NovelToon NovelToon
Si Detektif Gila

Si Detektif Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Sistem
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Ternyata benda yang diserahkan gadis kecil itu kepada pria berambut pirang benar-benar sebuah flashdisk.

Di dalamnya terdapat dua username dan kata sandi akun game populer yang sedang ramai dimainkan anak muda.

Revan menghela napas lega.

“Jadi, cuma pencurian akun game?”

Diam-diam dia bersyukur tadi tidak langsung keluar dan menangkap mereka. Kalau sampai seorang petugas Unit Investigasi Kasus Khusus tertangkap basah sedang menangani dua pencuri akun game receh, tamat sudah harga dirinya. Bisa-bisa dia jadi bahan tertawaan satu kantor.

Tapi tetap saja ada yang terasa aneh.

Dua akun game saja sampai dibayar dua puluh juta?

Jumlahnya jelas bukan sedikit. Bahkan bisa menutupi gajinya selama beberapa bulan.

“Pak, sumpah, ini pertama kalinya saya melakukan seperti ini.” Gadis itu masih menangis sesenggukan. “Uangnya juga tidak saya mau lagi. Tolong lepaskan saya. Saya benar-benar tidak akan mengulanginya!”

“Cih.”

Revan menyilangkan tangan di dada.

“Tadi waktu transaksi kamu kelihatan lancar sekali. Sekarang bilang ini pertama kalinya?”

Gadis itu langsung bungkam.

“Kalau memang cuma mencuri akun game, kenapa pembayarannya pakai uang tunai?” tanya Revan. “Kenapa tidak transfer saja? Bukankah lebih praktis?”

“Pak Polisi...” Gadis itu menjawab jujur. “Saya belum punya KTP. Jadi saya belum bisa bikin rekening bank. Lagipula kalau transaksi lewat internet, semuanya bisa dilacak.”

Revan sedikit terkejut.

“Oh?”

Dia menatap gadis itu lebih serius.

“Jangan bilang kamu memang sudah ahli melakukan hal seperti ini? Selama ini uang dari membobol akun game kamu pakai untuk apa? Beli perangkat baru?”

“Bukan!”

Gadis itu buru-buru menggeleng.

Anehnya, setelah mendengar pertanyaan itu, tangisnya justru berhenti.

“Uangnya untuk pengobatan ibu saya.”

“Pengobatan?”

“Ibu saya menderita gagal ginjal.”

Revan mendengus pelan. Dia jelas belum langsung percaya.

“Benar!” Gadis itu buru-buru menjelaskan. “Sekali pemeriksaan saja bisa menghabiskan jutaan rupiah. Uang dari ayah saya yang sehari-hari jualan buah benar-benar tidak cukup. Ayah bahkan sedang berusaha menyewakan lantai atas rumah kami untuk mendapatkan tambahan uang.”

Langkah Revan mendadak terhenti.

Dia menatap gadis itu dari atas sampai bawah.

Entah kenapa wajahnya terasa familiar.

“Namamu siapa?”

“Jangan bohong. Kalau saya tahu kamu berbohong, saya bawa langsung ke kantor polisi.”

“Saya benar-benar tidak bohong.” Gadis itu menelan ludah. “Nama saya Siska. Ayah saya namanya Pak Jaya. Kami punya toko buah bernama Buah Makmur Jaya di Jalan Melati.”

“...Astaga.”

Revan terdiam.

Ini terlalu kebetulan.

Baru beberapa saat lalu dia berurusan dengan pemilik toko buah bernama Pak Jaya. Sekarang dia malah menangkap putrinya sendiri sedang melakukan aktivitas ilegal.

Kebetulan macam apa ini?

Seketika Revan teringat Sistem Keajaiban.

Mungkinkah semua ini memang sudah diatur oleh sistem?

“Pak Polisi?”

Siska memandangnya hati-hati.

Revan masih melamun.

“Pak?”

Gadis itu tidak berani kabur. Dia hanya berdiri di tempat sambil menggenggam amplop uang tersebut.

“Jadi... saya boleh pergi?”

Dia menunduk.

“Uangnya juga tidak saya butuhkan lagi. Saya kembalikan semuanya.”

Revan akhirnya tersadar.

Matanya langsung tertuju pada amplop di tangan Siska.

Sebuah ide muncul di kepalanya.

“Siapa bilang tidak boleh?”

Revan mengambil amplop itu dan memasukkannya kembali ke tangan Siska.

“Ambil.”

Siska melongo.

“Eh?”

“Kenapa malah bengong? Ambil saja.”

“Tapi...”

“Kita kan sudah kenal.”

Revan memasang senyum yang sangat ramah.

“Lagipula saya sudah tahu kondisi keluargamu. Kalau memang uang itu untuk pengobatan ibumu, saya bisa pura-pura tidak tahu.”

Siska semakin bingung.

“Benarkah?”

“Tentu.”

Revan mengangguk mantap.

“Kalau nanti ada masalah, cari saya. Saya cukup kenal daerah sini.”

Dia kemudian melirik amplop yang masih berada di tangan Siska.

“Cuma...”

Siska mengikuti arah pandangannya.

“Oh!”

Wajahnya langsung berubah.

“Saya mengerti.”

Revan mengangkat alis.

“Kamu mengerti apa?”

“Bapak mau uang keamanan, ya?”

“Eh?”

Revan langsung memasang wajah tidak bersalah.

“Uang keamanan apaan? Kedengarannya terlalu kasar.”

Dia berdeham.

“Anggap saja kita kerja sama. Kamu yang punya keahlian, saya yang punya jalur dan pengalaman. Kalau bisnisnya jalan, tentu hasilnya harus dibagi.”

