Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bebas
BAB 29 - ISTRI POLOS TUAN GARRA
"Ke mana mereka semua? Sampai ada apa-apa, aku yang bakalan kena pecat dan dikuliti hidup-hidup sama Pak Garra!" Hendra mendesis kesal sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Mungkin campur kecapekan dan panik, karena dari siang sampai malam dia belum tidur sama sekali menjaga pintu VIP itu.
Pintu kamar rawat terbuka sedikit, perawat jaga malam yang baru datang shift langsung melongo.
"Lho, ke mana pasiennya? Kok kosong? Tadi katanya ada pasien hamil di sini?" tanya perawat itu bingung melihat ranjang yang sudah rapi tapi kosong.
Hendra langsung pucat pasi seperti mayat hidup.
"Sebentar... tunggu di sini! Jangan ke mana-mana! Saya akan cari! Jangan lapor Pak Garra dulu!" Hendra langsung lari keluar seperti orang kesetanan. Mencari di sekitar lorong, toilet, mushola, dan area pantry yang lainnya.
"Nona Elisa!!! Nona Elisa!!! Di mana kamu, Elisa!!!" teriaknya di lorong rumah sakit yang sepi jam 2 dini hari itu, suaranya menggema.
Hendra terus mencari sampai napasnya ngos-ngosan, sampai akhirnya ketemu dengan Bibi yang jalan bersama seorang perawat lain sambil bawa nampan.
"Kamu dari mana, Bi?! Nona Elisa di mana?!" tanya Hendra dengan nada tinggi.
Bibi juga kaget setengah mati. "Bukannya di kamar, Nak Hendra? Saya ... saya tadi juga manggil suster, saya tinggal sebentar ke bawah cari teh hangat."
Bibi gak ngaku, kalau dia ketakutan setengah mati tadi. Makannya pergi cari perawat saja, takut sendirian tanpa teman di kamar VIP yang luas itu. Soalnya dari jam 11 malam tadi, Elisa yang masih setengah sadar ngigau terus, manggil-manggil nama ibunya. Bibi yang penakut langsung merinding.
"Mati kita! Pak Garra bisa marah besar! Nona Elisa tidak ada di kamarnya!!! Kalau sampai keguguran di luar, kita yang mati!" bentak Hendra panik.
Bibi menelan ludah susah payah, mukanya pucat. "Jangan-jangan ...."
"Jangan-jangan apa!!!!? Ngomong yang jelas, Bi!!!!" ujar Hendra marah, emosinya sudah di ubun-ubun.
Bibi memberanikan diri mengatakan apa yang dia pikirkan, dengan suara berbisik-bisik seperti orang mau cerita horor, "Mungkin ... mungkin saja, ini cuma pikiran bibi ya. Jangan-jangan di bawa WEWE GOMBEL. Soalnya tadi Non Elisa mengigau terus katanya mau ikut ibunya yang sudah meninggal ... Bibi takut, Hendra."
Perawat yang sejak tadi berdiri di antara mereka yang tegang itu kemudian tidak tahan dan tersenyum kecut, tapi senyumnya langsung hilang saat melihat Hendra wajahnya sudah garang dan galak seperti mau makan orang.
"Maaf, Bu, Pak... ini rumah sakit, bukan hutan," ucap suster itu menahan tawa.
"Di mana ruangan untuk memeriksa CCTV-NYA?? SEKARANG!" tanya Hendra tegas, tidak mau dengar cerita hantu.
"Saya antar ke pihak security di lantai dasar, biar dibantu cek rekamannya," kata perawat itu cepat.
Hendra, Bibi pun mengikuti perawat tersebut dengan langkah tergesa-gesa untuk memeriksa rekaman video CCTV.
Di ruang security yang dingin dan penuh monitor, terpantau di layar jam 01.47 dini hari. Elisa jalan pelan-pelan keluar kamar dengan langkah gontai seperti zombie, wajahnya pucat, tapi matanya menatap lurus. Dia masuk ke dalam lift sendirian, menekan tombol G. Cuma itu, selebihnya sosoknya tidak terlihat di CCTV manapun lagi. Hendra sampai memantau setiap sudutnya, memeriksa semua CCTV dari lantai 5 sampai basement berkali-kali sampai matanya pedih.
"Mampus kita ... Pak Garra pasti akan murka!!! Dia pasti akan bunuh kita, Bi!" Hendra mengusap wajahnya dengan amat kasar, hampir frustasi. Ia tahu betul betapa posesif dan gilanya Tuan Garra kalau soal Elisa.
