NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari pertama sekolah

Malam sebelum hari pertama sekolah, Haruna sama sekali tak bisa memejamkan mata dengan tenang. Ia berbaring di atas tikar tipis beralaskan kain bekas yang sudah dijahit rapi oleh Nek Lasmi. Namun matanya terus mencuri pandang ke arah dinding bambu tempat seragam putih-merah pemberian Kirana tergantung rapi di sebuah paku karatan. Cahaya bulan yang menyusup dari celah atap yang bolong membuat seragam itu tampak berkilau samar, seolah menyimpan keajaiban di dalamnya.

"Besok Haruna sekolah," gumamnya berulang-ulang pelan, senyum tak lepas dari bibirnya meski matanya sudah mulai berat menahan kantuk. Ia membayangkan bagaimana rasanya duduk di bangku kelas, memegang buku baru, dan yang paling membuatnya bahagia... bisa menghabiskan hari bersama Kirana setiap saat, bukan hanya sore hari seperti biasanya.

Sesekali ia bangkit dari tidurnya hanya untuk menyentuh lengan seragam itu, merasakan tekstur kainnya, lalu kembali berbaring dengan hati berdebar. Rasa antusias itu ternyata terlalu besar untuk ditahan.

Tepat pukul tiga dini hari, ketika langit masih gelap gulita dan suara jangkrik masih bersahutan riuh di luar gubuk. Haruna terbangun dengan mata yang langsung terbuka lebar, seolah tak pernah mengantuk sama sekali. Tanpa pikir panjang, ia langsung merangkak mendekati Nek Lasmi yang masih terlelap, mengguncang pelan bahu neneknya.

"Nek, Nek, bangun, Nek. Ayo kita berangkat sekolah," bisiknya, suaranya penuh semangat meski masih terdengar serak karena baru bangun tidur.

Nek Lasmi mengerjapkan mata, sedikit bingung, meraba-raba dalam gelap sebelum akhirnya tersadar dan tertawa kecil melihat wajah cucunya yang begitu bersemangat di tengah kegelapan malam. "Haruna sayang, ini masih jam tiga pagi, Nak. Belum waktunya berangkat sekolah."

Haruna mengerjap heran, menoleh ke luar jendela yang masih pekat tanpa secercah cahaya matahari. "Loh? Kok masih gelap, Nek? Haruna kira udah pagi. Habisnya Haruna nggak bisa tidur, kepikiran terus soal sekolah."

"Belum, Nak," Nek Lasmi mengusap kepala cucunya dengan sayang, menahan tawa yang hampir pecah. "Sekolahnya masih lama, sekitar jam tujuh nanti. Kalau sekarang berangkat, gurunya juga belum bangun, sekolahnya masih tutup."

"Tapi Haruna udah nggak ngantuk, Nek," rengek Haruna pelan, meski matanya sesekali berkedip berat menahan kantuk yang sebenarnya masih ada.

"Ayo tidur lagi, biar besok Haruna nggak ngantuk pas di kelas. Nanti kalau ngantuk di kelas, susah dengerin Bu Guru, lho," bujuk Nek Lasmi lembut, menepuk-nepuk pelan punggung cucunya.

Dengan berat hati, Haruna mengangguk, kembali berbaring di sebelah neneknya. Namun matanya masih saja mencuri pandang ke arah seragam yang tergantung di dinding. Senyum kecil yang tak juga hilang dari wajahnya hingga akhirnya kantuk benar-benar mengalahkannya, membawanya kembali ke alam mimpi yang dipenuhi bayangan tentang bangku sekolah dan wajah ceria Kirana.

Ketika matahari akhirnya benar-benar terbit, menyapu cahaya keemasan lewat celah-celah dinding bambu, Haruna terbangun dengan penuh semangat, tak perlu dibangunkan dua kali. Ia segera berlari kecil menuju kamar mandi sederhana di belakang gubuk, membersihkan diri secepat yang ia bisa meski air dingin membuatnya sedikit menggigil. Lalu dengan bangga mengenakan seragam barunya sendiri tanpa bantuan siapa pun, meski harus berjuang lebih lama menyeimbangkan tubuhnya saat memasukkan kaki ke celana panjang, sesekali harus berpegangan pada dinding agar tidak terjatuh.

"Nek! Lihat, Haruna udah pakai seragam sendiri!" serunya bangga, berputar-putar kecil di depan Nek Lasmi yang sedang menyiapkan sarapan di atas tungku kayu.

Nek Lasmi menoleh dari kesibukannya, matanya langsung berkaca-kaca melihat cucunya berdiri dengan seragam rapi dan sepatu baru berwarna hitam mengilap. Sepatu yang ia beli susah payah dari hasil tabungan berjualan peyek selama berminggu-minggu, menyisihkan sedikit demi sedikit dari setiap keuntungan yang seharusnya bisa dipakai untuk kebutuhan lain. "Cantik sekali cucu Nenek," pujinya, suaranya bergetar menahan haru yang meluap.

