Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Matahari tenggelam di balik punggung bukit Kertajaya, meninggalkan langit malam berwarna ungu gelap yang berhias bintang-bintang kecil. Suasana gang kos Bu Ratna yang tadinya riuh oleh suara cangkul dan obrolan warga kini berangsur-angsur tenang, berganti dengan suara jangkrik bersahut-sahutan dan bunyi deru motor sesekali di jalan raya utama.
Di dalam kamar nomor empat, aroma tajam bumbu mi instan rebus yang berpadu dengan irisan cabai rawit langsung menguap memenuhi ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter itu. Kamar tersebut diterangi oleh cahaya kekuningan dari satu bola lampu bohlam gantung yang berayun pelan tertiup angin ventilasi.
Bayu duduk bersila di dekat pintu, memegang mangkuk plastik berisi mi kuah panas sambil meniup-niupnya pelan dengan mata berbinar-binar.
"Wah, setelah seharian nyangkul lumpur got sampai pinggang mau copot, makan mi instan dicampur telur setengah matang ini rasanya setara sama jamuan makan malam di hotel bintang lima."
Dimas duduk di tepi kasur sambil menyeruput kuah mi dari sendok plastiknya dengan tenang.
"Badan pegal semua. Kalau besok pagi otot gue masih kaku, fix gue bakal minta cuti dari segala macam bentuk kerja bakti di desa ini."
Raka duduk di kursi kayu kecil menghadap meja, ikut menikmati mi instannya. Sementara itu, Mira berdiri di sudut ruangan, melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi jijik yang luar biasa, menatap mangkuk-mangkuk mi milik ketiga pemuda itu seolah-olah benda tersebut adalah racun mematikan.
"Bagaimana bisa kalian makan makanan olahan pabrik seperti itu dengan begitu lahapnya?" cibir Mira tajam, melirik mangkuk Raka dengan sebelah alis terangkat.
"Di istanaku, para pelayan menyajikan hidangan lezat berupa buah-buahan gaib, madu bunga pilihan, dan daging panggang istimewa, bukan kuah merah berminyak yang tampak seperti cairan beracun!"
Raka menelan mi di mulutnya, lalu tersenyum tipis menatap sang putri jin.
"Ya mau gimana lagi, Mira. Uang belanja kita tinggal sisa dua ribu perak, dan mi instan kardusan ini adalah puncak kemewahan kuliner yang bisa dibeli oleh buruh harian lepas."
Bayu nyengir lebar, mengarahkan ujung garpunya ke arah Mira.
"Mau coba sesendok, Mir? Dijamin ketagihan. Sekali kuahnya diseruput, masalah hidup langsung hilang selama tiga detik."
"Enggan!" tukas Mira cepat-cepat, membuang muka dengan gaya anggun yang dibuat-buat.
"Aku tidak akan pernah mencemari lidah bangsawan ku dengan makanan murahan kalian!"
Meskipun menolak mentah-mentah, perut Mira tiba-tiba mengeluarkan bunyi kecil yang sangat halus kruyuk...akibat aroma gurih bawang goreng dan telur rebus yang menguar begitu kuat di dalam ruangan tertutup tersebut.
Raka dan Dimas saling melirik sekilas, lalu berusaha menahan tawa mereka rapat-rapat. Bayu, yang tidak punya filter dalam menjaga ucapan, langsung terkekeh geli.
"Eh, ada suara apa tuh? Kayaknya ada burung gereja kelaparan di pojok ruangan."
Pipi Mira langsung bersemu merah karena malu tertangkap basah. Ia melotot tajam ke arah Bayu, menunjuk pemuda itu dengan jari telunjuknya.
"Jangan sembarangan! Itu... itu bukan suara perutku! Itu suara tiang bangunan kos ini yang hampir roboh karena kalian terlalu banyak memelihara makhluk berisik!"
"Iya deh, yang bangunannya mau roboh," cengir Bayu meledek.
