Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Mario kembali menjemput Dera di depan gedung kantor sore itu. Mobil hitamnya sudah menunggu di sisi jalan yang lebih tersembunyi, sesuai permintaan Dera agar tidak terlalu mencolok. Begitu Dera naik, Mario tidak langsung mengarahkan mobil ke arah kosan. Ia berbelok ke jalur lain.
Dera yang sejak tadi diam menatap keluar jendela akhirnya menoleh. “Ini bukan jalan ke kosanku…”
“Aku tahu,” jawab Mario tenang. “Kita ke klinik Gio dulu.”
Dera terdiam. Jari-jarinya secara tidak sadar menggenggam ujung bajunya. Setelah pesan dari ibunya siang tadi, dadanya masih terasa berat. Ia sempat berpikir untuk memendam saja, seperti biasa. Tapi Mario seolah membaca pikirannya.
“Kalau ada apa-apa, jangan dipendam sendiri,” ujar Mario, matanya tetap fokus ke jalan. “Setidaknya kamu harus cerita ke Gio. Dia yang membantu kamu terapi. Lebih baik daripada kamu simpan sendiri terus.”
Suaranya tidak memaksa, tapi tegas. Dera menunduk, menatap jari-jarinya yang masih menggenggam kain baju. Di dalam hati, rasa campur aduk muncul. Ada rasa enggan, ada rasa lelah, tapi juga ada rasa lega yang tipis karena seseorang peduli cukup untuk membawanya ke tempat yang tepat.
Perjalanan menuju klinik terasa lebih tenang dibanding biasanya. Mario tidak banyak bicara. Ia membiarkan Dera duduk dalam diam, hanya sesekali menurunkan volume radio agar suasana tidak terlalu sepi. Dera menghela napas pelan. Bayangan pesan ibunya masih terasa menusuk, begitu pula foto yang dikirim Vivian semalam. Semua itu menumpuk, dan ia tahu jika terus dipendam, malam ini ia akan sulit tidur lagi.
Tak terasa mobil Mario akhirnya berhenti di depan klinik, Dera tidak langsung turun. Ia menoleh ke Mario, wajahnya lebih lembut dari biasanya.
“Terima kasih sudah membantuku,” ucapnya tulus. Suaranya pelan, tapi jelas.
Mario hanya mengangguk. “Sama-sama. Aku tunggu di sini.”
Dera membuka pintu dan turun. Langkahnya menuju pintu klinik agak lambat, tapi mantap. Di dalam hatinya, satu kesadaran muncul dengan jernih, mungkin kalau tidak ada Rere yang selalu menemaninya, dan Mario yang dengan caranya sendiri terus mendorongnya untuk tidak menyerah, ia tidak akan sekuat sekarang. Ia mungkin sudah lama tenggelam dalam kesedihan yang lebih dalam.
Di balik pintu kaca klinik, aroma lavender yang familiar menyambut. Dera menarik napas dalam-dalam. Hari ini, setidaknya, ia tidak akan memendam semuanya sendirian.
Ceklek...
Dera masuk ke ruang konsultasi dengan langkah pelan. Gio sudah menunggu di kursi kebiasaannya, catatan kecil di tangan, ekspresi tenang seperti biasa. Ia mengangguk pelan saat Dera duduk di hadapannya.
“Selamat sore, Dera. Silahkan, Ceritakan apa yang terjadi sejak pertemuan terakhir kita.” ucap Gio.
Dera terdiam sejenak. Jari-jarinya saling menggenggam di pangkuan. Ia menarik napas dalam, lalu mulai berbicara dengan suara yang pelan dan serak.
“Semalam, Kakakku mengirim foto mesra dia dengan suaminya. Lalu Mario, membalasnya dengan mengirim foto kami berdua. Saya kaget dan juga takut. Tapi setelah itu, pagi ini Mama mengirim pesan. Bilang aku jangan ganggu kakakku. Bilang aku yang bikin masalah.”
Air matanya mulai menggenang. Ia mengusapnya cepat, tapi tetap jatuh.
“Aku tidak mengganggu siapa pun. Aku bahkan tidak membalas pesan-pesan kasar Vivian. Tapi mereka tetap menyalahkanku, seperti dulu. Selalu seperti itu. Aku yang harus mengalah. Aku yang salah. Aku yang diminta pergi dan diam.”
