Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan Vivian
“Tampan sekali...” batin Vivian sambil menatap wajah Delvin.
Baru tersadar bahwa dirinya telah salah masuk mobil, Vivian langsung panik.
“M-maaf, aku salah masuk mobil!”
Ia buru-buru membuka pintu dan keluar dari mobil.
“Vivian, sini!” seru Justin dan Joline dari dalam taksi yang terparkir di belakang.
Vivian langsung berlari dan masuk ke dalam taksi.
Jo yang berada di kursi pengemudi mobil Delvin melirik ke arah taksi tersebut.
“Bukankah dia Vivian Wei? Mobil bos begitu mewah, tapi dia malah bisa salah mengiranya sebagai taksi,” ucap Jo dengan heran.
“Jalan!” perintah Delvin singkat.
“Baik, Tuan.”
Jo segera menjalankan mobil.
Sementara itu, di dalam taksi, Vivian masih mengelus dadanya sambil mengatur napas.
“Vivian, kebiasaanmu kalau tidak salah masuk mobil, ya salah masuk kelas,” kata Joline sambil menggelengkan kepala. “Mobil tadi sangat mewah. Tidak tahu milik bos besar mana.”
Justin menoleh ke belakang.
“Pemiliknya memarahimu?”
“Tidak,” jawab Vivian sambil tersenyum.
“Kalau begitu, kenapa wajahmu seperti orang baru melihat hantu?”
“Pemiliknya sangat tampan.” Mata Vivian berbinar. “Saking tampannya, aku sampai lupa siapa namaku. Bahkan tadi aku sempat tidak ingin keluar dari mobil.”
Joline langsung melirik tajam ke arahnya.
“Sadarlah! Setampan apa pun pria itu, jangan pernah mendekatinya kalau kau masih ingin hidup tenang.”
“Kenapa?” tanya Vivian penasaran.
“Dia pasti ada hubungannya dengan Universitas Hua Qing. Bisa saja anaknya belajar di sini.”
“Anaknya?” Vivian mengerutkan kening. “Dia masih begitu muda. Sepertinya baru sekitar tiga puluh tahun. Mana mungkin anaknya sudah seusia kita?”
Justin langsung tertawa kecil.
“Sudah, jangan bahas pria itu lagi. Lebih baik kita pergi ke perpustakaan. Aku mau menunjukkan beberapa buku baru tentang teknologi.”
Vivian mengangguk.
“Kalau begitu, mari kita pergi!”
Taksi pun melaju meninggalkan area Universitas Hua Qing.
***
Mansion Keluarga Wei
Waktu makan malam tiba.
Seluruh keluarga Wei berkumpul di meja makan. Berbeda dengan yang lain, Vivian justru terlihat paling santai. Ia menyantap makanan dengan lahap seolah tidak peduli dengan tatapan keluarganya.
“Vivi, untuk ujian kali ini, kau yakin bisa mendapatkan peringkat yang bagus?” tanya Tom.
“Kakak tenang saja. Aku sudah sering belajar. Mama juga mencarikanku guru les, jadi nilainya pasti lebih tinggi dari tahun lalu,” jawab Vivi dengan bangga.
“Baguslah. Sebagai putri keluarga Wei, kau harus bisa membuat keluarga kita bangga,” ujar Tom.
Ia kemudian melirik Vivian dengan tatapan meremehkan.
“Jangan seperti seseorang yang sejak kecil malas belajar, hanya tahu bermain, dan tidak pernah serius.”
Vivian menghentikan makannya sejenak.
“Sering belajar juga tidak bisa mendapatkan peringkat pertama,” balas Vivian santai. “Peringkat kedua adalah putra keluarga Yang, Mark Yang.”
Vivian menatap Vivi sambil tersenyum tipis.
“Bukankah dia calon suamimu? Kalau begitu, Kakak harus bisa mendampinginya bukan hanya dalam kehidupan pernikahan, tetapi juga dalam hal nilai. Setidaknya jangan sampai perbedaan nilai kalian terlalu jauh.”
Wajah Vivi seketika berubah.
“Vivian, jangan kurang ajar kepada kakakmu!” bentak Tom. “Bagaimanapun juga, dia masih jauh lebih baik darimu. Jangan terus mempermalukan keluarga kita!”
Vivian meletakkan sumpitnya.
“Yang sering menimbulkan masalah di luar justru kau.”
Tatapannya berubah tajam.
“Yang menggoda janda juga kau. Jadi, siapa sebenarnya yang mempermalukan keluarga?”
“Kau!”
Tom yang tersulut emosi langsung berdiri. Tangan kanannya terangkat, berniat menampar wajah Vivian.
Namun, gerakan Vivian jauh lebih cepat.
