Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUNTIKAN TERAKHIR
"Matikan pengeras suaranya, Bu."
Sinta berbisik, tapi Bu Retno tidak bergerak. Ponsel itu masih menyala di telapak tangannya, bergetar halus seperti hewan kecil yang sekarat. Dari seberang terdengar napas tenang Pak Hendra, sabar menunggu, seperti pemancing yang tahu ikannya sudah menelan umpan.
"Retno?" panggilnya lembut. "Kamu masih di situ?"
Bu Retno menekan tombol merah. Sambungan putus. Ruangan itu kembali sunyi, hanya kipas kecil yang berdecit di sudut dan isak tertahan Melia.
Tak ada yang berani bicara. Rini menatap ibunya dengan mulut setengah terbuka. Tari berdiri kaku di dekat pintu. Sinta menunggu, karena ia tahu perempuan di depannya sedang berada di titik yang selama tiga puluh tahun ia hindari.
"Duduk, Bu," kata Sinta akhirnya.
"Aku tidak butuh duduk."
"Ibu butuh bicara. Dan kami butuh mendengar."
Bu Retno menatapnya lama. Lalu, seperti bangunan tua yang akhirnya menyerah pada tanahnya, ia menurunkan tubuh ke kursi kayu reyot di dekat jendela. Tas kecilnya diletakkan di pangkuan, kedua tangannya mencengkeram talinya.
"Suamiku sakit lima tahun," ucapnya datar, memandang lantai. "Kanker hati. Dokter bilang usianya tinggal beberapa bulan. Waktu itu Hendra masih dokter muda di rumah sakit kota, dan dia yang paling sering datang ke rumah."
"Haryo kesakitan?" tanya Sinta pelan.
"Tiap malam. Dia menjerit sampai suaranya habis. Aku tidur di lantai samping ranjangnya supaya bisa menggenggam tangannya." Bu Retno tersenyum getir. "Dia bilang, 'Retno, tolong. Aku sudah tidak kuat.'"
Rini menutup mulutnya dengan tangan.
"Hendra datang malam itu dengan satu ampul dan satu jarum. Dia bilang itu morfin dosis tinggi, cuma untuk meredakan nyeri. Dia sendiri yang menyiapkan suntikannya, lalu menyerahkannya padaku dan bilang, 'Kamu yang suntik, Retno. Dia akan lebih tenang kalau istrinya yang melakukan.'"
"Dan Ibu menyuntiknya," bisik Sinta.
"Aku menyuntiknya. Lima menit kemudian dia tidur. Sepuluh menit kemudian dia berhenti bernapas."
Hening yang mengikuti kalimat itu terasa seperti ruangan yang kehabisan udara. Melia memeluk perutnya sendiri. Rini terisak pelan, hampir tanpa suara.
"Ibu tahu itu bukan morfin?" tanya Tari hati-hati.
"Aku curiga. Tapi aku mau percaya. Aku mau percaya bahwa aku membantu suamiku pergi tanpa sakit, bukan membunuhnya." Suara Bu Retno nyaris tak terdengar. "Hendra bilang aku tidak bersalah. Dia bilang semua orang akan memahami. Tapi dua minggu setelah pemakaman, dia datang lagi dan bilang ada dokumen visum yang bisa membuatku dipenjara kalau tersebar."
"Visum?"
"Bukan visum asli. Dia membuatnya sendiri, dengan stempel rumah sakit dan tanda tangan dokter jaga. Isinya menyatakan Haryo meninggal karena dosis berlebih dari obat yang dibawa istrinya." Bu Retno mengangkat wajah, dan matanya merah tanpa air. "Aku tahu itu palsu. Tapi aku juga tahu, kalau dokumen itu keluar, tak seorang pun akan percaya aku."
"Jadi Ibu membayar," kata Sinta.
