Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 - DIKEPUNG
Asap tebal bercampur kobaran api menjilat langit malam pelabuhan. Telinga Valeria berdenging hebat, menulikan rentetan suara tembakan yang sebenarnya sedang membombardir tempat itu tanpa ampun. Wanita itu terbatuk keras, memuntahkan sedikit darah yang menggenang di mulutnya akibat benturan keras dengan aspal kasar.
Pandangan Valeria kabur. Kepalanya pusing bukan main, rasanya kayak baru aja dihantam palu godam. Tapi satu hal yang langsung menerobos masuk ke dalam kesadarannya yang setengah hancur: ledakan mobil tadi.
"K-Kael..." rintih Valeria pelan.
Wanita itu memaksa dirinya merangkak bangun dengan sisa tenaga. Matanya yang pedih akibat asap mencoba menembus tabir api di depannya. Bangkai SUV hitam yang tadi jadi tempat mereka berlindung kini udah berubah jadi rongsokan besi yang menyala terang. Hawa panasnya bahkan terasa menyengat sampai ke tempat Valeria jatuh.
"Kael!" jerit Valeria, suaranya pecah dan bergetar hebat. Air mata mulai menggenang, bercampur dengan darah dan debu mesiu di wajah cantiknya.
Nggak ada balasan. Cuma ada suara kobaran api dan desingan peluru.
Di tengah lapangan beton yang terang benderang oleh lampu sorot, pembantaian sepihak lagi terjadi. Pasukan elit klan Valeria benar-benar nggak berkutik. Mereka terjebak di tengah *kill box* tanpa tempat berlindung yang layak. Setiap detik, ada aja anak buahnya yang jatuh tersungkur dengan tubuh berlubang ditembus peluru tajam.
Valeria menatap ngeri saat melihat Bastian. Kepala keamanannya itu bersembunyi di balik tong besi yang udah penyok parah. Wajah bertato Bastian berlumuran darah. Dia terus menembakkan senapannya ke arah kontainer atas, berusaha menumbangkan *sniper* Viper, tapi jumlah musuhnya terlalu gila.
"Maju kalian bangsat! Sini turun kalau berani!" aum Bastian kalap, menembak membabi buta.
Tapi sayangnya, keberanian aja nggak cukup buat ngelawan timah panas. Tiga buah peluru berkaliber besar menembus tong pelindung Bastian, langsung menghantam dada dan perut pria besar itu.
Bastian terhuyung mundur, memuntahkan darah segar. Senapannya jatuh berkerontang ke aspal. Dalam sisa-sisa kesadarannya, Bastian menoleh ke arah Valeria yang masih terduduk di aspal beberapa meter di belakangnya.
"Nyonya... lari..." gumam Bastian tanpa suara, senyum tipis terukir di wajahnya yang sangar sebelum akhirnya tubuhnya ambruk ke depan, tak bernyawa.
"Bastian!" teriak Valeria histeris.
Pertahanannya runtuh. Ratu mafia yang terkenal tak punya hati itu kini harus ngeliat anak-anak buah setianya dibantai satu per satu tepat di depan matanya. Kerajaannya dihancurkan dalam waktu kurang dari lima menit oleh pamannya sendiri. Dan yang paling bikin dadanya serasa mau meledak... bayangannya, pelindungnya, monster kesayangannya, tertelan ledakan sialan itu.
Valeria mencengkeram pistol di tangannya. Kalau malam ini dia harus mati, dia nggak akan mati sambil nangis. Dia bakal bawa Surya ke neraka bersamanya.
Valeria bersiap berdiri untuk menembak membabi buta ke arah gudang, tapi tiba-tiba, sebuah tangan besar dan kokoh mencengkeram lengannya dari arah bayangan asap.
"Jangan gegabah, Val!" bisik suara bariton yang berat dan serak.
Valeria tersentak. Dia menoleh dengan cepat, dan jantungnya yang tadi nyaris berhenti kini kembali berdetak gila.