Sebelum perdebatan kecil itu berlanjut, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar yang sangat khas tiga kali ketukan cepat disusul suara decit sandal jepit.
Tok! Tok! Tok!
"Raka! Bayu! Dimas!" suara melengking Bu Ratna kembali menggelegar dari luar koridor, membuat ketiganya langsung tersentak kaget.
Bayu hampir menjatuhkan mangkuk mi di tangannya.
"Ya ampun... Ini daster hijau lumut hobi banget silaturahmi malam-malam. Jangan-jangan nagih iuran lampu penerangan gang lagi!"
Raka buru-buru meletakkan sumpitnya, lalu bangkit dan membuka pintu kamar.
Sosok Bu Ratna berdiri di sana dengan daster hijaunya, membawa selembar kertas catatan kecil di tangan kanannya. Tanpa membuang waktu, ia langsung nyelonong masuk ke depan pintu, menatap tajam ke arah tiga pemuda tersebut.
"Kalian ini ya! Tadi sore waktu kerja bakti got, siapa yang ninggalin cangkul karatan sembarangan di dekat pohon mangga?!" cecar Bu Ratna galak, berkacak pinggang.
"Tadi hampir saja kaki Pak RT tersandung gagang cangkul itu waktu mau lewat!"
Raka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, memasang senyum paling sopan. "Ah, itu... mungkin kepunyaan Bayu atau Dimas, Bu. Tadi sore kan buru-buru karena keburu magrib."
Bayu langsung membela diri dengan wajah melas.
"Bukannya sengaja ninggalin, Bu! Tadi cangkulnya emang mendadak berat banget kayak bawa beban dosa masa lalu, jadi begitu selesai langsung ditaruh begitu saja."
Bu Ratna mendengus kesal, melotot tajam kepada Bayu.
"Alasan! Pokoknya besok pagi cangkul itu harus sudah dikembalikan ke pos ronda RT! Kalau tidak, saya denda uang kebersihan lima belas ribu!"
"Siap, Bu! Besok subuh-subuh saya sendiri yang bakal anterin cangkulnya pakai upacara militer!" jawab Bayu cepat demi mengusir sang pemilik kos.
Setelah memberikan satu kali pelototan maut terakhir, Bu Ratna akhirnya berbalik badan dan melangkah pergi menuruni tangga sambil mengomel panjang lebar tentang kedisiplinan warga kos.
Brak!
Pintu ditutup kembali oleh Raka. Suasana di dalam kamar kembali senyap, menyisakan uap mi instan yang mulai menipis.
Mira menghela napas panjang dengan gaya dramatis, menggelengkan kepalanya pelan.
"Perempuan berdaster hijau itu benar-benar mahluk paling mengerikan yang pernah kutemui di bumi. Bagaimana bisa kalian hidup di bawah ancamannya setiap hari tanpa memberontak?"
"Karena kalau kita memberontak, bukan cuma uang jaminan yang dipotong, Mir, tapi kita bisa diusir tidur di bawah jembatan," balas Dimas datar, kembali menyeruput kuah minya hingga tandas.
Raka merapikan mangkuk kosongnya di atas meja, lalu melirik jam dinding plastik yang menunjukkan pukul sembilan malam.
"Udah malam, saatnya tidur. Besok pagi kita harus balikin cangkul ke pos ronda sebelum Bu Ratna sempat nagih denda."
Mira mendengus angkuh, melangkah menuju sudut kasur busa cadangan di dekat jendela. Ia duduk bersilang kaki dengan elegan, menutup matanya perlahan untuk mulai bermeditasi, sementara Bayu dan Dimas mulai berdebat kecil soal siapa yang mendapat jatah selimut lebih lebar. Di tengah keributan kecil itu, Mira tetap diam di tempatnya, mendengar suara-suara akrab yang tanpa sadar mulai menemani malam-malam panjangnya di Desa Kertajaya.