Elio pindah bukan karena mau.Seminggu setelah neneknya meninggal di desa, ibunya memaksanya pindah dari Jakarta ke SMA pinggiran yang dikelilingi kebun dan kabut. Rumah peninggalan nenek itu dingin, lembab, dan penuh sesajen yang belum sempat dibuang.Di malam terakhir nenek, nenek membisikkan satu hal sambil menggenggam tangan Elio erat: "Nenek buka jalannya ya, biar kamu gak kesepian."Sejak itu Elio melihat mereka.Awalnya hanya bayangan di ujung sawah. Lalu anak kecil tanpa kepala yang duduk di gerbang sekolah. Elio pikir dia gila.Sampai dia bertemu Ash.Di gudang belakang SMA-nya yang terkunci, ada cowok seumuran pakai seragam lama yang sobek. Tampan, pucat, dan tersenyum ke Elio. "Akhirnya ada yang bisa lihat lagi."Namanya Sean. Mereka memanggilnya Ash, karena dia seperti abu — tipis, beterbangan, selalu ada di sebelah, gak bisa diusir.Masalahnya, Ash bukan satu-satunya.SMA baru Elio menyimpan arwah penasaran dari tahun 90-an, dan semua mulai mendekat karena mata Elio
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luckystar20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Terakhir Nenek Suri
Elio berdiri mematung di sudut tepi belakang gedung laboratorium tua. Langkah kakinya yang tadi terseret pasrah kini berhenti, menatap bingung ke arah Ayu yang berdiri membelakanginya di bawah rindangnya pohon kamboja. Hawa dingin sisa pertempuran Ash dengan makhluk halus tadi masih menyengat tipis di kulitnya.
Di hatinya, Elio gak berhenti bertanya-tanya. Kenapa Ayu mendadak narik gue ke sini? Terus kenapa raut mukanya kelihatan beda banget tadi?
Di udara, Ash melayang perlahan, mendarat dengan posisi berdiri di sebelah Elio. Wujud abunya masih agak berkilau pudar, matanya yang pucat menatap Ayu penuh kewaspadaan.
Ayu membalikkan badannya perlahan. Angin siang berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut hitamnya yang lurus sebatas bahu. Cewek itu menarik napas panjang, menatap Elio lurus-lurus dengan pandangan yang bener-bener jujur dan tanpa keraguan sedikit pun.
"El," panggil Ayu pelan, suaranya halus tapi kedengaran mantap banget. "Gue tahu lo bingung kenapa gue mendadak narik lu ke sini. Tapi ada hal penting yang harus lo tahu sekarang. Soal siapa gue sebenarnya... dan kenapa gue ngebet banget mau bantuin lo."
Elio mengerutkan dahi, memajukan langkahnya satu tindak. "Gue dari kemarin emang nunggu penjelasan lo, Yu. Jadi sebenernya lo siapa?"
Ayu merapatkan jaket seragamnya, menatap dedaunan kamboja yang gugur di tanah. "Ibu gue... Bu Sari. Warga asli Desa Parangkusuma bagian selatan. Dari kecil gue tumbuh dan besar di desa ini."
Seketika Elio teringat sesuatu. Nama Bu Sari pernah beberapa kali disebut ibunya atau warga desa sebagai salah satu orang tua yang cukup dihormati di wilayah selatan, walau keluarganya jarang ikut campur urusan sesepuh adat kayak Mbah Damar.
"Terus hubungan lo sama gue apa?" desak Elio makin penasaran.
"Sebelum Nenek Suri meninggal beberapa minggu lalu..." Ayu jeda sejenak, matanya menatap Elio dengan dalam. "...Nenek Suri sempat nemuin gue dan ibu gue di rumah secara diam-diam. Saat itu kondisi kesehatan Nenek Suri udah parah banget."
Elio tersentak kaget. "Nenek pernah nemuin lo sebelum meninggal?! Berarti lo kenal sama nenek?"
"Iya," ngangguk Ayu mantap. "Nenek Suri ngasih pesan khusus ke gue. Nenek bilang, suatu saat nanti, cucu tunggalnya yang tinggal di Jakarta—yaitu lo, El—bakal datang dan tinggal di desa ini. Nenek Suri minta tolong banget sama gue buat nemenin, ngejaga, dan bantuin lo kalau lo udah sampai di sini."
DEG.
Dada Elio serasa dihantam batu gede. Dia bener-bener terperangah mendengarnya. Pengakuan Ayu barusan sama sekali gak pernah terlintas di otak Elio.
"Jadi..." Elio menunjuk Ayu dengan jari gemetaran tipis. "...sejak awal gue baru sampai di Parangkusuma, lo udah tahu soal gue?"
