Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: RAPAT DI BAWAH KASINO
#
Dua minggu setelah Anderson jatuh, ruang bawah tanah kasino itu sudah berubah jadi markas.
Dulu tempat ini gudang anggur. Sekarang dindingnya tertempel peta Sarvenna, foto-foto, dan benang merah yang ditarik Axel dari satu nama ke nama lain. Di tengah ruangan ada meja panjang dari kayu jati, dan di sekelilingnya duduk orang-orang yang tiga minggu lalu belum saling kenal.
Kenzo duduk di ujung meja. Topeng porselen di wajahnya, jaket hitam, tangan terlipat. Axel di sebelahnya dengan tablet. Di sisi kanan, Jack Lowtake dan Jeky CareDock duduk berdempetan seperti dua lemari di satu bangku, dan kursi kayu di bawah mereka berderit tiap kali salah satunya bergerak.
(Koreksi nama: bukan Jeku, tapi **Jeky**. Jeky tersinggung sekali waktu namanya salah ditulis di papan. Katanya itu penghinaan keluarga.)
"Baik," kata Kenzo pelan. "Kita mulai."
---
## Rencana: Pelan, Tapi Mematikan
"Alexander bukan Anderson," kata Axel lewat tablet. Suara mesinnya bergema datar. "Kalau kita serbu rumahnya sekarang, kita mati sebelum sampai pagar. Dia punya Lingkar Hitam, polisi, dan menteri yang berutang budi."
"Jadi?" tanya Dante Laencha sambil memutar gelas anggur kosong. Senyumnya setipis pisau.
"Kita tidak menyerang orangnya. Kita menyerang uangnya."
Axel menekan layar. Di dinding, proyektor menampilkan diagram bisnis Alexander, dan Kenzo diam-diam menahan napas. Terlalu besar. Pelayaran, gudang, tiga pabrik, empat yayasan, dua rumah sakit, saham pelabuhan. Semua tersambung seperti akar pohon beringin.
"Satu per satu," lanjut suara mesin itu. "Kita tebang akar yang paling kecil dulu. Dia tidak akan sadar sampai pohonnya mulai miring."
Aceng Lodrof, si peretas kurus, mengangkat tangan seperti murid di kelas. "Kak Axel! Aku udah nemu tiga rekening cadangan! Aku bisa kosongin dalam semalam!"
*Jangan,* tangan Axel bergerak cepat. *Terlalu mencolok. Kosongkan sedikit-sedikit. Biar dia kira itu salah hitung.*
Aceng mengangguk gugup, hampir menjatuhkan laptopnya.
"Vito," kata Kenzo. "Truk-truknya."
Vito Rank Tank mengunyah permen karet dengan tenang, bundar dan santai. "Tiga truk muatan Alexander lewat jalan pesisir tiap Kamis. Aku bisa bikin satu mogok. Atau meledak. Mana yang Bos mau?"
"Mogok. Tapi isinya hilang."
"Beres."
"Marco, dokumen. Tony, siapa di Kementerian yang bisa kita ancam dengan rahasianya sendiri."
Marco el Ghabel menepuk punggungnya, tempat tato peta itu tersembunyi di balik kemeja. "Satu hari. Aku bikin kamu jadi inspektur pajak asli, Bos."
Tony Combroth menggosok dagunya yang berjanggut kasar. "Ada tiga nama. Tapi yang paling menarik... pejabat bea cukai yang punya simpanan di rumah kedua. Istrinya belum tahu."
Rocco Se Black, si penembak jitu, tidak bicara. Ia hanya mengangkat cangkir kopi hitamnya sedikit, tanda siap.
Kenzo mengangguk. Satu per satu, rencana itu menyatu seperti kepingan teka-teki. Untuk pertama kalinya sejak Victor mati, ruangan ini terasa seperti sesuatu yang hidup.
---
## Harga Pertama
Mereka mulai hari Kamis.
Truk pertama mogok di jalan pesisir tepat pukul tiga pagi. Dua sopir turun dengan lampu senter dan menggerutu. Tidak ada yang melihat Vito dan Jack Lowtake keluar dari semak. Dalam sepuluh menit, empat belas peti sudah pindah ke van mereka, dan sopir-sopir itu dibiarkan tertidur di kabin dengan obat dari Dante.
