NovelToon NovelToon
Oh! Mantan Kekasihku

Oh! Mantan Kekasihku

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.

Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati-hati!

Sepanjang perjalanan, Dokter Tyas tidak henti-hentinya mencari perhatian, wanita itu sengaja berjalan agak cepat agar bisa sejajar dengan Gavin.

​"Kapten Gavin, dinas di hutan seperti ini apa nggak kangen sama kota?" tanya Dokter Tyas dengan nada seramah mungkin.

​Gavin tetap fokus menatap jalan di depan, langkahnya stabil dan tegap. "Sudah biasa, Dok. Tugas prajurit adalah mengabdi, di mana pun tempatnya," jawab Gavin pendek, sangat formal.

"Wah, hebat ya. Kalau saya sih, jujur, seminggu di sini sudah rindu kafe-kafe di kota," ucap Dokter Tyas sambil tertawa kecil, berharap Gavin akan ikut tersenyum. Namun, sang Kapten hanya mengangguk samar tanpa mengubah ekspresi wajahnya.

​Hazel yang berjalan di belakang hanya bisa tersenyum kecut mendengar percakapan itu. Dia tahu betul, Gavin bukan tipe pria yang mudah tergoda dengan obrolan basa-basi. Dulu pun, Gavin adalah sosok yang cuek, kecuali jika sudah menyangkut hal-hal yang benar-benar dia pedulikan atau jika sedang bersama Hazel, tapi itu dulu sebelum Hazel tiba-tiba menghilang.

Setengah jam berlalu, jalur setapak mulai menyempit dan menanjak tajam. Di sisi kiri mereka adalah tebing batu yang ditumbuhi semak belukar, sementara di sisi kanan adalah jurang yang cukup dalam dengan pemandangan pohon-pohon pinus di bawahnya.

​"Hati-hati, pijakan di sebelah sini agak gembur," seru Gavin dari depan.

​Satu per satu personel tim medis melewati area rawan tersebut dengan selamat. Ketika giliran Hazel, dia melangkah dengan sangat hati-hati. Boots karet yang dipakainya memang melindungi luka lecet di tumitnya, tetapi ukurannya yang agak longgar membuat cengkeraman kakinya ke tanah tidak terlalu mantap.

​Krek.

​Sebuah ranting pohon yang tertutup tanah basah patah saat diinjak Hazel. Seketika, tanah di bawah kakinya longsor kecil dan membuat tubuh Hazel kehilangan keseimbangan.

​"Eh!" Hazel memekik spontan, tubuhnya limbung ke arah jurang.

​Dalam hitungan detik, sebuah tangan kekar melesat dengan cepat dan mencengkeram pergelangan tangan Hazel dengan sangat kuat lalu menariknya ke atas sebelum tubuh wanita itu merosot lebih jauh.

​Bruk!

​Karena tarikan yang cukup kuat, tubuh mungil Hazel menghantam dada tegap pria yang menolongnya. ​Hazel mendongak dengan napas terengah-engah karena syok, sepasang mata elang Gavin berada tepat beberapa sentimeter di depan wajahnya. Pria itu entah bagaimana sudah berada di belakang barisan dalam sekejap saat mendengar suara tanah longsor.

​"Dokter Hazel! Anda tidak apa-apa?" Sersan Baim berteriak panik dari belakang.

​Gavin tidak langsung melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Hazel, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Hazel yang bergetar karena takut. Ada kilat emosi yang tertangkap di mata Gavin selama satu detik, sebelum akhirnya kembali berubah menjadi dingin dan datar.

​Gavin membantu Hazel berdiri tegak di jalur yang aman lalu melepaskan tangannya dengan gerakan perlahan.

​"Sudah saya katakan, hati-hati!" ucap Gavin dingin, tetapi kali ini nadanya tidak sesarkas kemarin siang di kantin. Namun, tetap ada sedikit nada penekanan yang berbeda.

