NovelToon NovelToon
MATI RASA DI PELUKANMU

MATI RASA DI PELUKANMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saga B.T.

Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.

Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.

Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Malam Tanpa Air Mata

Keheningan melingkupi penthouse mewah itu setelah jamuan makan malam yang membeku di meja utama usai. Lampu-lampu kristal di ruang makan telah dipadamkan oleh Bi Sumi dengan tangan gemetar, menyisakan kegelapan malam yang merayap masuk menembus dinding-dinding kaca raksasa.

Di dalam kamar tidur utama, pendingin udara berembus konstan, menyemburkan hawa dingin yang menusuk tulang.

Aisyah terbaring telentang di atas tempat tidur berukuran king-size. Matanya terbuka lebar, menatap kosong pada ceruk plafon yang temaram. Di sampingnya, seprei kain sutra putih yang halus terasa bagaikan lembaran salju abadi.

Dada Aisyah naik turun dengan irama yang sangat lambat. Di dalam relung batinnya yang paling dalam, kehancuran itu begitu nyata—seperti sebuah porselen mahal yang dihantam palu besi hingga hancur menjadi ribuan serpihan tajam.

Namun, saat Aisyah memiringkan kepalanya sedikit dan menyentuh sudut matanya dengan jemari yang memucat, tidak ada setetes pun air yang membasahi kulitnya.

Kelenjar air matanya seolah telah mengering total. Kehilangan, pengkhianatan, dan kenyataan bahwa pria yang dicintainya adalah algojo yang merenggut nyawa papanya telah mendorong jiwanya melampaui batas histeria. Rasa sakit yang teramat pekat itu telah membakar habis kemampuan raganya untuk menangis.

"Tidak ada lagi air mata..." bisik Aisyah pada keheningan malam. Suaranya terdengar begitu tipis, hampa, dan asing bagi pendengarannya sendiri. "Bahkan untuk meratapi diriku sendiri pun... aku tak lagi bisa."

Aisyah memiringkan badannya perlahan, menyibak selimut tebal tanpa menimbulkan bunyi. Ia membangkitkan tubuhnya dari tempat tidur, melangkah pelan menjejakkan kaki telanjang di atas lantai kayu yang dingin.

Dengan gerakan yang melayang bagaikan bayangan transparan, Aisyah berjalan melintasi kegelapan kamar menuju pintu kaca tebal di sudut ruangan—pintu masuk menuju kamar mandi utama yang berlapis marmer hitam Italian.

Ia menyalakan lampu dinding kamar mandi. Pendar cahaya kekuningan yang lembut seketika menyinari ruangan yang luas dan harum aroma lavender tersebut.

Aisyah berdiri kaku di depan cermin besar bernuansa emas yang tergantung di atas wastafel double.

Ia mengangkat wajahnya secara perlahan, menatap lurus pada bayangan wanita yang terpantul di balik kaca jernih di hadapannya.

Mata Aisyah menyipit halus. Sosok di dalam cermin itu tampak begitu asing baginya. Kulit wajahnya yang memucat pasi kehilangan seluruh pendar kehangatan alami. Manik matanya yang dulu selalu memancarkan kelembutan kini terendam dalam guratan hitam yang pekat dan mati. Bibirnya yang tipis terkatup kaku tanpa rona merah, memantulkan sesosok raga yang tak lagi dialiri oleh nyawa.

Aisyah mengulurkan tangan kanannya, menyentuh permukaan kaca cermin yang dingin tepat di atas pantulan pipinya sendiri.

"Siapa kau?" bisik Aisyah, menatap matanya di balik cermin. "Di mana Aisyah yang dulu selalu tersenyum saat menyambut pagi? Di mana perempuan yang memercayai janji manis di bawah langit senja itu?"

Tidak ada jawaban dari cermin tersebut. Hanya pantulan raga hampa yang menatapnya balik dengan tatapan mati rasa yang tak tertembus.

"Kau sudah mati, Aisyah," bisik wanita itu lagi pada bayangannya. "Pria itu telah membunuhmu... dan hanya menyisakan bangkai ini untuk dipajang di dalam rumahnya."

Sementara itu di kamar tidur, Ayden terbangun dari tidurnya yang gelisah.

Napas pria itu memburu pelan. Sejak menginjakkan kaki di kamar pasca-makan malam yang mengerikan itu, tidurnya dipenuhi oleh bayang-bayang kelam dari ucapan Aisyah di meja makan. Kata 'bangkai' terus bergema di dalam kepalanya bagaikan dentang lonceng kematian yang tak kunjung berhenti.

Ayden memutar tubuhnya ke samping, mengulurkan tangan kanannya secara refleks untuk merengkuh pinggang Aisyah di balik selimut.

Namun, jemarinya hanya menyentuh permukaan seprei yang kosong dan sedingin es.

Mata Ayden terbuka lebar seketika. Kepanikan yang teramat pekat menghantam dadanya tanpa peringatan.

"Aisyah?" panggil Ayden, suaranya parau dan tergesa-gesa.

Ia menyibak selimut, mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur seraya menyapu pandangan ke seluruh penjuru kamar yang temaram. Sudut beranda kosong. Kursi santai di dekat jendela raksasa pun tak berpenghuni.

Jantung Ayden berdegup kencang secara tak beraturan—sebuah sensasi takut kehilangan yang mendadak melumpuhkan akal sehat sang algojo dingin.

Lalu, matanya menangkap celah cahaya temaram yang meluncur keluar dari bawah pintu kamar mandi utama.

Tanpa membuang waktu, Ayden membangkitkan tubuhnya dan melangkah lebar menuju kamar mandi. Ia mendorong pintu kayu berukir itu hingga meluncur terbuka lebar.

