Aku membencinya begitu aku tahu dia seorang janda! Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mengubah kebencian itu jadi cinta yang luar biasa. Saat cinta hadir ditengah-tengah kami. Suami pertama nya yang kata nya hangus terbakar saat kecelakaan dulu, kembali dengan sehat walafiat. Yang paling membuat dada ku sakit, ternyata selama ini dia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanayaa Irany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Kening Pak Dharma berkerut samar saat pandangannya mengunci sosok wanita yang berdiri di samping Arya. Langkah kaki pria paruh baya itu terhenti sejenak, sebelum akhirnya tergesa mendekat dengan binar terkejut yang tak berusaha ditutup-tutupi.
"Lho, Bu Nissa? Anda hadir juga?"
Pak Dharma mendekati Gendis dengan gestur yang serta-merta berubah. Ia menjabat tangan wanita itu dengan amat hormat, bahkan sedikit membungkukkan bada, sebuah penghormatan yang biasa diberikan kepada seorang partner bisnis setingkat, bukan seorang bawahan apalagi asisten pribadi yang mengekor di belakang atasannya.
"Saya benar-benar turut berduka cita atas musibah yang menimpa suami Ibu," lanjut Pak Dharma dengan nada suara melunak penuh simpati. "Padahal kalian baru saja menikah, ya? Masya Allah... memang ikhtiar kita manusia hanya sampai di sini. Semoga almarhum diberikan tempat terbaik di sisi-Nya."
Gendis tersenyum tipis, sebuah sunggingan bibir canggung yang dipaksakan. Matanya sempat melirik sekilas ke arah Arya yang membeku di tempat, sebelum akhirnya kembali fokus pada pria di hadapannya.
"Terima kasih banyak, Pak Dharma. Doa dari Bapak sangat berarti untuk saya," sahut Gendis pelan, suaranya teratur dan profesional.
Di sisi lain, dunia di sekitar Arya mendadak serasa berputar hebat. Rangkaian kata yang baru saja memantul di dinding restoran itu menghantam kesadarannya tanpa ampun.
Manik mata Arya bergerak liar. Ia menatap Gendis penuh kebingungan, berpindah menatap Pak Dharma yang tampak begitu mengagumi wanita di sebelahnya, lalu kembali menatap wajah datar Gendis.
Gendis Annisa Atmajaya.
Untuk pertama kalinya, nama lengkap yang tertera di dokumen pernikahan mereka bergaung begitu keras di dalam kepala Arya. Bukan lagi sekadar nama tak berjiwa yang diucapkan penghulu di bawah pendar lampu remang-remang malam itu.
Annisa... Nissa...
Selama ini, seluruh staf di stasiun TV miliknya selalu membicarakan sosok Produser Eksekutif jenius bernama "Bu Nissa". Tangan dingin di balik deretan program prime time dengan rating tertinggi.
Jadi, wanita yang selama ini dipuja-puja oleh tim kreatif perusahaannya adalah orang yang sama? Wanita yang proposalnya ia bawa malam ini, dokumen sakti yang dikirim via surel ke atasan divisi lalu diteruskan ke mejanya tanpa nama pengirim, ternyata adalah hasil ketikan jari-jari wanita ini?
Dan pengajuan cuti tiga bulan yang ditandatanganinya tepat saat Arya baru menjabat sebagai CEO satu bulan lalu... itu cuti duka cita atas meninggalnya Galang.
Arya meremas jemarinya sendiri. Pasokan udara di dalam dadanya terasa menguap habis, menyisakan sesak luar biasa. Rasa malu yang meremukkan harga diri dan kemarahan pada ketidaktahuannya sendiri bercampur menjadi racun yang sangat pahit.
Selama bertiupnya rumor, Arya dengan sombong memvonis Gendis sebagai janda kampung pencari harta. Seorang wanita miskin yang sengaja memasang perangkap impitan ekonomi demi mengeruk kekayaan keluarga Bratadikara. Namun realita malam ini menamparnya telak. Gendis bukan benalu. Gendis aset paling berharga di perusahaannya sendiri. Wanita yang memeras otaknya, memberi makan ratusan karyawan di stasiun TV milik keluarganya.