"Iya, El," aku Ayu jujur. "Bahkan sebelum Bima atau Alvian kenal sama lo, gue udah ngawasin lo dari jauh. Gue merhatiin semua gerak-gerik lo dari awal lo sekolah di sini. Tapi saat itu gue bingung gimana caranya bisa masuk dan kenal dekat sama lo tanpa bikin lo curiga."
Ayu menyunggingkan senyum tipis yang kelihatan agak geli. "Sampai akhirnya gue buat Bima penasaran sama gue sampai dia nemuin sosmed gue dan ngajak kenalan... gue pikir, ini kesempatan paling pas buat gue masuk ke dalam lingkaran kalian. Makanya malam itu gue nekat datang ke Jalan Kenanga Nomor 14 ngikutin kalian."
Elio sampai gak bisa berkata-kata lagi. Jadi pamer foto konyol yang dibikin Bima malam itu tuh bukan sekadar kebetulan biasa, tapi malah jadi pendorong yang bikin rencana Ayu berjalan lebih cepat!
"Bentar, Yu..." Elio memegang pelipisnya yang mendadak pusing. "Kenapa Nenek Suri harus nyuruh lo? Kenapa Nenek mesti ngirim lo khusus cuma buat nemenin gue? Maksudnya buat apa?!"
Ayu menggelengkan kepalanya pelan, raut mukanya berubah bingung dan serba salah. "Jujur, El... gue sendiri gak tahu alasan pastinya. Nenek Suri gak pernah cerita secara rinci apa yang sebenarnya bakal lo hadapi di desa ini."
Ayu menarik napas pendek sebelum melanjutkan, "Satu-satunya hal yang gue tahu... Nenek Suri sadar dari dulu kalau gue punya sensitivitas dan daya tahan mental yang sangat kuat terhadap hal-hal gaib, walau gue gak bisa ngeliat wujud hantu secara utuh kayak lo atau Alvian. Nenek tahu aura dalam tubuh gue tahan sama tekanan gaib. Mungkin... karena alasan itu Nenek Suri yakin gue bisa jadi benteng tambahan buat lo."
Ayu menatap Elio lagi, lalu menunjuk ke arah lorong tempat hantu tadi hancur. "Dan soal rumah di Jalan Kenanga Nomor 14 itu... gue emang tahu beberapa petunjuk rahasia di dalam sana yang dikasih tahu Nenek Suri dan beberapa hal yang gue temuin sendiri, meskipun pada akhirnya gue blm bisa ngungkap semuanya. Tapi buat saat ini, gue belum bisa cerita semuanya ke lu sampai kita bener-bener berhasil berdiri di dalam ruangan bawah tanah rumah itu."
Mendengar seluruh pengakuan Ayu, Ash yang melayang di samping Elio ikut membeku total. Hantu tampan berseragam vintage itu memegangi dadanya yang bergetar.
"Hah?..." bisik Ash dengan suara gaibnya yang sarat akan rasa terkejut luar biasa. "Gue gak nyangka Nenek Suri sampai sejauh ini... Nenek Suri bahkan udah menyiapkan orang lain khusus buat nyelametin dan nemenin lo, El."
Ash menatap Elio dengan raut muka yang berubah jadi sangat serius. Keceriaannya yang biasa mendadak luntur. "El... kalau Nenek Suri sampai merasa perlu ngirim Ayu yang punya aura tahan gaib buat jagain lo, itu artinya rahasia yang disimpan Nenek Suri sama Mbah Damar ini bukan cuma rahasia biasa. Ini... rahasia yang jauh lebih besar dan sangat berbahaya dari apa yang kita bayangin selama ini."
Elio menelan ludahnya yang terasa pahit. Hawa dingin di belakang laboratorium itu makin terasa menusuk. Perkataan makhluk jahat yang hancur tadi mendadak terngiang-ngiang lagi di telinganya: 'Kau tidak akan bisa melawan takdirmu... kau akan menderita dengan kebenaran yang akan terungkap nanti...'
Apakah Nenek Suri tahu bahaya apa yang menanti cucunya? Dan kebenaran Mencekam apa yang sebenarnya tersembunyi di bawah lantai rumah kosong Jalan Kenanga Nomor 14?
Ayu melangkah mendekati Elio, menatapnya penuh kepastian. "Apapun yang bakal terjadi nanti, El, gue bakal tetap berdiri di samping lo. Sesuai amanat dari Nenek Suri."
Elio menatap Ayu, lalu melirik Ash yang mengangguk mantap di udaranya. Rasa ragu di dada Elio perlahan luntur, berganti jadi tekad bulat. Rahasia besar ini harus segera terbongkar, tak peduli seberapa berbahaya takdir yang sedang menunggu mereka di depan sana.