Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.
Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.
Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Jadi Mundur
“Ga bisa. Keputusannya harus sekarang juga. Kalau memang iya, pulang dari sini kita langsung berkemas dan tinggal di tempat saya. Kalau tidak, lunasi dendanya hari ini juga. Itu perjanjian dalam kontrak.” Bu Inggit semakin memberi penegasan.
Maya ikut ambil bagian. “Tentang denda pembatalan ada di poin lima.”
Ia menunjukkan foto halaman file yang memuat pernyataan itu ke wajah Melisa.
Melisa semakin terpojok. Sepertinya, ia memang tidak bisa mundur lagi. Orang-orang yang kemarin terlihat baik ini sepertinya serius tentang rencana menjadikannya mempelai wanita dalam acara pernikahan yang katanya akan dilangsungkan seminggu lagi.
Melisa menemukan ide gila. Kalau ia tidak bisa mundur, maka akan ia buat pria itu yang tidak betah dan menceraikannya. Ini sepertinya seimbang, Melisa tetap dapat gaji bulanan dan bisa keluar dari sana tanpa membayar denda apa-apa.
“Oke, saya tidak mundur.” Melisa mengatakan itu tanpa menunjukkan keraguan sedikit pun.
Bu Inggit tersenyum. Melihat respon Melisa yang secepat itu, ia tahu gadis ini pasti merencanakan sesuatu. Mari kita lihat siapa yang mendapat lebih banyak keuntungan dari kontrak ini dan kesalahan Melisa yang ceroboh mebubuhkan tanda tangannya tanpa membaca keseluruhan isi kontrak dengan lengkap.
Maya melirik Bu Inggit, ia juga heran, Melisa yang tadi sehisteris itu kenapa tiba-tiba setuju tanpa perlawanan, tanpa memberikan syarat apapun. Apa karena dua lawan satu jadi Melisa mengalah begitu saja karena merasa tidak mungkin bisa melawan?
Bu Inggit menanggapi lirikan Maya dengan memberinya isyarat untuk tetap diam dan melanjutkan saja rencana ini, seolah meyakinkan bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Persetujuan melisa dianggap sesuatu yang aman.
“Sukurlah kalau begitu. Ayo kita cari makan dulu, Bu.” Maya coba mencairkan suasana.
Bu Inggit mengiyakan lalu menentukan tempat. Mobil mereka pun melaju ke tujuan yang disebutkan.
…
Sepanjang perjalanan Melisa jadi sedikit sekali berbicara. Ia sedang sibuk Menyusun rencana, ulah apa saja yang nanti bisa ia lakukan untuk mengacaukan rumah orang-orang itu. Pasti seru sekali melihat mereka kelimpungan membereskan kekacauan yang ia buat, lalu menyerah sendiri dengan membiarkannya pergi dari rumah itu tanpa membayar apapun agar tidak terus membuat kegaduhan yang memusingkan. Ah, membayangkannya saja Melisa sudah lega sendiri.
“Tidak apa-apa. Nanti ia nikmati saja kekayaan orang-orang itu, ia kuras uangnya, lalu setelah banyak berulah ia akan pergi dari sana. Hah, siapa suruh main jebak-jebakan. Mari kita lihat siapa yang justru terjebak dalam permainannya sendiri.”
Batin Melisa riuh sendiri, ia tidak ikut mengobrol tapi mengucapkan banyak hal dalam hatinya.
Melihat Bu Ingggit dan Maya tertawa-tawa entah membahas apa, ia jadi semakin jengkel.
“Ternyata Bu Inggit tidak sebaik kelihatannya. Bagaimana bisa ada seorang ibu yang menjebak anak perempuan orang lain untuk dinikahkan dengan anaknya sendiri yang tidak laku sampai jadi bujang tua lapuk. Biar saja, semoga anak-anak perempuan dalam keluarga Bu Inggit mengalami hal yang sama dengan yang aku alami. Biar mereka merasakan sendiri. Tolong hukum orang-orang dzalim ini, Tuhan.”
Melisa tidak menyimak apapun yang dibahas Bu Inggit dan Maya, ia terus mengoceh sendiri dalam hatinya. Mengumpat, mengutuk, mendoakan yang tidak-tidak sampai hatinya benar-benar merasa lega.
Untung saja setelah acara drama salah paham dan adu power tadi, Melisa diberi makan. Kalau tidak, ia akan terus menjadi buto ijo yang marah sampai rumah nanti.