"Fokus pada langkah anda, Dok," lanjut Gavin.

​"Terima kasih, Kapten," bisik Hazel dengan suara serak.

Jantung Hazel masih berdegup kencang, bukan hanya karena hampir jatuh ke jurang, melainkan karena jaraknya yang begitu dekat dengan Gavin.

​Dokter Tyas dan yang lainnya menoleh ke belakang dengan wajah khawatir, "Dokter Hazel, beneran nggak apa-apa? Mau istirahat dulu?" tanya Dokter Edo.

​"Tidak apa-apa, Dokter Edo. Kita lanjutkan saja, kasihan warga sudah menunggu," jawab Hazel berusaha tegap, meskipun kedua lututnya masih terasa agak lemas.

​Gavin kembali ke barisan depan tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Namun, Hazel menyadari satu hal, di mana sejak kejadian tadi, kecepatan berjalan Gavin melambat, seolah menyesuaikan dengan langkah pelan Hazel.

​Sesampainya di Balai Desa, suasana langsung ramai. Warga yang didominasi oleh ibu-ibu menyusui dan lansia sudah duduk rapi di atas tikar pandan, aroma minyak telon, asap rokok lintingan dan wangi kue talam singkong yang disediakan pihak desa menyeruak di udara.

​Hazel langsung mengambil posisinya di meja nomor tiga, meskipun dadanya masih berdegup kencang akibat kejadian di tebing tadi, namun ia mencoba profesional. Hazel memakai stetoskopnya, menarik napas dalam-dalam dan mulai memeriksa pasien pertamanya, seorang balita yang sedang demam.

​Dari sudut matanya, Hazel bisa melihat Gavin tidak langsung pergi. Pria itu berdiri di dekat pintu masuk balai desa, bersedekap dengan posisi tegap dan mengawasi keadaan sekitar dengan pandangan waspada. Di tempat terpencil seperti ini, tugas pengamanan memang mutlak milik tentara.

​"Kapten Gavin, ini diminum dulu kopinya. Kopi asli dari kebun belakang balai desa," ucap Pak Kades sembari menyodorkan sebuah cangkir seng.

​Gavin menerima cangkir itu, mengangguk hormat. "Terima kasih, Pak Kades," jawab Gavin.

"Dokter-dokter dari kota ini hebat ya, Kapten. Khususnya Dokter Hazel itu, saya dengar dia sampai jatuh ke lumpur pas datang ke sini, tapi hari ini tetap mau datang. Kulitnya putih bersih begitu, pasti di kota tidak pernah hidup susah," puji Pak Kades polos.

​Gavin tidak langsung merespons, matanya bergerak tertuju pada Hazel yang sedang berbicara dengan suara sangat lembut kepada seorang nenek tua. Rambut Hazel yang dikuncir asal membuat beberapa anak rambutnya jatuh membingkai wajahnya yang tampak lelah, ada gurat pucat di sana. Tapi, senyumnya tidak pernah luntur di depan warga.

​Gavin menyesap kopi hitamnya yang panas, "Tugas mereka memang melayani, Pak," jawab Gavin datar, seolah tidak terpengaruh oleh pujian Pak Kades.

​Namun, Sersan Baim yang berdiri tidak jauh di sebelah Gavin menahan senyum. Sersan Baim tahu betul sifat komandannya, Gavin biasanya paling tidak suka membuang waktu di barisan paling belakang, tetapi sepanjang jalan tadi, Gavin sengaja memperlambat jalannya yang biasanya seperti kilat hanya agar barisan belakang, tempat Hazel berada tidak tertinggal.

"Sersan," panggil Gavin tiba-tiba.

​"Siap, Kapten!" jawab Sersan Baim.

​"Setelah ini, hubungi dapur umum. Minta mereka memasak sup ayam kampung atau sesuatu yang hangat untuk tim medis nanti malam, udara belakangan ini semakin tidak bersahabat dan jangan sampai ada personel yang sakir karena kurang gizi," perintah Gavin.