Dari balik kepulan asap hitam yang pekat, Kael merangkak mendekat. Kondisi pria itu bener-bener mengerikan. Rompi taktisnya hangus dan bolong-bolong kena serpihan *shrapnel* mobil. Setengah wajahnya cemong oleh debu mesiu, dan darah segar mengalir deras dari pelipis kirinya. Tapi sepasang mata elang itu... mata itu masih menyala terang, memancarkan aura membunuh yang belum padam sedikit pun.
"Kael!" isak Valeria refleks menubruk tubuh pria raksasa itu, memeluk lehernya erat-erat seolah Kael adalah oksigen terakhir di dunia ini. "Kamu masih hidup... brengsek, aku pikir kamu mati!"
Kael meringis pelan saat pelukan Valeria menekan luka-luka di tubuhnya, tapi pria itu membalas pelukan ratunya dengan tangan kirinya, mendekap pinggang Valeria posesif. Tadi, tepat sepersekian detik sebelum api menyambar tangki bensin, Kael melompat dan menjatuhkan dirinya ke dalam selokan dangkal di bawah mobil, membiarkan beton menahan sisa ledakan.
"Saya sudah bersumpah tidak akan mati mendahului Anda, Nyonya," bisik Kael di telinga Valeria, napasnya memburu dan panas. "Tapi kita tidak bisa diam di sini."
Kael melepaskan pelukan itu dengan cepat. Dia menarik tubuh Valeria, memaksanya merunduk rendah, lalu memapahnya berlari zig-zag menuju sebuah kontainer kargo berwarna merah yang letaknya agak tersembunyi di sudut lapangan, terhalang bayangan *crane* raksasa.
*TRANG! TRANG! TRANG!*
Rentetan peluru mengejar langkah mereka, memercikkan bunga api di aspal, tepat di belakang tumit sepatu Kael. Kael melemparkan tubuh Valeria ke balik kontainer baja itu sedetik sebelum area tersebut dihujani tembakan.
Mereka berdua merosot ke tanah, bersandar pada dinding kontainer yang dingin. Napas keduanya tersengal-sengal.
Dari balik kontainer, mereka bisa mendengar suara langkah kaki puluhan orang yang mulai turun ke lapangan beton. Suara tembakan perlahan-lahan mereda, menyisakan keheningan yang jauh lebih mencekam.
"Periksa semua mayatnya! Pastikan anjing-anjing Valeria sudah mati semua!" teriak salah satu komandan Viper.
Valeria memejamkan matanya rapat-rapat. Dia menggertakkan giginya menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Habis. Semuanya habis. Dari seratus lebih pasukan elit yang dia bawa, nggak ada satu pun yang tersisa. Cuma dia dan Kael yang sekarang lagi bersembunyi kayak tikus terjepit.
"Kael," panggil Valeria lirih, membuka matanya menatap pria di sebelahnya. "Pasukan kita..."
"Saya tahu, Val," potong Kael pelan, rahangnya mengeras kuat sampai urat lehernya menonjol. Pria itu sibuk mengecek amunisi senjatanya. MP5-nya sudah hancur tertimpa serpihan ledakan. Kini dia cuma punya dua pistol Glock dan beberapa pisau lempar di sabuknya.
Kael mengeluarkan magasin pistolnya, mengecek sisa peluru. "Sisa dua magasin penuh. Dua belas pisau lempar. Dan kondisi fisik saya mulai menurun drastis akibat pendarahan."
Fakta itu diucapkan Kael dengan nada yang sangat rasional dan datar, seolah dia lagi bacain laporan cuaca, bukannya ngitung mundur sisa nyawa mereka.
Suara *megaphone* Paman Surya kembali menggema memecah keheningan pelabuhan.
"Valeria! Kael! Paman tahu kalian masih bersembunyi di balik kontainer merah itu!" seru Surya santai, nada suaranya terdengar sangat puas. "Laser penembak jituku sudah mengunci setiap sudut kontainer itu. Kalian tidak punya jalan keluar. Semua anak buahmu sudah menjadi mayat, Val! Menyerahlah sekarang dan Paman janji akan membiarkan Kael hidup sebagai anjing penjaga Paman!"