“Kali ini kamu bebas pesan apapun, Mel. Kamu sudah ibu anggap keluarga sekarang.” Keramahan Bu Inggit tidak lagi disambut baik oleh Melisa, ia masih diliputi perasaan jengkel.
“Iya, Bu.” Ia menjawab seadanya.
Maya yang paham suasana hati Melisa ikut canggung, tapi ia tidak bisa menahan diri untuk bertanya. “Jadi, sebenarnya apa saja yang kamu baca dalam kontrak itu kemarin, Mel?”
“Jujur, tidak semuanya. Aku hanya baca beberapa daftar pekerjaan yang harus aku lakukan, itu membosankan. Jadi langsung ke benefit, gajinya lumayan besar buat aku yang hidup sendirian. Setelah gaji aku tidak baca apa-apa lagi.” Melisa menjawabnya dengan wajah tetap focus memilih makanan di buku menu, ia mencari makanan mahal yang mungkin bisa ia nikmati saat ini.
“Lalu langsung tanda tangan begitu saja?” cecar Maya.
“Iyalah.” Kali ini Melisa tidak bersikap sopan lagi. Tidak ada yang mau ia pikat, kalau sebelumnya ia bersikap baik agar diterima bekerja, saat ini ia bersikap menyebalkan agar mereka yang menyerah.
Maya mengangguk-angguk. Tangannya ke atas untuk memanggil pelayan datang.
“Kamu pesan apa, Mel?” Ini Bu Inggit yang bertanya. Kalau kepada Bu Inggit ia perlu sedikit sopan, karena gaji-gaji itu nanti mungkin turunnya mengalir dari rekening Bu Inggit.
“Salmon, boleh?” Melisa bukan berniat untuk bertanya sungguhan, ia hanya memberi tahu mereka kalau akan memesan makanan yang mahal. “Aku dua porsi Salmon Wellington, satu Aranchini, satu Sup Asparagus, Dua Soft Shell Crab, satu Mini Russian Pizza, dan satu gelas Virgin Mojito.”
Nah, setelah menyebutkan nama-nama makanan yang dipesan Melisa merasa keren. Ia tahu jenis makanan itu dari konten orang-orang di sosmed. Menurutnya, itu makanan-makanan mahal yang akan menguras kantong.
Bu Inggit hanya tersenyum tipis, ia juga menyebutkan pesanan. Disusul dengan Maya yang menyamakan pesanan dengan yang disebutkan Bu Inggit.
“Kamu yakin bisa habiskan itu semua, Mel?”
“Yakin.” Eh, sebenarnya Melisa hanya ingin unjuk diri saja tadi. Kalau tidak habis nanti apa bisa dibungkus ya? Pasti malu sekali kalau harus membungkus makanan padahal sudah sok jagoan dengan memesan begitu banyak.
Ah, pasti bisa. Kalau lagi galau dan emosi begini biasanya dia habiskan dua kotak martabak coklat keju di abang gerobak langganan dekat kos sana. Ini makanan-makanan mewah, mana mungkin tidak habis.
Bu Inggit dan Maya mengangguk saja. Tidak perlu memperpanjang urusan yang tidak penting.
“Sambil menunggu pesanan datang, saya mau kasih tahu kamu kalau acara pernikahan ini akan dilangsungkan minggu depan. Jadi, saya harap besok pagi kamu sudah tinggal di rumah saya untuk melakukan beberapa persiapan, Mel.”
“Sebenernya saya itu heran ya, Bu. Kenapa di iklan judulnya lowongan kerja jadi asisten rumah tangga, kalau cari jodoh untuk anak sultan gitu kan pasti banyak pendaftarnya, ibu tinggal pilih mau yang mana.” Melisa coba sedikit mengungkapkan kekesalannya yang sejak tadi tertahan.
“Ini memang sebagai asisten kok, Mel. Kamu jadi asisten saya yang bertugas mendampingi anak saya, nanti kamu harus rutin kasih laporan apa saja perkembangan dan pengalaman anak saya itu. Gitu loh, Mel. Jadi intinya tuh kamu tetep jadi asisten saya,” jelas Bu Inggit panjang lebar.
Wajah Maya sampai merah menahan tertawa. “Memangnya ada ya pekerjaan yang seperti itu, Bu? Sedikit banyak, lowongan kerja ini memang bisa dianggap jebakan sih. Tapi salah Melisa sendiri juga kenapa tidak teliti membacanya, beberapa pendaftar sebelum ini menolak kok begitu membaca poin pernikahan.”
Itu dia, di sini Melisa juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa karena memang kecerobohan dirinya sendiri juga ikut berperan dalam kejadian ini.