Siska menatapnya curiga.

“Tapi... saya juga yang menjalankan bisnisnya, kan?”

Revan langsung mengernyit.

“Hm.”

“Tidak apa-apa,” lanjut Siska pasrah. “Saya anggap saja saya pihak yang lebih lemah. Bapak tidak menangkap saya saja sudah cukup baik.”

Dia menarik napas.

“Jadi... bagi hasilnya berapa?”

“Biasanya di lapangan, kamu tiga puluh persen dan saya tujuh puluh.”

Siska langsung memasang wajah masam.

“Tapi karena saya kenal ayahmu, saya kasih harga khusus.”

Revan mengangkat satu jari.

“Kamu empat puluh persen. Saya enam puluh.”

“Tidak bisa.”

Siska buru-buru menggeleng.

“Ibu saya benar-benar butuh uang. Kalau cuma empat puluh persen, saya tidak akan punya cukup uang untuk pengobatan.”

Revan menghela napas.

“Baiklah.”

Dia mengangkat lima jari.

“Lima puluh-lima puluh. Itu harga terakhir.”

“Benarkah?”

“Ya.”

Revan mengangguk.

“Tapi satu syarat. Maksimal satu kali sebulan.”

Siska mengangguk pelan.

“Lagipula anak-anak zaman sekarang memang banyak yang kecanduan game. Setiap hari uang orang tua dihabiskan buat beli item dan perlengkapan game.”

Revan berbicara dengan wajah serius seolah sedang menyampaikan nasihat moral.

“Kalau akun mereka dicuri sekali, mungkin mereka jadi kapok.”

Siska menatapnya cukup lama.

Entah kenapa, Revan bisa berbicara seolah-olah mereka sedang menjalankan sebuah misi sosial, padahal sejak awal yang dibicarakan adalah pembagian hasil dari tindakan ilegal.

Siska yang masih muda dan belum berpengalaman jelas tidak mungkin menang berdebat melawannya.

Akhirnya dia menyerah.

Sekitar dua puluh menit kemudian, Revan sudah membawa uang sepuluh juta rupiah sebagai bagian hasil kesepakatan aneh tersebut.

Dia kembali menuju toko buah milik Pak Jaya.

Tujuannya sederhana.

Dia ingin menyewa lantai atas rumah pria itu.

Namun ketika sampai, Revan langsung menemukan masalah baru.

Ternyata setelah dia pergi, sudah ada dua pemuda lain yang datang untuk menyewa tempat tersebut.

Bahkan uang sewanya sudah dibayarkan.

Pak Jaya yang bertubuh gemuk berdiri di sana dengan wajah sumringah sambil menghitung uang.

“Berhenti!”

Teriakan Revan membuat semua orang terkejut.

Dia langsung melangkah masuk.

Pak Jaya mengangkat kepala.

“Lho? Kamu lagi?”

Revan tidak menjawab pertanyaan itu.

Dia langsung berjalan menghampiri Pak Jaya dengan wajah galak.

“Dasar bapak-bapak tidak bisa dipercaya!”

Pak Jaya terkejut.

“Eh?”

“Bukannya tadi kamu bilang rumah itu sudah kamu sewakan ke saya?”

Revan menunjuk lantai atas.

“Saya sudah pergi mencari uang. Begitu kembali, tempatnya malah sudah disewakan kepada orang lain?”

Dua pemuda yang sedang berdiri di sana saling pandang.

Wajah mereka mulai tegang.

Pak Jaya tampak kebingungan.

“Bukan begitu. Bukannya kamu tadi bilang..”

“Bilang apaan?”

Revan mengambil sebatang kayu yang tergeletak di dekat toko.

Dia mengangkatnya sambil menunjuk ke arah Pak Jaya.

“Kalau kamu memang tidak mau menyewakan tempat itu kepada saya, bilang dari awal!”

Pak Jaya langsung panik.

“Eh, jangan marah dulu!”

Revan kemudian menoleh kepada dua pemuda tersebut.

“Dan kalian berdua.”

Keduanya langsung menegang.

“Kalau kalian tetap mau menyewa tempat ini, pikirkan lagi baik-baik.”

Revan mengayunkan batang kayu ke telapak tangannya.

“Saya akan mengawasi tempat ini. Kalau nanti tiba-tiba ada masalah... jangan salahkan saya.”

Dua pemuda itu langsung pucat.

Pak Jaya akhirnya tidak tahan.

“Kalau kamu terus begini, saya panggil polisi!”

Revan justru tertawa kecil.

Dia mengeluarkan kartu identitas kepolisiannya.

“Mau panggil polisi?”

Pak Jaya membeku.

Revan mengangkat kartu itu tepat di depan wajahnya.

“Kebetulan saya polisi.”

Dia kemudian memasukkan kembali kartu identitasnya.

“Dan sekalian saja saya periksa toko kamu. Barusan ada laporan kalau toko ini menjual buah busuk.”

“Apa?!”

Wajah Pak Jaya langsung berubah.

Dua pemuda yang tadi hendak menyewa rumah bahkan tidak menunggu lebih lama.

Mereka buru-buru mengambil uang mereka dan pergi meninggalkan tempat itu.

Pak Jaya hanya bisa berdiri mematung.

Beberapa detik kemudian, dia mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

“Sudahlah, sudahlah!”

Dia menghela napas panjang.

“Kamu menang. Tempat itu kamu saja yang sewa.”

Pak Jaya menatap Revan dengan kesal.

“Ya ampun... orang tidak tahu malu memang benar-benar tidak terkalahkan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!