Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Benteng Batu di Atas Jurang
Anak panah berujung baja tebal menyambar menembus uap belerang dari arah seberang jurang. Suara desingan melengking membelah malam, diikuti derap puluhan langkah kaki berlapis zirah besi yang menggetarkan permukaan jembatan batu granit.
Ma Huang memutar Pedang Tulang Hitam di depan dadanya. Bilah pedang hitam beracun itu menebas lima anak panah pertama hingga patah berantakan sebelum sempat menyentuh tubuh Lu Gang dan Master Han. Bunga api memercik deras saat mata panah tembaga membentur baja beracun, menyalakan uap belerang di sekitar mereka menjadi buaian api membara.
Di seberang jembatan, Zhao Feng berdiri kaku dengan jubah putih bersulam emas yang melambai kencang ditiup angin panas. Sepasang matanya yang tajam bagai mata elang menatap lurus ke arah pintu batu makam yang terangkat perlahan sejengkal demi sejengkal.
"Serbu!" teriak Zhao Feng dengan suara menggelegar yang memecahkan keheningan jurang. "Siapa pun yang membawa kepala Ma Huang akan kuangkat menjadi Tetua Agung Sekte Pedang Suci!"
Dua puluh prajurit zirah berat memimpin barisan terdepan. Mereka merapatkan perisai tembaga berukuran raksasa di hadapan dada, melangkah kaku membentuk dinding besi yang menutup rapat seluruh lebar jembatan batu yang sempit.
Gu Mo melangkah maju berdiri sejajar di samping Ma Huang. Sepasang sarung tangan besi meteorit yang dibawanya memancar merah membara, memancarkan hawa panas yang membakar kain jubah di pergelangan tangannya.
"Jembatan ini hanya sanggup dilewati tiga orang sekaligus," kata Gu Mo dengan suara parau yang penuh wibawa. "Kita tahan mereka di sini sampai pintu batu terangkat cukup tinggi untuk dilewati."
Ma Huang tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menjejakkan kaki kirinya kencang ke permukaan granit, meluncur mendatar bagaikan kilat kehitaman yang menyambar di antara buaian uap belerang.
Brak!
Ujung Pedang Tulang Hitam Ma Huang menghantam bagian tengah perisai tembaga prajurit terdepan. Gelombang racun Ular Hijau yang pekat menyembur keluar dari bilah pedang, melunakkan permukaan logam tembaga hingga melengkung ambles ke dalam.
Sebelum prajurit di balik perisai sempat menarik pisau belatinya, Ma Huang memutar badannya sembilan puluh derajat. Siku kirinya yang terbungkus hawa dingin Inti Bencana menghantam bagian atas perisai kencang-kencang, meremukkan rahang dan leher prajurit itu hingga patah berkerutup.
Darah kental menyembur basah membasahi perisai tembaga. Pada saat bersamaan, Gu Mo merangsek masuk dari sisi kanan Ma Huang.
Dua telapak tangan besi membara milik Gu Mo menghantam perisai prajurit kedua dan ketiga secara bersamaan. Hantaman Telapak Besi Lahar menimbulkan suara dentuman dahsyat yang melontarkan dua prajurit berlapis zirah berat itu melayang menembus udara malam.
Tubuh kedua prajurit itu jatuh terhempas lurus ke dalam dasar Jurang Belerang seratus meter di bawah mereka, tenggelam di antara gejolak sungai lahar dingin yang membara.
"Jangan mundur! Gunakan tombak kait!" raung seorang perwira sekte dari barisan belakang perisai.
Delapan tombak panjang berlapis baja meluncur bersamaan dari celah-celah perisai, mengincar dada, leher, dan paha Ma Huang dari delapan sudut sempit. Gerakan tombak-tombak itu presisi dan sangat rapat, memanfaatkan keunggulan jangkauan senjata panjang di atas jembatan.
Ma Huang menyilangkan Pedang Tulang Hitam secara vertikal di depan dada. Ia membiarkan tiga mata tombak menggores paha dan jubah birunya, sementara tangan kirinya menyambar dua batang tombak terdekat dengan cengkeraman mati.
Hawa dingin beracun merambat kencang melalui kayu tombak, membekukan pergelangan tangan dua prajurit pemegang tombak dalam sekejap mata. Ma Huang menarik kedua tombak itu kencang-kencang ke arah dadanya, menyeret tubuh kedua prajurit musuh keluar dari balik perlindungan perisai.
Pedang Tulang Hitam menyabet melintang dari kiri ke kanan. Bilah pedang hitam memotong dua leher prajurit itu secara bersamaan sebelum tubuh mereka sempat menyentuh tanah jembatan.
Darah hitam beracun menyiram lantai batu granit yang licin. Gu Mo memanfaatkan tumpukan jasad itu untuk melompat tinggi ke udara, membenamkan kedua tinju besinya lurus ke atas barisan perisai musuh dari atas.
Bummm!
Lantai batu jembatan retak memanjang akibat letupan gelombang panas pukulan Gu Mo. Barisan perisai tembaga musuh hancur berantakan, melempar lima prajurit zirah berat jatuh terpelanting ke dalam tebing jurang.
Namun dari balik asap ledakan perisai, dua Tetua Sekte Pedang Suci meluncur cepat dengan pedang panjang terhunus. Tetua Berjubah Hitam dan Tetua Berjubah Kuning melancarkan jaring tebasan pedang emas yang membungkus seluruh tubuh Gu Mo yang baru saja mendarat.
Gu Mo mengangkat kedua lengan besinya untuk menangkis sabetan dua tetua tersebut. Bunga api kebiruan memercik deras di udara malam, diiringi suara nyaring logam beradu yang memotong uap belerang di sekitar mereka.
