Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan
"Ibu sanggup kalau saya kasih pesanan uji coba dulu?" tanya pemilik toko kain itu seraya membetulkan letak kacamatanya.
Adelia menahan napas sejenak, menggenggam erat tali tas kain di tangannya. "Uji coba seperti apa, Pak?"
"Nama saya Pak Surya," ujar pria paruh baya itu sambil mengulurkan tangan. "Saya punya stok kain katun rayon motif bunga eksklusif. Saya butuh dua puluh potong gamis modern dengan potong pola seperti contoh yang Ibu bawa ini. Waktunya lima hari. Kalau hasilnya memuaskan, seluruh pesanan seratus potong bakal saya serahkan ke Ibu."
Adelia menerima uluran tangan Pak Surya dengan mantap. "Dua puluh potong dalam lima hari? Saya sanggup, Pak Surya. Terima kasih banyak atas kepercayaannya."
"Bagus," Pak Surya tersenyum lebar, lalu memanggil karyawannya untuk mengangkat dua gulung kain katun rayon pilihan ke atas meja. "Ini bahan dan benangnya. Ongkos jahitnya saya bayar di depan lima puluh persen sebagai modal awal Ibu."
Dua lembar uang seratus ribuan dan sepuluh lembar uang lima puluh ribuan berpindah ke tangan Adelia. Daging telapak tangannya gemetar halus, bukan karena takut, melainkan karena rasa syukur yang membuncah.
Malam harinya, ruang tengah kontrakan yang sempit itu berubah menjadi Kapal pecah. Gulungan kain katun rayon terbentang di atas terpal. Adelia berlutut dengan kapur jahit putih dan meteran di tangannya, sibuk menandai garis pola dengan sangat presisi.
"Ibu, diminum dulu teh hangatnya," ujar Kayla lembut, meletakkan secangkir teh manis panas di dekat kaki mesin jahit.
Adelia mendongak, menyapu keringat di dahinya dengan lengan baju. "Terima kasih, Kayla. Kamu belum tidur, Nak? Ini sudah jam sepuluh malam,loh!."
"Kayla mau temani Ibu," sahut gadis kecil itu seraya duduk bersila di samping tumpukan kain. "Kayla bisa bantu lipat kain yang sudah dipotong, Bu."
Tak lama kemudian, pintu kayu berderit pelan. Kenzie melangkah masuk dengan wajah lelah usai menyelesaikan shift malamnya di kedai kopi. Pemuda itu meletakkan sebungkus martabak telur hangat di meja bambu.
"Kenzie bawa martabak dari bonus tips tadi, Bu," ucap Kenzie sambil tersenyum hangat. "Ayo makan dulu, Bu. Jangan dipaksa terus."
"Wah, kelihatannya enak sekali," Puji Adelia, mengelus rambut putranya. "Kalian makan duluan ya. Ibu tuntaskan lima potong kain ini lagi."
Suara engkol mesin jahit tua berputar ritmis menembus sepinya malam. Adelia memutar engkol besi dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memandu jalannya kain di bawah injakan sepatu mesin.
Di tengah keheningan, ketika jarum jahit bergerak cepat menembus lipatan kain yang tebal, perhatian Adelia mendadak teralih oleh suara batuk Kayla yang terbangun dari tidurnya. Tangan kirinya terpeleset beberapa milimeter.
Jleb!!!
"Aww!" Adelia merintih pelan, memejamkan mata rapat-rapt.
Jarum jahit yang tajam menembus ujung jari telunjuk kirinya. Darah segar berwarna merah pekat langsung menetes, mengenai sudut kain katun putih di atas meja.
Kenzie yang sedang merapikan cangkir dapur langsung berlari mendekat. "Ibu! Astaga, jarinya tertusuk!"
"Ibu enggak apa-apa,Nak," cegah Adelia cepat saat Kenzie hendak mengambil kain lap. Adelia segera mengisap ujung jarinya yang terluka agar darahnya berhenti dan tidak menodai sisa kain katun rayon yang bersih. "Hanya goresan kecil."
"Ibu istirahat dulu, Bu. Ini sudah jam dua pagi," bujuk Kenzie cemas, melihat mata ibunya yang mulai memerah karena mengantuk.