Valeria meludah ke aspal dengan jijik. "Mimpi aja sana, tua bangka sialan!"
Kael menatap Valeria dalam-dalam. Di tengah keputusasaan yang absolut ini, Kael melihat Ratunya sama sekali nggak kehilangan harga dirinya. Valeria tetaplah Valeria. Sombong, kejam, dan tak tertundukkan.
Pria raksasa itu menghela napas panjang. Dia menyingkirkan rambut Valeria yang berantakan dan menempel di wajahnya yang basah oleh keringat dan air mata.
"Mereka mulai menyempitkan barisan, Val. Saya bisa mendengar langkah mereka dari tiga arah," bisik Kael, telinganya yang setajam serigala menangkap derap sepatu bot militer yang melangkah hati-hati mendekati tempat persembunyian mereka. "Ada sekitar lima puluh orang yang bergerak di darat, dan dua puluh *sniper* yang mengunci rute udara."
"Kita bener-bener udah tamat, ya?" kekeh Valeria hambar, menyandarkan kepalanya ke dinding kontainer. Ratu mafia itu merogoh saku jaketnya, mengecek pistolnya sendiri. Sisa tujuh peluru.
Tujuh peluru melawan ratusan orang. Hitungan matematis yang bahkan anak TK pun tahu siapa pemenangnya.
"Selama jantung saya masih berdetak, kita belum tamat, Val," sahut Kael mutlak, sorot matanya kembali menyala buas.
Kael menarik napas panjang, menetralkan ritme jantungnya. Dia mulai mengakses kembali memori ototnya, menggali teknik-teknik pembunuhan dari neraka masa lalunya yang sudah dia kubur dalam-dalam. Kalau malam ini dia harus turun kembali ke neraka itu, dia bakal narik semua musuh Ratunya buat nemenin dia.
"Saya akan keluar dan memancing api mereka," putus Kael mulai merancang skenario bunuh diri. "Jarak dari kontainer ini ke tumpukan tong di dermaga timur sekitar dua puluh meter. Begitu saya keluar, seluruh penembak jitu akan fokus menembak saya. Itu akan memberi Anda jeda sekitar tiga sampai empat detik."
Valeria langsung mengerutkan kening, menatap Kael dengan horor. "Tiga detik buat apa?!"
"Untuk lari secepat mungkin ke arah laut dan melompat. Arus bawah pelabuhan ini sangat deras, mereka tidak akan bisa mengejar Anda dalam kegelapan," jelas Kael tanpa ekspresi. "Itu satu-satunya cara Anda bisa selamat, Nyonya."
Valeria membeku. Dada wanita itu terasa nyeri seolah ditusuk belasan pisau. Kael, pria gila ini, lagi-lagi berniat menjadikan tubuh besarnya sebagai umpan peluru murni demi beberapa detik waktu pelariannya.
"Paman hitung sampai sepuluh, Val! Kalau kalian tidak keluar dengan tangan di atas kepala, kami yang akan masuk dan menyeret kalian keluar!" ancaman Surya menggema lagi, diiringi suara kokangan puluhan senapan dari jarak yang semakin dekat.
"Satu!"
Kael memutar tubuhnya, bersiap mengambil posisi melompat keluar dari perlindungan kontainer.
"Kael, jangan..." tahan Valeria mencengkeram erat lengan Kael. Tangannya bergetar.
"Dua!"
"Waktu kita habis, Val," Kael menatap mata Valeria, melepaskan cengkeraman tangan wanita itu dengan lembut. "Ini adalah akhir dari tugas bayangan Anda."
"Tiga!"
Kael menggenggam kedua pistolnya. Dia memejamkan mata sesaat, mengucapkan selamat tinggal dalam diam kepada satu-satunya cahaya dalam hidupnya yang kelam. Saat Kael membuka matanya, nggak ada lagi keraguan. Hanya ada insting monster yang murni. Pria itu mengencangkan otot kakinya, bersiap melesat keluar menuju hujan peluru yang pasti akan merobek tubuhnya hingga hancur.