Bibi duduk dengan wajah gelisah di kursi security, tangannya gemetaran. Dia juga pasti akan kena sanksinya. Andai dia tidak penakut dan tidak meninggalkan Elisa sendirian di kamar. Pasti Elisa masih ada di dalam sana. Bibi langsung menyesal, kenapa juga dia parno dan gampang sekali berhalusinasi karena cerita ngigau Elisa.
Jalan di sekitarnya rumah sakit, jam 2 pagi. Jalanan sepi, hanya ada tukang sapu dan beberapa taksi yang lewat.
Terlihat sosok perempuan mungil dengan seragam OB rumah sakit yang kebesaran, topi menutupi setengah wajahnya. Dia jalan pelan-pelan, tubuhnya lemah lunglai. Tapi kakinya ia kuatkan untuk melangkah, menahan perih dan mual hamil muda.
Beberapa jam lalu, dia terbangun dengan kepala berat. Sadar tidak ada orang di kamar, dia menyelinap keluar. Rasa takutnya pada Anggara lebih besar daripada rasa sakitnya. Dia tidak mau di rumah sakit itu, dia tidak mau dijaga seperti tahanan oleh pria itu.
Saat di kamar kecil dekat pantry rumah sakit, di sudut ruang ada meja dan lemari pembersihan punya OB yang sedang istirahat. Ada rompi oranye lusuh, serta topi dan alat-alat kebersihan dan sandal jepit.
Seperti dapat jalan keluar dan ide cemerlang dari masalahnya, Elisa tanpa pikir panjang langsung ganti baju. Walaupun tubuhnya ringkih, mual, dan perutnya kram karena hamil muda juga, tekadnya sudah bulat: KABUR!
Ia jalan terus menyusuri trotoar yang dingin, tidak tahu mau ke mana. Yang penting jauh dari rumah sakit, jauh dari Anggara.
\*\*\*
Di tempat lain, di penthouse mewahnya.
Garra masih terlelap pulas. Di tempat tidur paling nyaman, paling empuk, dan dingin dengan AC 16 derajat. Setelah seharian panik di rumah sakit, akhirnya ia pulang untuk mandi dan istirahat. Hendra belum menghubunginya sama sekali karena takut. Pria itu masih mencari Elisa di area rumah sakit dan sekitarnya sampai keliling komplek.
Sampai akhirnya, matahari pagi bersinar dengan terang menembus jendela kaca penthouse. Jam sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi.
Garra terbangun dengan perasaan sedikit lega, ia melihat jam dinding dan mencari ponselnya di meja nakas.
Ada tiga panggilan tak terjawab dari Hendra, dan lima dari Bibi. Mungkin karena lelah dan nyenyak sekali saat tidur karena minum obat tidur.
Ia kemudian membuka satu pesan masuk terakhir dari Hendra yang masuk jam 3 pagi, yang membuat matanya yang masih ngantuk langsung melot mau keluar dari tempatnya.
Isi pesannya:
\[Pak Garra, saya minta maaf sebesar-besarnya. Nona Elisa kabur dari RS jam 2 malam. Kami sudah cari ke mana-mana belum ketemu. Maafkan saya, Pak\]
Brakkk!!!
Garra melempar Ipon 15 Pro Max terbaru seharga 30 juta itu ke lantai marmer tanpa ampun. Ponsel mahal itu seperti tidak ada harganya, jatuh berserak, layarnya retak dilempar oleh Garra yang sudah kesetanan.
"SIALLL!!!!! ELISA ... KAU BENAR-BENAR MENGUJIKU!!!! KAU MAU LARI KE MANA HAH? DALAM KEADAAN HAMIL BEGITU!"
Garra langsung bangkit, wajahnya merah padam menahan amarah dan cemas yang jadi satu. Permainan kucing-kucingan ini belum selesai.
gagal kena serangan fajar ini hampir kena serangan setelah Isya 😂Ay ga coment ahhh takut dosa ,,,Tuan lagi di bekukan agar semua kenceng biar ga berisik!!!!!!! besok bangun Bobo panggilan nya ganti ya Elisa jangan Tuan tapi Den Kang Mas Garra,,, Pembaca jangan pada Traveloka ya,,🤣🤣
PK dokter di macetin dulu aje KK dept 🤭🤣🤣🤣
hemmmm yumii🤭🤭🤭🤭
magell pingin di semai supaya tetap. waras pemiliknya ,,,siap Tuan Putri. Elisa
pakai donk. gombalan muara piye si endang kondo. sambil senyum manis tanpa biang 😂 nah kalau lagi puyeng belum tersalurkan. jadi sikap manis behhh ga enek si g ngiro. ,,,,Juragan MBG. lagi
menginginkan Apem milik Elisa jadi. ga garamg. wiss passs selak kewengen,,,
besok ga bisa bangun Lo lemes abis kena serangan tengah malam hahaha ngakak shubuh,,,🤣🤣