Isi peti itu bukan beras.
Kenzo membuka satu peti di gudang persembunyian mereka, dan tidak ada yang bicara untuk waktu lama. Di dalamnya ada kotak-kotak kecil berisi serbuk putih, dan di bawahnya, tersembunyi, daftar nama anak-anak. Dengan umur, tinggi badan, dan harga.
"Ya Tuhan," bisik Jack. Lelaki sebesar lemari itu mundur selangkah, wajahnya pucat.
"Jangan dibakar," kata Kenzo, suaranya hampir tak keluar. "Ini bukti. Kita sembunyikan, kita bawa ke tempat yang aman, kita cari anak-anak ini."
Mereka menemukan sepuluh dari tiga puluh nama dalam dua minggu.
Tapi tidak semuanya berjalan mulus. Alexander bukan orang bodoh. Pada minggu ketiga, gudang penyimpanan mereka di distrik selatan diserang pada tengah malam oleh dua puluh orang bersenjata. Dua anak buah Kenzo luka parah. Tony Combroth kehilangan telinga kiri, kena serpihan peluru. Vito harus meninggalkan van kesayangannya terbakar di jalan.
"Harganya mahal," kata Kenzo malam itu di ruang bawah tanah, sambil menatap peta yang kini penuh tanda merah. "Tapi kita dapat sepuluh anak."
Tony tersenyum meski perban putih membungkus kepalanya. "Telinga bisa tumbuh lagi, Bos. Anak-anak itu nggak bisa dibeli lagi."
---
## Rapat yang Aneh
Pada malam ke-18, mereka berkumpul lagi di ruang bawah tanah untuk membahas langkah terbesar: pabrik tekstil milik Alexander di Marenta, yang menurut Aceng menyimpan sistem pembukuan ganda.
Kenzo membuka rapat dengan suara pelan. Peta digelar di meja. Dante menunjuk pintu masuk. Rocco mengetukkan jari ke atap bangunan seberang.
"Dua penjaga di gerbang, empat di dalam. Tapi bagian sini..." Axel menunjuk denah. "...ada gorong-gorong tua yang tidak ada di peta resmi."
"Gorong-gorong," ulang Jeky. "Aku bisa lewat?"
"Kamu nggak muat," sahut Jack.
"Aku muat."
"Tidak."
"Aku muat, bodoh."
"Kita kembar identik, kalau aku nggak muat, kamu juga nggak!"
Vito hampir tersedak permen karetnya. Aceng menutup mulut dengan tangan, menahan tawa, dan bahkan Rocco menggeleng sambil tersenyum tipis di balik cangkirnya. Kenzo mengangkat tangan.
"Cukup. Kita..."
*BRAK.*
Semua berhenti.
Bunyi itu datang dari balik dinding timur, tempat rak-rak anggur lama menumpuk. Pelan, tapi jelas. Seperti sesuatu yang berat jatuh ke lantai batu.
*BRAK.*
Dante meletakkan gelasnya perlahan. Rocco sudah memegang pistol di bawah meja tanpa ada yang melihatnya bergerak. Tony menyipitkan mata.
*BRAK... BRAK... BRAK.*
Semakin keras. Semakin dekat. Seperti ada sesuatu yang menghantam dinding dari seberang, berkali-kali, dengan irama yang pelan dan sabar.
"Itu... apa?" bisik Aceng, wajahnya pucat.
Axel menatap layar tablet. Jarinya berhenti. *Tidak ada kamera di sana. Itu ruang mati.*
Kenzo berdiri pelan. Tangannya meraih pistol di pinggang. "Jack. Cek."
"Aku?" Jack Lowtake mengerjap. Lelaki setinggi dua meter itu tiba-tiba terlihat lebih kecil dari sebelumnya. "Kenapa aku?"
"Kamu yang paling besar. Kalau ada yang menyerang, kamu yang paling tahan pukul."