Kilas balik perlakuan buruknya terputar otomatis seperti pita kaset rusak. Arya mengingat tiap inci kata beracun yang pernah dilontarkannya tanpa beban.
Setiap bentakan, kibasan tangan melecehkan, dan tatapan jijik yang ia lempar pada Gendis kini menjelma menjadi paku-paku panas yang menancap tepat di jantungnya.
Gendis menoleh pelan, menangkap raut wajah Arya yang pucat pasi. Matanya begitu tenang, bening, dan hampa. Tidak ada kilat kepuasan, tidak ada raut kemenangannya karena telah berhasil membalas telak atau mempermalukan sang suami. Yang terpancar dari paras ayunya hanyalah kelelahan fisik dan jiwa yang teramat sangat.
"Pak Dharma," suara Gendis memecah keheningan yang mencekam di antara mereka. "Maafkan saya belum sempat memperkenalkan secara resmi. Ini Tuan Arya Bratadikara, pemilik stasiun TV tempat saya bernaung, sekaligus CEO baru kami yang baru saja memegang tongkat kepemimpinan satu bulan lalu."
Pak Dharma mengangguk-angguk ramah, langsung mengalihkan perhatiannya pada Arya. "Ah, tentu! Saya sudah sempat berbincang sedikit dengan beliau tadi sebelum Ibu datang. Pemuda yang sangat kompeten dan berwawasan luas. Memang benar kata orang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Papa Anda dulu juga sosok visioner yang luar biasa di industri penyiaran."
Gendis kembali menyambung dengan nada diplomatis, "Saya sebenarnya masih dalam masa cuti kerja, Pak Dharma. Tapi karena proyek kerja sama ini sangat strategis dan dokumen proposalnya sudah selesai saya garap dari rumah, saya merasa bertanggung jawab secara profesional untuk hadir dan mempresentasikannya langsung kepada Bapak."
Arya terkunci dalam bisu. Lidahnya kufur kata.
Dia yang menyusun seluruh isi proposal setebal lima puluh halaman itu? Bukan tim riset? Dia mengerjakannya sendirian di tengah masa duka atas kematian suaminya?
Di saat yang sama, Arya menyadari hal lain yang membuat dadanya semakin dihimpit rasa bersalah. Gendis baru saja menyelamatkannya dari situasi sosial yang berpotensi menghancurkan reputasinya. Wanita itu dengan cerdik menyembunyikan status pernikahan rahasia mereka, tidak membongkar borok Arya yang datang tanpa persiapan, dan tetap bertindak sebagai bawahan yang tahu etika. Gendis memainkan perannya dengan begitu sempurna sebagai profesional sejati.
Namun Arya tahu, ketenangan Gendis hanyalah benteng es yang membekukan kepedihan mendalam.
Satu jam berlalu. Sesi makan malam bisnis itu berjalan tanpa kendala. Gendis menguasai panggung pembicaraan dengan memukau. Ia membedah data penonton, memetakan demografi target pasar, hingga memaparkan alur eksekusi program dengan begitu mendalam, sesuatu yang bahkan tak sanggup Arya imbangi dengan jabatannya sebagai CEO.
Pak Dharma berulang kali mengangguk puas. Tanpa keraguan sedikit pun, pena perak berukir di tangannya menari di atas kertas perjanjian. Kerja sama resmi terjalin.
"Jujur saja, Bu Nissa," ujar Pak Dharma seraya merapikan berkasnya. "Pihak GBTv sebenarnya gencar sekali mendekati kami akhir-akhir ini. Mereka menawarkan slot utama untuk program baru mereka. Tapi saya paham betul reputasi Anda. Program buatan Bu Nissa tidak pernah gagal di pasaran, jadi saya tidak mau mengambil risiko berinvestasi di tempat lain."