"Sepatunya juga bagus, Nek! Makasih, ya!" Haruna memutar tubuhnya perlahan, memperlihatkan sepatu barunya dengan bangga, matanya berbinar penuh kebahagiaan.

"Sama-sama, Nak. Ayo sarapan dulu, biar nanti nggak lemas di sekolah," ajak Nek Lasmi, menyeka sudut matanya dengan ujung selendang sebelum air mata itu benar-benar jatuh. Lalu menyodorkan sepiring nasi hangat dengan telur dadar sederhana, menu istimewa yang sengaja ia buat untuk merayakan hari bersejarah ini.

Haruna makan dengan lahap, meski sesekali matanya melirik jam dinding tua yang tergantung miring, tak sabar menunggu waktu berangkat tiba.

Belum lama ia menghabiskan sarapannya, terdengar suara klakson mobil dari luar, disusul suara Kirana yang berteriak riang memanggil namanya.

"Haruna! Ayo, udah siap belum?"

Haruna segera menyambar tas princess kesayangannya yang tergantung di dekat pintu. Berpamitan cepat kepada Nek Lasmi dengan mencium tangan keriput itu sebelum berlari tertatih menuju pintu. Di luar, sebuah mobil sederhana sudah menunggu, dengan Kirana yang melambai riang dari jendela, didampingi ayahnya yang duduk di kursi kemudi sambil tersenyum ramah.

"Ayo naik, Haruna! Biar Ayah yang antar kita," ajak Kirana, membukakan pintu mobil untuk sahabatnya dengan penuh semangat.

"Pagi, Om," sapa Haruna sopan begitu duduk di jok belakang bersama Kirana.

"Pagi, Haruna. Wah, seragamnya rapi sekali," puji ayah Kirana lewat kaca spion, membuat wajah Haruna semakin berbinar bangga.

Sepanjang perjalanan, kedua anak itu tak berhenti mengobrol riang, membayangkan hari pertama sekolah yang akan mereka jalani bersama. Dari bagaimana rasanya bertemu teman-teman baru, sampai penasaran seperti apa rasanya belajar di kelas sungguhan.

Sesampainya di sekolah, Kirana dengan sigap menggandeng tangan Haruna, menuntunnya menuju kelas satu yang letaknya tak jauh dari kelasnya sendiri, melewati koridor yang mulai dipenuhi anak-anak lain yang juga baru datang.

"Sini, Haruna, duduk di sini aja," ucap Kirana, memilihkan kursi paling depan dekat meja guru untuk sahabatnya. "Biar Haruna gampang lihat papan tulis, terus gampang juga kalau butuh bantuan guru."

"Makasih, Kak," jawab Haruna, tersenyum lebar sambil duduk di kursi yang dipilihkan, merapikan tasnya di samping kursi dengan hati-hati.

"Ya udah, Kakak ke kelas dulu, ya. Nanti istirahat Kakak jemput ke sini," pamit Kirana, mengusap kepala Haruna sebentar sebelum melangkah keluar kelas dengan langkah ringan.

Namun belum sampai lima menit Kirana pergi, sesosok anak laki-laki... yang tak lain adalah anak yang dulu sering mengganggu Haruna di kampung, muncul di depan mejanya. Membawa serta seorang anak perempuan kecil yang tampak seusia dengan Haruna, rupanya ternyata mereka bersekolah di tempat yang sama.

"Woy, pindah! Ini kursi buat adikku," ucap anak laki-laki itu dengan nada memerintah, menunjuk kursi yang sedang diduduki Haruna dengan sikap sok berkuasa.

Haruna menggeleng, mencoba mempertahankan posisinya meski suaranya sedikit gemetar. "Ini kursi Haruna, Kak Kirana yang kasih tadi."

"Emang kenapa? Pokoknya sekarang kursi ini buat adikku!" bentak anak itu lagi, mendorong sedikit bahu Haruna hingga membuatnya terhuyung di kursinya sendiri, hampir membuat tasnya jatuh ke lantai.

"Sakit, Kak," rintih Haruna pelan, memegangi bahunya yang terdorong.

Suara keributan itu ternyata masih terdengar oleh Kirana yang belum sempat jauh melangkah dari depan pintu kelas. Dengan cepat, ia berbalik dan masuk kembali ke dalam kelas, wajahnya langsung berubah tegas begitu melihat apa yang terjadi di hadapannya.

"Woy! Ngapain kamu ganggu Haruna lagi!" tegur Kirana, berjalan cepat menghampiri mereka dengan sikap protektif, berdiri tepat di antara Haruna dan anak laki-laki itu.

Anak laki-laki itu tampak sedikit gentar melihat kehadiran Kirana yang dikenal cukup disegani di sekolah karena keberaniannya membela yang lemah. "Ini kursi buat adikku, Kak. Haruna suruh pindah aja, dia kan bisa duduk di belakang."

"Nggak bisa!" tukas Kirana tegas, tangannya bersedekap di dada. "Ini kursi Haruna dari tadi, kamu nggak boleh seenaknya gitu dorong-dorong dia. Kalau kamu masih ganggu Haruna lagi, awas aja, Kakak laporin ke Bu Guru soal kelakuan kamu yang suka bully anak lain, biar kamu dihukum!"

