Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.
Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.
Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amplop Merah di Atas Meja
Matahari siang itu terasa membakar ubun-ubun di atas permukaan aspal yang mulai retak. Bagas berdiri mematung di pinggir jalan, menatap kosong pada rumah mewah yang selama tiga tahun terakhir ia banggakan. Pintu gerbang besi yang dulu selalu terbuka untuk tamu-tamu elitnya, kini telah tertutup rapat dengan segel pengadilan berwarna kuning yang mencolok mata.
"Ibu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Siska dengan suara yang pecah.
Ia tidak lagi memegang ponselnya untuk memamerkan hidup di media sosial. Ponsel itu terselip asal di saku celananya, baterainya habis dan layarnya pecah. Ia menatap koper-koper kusam berisi pakaian yang ia kemas terburu-buru, merasa dunia benar-benar telah berkhianat kepadanya.
Ibu Melati masih duduk di atas koper besarnya, terengah-engah dengan napas yang memburu. Wajahnya yang tebal dengan riasan kini tampak seperti topeng retak karena keringat dan air mata yang mengering di pipinya. Ia menatap Bagas dengan tatapan menuntut, seolah pria itu masih memegang kendali atas segalanya.
"Bagas, hubungi teman-temanmu di kantor," perintah Ibu Melati dengan suara serak. "Katakan pada mereka bahwa ini semua hanya kesalahpahaman besar. Mintalah bantuan mereka untuk memberikan kita tempat tinggal sementara."
Bagas tertawa getir, sebuah suara yang terdengar sangat asing di telinganya sendiri. Ia menoleh ke arah ibunya dengan sorot mata yang penuh kekosongan.
"Teman-teman yang mana, Bu?" tanya Bagas dingin. "Sejak kabar penyitaan ini tersebar di berita, ponselku tidak berhenti berdering dengan pesan penagihan, bukan tawaran bantuan. Tidak ada yang mau berurusan dengan orang yang sudah jatuh miskin seperti kita."
Siska terisak lagi, membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Suara klakson mobil yang lewat di depan mereka terdengar seperti ejekan yang menyayat hati. Mereka adalah pusat perhatian para tetangga, namun kini perhatian itu bukan lagi kekaguman, melainkan tatapan kasihan yang menghina.
"Kita tidak bisa berdiri di sini selamanya," ujar Siska di sela isakannya. "Orang-orang mulai berbisik-bisik, Ibu. Aku malu sekali."
"Kalau begitu, ayo kita cari hotel murah di pusat kota," sahut Ibu Melati sambil mencoba berdiri dengan bantuan tongkat tasnya yang berat. "Aku masih punya sedikit uang tunai di dalam dompet ini."
Bagas melangkah mendekati ibunya, lalu menghentikan langkah wanita itu dengan tatapan tajam. Ia tahu betul berapa sisa uang yang dimiliki ibunya, dan itu tidak akan cukup untuk bertahan lebih dari dua malam di penginapan layak.
"Uang itu harus kita simpan untuk makan selama seminggu ke depan, Bu," tegas Bagas. "Kita tidak akan pergi ke hotel. Kita harus mencari kontrakan murah yang bisa disewa secara harian atau mingguan."
Ibu Melati membelalakkan matanya, napasnya tersengal karena terkejut. Ia tidak pernah membayangkan dirinya akan tinggal di tempat sempit seperti kontrakan di gang sempit.
"Kontrakan? Kamu gila, Bagas?" bentak Ibu Melati dengan suara melengking yang masih menyisakan sisa kesombongannya. "Aku tidak terbiasa hidup di tempat yang baunya seperti selokan! Kamu harus melakukan sesuatu agar kita tetap di sini!"
"Di sini sudah bukan milik kita lagi, Bu!" teriak Bagas, memotong ucapan ibunya dengan kemarahan yang meluap. "Tidakkah Ibu melihat segel itu? Rumah ini sudah milik Laras sepenuhnya, dan dia tidak lagi sudi melihat wajah kita satu menit pun di sini."