Buk!
Sebuah pisau makan tiba-tiba tertancap di atas meja, tepat di sela-sela jari tangan kiri Tom.
“Aah!”
Tom tersentak. Wajahnya langsung pucat karena ujung pisau itu hanya berjarak beberapa milimeter dari jarinya.
Vivi, Mike, dan June juga terkejut melihat tindakan Vivian.
“Vivian! Apa kau ingin membunuh kakakmu?” bentak Mike.
“Papa, kakak yang mulai lebih dulu.” Vivian tetap tenang. “Apa salahnya aku memberinya sedikit peringatan? Kalau dia terus mencari masalah denganku, jangan salahkan aku menghilangkan jarinya."
Tom menatap Vivian dengan marah, tetapi untuk sesaat dia tidak berani mendekat.
“Vivian, benda tajam jangan dijadikan mainan,” tegur June.
“Ma, tenang saja. Aku hanya ingin mengingatkan Kakak.” Vivian mengambil kembali pisaunya dan meletakkannya di samping piring. “Saat makan, mulut harus dijaga. Tangan juga harus dijaga.”
Setelah itu, Vivian menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Aku sudah kenyang. Kalian lanjutkan saja.”
Ia bangkit dan hendak meninggalkan meja makan.
“Vivian!” panggil Vivi. “Kau tidak bisa pergi begitu saja. Kau masih harus mencuci piring dan membersihkan meja.”
Vivian berhenti dan menoleh.
“Nona Besar, bukankah tangan dan kakimu masih sehat?”
Vivi terdiam.
“Kalau begitu, kau saja yang melakukannya. Jangan selalu menyuruhku.”
Vivian kemudian melirik Tom.
“Lagipula, Kakak sangat menyayangimu, bukan? Minta saja dia membantumu.”
Tom mengepalkan tangannya.
Vivian tersenyum sinis.
“Kalau dia tidak mau, minta bantuan kepada Papa dan Mama. Mereka pasti tidak tega membiarkan putri kesayangan mereka melakukan pekerjaan sendiri.”
Vivian berbalik menuju tangga.
“Jadi, biarkan aku yang hanya anak tiri ini kembali ke kamar. Biar kehadiranku tidak terus mengganggu mata kalian.”
Setelah mengatakan itu, Vivian pergi tanpa menoleh lagi.
Di meja makan, suasana seketika menjadi hening.
“Mike, sejak Vivian keluar dari penjara, sifatnya berubah jauh. Dulu dia sangat ceria dan polos. Tapi sekarang dia justru lebih suka membantah dan melawan,” ujar June dengan wajah cemas. “Tadi dia bahkan hampir melukai Tom.”
“Ma, jangan sedih,” ujar Vivi dengan suara lirih. “Kakak membenciku, makanya dia selalu melawanku. Mungkin dia merasa selama ini diperlakukan tidak adil.”
Vivi menundukkan kepalanya, memasang wajah sedih.
“Aku akan meminta maaf kepadanya. Kalau perlu, aku akan berlutut di hadapannya.”
“Vivi, sudahlah,” sela Tom. “Dia tidak bisa dibandingkan denganmu.”
Tom menatap Vivi dengan penuh kebanggaan.
“Sejak kecil kau sudah pintar. Bisa mendapatkan peringkat delapan atau sembilan saja sudah cukup membanggakan keluarga kita.”
Tom kemudian melirik ke arah tangga tempat Vivian pergi.
“Lihat saja Vivian. Selama ini dia bahkan tidak pernah masuk peringkat sepuluh besar.”
Tom tersenyum kepada Vivi.
“Jadi, bagaimanapun juga, kau tetap putri kebanggaan keluarga Wei.”
“Kakak, terima kasih karena selalu memihakku,” ucap Vivi dengan mata berkaca-kaca.
Tom tersenyum.
“Kau adalah adik kesayanganku. Sebagai kakak, tentu aku akan selalu memihakmu sampai kapan pun.”
Vivi tersenyum kecil.
Namun, tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa senyum sedih di wajahnya hanyalah sebuah kepura-puraan.
Kamar Vivian
Di dalam kamarnya, Vivian duduk di depan meja sambil menatap layar ponselnya.
Ia mengirim sebuah video kepada seseorang.
“Sebarkan video ini. Pastikan video ini menjadi topik utama.”
Setelah pesan terkirim, Vivian menyandarkan tubuhnya ke kursi dan tersenyum tipis.
Vivian menatap layar ponselnya dengan tenang.
“Tom Wei, karena kau yang mencari masalah denganku, maka biar aku membuat namamu semakin terkenal.”
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
"Aku penasaran apa reaksi papa dan mama setelah wajah putra kesayangan mereka masuk berita."