Gendis hanya mengukir senyum tipis yang amat sopan.
Ia tahu betul siapa pemilik stasiun GBTv yang baru saja disinggung Pak Dharma. Itu adalah stasiun TV milik keluarga besar almarhum Galang. Namun hingga detik ini, keluarga mantan suaminya tidak pernah tahu apa pekerjaan asli Gendis yang sebenarnya. Mendiang Galang dan keluarganya hanya mengetahui bahwa Gendis seorang jurnalis berita biasa yang bekerja di lapangan, bukan seorang Produser Eksekutif yang memegang kendali di balik layar program-program bernilai miliaran rupiah.
Setelah menghantarkan Pak Dharma hingga ke pintu mobilnya, keheningan menyelimuti Arya dan Gendis yang kini berdiri berdampingan di area valet parking restoran. Angin malam berembus cukup dingin, mengibarkan ujung gamis yang dikenakan Gendis.
"Proposal itu... benar-benar kamu yang buat sendiri?" suara Arya akhirnya pecah. Nada bicaranya amat pelan, tak ada lagi bentakan keras atau nada intimidasi seperti hari-hari sebelumnya.
"Iya. Aku kirim berkasnya lewat email ke atasanku, lalu diteruskan ke meja kerjamu," jawab Gendis datar tanpa menoleh. "Atasanku bilang kamu CEO baru yang sangat sibuk dan tidak mau diganggu dengan detail-detail teknis di lapangan."
Arya tertawa hambar, merutuki kesombongannya sendiri. "Kamu... kenapa tidak pernah bilang kalau kamu itu Nissa?"
Gendis akhirnya menoleh, menatap lurus ke dalam iris mata Arya. "Kamu tidak pernah bertanya," balasnya dingin namun menusuk.
"Sejak malam pertama kita dinikahkan secara paksa, kamu sudah memberi vonis bahwa aku seoeang janda kampung pencari harta yang memanfaatkan keadaan. Apa cara pandangmu padaku akan berubah begitu saja hanya karena kamu tahu status pekerjaanku?"
Arya membisu. Lidahnya terasa kelu, tak mampu menyusun satu kalimat pun untuk membela diri.
"Lagipula, di lembar perjanjian kontrak pernikahan kita tidak ada poin yang mewajibkan kita untuk saling bertukar cerita tentang pekerjaan," tambah Gendis dengan nada yang kian membeku. "Jadi secara hukum dan kesepakatan, aku tidak melanggar aturan apa pun."
Tak lama, mobil jemputan berhenti di hadapan mereka. Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah mewah milik keluarga Bratadikara, interior mobil diliputi hening yang mencekam. Keduanya duduk saling menjauh di sudut jok belakang, menatap ke arah jendela luar yang memantulkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta. Tidak ada percakapan. Hanya deru mesin dan pikiran Arya yang berkecamuk hebat.
Setibanya di kediaman mereka, Gendis tidak membuang waktu. Ia melangkah cepat menuju tangga utama. Seluruh persendian tubuhnya terasa lemas dan berat. Energi mentalnya habis terkuras menghadapi dinamika malam ini. Yang berada di benaknya saat ini hanyalah keinginan untuk merebahkan diri di atas kasur dan memejamkan mata.
"Gendis."
Suara berat itu menghentikan langkahnya di anak tangga ketiga. Gendis menghentikan gerakan kakinya. Arya jarang sekali atau mungkin tidak pernah memanggil nama aslinya dengan nada serendah itu selama mereka menikah.
Gendis memutar tubuhnya perlahan. Di bawah pendar lampu pilar tangga, Arya berdiri menatapnya dengan raut wajah yang campur aduk; ada penyesalan, canggung, dan kehampaan yang sulit diartikan.