Adelia menggeleng tegas. Ia membungkus jarinya dengan plester kecil, lalu kembali memegang lipatan kain dengan tangan gemetar namun mantap.
"Tidak bisa, Kenzie. Pak Surya sudah percaya sama Ibu. Ini jalan pertama kita untuk bangkit. Ibu tidak boleh mengecewakan orang yang sudah memberi kesempatan."
Mata Adelia kembali menatap tajam ke arah jarum jahit. Rasa perih di jarinya seolah menguap, kalah oleh kobaran semangat di dalam dadanya.
Tiga hari kemudian, Adelia kembali mendatangi toko kain Pak Surya dengan memboyong dua tas besar berisi dua puluh potong gamis yang sudah rapi terbungkus plastik bening.
"Pak Surya, ini pesanan dua puluh potong gamisnya," kata Adelia seraya menata baju-baju tersebut di atas meja kasir.
Pak Surya mengambil satu potong gamis berwarna marun, memeriksanya dari jahitan leher, kerapian ritsleting belakang, hingga keliman bagian bawah. Pria paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepala dengan raut wajah terpukau.
"Luar biasa..." gumam Pak Surya tulus. "Jahitannya sangat rapi, potongannya jatuhnya pas sekali di badan. Ini kualitas garmen kelas atas, Bu Adelia!"
Tanpa menunda waktu, Pak Surya langsung menggantung lima potong gamis buatan Adelia di manekin depan tokonya yang menghadap ke lorong utama pasar.
"Kita lihat respons pembeli hari ini," ujar Pak Surya mantap sambil menyerahkan pelunasan sisa ongkos jahit.
Hasilnya di luar dugaan. Jahitan anggun dengan paduan pola yang unik itu mendadak menjadi pusat perhatian para pengunjung pasar. Pembeli yang melintas berhenti untuk memegang bahan dan memuji keindahan potongannya.
Hanya dalam waktu tiga hari, seluruh dua puluh potong gamis buatan Adelia laku keras tak tersisa.
Pada hari Sabtu pagi, Adelia kembali ke toko Pak Surya untuk mengambil sisa bahan pesanan berikutnya. Namun, di tengah keriuhan pasar, Pak Surya justru menyambutnya dengan wajah penuh penyesalan.
"Bu Adelia, maaf sekali," bisik Pak Surya pelan, melirik ke sekeliling dengan canggung. "Saya tidak bisa memberikan pesanan seratus potong itu ke Ibu lagi."
Adelia tersentak, jantungnya seolah berhenti berdetak. "Kenapa, Pak Surya? Apa ada yang salah dengan jahitan saya?"
"Bukan, bukan karena jahitan Ibu," sahut Pak Surya seraya menghela napas berat. "Tapi kemarin ada wanita muda kaya raya yang datang ke toko saya bersama beberapa orang suruhannya. Dia mengancam akan membatalkan seluruh kontrak sewa toko saya kalau saya masih menerima jahitan dari Bu Adelia."
Adelia mengepalkan tangannya rapat-rapt. "Siapa wanita itu, Pak?"
"Maaf Bu Saya kurang tahu namanya"
Di sisi lain, atmosfer megah menyelimuti ruang aula pernikahan yang bertabur bunga.
Clara melangkah anggun menyusuri aisle menuju altar. Gaun pengantin putih berpotongan ball gown yang mewah dan elegan melekat sempurna pada tubuhnya, berkilau indah setiap kali tertimpa cahaya lampu kristal.
Arkananta sudah berdiri menanti. Lelaki itu tampak luar biasa gagah dalam balutan tuxedo hitam berpotongan pas badan, memancarkan aura karisma yang kuat.
Keduanya tampak begitu serasi, bagaikan sepasang raja dan ratu semalam.
Saat tangan Clara berpindah ke genggaman Arkananta, ketegangan yang sakral mendadak mengunci ruangan. Arkananta menjabat erat tangan wali hakim di depan meja akad, menarik napas dalam-dalam untuk memantapkan suaranya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Clara Selvania binti Ahmed dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel