya menghentikan langkahnya, tubuhnya berputar kembali menghadap Arka dengan keanggunan mutlak. Sepasang mata bulatnya menatap Arka tanpa ada sekerat pun rasa gentar atau panik mendengar nama Clarissa disebut kembali.
"Lalu? Apa yang Anda cemaskan, Tuan Arka? Bukankah saya sudah katakan, selesaikan urusan bisnis Anda di kantor, dan biarkan saya mengurus sisanya di rumah ini?" tanya Naya, suaranya mengalun rendah namun membawa ketegasan sekeras baja.
Arka merendahkan suaranya, memastikan Kenzie yang sedang asyik makan tidak mendengar pembicaraan dewasa mereka. "Clarissa sengaja membawa pengacara untuk memancing legalitas hubungan kita di depan keluarga besar, Naya. Mereka ingin melihat apakah kita benar-benar hidup sebagai suami istri atau hanya rekayasa demi hak asuh."
Naya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat dingin menghanyutkan, sebuah senyuman milik seorang wanita yang memiliki kontrol penuh atas mentalnya sendiri.
"Jika mereka membawa hukum ke dalam rumah ini, maka mereka salah memilih medan pertempuran," ucap Naya dengan nada bicara yang teratur. "Di depan pengacara itu nanti, pastikan Anda bertingkah seolah-olah Anda sangat mencintai saya hingga tidak bisa hidup tanpa saya, Mas Arka. Biarkan saya yang memegang kendali atas pembicaraan domestik kita. Jika mereka ingin mencari celah, saya pastikan mereka hanya akan menemukan tembok hukum yang sah secara agama dan negara."
Arka terpaku menatap keteguhan di mata Naya. Jantungnya kembali berdegup dengan ritme yang liar. Keberanian sunyi yang dimiliki wanita ini selalu sukses meredam badai kecemasan di dalam dirinya. Di saat Arka yang berkuasa merasa terancam, Naya yang sederhana justru berdiri kokoh menjadi pelindungnya.
"Aku ... aku mengerti," sahut Arka pelan, kehilangan kata-kata untuk mendebat argumen taktis istrinya.
Naya mengangguk kecil sebagai tanda hormat formal. "Habiskan sarapan Anda. Jangan biarkan Kenzie melihat wajah cemas ayahnya lagi. Saya permisi."
Naya berbalik dan melangkah menaiki tangga dengan punggung yang tegak lurus, menyisakan kehangatan masakan pagi dan aroma teh yang menenangkan di dapur.
Arka menatap punggung itu hingga menghilang di tikungan lantai dua. Ia menyesap teh hangat buatan Naya perlahan, merasakan setiap kehangatan yang menjalar di tubuhnya. Pagi ini, di tengah riuh tawa polos anaknya dan sisa tepung yang berantakan, Arka menyadari satu hal dengan sangat jelas: menu sarapan yang berbeda ini telah merubah seluruh definisi rumah di dalam kepalanya. Dan ia mulai takut, ketakutan yang sangat besar, bahwa setelah dua tahun kontrak ini berakhir, ia tidak akan pernah bisa melepaskan wanita bernama Nayara itu dari hidupnya.
***
Malam kian larut, membawa keheningan yang biasa merayap di koridor-koridor megah kediaman Dewangga. Di luar, angin malam berembus pelan, menggoyang dahan-dahan pohon palem di taman belakang. Namun, di dalam kamar tidur Kenzie, suasana terasa jauh lebih hangat. Lampu utama sengaja dimatikan, menyisakan pendaran kuning keemasan dari lampu tidur berbentuk bintang yang memproyeksikan siluet langit malam di langit-langit kamar.
Naya baru saja merapikan selimut bermotif dinosaurus milik Kenzie ketika pintu kamar terbuka pelan. Arka melangkah masuk. Pria itu sudah menanggalkan kemeja kerjanya, kini hanya mengenakan kaus polos hitam longgar dan celana kain santai. Wajah tegasnya tampak lebih rileks, meski sisa-sisa kelelahan dari beban kerja di kantor seharian tadi masih tertinggal di sudut matanya.
"Kenzie belum tidur?" tanya Arka dengan suara bariton yang diredam.
Naya mendongak, menunjukkan wajah tenangnya yang menghanyutkan. "Belum. Dia sengaja menunggu Anda pulang karena menagih janji tadi pagi."
"Papa!" Kenzie langsung menegakkan tubuhnya, menepuk-nepuk sisi ranjangnya yang kosong. "Papa janji mau temani Kenzie main robot malam ini!"
Arka berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang dengan senyuman lembut yang murni. Ia mengusap puncak kepala anaknya. "Ini sudah jam sembilan lewat, Jagoan. Waktunya tidur, bukan main robot. Bagaimana kalau Papanya ganti dengan menemani Kenzie sampai tidur?"
Bocah berusia empat tahun itu mengerucutkan bibirnya sejenak, menimbang-nimbang tawaran ayahnya. Matanya kemudian melirik Naya yang berdiri di sisi lain ranjang, lalu kembali menatap Arka. Sebuah ide polos tiba-tiba melintas di kepala kecilnya.
"Kenzie mau tidur, tapi ... Papa sama Mama harus di sini dua-duanya. Temani Kenzie tidur sama-sama!" pinta Kenzie, suaranya merengek manja sambil menarik tangan Arka dan ujung baju Naya sekaligus.
Seketika, gerakan Naya dan Arka membeku.
Sepasang suami istri kontrak itu saling melempar pandang di dalam keremangan kamar. Ada jeda kecanggungan yang mendadak pekat di antara mereka. Selama pernikahan di atas kertas ini berjalan, mereka selalu membagi wilayah dengan ketat. Kamar Kenzie adalah wilayah netral, namun mereka tidak pernah berada di dalam satu ruangan dalam kondisi seintim ini di jam tidur.
"Kenzie Sayang," Naya membuka suara, suaranya mengalun sangat tenang, mencoba mencairkan suasana dengan logikanya yang rapi. "Mama akan temani Kenzie di sini. Papa harus istirahat di kamarnya sendiri karena besok pagi-pagi harus bekerja lagi. Papa lelah."
"Tidak mau!" Kenzie mulai merengek lebih keras, matanya berkaca-kaca menatap sekeliling. Trauma melihat ruangan sepi pasca-sakitnya beberapa hari lalu seolah memicu sikap posesifnya malam ini. "Teman Kenzie di sekolah kalau tidur ditemani mama dan papanya. Kenapa Papa sama Mama tidak mau duduk dekat-dekat? Kenzie mau dipegang dua-duanya!"
Melihat gurat kecemasan yang mulai membayangi wajah anaknya, Arka menghela napas kalah. Ia tidak ingin memicu trauma baru bagi Kenzie seperti insiden bentakan malam itu.
Arka melirik Naya, memberikan isyarat pasrah yang jarang ia tunjukkan. "Duduklah, Naya. Turuti saja kemauannya malam ini."
Naya menarik napas dalam-dalam secara perlahan, mempertahankan kontrol penuh atas emosinya. Dengan keanggunan yang mutlak, ia mengitari ranjang kecil itu dan mengambil posisi duduk di sisi kanan Kenzie, sementara Arka berada di sisi kiri. Tubuh mungil Kenzie menjadi pembatas alami di antara mereka, namun jarak yang tersisa tetap terasa terlalu dekat bagi dua orang yang aslinya adalah orang asing.
Bersambung ...