"Aku membayar dengan segalanya. Tanah di utara kota, dua ruko di pasar, saham pabrik tegel. Tiap tahun dia minta lebih. Dan semakin lama aku sadar, dia tidak sedang memeras. Dia sedang membeli keluargaku sedikit demi sedikit."
"Dan Ibu melampiaskannya pada saya."
Kalimat itu keluar tanpa nada menuduh, hanya pernyataan. Bu Retno memejamkan mata sesaat.
"Aku melampiaskannya pada semua orang. Tapi kamu yang paling dekat." Ia membuka mata. "Aku bukan minta dimaafkan. Aku cuma bilang sebabnya."
Sinta menatapnya. Ia tahu seharusnya ia marah, dan memang ada sesuatu yang membara di dalam dadanya. Tapi bara itu tidak lagi diarahkan ke perempuan tua di hadapannya. Terlalu banyak yang kini ia lihat dengan jelas: tujuh tahun hinaan, tamparan, dan sindiran itu tidak lahir dari kebencian murni. Ia lahir dari ketakutan yang dibiarkan membusuk jadi kekejaman.
Tapi pengertian bukan pengampunan. Dan Sinta tidak berniat mencampur keduanya.
"Ibu tahu kamar Pak Hendra yang menyimpan semua dokumen itu?" tanyanya.
"Tidak. Selama ini aku cuma tahu dia menyimpannya di suatu tempat yang 'aman'."
"Mel?"
Melia mengusap hidungnya. "Aku tahu satu tempat. Waktu kecil, Papa pernah mengajakku ke sana sekali, bilang itu 'kantor rahasia'. Bangunan tua di belakang pabrik es lama, dekat pelabuhan kecil. Ada ruang bawah tanah. Kuncinya dipegang Papa dan Pak Wiryo saja."
"Pabrik es lama," Tari mengulang. "Yang sudah bangkrut sepuluh tahun lalu?"
"Ya. Tapi gudangnya masih dipakai Papa. Katanya buat simpan obat-obatan lama."
Sinta berdiri, mondar-mandir di ruangan berdebu itu sambil memijat pelipisnya. Otaknya bekerja dingin, menyusun urutan. Dokumen kematian Haryo. Surat pernyataannya sendiri. Hasil lab Damar. Surat terakhir ayahnya yang terpotong. Semua tersimpan di satu tempat. Satu lemari besi, satu ruang bawah tanah, satu lelaki berwajah dokter yang telah menyusun hidup puluhan orang seperti papan catur.
"Kita harus ke sana malam ini," katanya.
"Gila," bisik Rini. "Pak Wiryo pasti menjaga tempat itu."
"Pak Wiryo sekarang sedang mendobrak gerbang rumah kalian." Sinta berhenti dan menatap mereka semua. "Pak Hendra baru saja menelepon Bu Retno. Berarti dia di depan rumah, bukan di pabrik es. Itu satu-satunya jendela waktu yang kita punya."
"Dan kalau ada penjaga lain?" tanya Tari.
"Mungkin ada. Tapi lebih sedikit dari biasanya." Sinta menoleh pada Bu Retno. "Ibu masih punya kunci cadangan, nomor kontak, atau orang yang bisa membantu masuk ke area pelabuhan?"
Bu Retno terdiam, lalu membuka tasnya dan mengeluarkan buku kecil bersampul kulit lusuh. Jemarinya membalik halaman-halaman penuh tulisan tangan kecil dan rapi.
"Mandor pelabuhan, Pak Tohir. Dulu bekerja untuk suamiku. Kalau aku yang minta, dia mau membukakan pagar belakang tanpa bertanya."
"Bisa dipercaya?"
"Dia satu-satunya orang yang menangis di pemakaman suamiku tanpa disuruh."
Sinta menarik napas. "Telepon dia."
Bu Retno menekan nomor dengan jari yang tak lagi gemetar. Percakapannya singkat dan nyaris tanpa kata. Ia hanya berkata, "Tohir, ini Retno. Aku butuh bantuanmu malam ini. Tanpa pertanyaan," lalu mendengarkan, mengangguk dua kali, dan menutup telepon.