"Aisyah!" panggil Ayden lagi dengan napas tertahan di ambang pintu.

Ayden menghentikan langkahnya seketika saat melihat istrinya sedang berdiri mematung di depan cermin besar. Aisyah masih mengenakan gaun malam satin hitamnya, berdiri tegak tanpa gerakan sedikit pun, menatap pantulan dirinya sendiri dengan mata yang hampa.

Ayden mengembuskan napas panjang yang sarat akan rasa lega, walau kecemasan di dadanya sama sekali tak menyurut. Pria itu melangkah masuk, menyusuri lantai marmer yang berkilau hingga berhenti tepat di belakang tubuh Aisyah.

"Kenapa kau berdiri di sini di tengah malam yang dingin ini, Aisyah?" tanya Ayden. Suaranya mengalun rendah, mencoba dengan nada kehangatan dan wibawa yang biasa ia kuasai, walau ada getaran cemas yang tak sanggup ia sembunyikan.

Aisyah tidak membalas ucapan itu. Kelopak matanya bahkan tidak berkedip. Melalui pantulan cermin di hadapan mereka, mata Aisyah terkunci pada bayangan wajah Ayden yang berdiri di belakang bahunya.

Ayden menatap pantulan istrinya di kaca. Raut wajah Aisyah yang pucat dan mati rasa itu menyayat dadanya dengan rasa ngilu yang belum pernah ia kenal sebelumnya.

"Kenapa kau tidak menjawabku, Sayang?" bisik Ayden lisan seraya melangkah maju satu sudut hingga dadanya menempel kaku pada punggung Aisyah.

Ayden mengangkat kedua tangannya, melingkarkan lengan berototnya di sekeliling pinggang Aisyah dari belakang. Pria itu menarik tubuh Aisyah yang kaku rapat-rapat ke dalam dekapannya, menyandarkan dagunya di atas bahu kiri Aisyah.

Sentuhan kulit mereka terpaut erat. Ayden merapatkan tubuhnya, membagikan kehangatan suhu tubuhnya sendiri untuk mengusir rasa dingin yang menyelimuti kulit istrinya. Pria itu memejamkan mata rapat-rapat, membenamkan wajahnya di leher Aisyah, menghirup aroma harum wewangian mawar yang selalu menenangkan jiwanya.

"Kau dingin sekali, Aisyah..." bisik Ayden di dekat telinga istrinya, suaranya bergetar tipis oleh permohonan yang tak terucap. "Kembalilah ke tempat tidur denganku. Jangan berdiri di sini sendirian dalam kegelapan."

Aisyah tidak menepis dekapan itu. Ia tidak memukul lengan Ayden, tidak pula menghentakkan tubuhnya untuk melepaskan diri dari jerat lengan pria yang telah meremukkan keluarganya.

Ia membiarkan tubuhnya dipeluk rapat dari belakang. Ia membiarkan napas hangat Ayden menerpa lehernya.

Namun, tidak ada satu pun reaksi fisik yang diberikan Aisyah. Bahunya tetap meluruh kaku. Tangannya terkulai pasrah di sisi tubuh. Tidak ada getaran ketakutan, tidak ada desah napas hangat, dan tidak ada kehangatan balasan yang mengalir keluar dari raganya.

Tubuh Aisyah di dalam pelukan Ayden terasa tak ubahnya bagaikan sebuah patung lilin dingin yang tak memiliki detak nadi.

Ayden membuka matanya, menatap pantulan mata Aisyah di cermin dari balik bahunya.

"Aisyah... bicara padaku," pintanya, suaranya kian mendesak dan frustrasi. "Bicaralah... marah padaku, caci maki aku, atau kutuklah namaku jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik. Tapi jangan membisu seperti ini!"

Aisyah mengalihkan pandangannya sangat lambat di dalam cermin, menatap balik pada pupil mata Ayden yang berkilat tegang.

"Untuk apa aku marah, Ayden?" tanya Aisyah. Suaranya mengalun sangat datar, dingin, dan nyaris tak berbisik—sebuah intonasi hampa yang memotong udara kamar mandi dengan ketajaman yang mematikan.

"Aisyah..." cicit Ayden, cengkeraman tangannya di pinggang Aisyah makin mengetat.

"Kemarahan adalah milik orang-orang yang masih memiliki harapan," lanjut Aisyah lisan, bibirnya mengukir senyum tipis—sebuah senyuman paling dingin dan paling menyedihkan yang pernah dilihat Ayden sepanjang hidupnya. "Dan kau... telah memastikan tidak ada satu pun harapan yang tersisa di dalam hidupku."

"Jangan bicara seperti itu!" potong Ayden cepat, membenamkan wajahnya lebih dalam ke sudut leher Aisyah, mencoba menularkan denyut jantungnya yang bergemuruh keras. "Aku masih ada di sini, Aisyah! Aku suamimu! Aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan! Rumah ini, harta, kebebasan materi... aku akan memenuhinya untukmu!"

"Kau bisa memberikan segala hal di dunia ini, Ayden..." bisik Aisyah lagi, tatapannya di cermin tetap kosong menembus sosok suaminya. "...tapi kau tidak akan pernah bisa mengembalikan jiwa yang telah kau bunuh."

Kata-kata Aisyah menghantam kesadaran Ayden secara telak.

Ayden mendekap tubuh wanita itu makin erat, seolah-olah jika ia melepaskan cengkeramannya sedikit saja, raga Aisyah akan lenyap menguap menjadi udara hampa. Ia menyalurkan seluruh hawa panas tubuhnya, seluruh energinya, dan seluruh obsesinya untuk merengkuh wanita di dalam pelukannya.

Namun, makin erat Ayden merengkuhnya, makin jelas rasa keputusasaan yang merayapi batin Ayden.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!