Siska terdiam, membeku saat mendengar nama Laras disebut dengan nada getir oleh kakaknya. Ia teringat bagaimana Laras dulu selalu melayani mereka dengan sabar, membawakan teh hangat saat mereka bersantai, dan menuruti setiap keinginan mereka tanpa membantah. Kini, Laras telah berubah menjadi sosok yang begitu asing dan menakutkan bagi mereka.
"Laras yang dulu pasti tidak akan tega membiarkan kita terlantar seperti ini," gumam Siska dengan nada menyesal yang terlambat.
Bagas menatap adiknya dengan tatapan merendahkan. Ia merasa muak dengan kata-kata penyesalan yang baru muncul setelah segalanya hangus terbakar.
"Laras yang dulu sudah mati karena ulah kita sendiri," ucap Bagas pelan. "Sekarang, yang tersisa hanyalah wanita yang ingin memastikan kita membayar setiap tetes air mata yang pernah ia tumpahkan."
Suasana kembali hening, hanya suara gesekan ban mobil di aspal yang terdengar. Mereka bertiga berdiri di sana, seperti rongsokan yang dibuang oleh pemiliknya sendiri. Bagas mulai menyadari bahwa setiap pilihan yang ia ambil selama tiga tahun terakhir hanyalah tumpukan dosa yang kini runtuh menimpanya.
"Ayo, kita pergi dari sini sebelum hari benar-benar gelap," ajak Bagas sambil menarik gagang kopernya. "Aku ingat ada satu kontrakan di daerah pinggiran yang mungkin masih punya sisa kamar kosong."
Ibu Melati mengikuti Bagas dengan langkah gontai, kakinya terasa berat menapak di tanah. Ia masih sering menoleh ke belakang, berharap melihat pintu rumah itu terbuka dan seseorang memanggil mereka kembali, namun pintu itu tetap bisu.
Siska berjalan paling terakhir, menatap sisa-sisa kehidupan mewahnya yang kini telah lenyap. Tas-tas desainer palsu yang dulu ia banggakan kini hanya terlihat seperti beban yang menyakitkan untuk dibawa. Ia menyadari bahwa ia tidak memiliki apa-apa lagi di dunia ini selain keangkuhan yang telah hancur berkeping-keping.
Mereka mulai berjalan menyusuri trotoar, menjauh dari kawasan perumahan elit yang dulu mereka klaim sebagai kerajaan mereka. Di kejauhan, sebuah mobil sedan hitam melintas dengan tenang. Tidak ada yang tahu bahwa di balik kaca gelap mobil tersebut, Laras sedang duduk diam, menatap ke arah keluarga itu melalui spion tengah.
Laras tidak tersenyum, namun ia juga tidak merasa sedih. Ia hanya menatap mereka dengan ketenangan seorang pemenang yang telah menyelesaikan urusan panjangnya. Bagi Laras, melihat mereka berjalan dengan koper-koper di jalanan adalah penutup dari bab kehidupan yang penuh racun.
Mobil yang ditumpangi Laras semakin menjauh, meninggalkan debu yang beterbangan di belakang. Bagas yang secara tidak sengaja menoleh ke arah jalanan, sempat menangkap bayangan mobil itu, namun ia segera membuang muka. Ia tahu, meskipun ia berteriak memanggil nama istrinya sekarang, tidak akan ada lagi tempat untuknya.
"Jangan pernah berharap dia akan menolong kita lagi," bisik Bagas pada dirinya sendiri.
Ibu Melati hanya terdiam, air mata kembali mengalir di pipinya yang kotor. Ia akhirnya mengerti bahwa keserakahan yang ia tanam selama bertahun-tahun kini telah memanen kehancuran yang mutlak. Mereka berjalan terus, melintasi gerbang komplek yang megah, menuju realitas yang jauh lebih kejam di depan sana.
Malam mulai turun, menyelimuti kota dengan kegelapan yang terasa menekan. Bagi Laras, ini adalah awal dari sebuah kedamaian yang ia beli dengan kerja keras. Namun bagi Bagas dan keluarganya, ini adalah awal dari penderitaan panjang yang baru saja mencatatkan bab pertamanya. Langkah kaki mereka terdengar sumbang di atas trotoar, seiring dengan pudarnya sisa-sisa martabat yang selama ini mereka sandang dengan kepalsuan.