"Jam sepuluh. Pagar belakang. Dia akan siap."
"Terima kasih."
"Jangan berterima kasih." Bu Retno menutup bukunya. "Kalau malam ini kita gagal, kita semua mati. Jangan berterima kasih pada orang yang menyeretmu ke lubang kubur."
---
Sore beranjak jadi malam. Mereka berbagi satu bungkus nasi dan teh hangat dari termos tua milik paman Tari. Melia tertidur sebentar di kursi, kepalanya bersandar di bahu Rini yang diam-diam menggenggam tangannya. Dua perempuan yang selama ini saling bersaing di bawah atap yang sama kini berbagi ketakutan yang sama.
Sinta duduk di tangga teras, memandangi langit yang berubah ungu. Tari menyusul dan duduk di sampingnya, menyodorkan sepotong roti.
"Kamu tidak makan dari tadi."
"Aku tidak lapar."
"Sin." Tari menatapnya. "Kalau ternyata benar Pak Hendra yang membunuh bapakmu..."
"Memang benar."
"...kamu mau apa?"
Sinta menatap kebun ilalang di depan mereka. Jangkrik mulai bernyanyi, dan di kejauhan terdengar lolongan anjing. Lama ia tak menjawab.
"Aku tidak mau membunuhnya," katanya akhirnya. "Itu terlalu mudah. Aku mau semua orang tahu siapa dia. Aku mau namanya dihapus dari setiap plakat rumah sakit, setiap daftar dokter, setiap undangan pernikahan. Aku mau dia kehilangan segalanya, pelan-pelan, dengan mata terbuka."
"Itu balas dendam."
"Itu keadilan yang tidak diberikan siapa pun padaku."
Tari tidak membantah. Ia hanya mengangguk, lalu menyandarkan kepala sejenak di bahu sahabatnya.
"Aku di sini, Sin."
"Aku tahu."
Dari dalam rumah terdengar bunyi langkah. Bu Retno muncul di ambang pintu, sosoknya berbayang oleh lampu redup di belakangnya. Ia berdiri lama tanpa bicara, lalu berkata dengan suara yang jauh lebih pelan dari biasanya.
"Sinta. Satu hal sebelum kita berangkat."
"Ya, Bu?"
"Soal Damar." Ia berhenti, mencari kata. "Aku sudah menelepon tokonya empat kali. Tidak ada yang mengangkat."
Sinta berdiri perlahan. "Mungkin dia sibuk."
"Dia tidak pernah membiarkan telepon berdering sampai empat kali, apalagi dariku." Bu Retno menatapnya, dan di wajah itu untuk pertama kalinya Sinta melihat sesuatu yang tak pernah ia kira akan muncul: kecemasan seorang ibu, bukan seorang penguasa. "Aku punya firasat buruk."
Belum sempat Sinta menjawab, ponsel kecil di sakunya bergetar. Nomor tidak dikenal. Ia mengangkatnya sambil menyalakan pengeras suara. Suara yang menyambut serak, tergesa, dan penuh napas yang terputus-putus.
"Mbak Sinta! Ini Reza! Aku di depan toko Damar sekarang, tapi tokonya terbuka dan kosong!"
"Kosong bagaimana?"
"Kasirnya dibekap dan diikat di gudang, Mbak! Dia bilang tadi sore ada tiga orang datang, salah satunya Pak Wiryo. Mereka bawa Damar pergi lewat pintu belakang." Suara Reza pecah. "Dan sebelum pergi, Pak Wiryo meninggalkan satu pesan untuk Mbak."
"Pesan apa?"
Reza menarik napas panjang yang terdengar seperti isakan tertahan.
"Dia bilang: 'Kalau mau suamimu pulang hidup-hidup, datang sendirian ke pabrik es lama sebelum jam sepuluh malam. Bawa semua yang kamu punya, dan jangan bawa siapa-siapa.'"