Ancaman itu sontak membuat wajah anak laki-laki itu pucat. Ia tahu betul reputasi Kirana yang tak segan-segan melapor jika ada yang macam-macam dengannya, apalagi ancaman dihukum di depan orangtua terdengar cukup menakutkan. "I-iya deh, maaf," ucapnya buru-buru, lalu menggandeng tangan adiknya yang tampak bingung, mengajaknya mencari kursi lain di sudut kelas yang masih kosong tanpa berani menoleh lagi.

Setelah kepergian mereka, Kirana kembali menghadap Haruna, memastikan sahabatnya baik-baik saja dengan memeriksa bahunya yang tadi terdorong. "Kamu nggak apa-apa, kan? Sakit, nggak?"

Haruna mengangguk, tersenyum lega meski masih sedikit gemetar. "Nggak apa-apa, Kak. Makasih, ya, udah bantu Haruna lagi."

Kirana tersenyum, mengusap lembut kepala Haruna dengan penuh kasih sayang, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Nggak usah sungkan gitu, dari dulu juga gitu, kan? Kakak kan udah janji bakal selalu lindungin Haruna, di mana pun, kapan pun. Nggak akan Kakak biarin ada yang berani ganggu Haruna lagi."

Mata Haruna berkaca-kaca mendengar ketulusan itu, dadanya dipenuhi rasa syukur yang teramat dalam memiliki sahabat seperti Kirana. Sahabat yang selalu hadir tepat saat ia membutuhkan, tanpa pernah diminta.

"Ya udah, Kakak balik ke kelas dulu, ya! Kalau kelamaan di sini, nanti kursi depan Kakak diambil orang lain," ucap Kirana buru-buru, tertawa kecil sambil melambaikan tangan sebelum berlari kecil keluar kelas, meninggalkan Haruna yang tersenyum hangat memandangi kepergian sahabat terbaiknya itu.

Haruna menghela napas lega. Lalu menatap sekeliling kelas yang mulai dipenuhi anak-anak lain, sebagian melirik penasaran ke arah kakinya. Namun kali ini Haruna tak lagi merasa takut seperti dulu. Ada Kirana yang selalu siap melindunginya, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya merasa aman memulai lembaran baru dalam hidupnya.

1
Muft Smoker
aq cuma bisa kasih semangat buat Haruna ,, kekurangan mu gx bakal jd penghalang kesuksesan mu ,,
Ilfa Yarni
sedih aku bacany hiks klo Haruna kemakam sedih banget
Ilfa Yarni
semangat haruna wujudkan mimpimu jd orang sukses agar nenekmu bahagia diatas sana
Muft Smoker
wooah semangat trus harunaa ,,
mungkin ni langkah yg bkal jlan km bisa lebih mudah ,,
Ilfa Yarni
emang gmn cara km tes drive
Muft Smoker
test Drive ,, test Drive ,, Dy fikir si Haruna sirkuit Mandalika kali yx/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ilfa Yarni
jgn coba comblangin haruna dgn laki2 lain ya vania
Sayekti 0519
bukannya tobat ,malah laknat.seharusnya ada jln untuk sadar.terima dengan niat baik
Ilfa Yarni
awas ya reynan jgn sampe luluh km
Muft Smoker
astgaaaa ,,
jgn nangis kalo d tolak yx neng ,,
aq yg maluuu looo km bgtuuu😹😹😹🫣🫣🫣🫣🫣🫣
Sayekti 0519
ngerawat nenek lah.balas budi.kuliah bisa menyusul.
Muft Smoker
semoga Bagas cepat dpat karma ny ,,
Ilfa Yarni
aku ingin bagas cepat hancur jahat banget jadi manusia
Muft Smoker
tunggu karma menghampiri mu Bagas ,,
Ilfa Yarni
dasar orangtua jahat tunggu lah kehancuranmu suatu saat keboho ganmu terbongkar
Muft Smoker
semangat Haruna ,, jgn biarkan pak Bagas meremehkan mu ,,
buktikan KLO km mampu melewati semua ujian hidup km meski d tengah keterbatasan fisik
Ilfa Yarni
Ya ampun ga nyangka Ada orangtua yg seperti ini aku doakan Haruna cepat jadi konglomerat Dan bagas hancur oleh perbuatannya sendiri
Muft Smoker
yakin laa reynan kalo Haruna bakal bisa melewati semua ini ,, udh banyak pahit kehidupan yg di lalui haruna ,,
meski berat km harus bisa jd support sistem ny Haruna ,,
Ilfa Yarni
tenang aja reynan haruna akan membuktikannya klo dia bisa sukses km cukup doakan saja dan of saat nya tiba bagas akan menyesal perbuatannya
Ilfa Yarni
nah lol feeling ga ya nyonya larasati pd Haruna bahwa Haruna adalah ank kandungnya biasanya antara ibu Dan ank itu Ada ikatan bathin yg kuat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!