Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 Pelangi setelah hujan
Langit di luar jendela penthouse masih mendung, tapi cahaya sore sudah masuk malu-malu. Kaca jendela masih basah, airnya turun pelan-pelan meninggalkan jejak dikaca besar itu.
Di dalam kamar, listrik sudah nyala lagi setelah tadi pagi sempat mati karena petir, sekarang AC sudah kembali dingin.
Karna pelukan pagi itu Safa dan Arga kembali terlelap bangun sebentar makan siang kemudian kembali tidur dan kembali berpelukan.Kali ini pasutri itu sudah tidak canggung lagi.
Jam setengah empat sore, Safa bangun duluan. Matanya mengerjap pelan kepalanya masih di lengan Arga. Dia bisa mendengar detak jantung Arga yang pelan.
Safa tersenyum. Keningnya masih terasa hangat bekas dicium tadi pagi. Pelan-pelan dia melepaskan diri, turun dari ranjang, merapikan piyama beruangnya yang sudah kusut.
"Aku mandi dulu ah, udah sore banget," gumamnya.
Dia masuk kamar mandi ,pilintu ditutup dengan. Pelan tak lama suara shower terdengar.
Arga masih tidur pulas,entah karna kelelahan atau karna rasa nyaman yang ia rasakan saat berada dipelukan Safa.
Lima belas menit kemudian, suara air berhenti. Pintu kamar mandi terbuka sedikit. Uap hangat keluar.
Safa mengintip. Arga masih tidur dengan bantal menutupi setengah wajahnya.
Dia keluar dengan langkah pelan. Rambutnya masih basah, dililit handuk kecil di kepala. Dia melilit handuk panjang di tubuhnya, handuknya cukup panjang sampai bawah lutut. Di tangannya ada baju kotornya. Daster bersihnya ketinggalan di sofa dekat jendela, tadi buru-buru jadi lupa dibawa.
"Dasterku mana ya..." bisiknya sambil jinjit ke arah sofa.
Dia sampai di sofa membungkuk mengambil daster bunga-bunga itu. Air dari rambutnya menetes ke lantai.
Di saat yang sama, dari ranjang terdengar suara pelan.
"Hmm..."
Arga terbangun. Dia mengucek mata, menoleh ke arah jendela.
Dan di sana, Safa sedang berdiri membungkuk mengambil baju, masih dengan lilitan handuk, rambutnya yang basah masih menetes.
Tatapan mata mereka bertemu.
Safa membeku. Daster setengah terangkat di tangannya.
Arga terkejut rasa ngantuknya hilang seketika. Dadanya langsung berdegup kencang, lebih kencang dari biasanya. Ada rasa hangat yang menjalar tiba-tiba di aliran darahnya, rasa aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Sebagai laki-laki normal yang sudah menikah, melihat istrinya sendiri dalam keadaan seperti itu, wajar kalau tubuhnya bereaksi. Jantungnya berdegup kencang, napasnya jadi teras pendek.
Tapi Arga langsung sadar. Ini Safa, istrinya yang polos, yang harus dia jaga perasaannya.
Dengan refleks cepat, Arga membalikkan badan dan menarik bantal besar untuk menutup wajahnya rapat-rapat. Jakunnya naik turun pelan karena dia sedang berusaha mengatur napasnya yang memburu, menahan degup jantungnya sendiri.
"Safa apa kamu baru selesai mandi? Maaf aku tidak sengaja ,aku baru bangun dan tidak tau jika kamu masih,"kata Arga dari balik bantal. Suaranya agak serak dan agak bergetar karena gugup, berusaha terdengar biasa saja padahal di dalam dadanya jantungnya berdegup tak karuan.
Safa yang tadinya kaget langsung panik. Dia menarik handuknya lebih rapat dan memeluk daster di depan dadanya.
"Maaf Mas! Aku lupa bawa baju ganti! Mas jangan lihat dulu ya!" katanya dengan wajah merah padam.
Dia langsung lari kecil kembali ke kamar mandi,menutup pintunya rapat-rapat.
Di dalam kamar mandi, Safa bersandar di pintu, memegang dadanya. "Ya Allah malu banget..." bisiknya, pipinya terasa panas.
Di luar, Arga masih menutup wajahnya dengan bantal. Dia menghela napas panjang, pelan-pelan mencoba menenangkan dirinya sendiri. Tubuhnya masih terasa tegang, ada desiran hangat yang masih terasa menjalar, tapi dia tahan. Dia tidak mau membuat Safa takut atau malu. Dia suami, dia harus bisa lebih menjaga.
"Tenang, Ga... tenang..." gumamnya pelan di balik bantal, sambil memejamkan mata, mengatur napasnya kembali normal.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka lagi. Safa keluar sudah dengan daster bunga-bunga yang rapi, panjang, sopan dan wangi. Rambutnya masih basah dililit handuk kecil. Wajahnya masih merah.
Arga perlahan menurunkan bantal dari wajahnya. Dia sudah duduk di tepi ranjang,wajahnya sudah lebih tenang meski masih ada sisa merah di telinganya.
Mereka saling tatap namun kembali merasa Canggung.
"Maaf ya Mas, tadi aku bikin Mas kaget..." Safa menunduk memainkan ujung dasternya.
Arga menggeleng cepat. "Nggak apa-apa. Saya yang salah bangunnya tiba-tiba. Kamu nggak salah sama sekali. Sini duduk, rambut kamu masih basah, nanti kamu masuk angin lagi."
Safa duduk di tepi ranjang. Arga mengambil handuk kering bersih dari lemari. Dia berdiri di belakang Safa, dengan gerakan yang sangat hati-hati dan penuh penjagaan, membantu mengeringkan ujung rambut Safa yang masih basah. Gerakannya pelan, lembut, seolah menyalurkan semua rasa sayang yang tadi sempat membuat jantungnya berdegup kencang itu menjadi perhatian yang halus.
"Mas kok bisa luwes banget ngeringin rambut perempuan?" tanya Safa pelan.
"Dulu sering bantu Nenek kalau habis keramas," jawab Arga pelan, suaranya sudah kembali tenang dan lembut.
Cahaya sore masuk lewat jendela, keemasan, mengenai mereka berdua. Suasana canggung tadi pelan-pelan berubah jadi hangat.
Setelah agak kering, Arga duduk di sebelah Safa. Di atas nakas ada kotak beludru merah kecil berisi gelang bayi pemberian Nenek.
"Mas..." Safa berbisik.
"Ya?"
"Tadi pagi ritual cium kening kalau takut petir itu masih berlaku nggak? Aku masih deg-degan..."
Arga menatap Safa, tersenyum tulus.
"Masih. Sepuasnya jika kamu butuh."
Lalu Arga menunduk dan mengecup kening Safa lagi. Lama, hangat, penuh kelembutan. Semua desiran dan degup kencang yang tadi dia rasakan, dia salurkan menjadi kecupan yang lembut di kening istrinya.
Safa memejamkan mata, tersenyum bahagia. Rasa malunya hilang, berganti rasa aman.
Di luar pelangi muncul setelah hujan, di dalam hati mereka juga muncul pelangi yang sama.
Bersambung