"Besok... kamu tidak usah ikut agenda pertemuan bisnis lagi," ujar Arya pelan, mengalihkan pandangannya sebentar sebelum kembali menatap Gendis. "Fokus saja pada masa cuti mu. Aku tidak akan memaksamu untuk ikut campur urusan kantor."
Gendis mengangkat sebelah alisnya, heran dengan perubahan sikap pria yang biasanya selalu menuntut itu. "Lalu bagaimana dengan berkas proposal untuk proyek-proyek berikutnya?"
Arya menghela napas panjang, mengusap tengkuknya yang terasa kaku. "Kamu bisa kirimkan drafnya lewat email saja. Seperti cara kerja biasa. Nanti biar tim presentasi yang menangani sisanya di depan klien."
Gendis mengamati wajah Arya selama beberapa detik, mencoba mencari kebohongan di sana, sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu," sahutnya singkat. Tanpa kata tambahan, ia berbalik dan melanjutkan langkah kakinya menuju lantai atas.
Pintu kamar terketuk pelan saat Gendis menutupnya dari dalam. Dalam kesendirian kamar yang tenang, pertahanan diri yang dibangun Gendis sepanjang malam akhirnya runtuh perlahan. Ia melepas blazer hitamnya, lalu menyingsingkan lengan gamis panjangnya ke atas.
Kulit mulusnya terhias memar membiru kehitaman di area lengan atas, bekas cengkeraman kasar jemari Arya saat pria itu meluapkan emosinya kemarin malam. Gendis menyentuh permukaan kulit yang bengkak itu dengan jemarinya. Sakit fisik itu nyata terasa.
Namun, bukan rasa nyeri di tangannya yang membuat sudut matanya mendadak basah.
Dengan tangan gemetar, Gendis meraih ponsel dari dalam tasnya. Ia membuka album galeri terkunci, menggeser layar hingga berhenti pada sebuah foto berformat lama.
Foto momen lamaran mereka dua tahun lalu. Di dalam foto itu, mendiang Galang tersenyum begitu tulus saat menyematkan sebuah cincin perak berkilau ke jari manis Gendis. Di foto itu, wajah Gendis tampak begitu bersinar, memancarkan kebahagiaan tanpa beban dari seorang wanita yang merasa dicintai dengan sangat ugal-ugalan. Mereka tampak begitu sempurna.
Gendis mematikan layar ponselnya. Benda persegi itu diletakkannya dengan pelan di atas meja nakas.
Ia membaringkan tubuhnya yang rapuh di atas kasur, menarik kain selimut tebal hingga menutupi seluruh kepala dan wajahnya. Di balik kegelapan kain itu, pertahanannya roboh total. Isak tangis yang sejak tadi ditahannya pecah tanpa suara, membasahi bantal dalam kesepian malam.
Sementara itu, jauh di lantai bawah, lampu ruang kerja Arya masih menyala terang. Arya duduk tertegun di balik meja kayu mahogani miliknya. Cahaya dari layar monitor komputer memantul di wajahnya yang keruh, menampilkan halaman basis data internal perusahaan.
Arya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memejamkan mata rapat-rapat seraya menarik napas panjang yang terasa menyiksa dada. Jemarinya menghitung linimasa yang tertera di layar, itu biodata Gendis.
Mendiang suami Gendis meninggal dunia enam bulan yang lalu. Namun, wanita itu baru mengambil hak cuti dukanya satu bulan terakhir ini. Itu artinya, selama lima bulan berturut-turut setelah kematian suaminya, Gendis tetap profesional menahan kepedihan pribadi demi terus bekerja melahirkan karya-karya terbaik untuk stasiun TV miliknya.
Arya menyandarkan dahi di atas kedua tangannya yang tertaut di atas meja. Penyesalan teramat berat kini bersemayam di dadanya.
Selama ini aku memaki dan menghina wanita yang justru menjadi tulang punggung yang menghidupkan perusahaanku.
Selama ini aku memperlakukannya tak lebih dari sekadar sampah yang menumpang hidup.
Padahal...