"Itu... masuk akal. Sedikit." Jack menelan ludah, menarik napas dalam, lalu menyingkirkan dua kursi dan berjalan ke arah rak anggur. Langkahnya berat, hati-hati, dan Jeky di belakangnya mengikuti dengan senter di tangan.
*BRAK.*
Jack menempelkan telinga ke dinding. Dingin. Lembap. Ada bunyi lain di sana, samar, seperti sesuatu yang bergesek.
"Bos..." bisiknya. "Ada suara napas."
Kenzo mengangguk pelan, memberi isyarat. Semua orang menahan napas. Dante bergeser ke sisi kiri, Rocco ke kanan, pistol terangkat. Jack menarik rak anggur yang berat itu dengan satu tangan, pelan, pelan sekali, dan di balik bayangan di belakangnya terlihat celah sempit di dinding, hitam, dalam.
Jeky menyorotkan senter ke dalam.
Tidak ada apa-apa. Hanya gelap.
*BRAK!*
Sesuatu melompat dari kegelapan, besar, cepat, dan Jack Lowtake menjerit sekeras anak perempuan sambil jatuh terduduk. Jeky ikut menjerit. Senter terpelanting. Semua senjata terangkat sekaligus, dan di tengah kekacauan itu, di bawah cahaya yang berputar di lantai, Kenzo melihat dua mata kecil berkilat dan sebuah bayangan panjang yang berlari kencang di antara kaki-kaki mereka.
"Jangan tembak!" teriak Axel.
Terlambat. Rocco sudah menarik pelatuk.
Tapi peluru itu menghantam lantai kosong. Bayangan itu sudah melesat ke bawah meja, berputar, dan akhirnya naik ke kursi tempat Jack Lowtake tadi duduk. Di sana ia berhenti, tegak di atas dua kaki belakang, menatap mereka semua dengan kumis bergetar.
Itu bukan tikus biasa. Hampir sebesar kucing. Bulunya hitam kusam, ekornya panjang seperti cambuk. Di lehernya, terikat dengan benang merah, ada sebuah gulungan kertas kecil.
Jack Lowtake, yang masih duduk di lantai dengan wajah putih seperti kapur, menunjuknya dengan jari gemetar.
"I-i-itu... tikus..."
"Iya, Jack," kata Vito datar sambil mengunyah permen karetnya. "Tikus."
"Aku... aku..."
"Kamu takut tikus?" tanya Jeky, mulai terkikik meski dirinya sendiri tadi ikut menjerit.
"Diam!"
Kenzo tidak tertawa. Ia melangkah pelan ke arah kursi itu, matanya menyipit di balik topeng. Tikus got itu tidak lari. Ia menatap Kenzo, lama sekali, seolah sudah menunggu. Dengan hati-hati, Kenzo mengulurkan tangan dan melepas gulungan kertas dari lehernya.
Tikus itu melompat turun dan menghilang ke celah dinding tanpa suara.
Kertas itu kecil, lembap, berbau tanah. Kenzo membukanya dengan jari yang tiba-tiba terasa dingin. Di dalamnya ada satu baris tulisan tangan yang rapi dan tenang, tinta hitam, huruf miring yang entah kenapa terasa familiar sampai ke tulang.
Axel mendekat dan membacanya dari balik bahu Kenzo. Wajahnya berubah. Tangannya yang memegang tablet mulai gemetar, dan suara mesin itu keluar nyaris tanpa nada:
"Kenzo... ini... kamu ingat tulisan ini?"
Kenzo tidak menjawab. Ia menatap kertas itu, dan di bawah topengnya napasnya berhenti.
Karena tulisan itu hanya menuliskan satu kalimat pendek:
*Dari mana kau pikir tikus itu bisa masuk, Nak? Tanyakan pada Dante.*
Seluruh kepala di ruangan itu menoleh serempak.
Dante Laencha, perempuan tenang dengan senyum pisau itu, masih duduk di kursinya. Gelas anggurnya sudah tidak ada di tangan. Dan di balik meja, perlahan, tanpa suara, jari-jarinya sudah bergerak ke arah pinggang.
---
*Bersambung ke Bab 20*