Daya dorong Qi murni milik kedua tetua membuat Gu Mo terdorong mundur tiga langkah. Pria tua itu terbatuk parau, darah kental merembes dari sudut bibirnya saat luka dalam di paru-parunya terpicu oleh tekanan serangan ganda tersebut.
"Matilah kau, Tua Bangkai!" raung Tetua Berjubah Kuning seraya memutar pedangnya untuk menusuk leher Gu Mo yang terbuka.
Sebelum mata pedang emas itu menyentuh kulit leher Gu Mo, sosok Ma Huang sudah melesat memotong dari samping. Pedang Tulang Hitam di tangan kirinya menebas lurus, memotong lengan kanan Tetua Berjubah Kuning tepat di bagian siku.
Jeritan histeris pecah dari tenggorokan tetua itu saat lengannya yang memegang pedang melayang jatuh ke dasar jurang. Ma Huang memutar kakinya kencang, menghantamkan tumit kirinya ke dada Tetua Berjubah Kuning hingga tubuh pria tua itu terlempar menghantam dinding tebing batu.
Tetua Berjubah Hitam terkejut, mencoba menarik mundur langkah kakinya untuk mengambil jarak. Namun Ma Huang tidak memberikan celah sedikit pun.
Ma Huang menyalurkan seluruh energi Inti Bencana Racun Hitam lurus ke ujung Pedang Tulang Hitam. Bilah pedang hitam itu memancar kelam, menusuk lurus menembus pelindung dada besi Tetua Berjubah Hitam hingga tembus ke belakang punggungnya.
Racun Ular Hijau melahap sirkulasi darah tetua itu dalam hitungan dua hembusan napas. Matanya melotot kaku sebelum akhirnya tubuhnya roboh tak bernyawa menimpa batu granit.
"Sampah tak berguna!" teriakan Zhao Feng menggelegar dari ujung jembatan.
Guru Agung Sekte Pedang Suci itu melompati tumpukan jasad anak buahnya dengan kecepatan yang sangat luar biasa. Pedang meteorit di tangan kanannya membara oleh cahaya keemasan yang sangat menyilaukan, membawa gelombang kejut tenaga dalam Inti Emas tahap lanjut yang meretakkan permukaan jembatan di setiap pijakannya.
Zhao Feng mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah, melancarkan tebasan cahaya emas raksasa yang membelah udara malam di atas Jurang Belerang.
Ma Huang dan Gu Mo menyilangkan senjata mereka secara bersamaan untuk menahan tebasan cahaya emas tersebut.
Duaggg!
Dentuman dahsyat meledak membakar udara di tengah jembatan. Gelombang kejut yang sangat keras melempar tubuh Ma Huang dan Gu Mo mundur sejauh sepuluh langkah di atas lantai batu. Ma Huang memuntahkan gumpalan darah kental dari mulutnya, sementara sarung tangan besi Gu Mo retak halus memancarkan asap tipis.
Sebagian struktur jembatan batu granit di belakang mereka hancur berkeping-keping, runtuh terhempas ke dalam sungai lahar di dasar jurang.
Dari arah pintu batu makam, suara gemeretak engsel kuno berbunyi kencang. Pintu raksasa berukir kepala naga ganda itu telah terangkat setinggi dua meter dari permukaan tanah, menyingkapkan lorong gelap Istana Bawah Tanah yang diterangi oleh lampion batu kuno.
"Tuan Muda! Pintu makam sudah terbuka!" teriak Lu Gang dari balik selasar pintu.
Zhao Feng melangkah kaku menembus kepulan asap, sepasang matanya menyipit tajam melihat pintu makam yang telah terbuka lebar. "Kalian tidak akan pernah sempat melangkah masuk ke dalam ruangan itu!"
Zhao Feng memutar pedang meteoritnya, mengumpulkan seluruh sisa tenaga dalam keemasannya untuk melancarkan tebasan mematikan kedua.
Gu Mo menepuk bahu Ma Huang kencang-kencang, lalu menghantamkan kedua telapak tangan besinya yang membara lurus ke atas permukaan batu jembatan di depan kaki mereka.
Krak! Bummm!
Hantaman Telapak Besi Lahar Gu Mo menghancurkan sisa fondasi jembatan batu granit di depan mereka secara total. Bongkahan batu granit raksasa seluas lima tombak ambles runtuh ke dalam jurang, menciptakan jurang pemisah sepanjang sepuluh meter yang memutus akses jalan menuju pintu makam.
Zhao Feng terpaksa menghentikan langkah kakinya di tepi tebing yang runtuh, menatap murka ke arah celah jurang yang kini memisahkan pasukannya dengan pintu makam.
"Masuk sekarang!" bentak Gu Mo seraya menarik jubah Ma Huang mundur menembus celah bawah pintu batu.
Ma Huang, Gu Mo, Lu Gang, dan Master Han melompati ambang pintu bawah tanah. Dengan satu tarikan tuas besi raksasa di balik dinding dalam yang dilakukan oleh Gu Mo, pintu batu granit setinggi lima tombak itu turun kembali dengan cepat.
Brakkk!
Pintu Makam Leluhur Keluarga Ma tertutup rapat dengan suara dentuman keras yang menggetarkan seluruh permukaan bumi di sekitarnya, mengunci seluruh gempuran pasukan Sekte Pedang Suci di luar sana.
Kegelapan dingin dan bau harum kayu cendana kuno menyelimuti mereka bertiga di dalam lorong utama Istana Bawah Tanah.