​"Siap, laksanakan! Tapi... ini untuk seluruh tim medis atau khusus Dokter dari rumah sakit Ganendra, Kapten?" tanya Sersan Baim dengan nada sedikit menggoda, meskipun wajahnya tetap dipasang mode serius.

​Gavin menoleh dan menatap Sersan Baim dengan pandangan tajam yang membuat nyali sersan itu langsung menciut, "Seluruh tim medis, Sersan. Jangan banyak tanya," jawab Gavin cepat.

​"Siap, salah, Kapten!" Sersan Baim langsung memberikan hormat dan mundur teratur sebelum komandannya itu memberikan hukuman lari keliling lapangan pos.

.

.

.

Bersambung.....

1
Susana Sari Sari
heppy ya...
Susana Sari Sari
senangnya ending yg maniz...seperti perkawinan Kristen didunia nyata,tidak mrngedepankan nafsu ...terima kasih Thor 👍👍👍💪🙏
una
ya....tunggu cerita kelanjutan anak2 Gavin Hazel Yach...🙏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Selesai dengan akhir yang bahagia.👏👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Akhirnya yang ditunggu² pemeran uatama lahir juga, selamat datang ke dunia barumu baby.. bakal jadi kesayangan Oma- Opa, Nenek - Kakek nih.👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ga apa² bisa di coba saran dari dokternya Zel, siapa tau baby bisa langsung pengen keliar sekarang juga./Joyful//Joyful//Joyful/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Calon baby kalian itu sudah hadir, coba kalau Hazel ngeuh sebagai istri sekaligus dokter pasti tau gejala apa sampe hoak hoek gitu.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Penganten baru di hajar sampe gempor, harus kuat ngimbangin sang kapten ya Zel./Joyful//Joyful//Joyful/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Bakal cepet jadi juniornya Gavin - Hazel ini mah, soalnya kapten Gavin lossdoll banget tenaganya./Joyful//Joyful//Joyful/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Hareudang... Hareudang.. hareudaaangngg, panas.. panas.. panaass, MP penganten baru./Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
una
semangat 💪💪💪
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Wkwwkk suster Kinan berasa kayak sapi ompong karna percaya saja dengan kebohongan Hazel dulu tentang hubungannya dengan Gavin./Joyful//Joyful//Joyful/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Akhirnya kebahagiaan yang di tunggu² datang juga, selamat Gavin - Hazel untuk pernikahan kalian.👏👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Kamu harus berterima kasih pada pak jendral Bayu dan dokter Ane, Zel karna berkat mereka kamu dan Gavin bisa bertahan sampe sekarang.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Tenang Hazel, Gavin ada bu Vivian yang bakal turun tangan jadinsemua prosesenya bakal cepat beres./Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Joss lah Gavin ga gentar ngadepin bu Vivian dan orang tua Gavin juga bikin salut sudah berbesar hati tetap pada atitude'nya tanpa harus marah² bales bu Vivian dengan kesombongan lagi.👍👍👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Kalau ibu mu masih egois langsung iket saja Zel, toh kalian banyakan sedangkan ibumu sendiri kalau mau melawan kalian... rampas hpnya juga biar ga bisa telpon suapa²./Joyful//Joyful//Joyful/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
E Busyet Vin... Gaviinn saking bucinnya sampe punya pikiran nekad kesana buat dapetin restu./Joyful//Facepalm//Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Sudah kepalang tanggung Zel kamu sama Gavin sudah melangkah ambil star untuk menjalin lagi hubungan jadi hadepin dan berjuang bareng² itu lebih baik daripada mundur lagi seperti dulu tapi efek penyesalannya malah makin menumpuk dan menimbulkan kehancuran kalian.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Untung ada dokter Ine yang bijak yang bisa jadi pendengar sekaligus kasih saran yang di butuhkan Hazel.👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!