Gio mengangguk pelan, memberi ruang. “Bagaimana perasaanmu saat membaca pesan ibumu?”
Dera menunduk. “Sedih, juga kecewa. Tapi lebih dari itu saya merasa lelah. Saya sudah jauh-jauh ke Jakarta, mencoba melupakan semuanya, tapi mereka masih saja mengingatkan semuanya. Saya merasa, tidak pernah benar-benar dianggap anak.”
Suaranya bergetar. Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan lebih pelan.
“Saya juga bingung dengan Mario. Dia terus muncul. Menjemput, mengantar, bahkan membawaku ke sini. Sebagian diriku waspada. Saya takut mengenalnya terlalu dekat. Aku takut dia akan mengecewakan juga sama seperti Galih. Tapi saya juga merasa sedikit terbantu dengan kehadiran dia. Tanpa dia dan Rere, mungkin saya sudah menyerah"
Gio mencatat sebentar, lalu menatap Dera dengan lembut. “Kamu sedang belajar membedakan antara orang yang menyakitimu dan orang yang mendukungmu. Itu proses yang penting. Keluargamu memilih versi cerita yang nyaman bagi mereka. Tapi itu bukan kebenaranmu. Kamu berhak merasa sedih, marah, dan kecewa. Dan kamu juga berhak menerima bantuan tanpa merasa takut”
Dera mengangguk pelan, air mata masih mengalir. Untuk pertama kalinya sejak pesan ibunya masuk, ia merasa sedikit lebih ringan. Bukan karena masalahnya selesai, melainkan karena ia akhirnya mengatakannya keras-keras, di tempat yang aman, pada orang yang tidak menghakimi.
Sesi berlanjut hampir satu jam. Gio membimbingnya mengenali pola lama yang terus berulang, dan mengingatkan bahwa menyembuhkan bukan berarti memaafkan begitu saja, melainkan belajar melindungi diri sendiri.
"Tidak ada salahnya kamu mengenal Mario, siapa tahu dia bisa menjadi obat untukmu"
Ketika Dera keluar dari ruangan, matanya masih sembab, tapi bahunya tidak lagi setegang tadi. Di luar, Mario masih menunggu di mobil. Dera menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah mendekat ke arah mobil.
Mario menurunkan kaca mobil begitu melihat Dera keluar dari klinik. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke luar.
“Sudah belum?” tanyanya.
Dera menghampiri mobil, wajahnya masih sedikit sembab tapi jauh lebih tenang dibanding saat masuk tadi. Ia tersenyum tipis. “Sudah. Aku merasa sedikit lega.” ucapnya.
Mario mengangguk, senyum lega juga terulas di wajahnya. “Syukurlah. Sekarang masuk. Aku akan mengajakmu seru-seruan.” titah Mario.
Dera mengernyit. “Ke mana?” tanyanya penasaran.
“Masuk saja,” jawab Mario singkat, tidak memberi petunjuk apa pun.
Dera berdecak kesal pelan, tapi tetap membuka pintu dan naik ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup, Mario langsung menginjak gas. Mobil perlahan melaju meninggalkan klinik, menyatu dengan lalu lintas malam Jakarta.
Di bangku penumpang, Dera menoleh ke samping dengan wajah tidak sabar. “Kita mau ke mana? Kenapa harus pakai rahasia segala?” tanya Dera kesal.
Mario hanya tersenyum miring, matanya tetap fokus ke jalan. “Kita ke mal.” jawabnya singkat.
Dera terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Mal? Jam segini? Aku kira langsung pulang.”
“Nanti juga pulang,” jawab Mario santai. “Tapi sebelumnya, biar kamu tidak banyak pikiran. Sesekali jalan-jalan biar tidak stres”
Dera tidak membalas. Ia menatap keluar jendela, masih agak ragu, tapi tidak menolak. Di dalam hatinya, rasa penasaran mulai mengalahkan rasa lelah. Setelah sesi yang berat tadi, mungkin memang ada benarnya. Tidak ada salahnya dia mengenal Mario.
Tak lama Dera mengalihkan pandangannya ke arah Mario."Kamu menjemputku terus, memangnya kekasihmu kemana" tanya Dera tiba-tiba.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa