Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Arthur Bond, Rexana Nycekerh hidup bagai pajangan mahal di dalam sangkar emas. Demi menyelamatkan perusahan ayahnya yang terancam runtuh, Rex terpaksa menelan bulat-bulat dinginnya penghinaan dan tuduhan atas rahasia masa lalu yang enggan ia bocorkan. Namun, ketika kembali ke New York, takdir memainkan lelucon paling kejam.
Lexana, kakaknya sendiri, secara terang-terangan memamerkan kekasih barunya—Diedrick Glodereus Ashford.
Pria itu adalah pemilik masa lalu Rex, cinta pertamanya yang kini hadir kembali membawa dendam dan kepahitan.
Di tengah kepungan tuntutan keluarga yang tak berhati dan intrik kekuasaan, Rex harus berdiri sendirian di antara dua pria yang membencinya.
Akankah rahasia di balik perpisahan masa lalu mereka terkuak, atau justru Rex akan benar-benar hancur dalam permainan pembalasan dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Lampu-lampu sorot jalanan Manhattan membias samar di atas kap mesin mobil sedan hitam yang berhenti tepat di pelataran parkir gedung penthouse megah milik Diedrick Glodereus Ashford.
Malam itu, udara New York menusuk hingga ke tulang, namun hawa dingin di luar sama sekali tidak sebanding dengan rasa beku yang menggerogoti dada Rexana.
Di dalam kabin mobil yang remang, Arthur Bond menyunggingkan senyum kemenangan.
Di sampingnya, sang asisten pribadi yang bergaun ketat ikut terkekeh pelan sembari menyalakan rokok tipisnya, menikmati sandiwara tak berhati yang sedang dipentaskan oleh bosnya.
"Gunakan pakaian dalam itu dengan baik, Rex," bisik Arthur santai, menepuk pelan bahu istrinya dengan tatapan meremehkan.
"Kuberitahu satu rahasia... pria seperti Ashford menyukai wanita yang sedikit agresif namun berpura-pura malu. Siapa tahu selama empat tahun hidup di Swiss kau melupakan bagaimana caranya memuaskan seorang pria. Jangan sampai kau mempermalukan namaku di atas ranjangnya."
Sang asisten pribadi tertawa kecil di kursi samping, mengepulkan asap rokok ke udara.
"Semoga beruntung, Nyonya Bond. Buat dia menandatangani kontraknya sebelum pagi."
Rex tidak membalas sepatah kata pun.
Pandangannya lurus menatap kemegahan gedung di hadapannya, memasang raut wajah yang luar biasa patuh—topeng sempurna dari seorang boneka yang tak lagi memiliki suara untuk menolak ketidakadilan.
Dengan jemari yang gemetar kaku di dalam cengkeraman tas belanjaannya, Rex membuka pintu mobil dan melangkah turun.
Suara derum mesin sedan hitam itu terdengar melaju kencang meninggalkan pelataran gedung.
Rex berdiri terpaku di trotoar.
Begitu lampu belakang mobil Arthur benar-benar menghilang di balik belokan jalan, topeng kepatuhan Rex runtuh seketika.
Tubuhnya bergetar hebat, bukan karena dingin, melainkan karena amarah yang meledak liar di ulu hatinya.
Dia memutar tumitnya, membelakangi pintu masuk gedung penthouse Diedrick, lalu melemparkan kantong belanjaan berisi lingerie sutra mahal itu ke dalam tong sampah besi di tepi jalan.
"Brengsek! Sialan! Nenek moyang iblis!" umpat Rex histeris, suaranya parau dan pecah ditelan angin malam New York.
"Terkutuk kau di neraka paling dalam, Arthur Bond! Pria keparat tak berotak!"
Dada Rex naik-turun menahan sesak yang membakar.
Dia tidak bersuara lagi, hanya mampu memukul dadanya sendiri yang terasa menyengat.
Bagaimana bisa ada pria sejijik itu di dunia ini? Seorang suami yang secara terang-terangan menyodorkan istrinya ke kamar pria lain demi selembar kertas kontrak bisnis?
Dengan napas yang masih memburu, Rex mengacungkan tangannya di tepi jalan, menahan sebuah taksi kuning yang melintas.
Dia tidak pernah berniat melangkah naik ke penthouse Diedrick.
Sama sekali tidak.
Empat tahun lalu, Rex rela mengorbankan kehormatan dan cintanya, merancang kebohongan kejam agar Diedrick membencinya dan menjauh darinya, semata-mata agar pria itu tidak dimanfaatkan dan dihancurkan oleh keserakahan keluarga Nycekerh.
Dan kini, suaminya justru ingin menyerahkannya kembali sebagai tumbal? Pria sialan!
"Bawa aku ke bar termewah di pusat kota," perintah Rex kaku saat melompat masuk ke dalam taksi.
...***...
Suara denting dentuman bass dari lagu Gasoline milik The Weeknd menghentak dinding-dinding kaca sebuah club dan bar elit di kawasan Meatpacking District.
Cahaya lampu neon berwarna ungu dan merah kebiruan membias redup, membungkus gelas-gelas kristal dan riak minuman keras di atas meja marmer.
Rex duduk sendirian di sudut meja bar, di bawah pendar lampu temaram.
Potongan rambut pendek barunya dan gaun sutra hitam tanpa lengan membuat beberapa pria berjas mahal berkali-kali mencoba mendekatinya, mengumbar pesona dan tawaran minuman gratis.
"Pergi atau kusuapi kalian dengan pecahan gelas ini, brengsek!" desis Rex tajam setiap kali ada pria asing yang berani menyeletuk di sampingnya.
Pria-pria itu mundur teratur sambil mengumpat, sementara Rex kembali meneguk segelas wiski murni tanpa campuran batu es.
Tenggorokannya terasa terbakar, namun rasa panas itu justru memberinya sedikit penawar atas penderitaannya.
Rex berencana minum hingga teler dan mabuk parah. Dia tidak peduli lagi alasan sampah apa yang harus dia karang esok pagi untuk menjawab pertanyaan Arthur soal "kegagalan" tugasnya di penthouse Diedrick.
Biar saja.
Biar dunia ini hancur sekalian.
Namun, tanpa sedikit pun diketahui oleh Rex, di lantai dua bar yang sama—di dalam area VIP yang lebih privat—sebuah neraka lain sedang berlangsung.
Lexana Nycekerh berdiri di samping meja sofa kulit, tersenyum lebar sembari memperhatikan Diedrick Ashford yang sedang duduk bersandar dengan dahi berkerut kencang.
Diedrick yang malam itu sedang frustasi akibat bayangan cemburu pada Rex, terus menerus meminum wiskinya tanpa curiga.
Lexana baru saja secara diam-diam memasukkan dosis tinggi obat perangsang ke dalam gelas Diedrick.
Dia berniat menjebak pria Ashford itu malam ini, melahirkan skandal ranjang agar Diedrick terikat sepenuhnya dan terpaksa menikahinya.
Namun, Lexana terlampau bodoh untuk menilai seorang Diedrick Ashford.
Hanya dalam kurun waktu sepuluh menit, efek obat itu mulai membakar darah Diedrick.
Bukannya melunak atau menyerahkan diri pada pesona Lexana, kesadaran Diedrick yang terancam justru memicu insting kegilaan dan dominasinya.
Pria itu menyadari ada yang salah dengan tubuhnya.
"Kau... memasukkan sesuatu ke minumanku, hah?!" bentak Diedrick dengan suara serak yang mengerikan, matanya memerah padam dipenuhi kilatan membunuh.
Sebelum Lexana sempat menjawab atau melangkah mundur, tangan tegap Diedrick melayang cepat, mencengkeram erat leher Lexana!
"Argh! Di... Diedrick—" Lexana tercekik histeris, matanya membelalak ketakutan saat tubuhnya diangkat dan dihantamkan ke dinding sofa.
"Beraninya kau melakukan hal murahan ini padaku, wanita jalang!" geram Diedrick dengan gigi berkertak.
Dengan kemarahan murni yang tak terkendali akibat pengaruh obat dan harga dirinya yang terancam, Diedrick meraih sebuah botol kaca wiski yang sudah kosong di atas meja.
Tanpa rasa ragu sedikit pun, Diedrick menghantamkan botol tebal itu tepat ke bagian samping kepala Lexana!
PRANG!
Kaca tebal itu pecah berkeping-keping.
Lexana menjerit pendek sebelum akhirnya tubuhnya merosot ambruk ke atas karpet, pingsan tak sadarkan diri dengan luka memar dan darah yang menyerap di gaun mewahnya.
"Jijik..." desis Diedrick terengah-engah, mengusap lehernya sendiri yang terasa membakar.
Seluruh saraf di tubuhnya berteriak menuntut pelepasan, keringat dingin membasahi kemeja hitamnya.
Menyadari dirinya tidak akan kuat mengemudikan mobil dalam kondisi terkontaminasi obat racun tersebut, Diedrick melangkah tatih menuruni tangga darurat bar, lalu mengintruksikan valet untuk menghentikan taksi apa pun di depan lorong belakang bar.
Di luar bar, gerimis tipis mulai mengguyur jalanan New York.
Rex yang sudah dalam kondisi setengah mabuk, berjalan sempoyongan keluar melalui pintu samping bar.
Pandangannya agak kabur oleh pengaruh alkohol.
Saat melihat sebuah taksi kuning berhenti di tepi jalan dengan pintu yang sedikit terbuka, Rex mengira itu adalah taksi yang baru saja dia pesan melalui aplikasi ponselnya.
Tanpa membuang waktu, Rex langsung membuka pintu belakang dan melompat masuk ke dalam taksi.
"Jalan cepat, Pak... aku mau muntah melihat kota ini," celoteh Rex asal-asalan, menyandarkan kepalanya pada kaca jendela.
Namun, taksi itu tidak bergerak.
Sebuah helaan napas berat dan erangan parau terdengar dari sosok pria yang sudah lebih dulu duduk di sudut kursi penumpang sebelah kanan.
Rex menoleh kaget.
Dan di saat yang bersamaan, pria di sampingnya juga berpaling.
Mata mereka bertabrakan dalam jarak yang teramat dekat.
Diedrick Ashford membelalakkan matanya luar biasa.
Di bawah pendar remang lampu dalam taksi, untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir—dan pertama kalinya dalam hidupnya—Diedrick melihat sang pujaan hati berpenampilan begitu seksi dan terbuka.
Gaun sutra hitam tanpa lengan yang melekat ketat memamerkan lekuk tubuh mulusnya, leher jenjang yang terbuka akibat potongan rambut pendek, serta aroma alkohol dan wangi mawar yang menguar dari kulit porselen wanita itu.
Efek obat perangsang di dalam darah Diedrick yang sedang membakar dada dan bawah perutnya mendadak meledak dua kali lipat melihat pemandangan di depan matanya.
"Kau?!" pekik Rex kaget, rasa mabuknya mendadak hilang separuh.
"Diedrick?! Kenapa kau ada di dalam taksiku, sialan?!"
"Taksimu?!" geram Diedrick dengan suara yang sangat parau, napasnya memburu panas tepat di depan wajah Rex.
Jemari tangannya mencengkeram tepi kursi kencang-kencang, berusaha keras menahan diri agar tidak menerkam wanita itu detik itu juga. "Ini taksi yang kupesan, Bellerina! Kenapa kau selalu muncul dan mengacaukan hidupku?!"
"Aku tidak mengacau! Kau yang merusak pemandanganku!" banting Rex, berniat memutar tubuh untuk membuka pintu taksi dan keluar.
"Minggir! Aku mau keluar!"
Namun sebelum Rex sempat menyentuh gagang pintu, lengan tegap Diedrick menyambar pinggangnya secara kasar, menarik tubuh ramping Rex hingga tersungkur tepat di atas pangkuannya!
"Lepaskan aku, Diedrick! Kau gila?!" jerit Rex bertarung, memukul dada bidang Diedrick yang terasa sekeras batu.
"Ya! Aku gila! Dan kau yang membuatku gila selama empat tahun ini, Bellerina!" gertak Diedrick, menundukkan kepalanya hingga dahinya menempel pada dahi Rex.
Matanya yang merah memancarkan adonan antara emosi vulgar, keputusasaan, dan kerinduan yang amat sangat.
"Kenapa kau berpakaian seperti ini, hah?! Untuk siapa gaun murah ini?! Untuk suamimu yang brengsek itu?!"
"Bukan urusanmu, bajingan!" teriak Rex, air mata yang bercampur alkohol akhirnya lolos membasahi pipinya.
"Kau tidak berhak mengatur hidupku lagi! Kau bukan siapa-siapaku!"
"Kau milikku!" bentak Diedrick liar, memangkas jarak dan mencium leher Rex secara brutal, membuat wanita itu mendesah tertahan dalam kepasrahan yang membingungkan.
"Darahku terbakar, Bellerina... kau tahu apa yang dilakukan kakakmu padaku malam ini?! Dan sekarang kau duduk di pangkuanku dengan penampilan seperti jalang yang siap disantap?!"
"Maka santap saja aku kalau kau berani!" tantang Rex histeris, menangis sekaligus tertawa pahit di bawah ciuman ganas Diedrick.
"Lakukan seperti yang dilakukan pria itu padaku! Jadikan aku barang mainanmu, Diedrick! Bukankah itu yang kau inginkan selama ini?!"
Diedrick terhenti seketika, dadanya naik turun dengan napas yang memburu.
Tatapannya yang liar menatap air mata yang mengalir di pipi Rex. Rasa haru, rindu, dan penyesalan mendadak menghantam dadanya, bertarung hebat dengan efek obat yang berusaha menguasai akal sehatnya.
"Kenapa kau selalu menangis saat kucium, Rex..." bisik Diedrick lirih, jemarinya yang gemetar kini usap lembut air mata di pipi wanita itu dengan kehangatan yang amat dikenal oleh Rex dari masa lalu mereka.
"Kenapa kau harus menikah dengannya... kenapa kau harus menghancurkan kita..."
Rex tertegun, bibirnya bergetar hebat menahan tangis yang kian pecah.
Di dalam taksi yang gelap dan melaju menembus hujan malam New York, dua jiwa yang hancur itu saling mengunci dalam dekapan yang dipenuhi dendam, cinta, dan obat beracun yang siap meledak kapan saja.
Sementara di sisi lain kota, di dalam sebuah ruangan tersembunyi, sebuah panggilan telepon mendadak berdering di genggaman Arthur Bond, membawa kabar yang akan mengubah seluruh permainan malam itu.
love sekebon
happy graduation eh happy birthday mksdnya