JANGAN MAKAN AKU!
Aku hanyalah penyelam mutiara miskin yang bernasib sial. Niat hati mencari nafkah di kapal peneliti asing, aku justru terjebak dalam pembantaian keji di Teluk Bayangan. Kapal kami hancur, Sahabatku dibantai, dan laut berubah merah oleh darah.
Di hadapan para siren yang siap mengoyak dagingku, insting survivalku mendadak liar. Demi bertahan hidup, aku rela membuang harga diri, berlutut, menari dengan tubuh bersimbah darah, dan membualkan pujian setinggi langit untuk memohon ampunan. Bualan manisku rupanya menarik perhatian Pangeran Nataniel, iblis laut paling kejam dan mengerikan.
Bukannya dibunuh, aku malah diseret ke dalam istana karangnya sebagai satu-satunya tawanan manusia. Di mata Sang Pangeran, aku hanyalah seekor badut yang menarik untuk diamati. Di antara maut dan cengkramannya yang menyiksa, aku harus terus memutar otak dan bersilat lidah. Aku harus memastikan mulut manisku ini cukup ampuh untuk menjinakkannya, sebelum dia menjadikan ku santapan makan malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gigitan Liar di Dinding Karang
# Gigitan Liar di Dinding Karang #
"Ikan apa lagi ini ya Tuahaaan...Siren Frozen?"
Ancamannya benar-benar nyata! Hawa beku yang menusuk kulit ku terasa bagaikan ribuan jarum es yang menancap secara bersamaan. Di balik pecahan jendela Kamar Utama yang hancur berhamburan, sesosok makhluk bertubuh jangkung berlapis sisik es kebiruan menyeruak masuk. Matanya kebiruan, mengacungkan tombak es purba berkilauan lurus ke arah dadaku!
("Ya Tuhan! Ini belum sempat dandan rapi malah mau dicolok tombak es!") jerit batinku histeris seraya spontan berguling ke sudut tempat tidur koral, memeluk Mutiara Laut Dalam seerat-eratnya bagaikan memeluk nyawa cadangan. "Mana pakaian cuma setelan bikini laknat begini! Kalau mati konyol sekarang, jadi aib dong?!"
Nataniel melangkah lebar menutupi tubuhku. Tanpa menoleh sedikit pun, ia menyabetkan pedang gravitasinya hingga menciptakan gelombang tekanan udara yang sangat dahsyat. Dinding angin kencang berhembus menghantam tombak es purba tersebut hingga hancur menjadi serpihan kristal kecil.
"Prajurit ksatria Siren mana sih?! Kenapa kamar utama pangeran disusupi musuh nggak ada yang nongol satu pun?!" cicitku panik seraya mengintip dari balik punggung tegap Nataniel.
("Oh iya, baru ingat!") jerit batinku lagi saat teringat kejadian tadi siang. ("Para ksatria Siren kan semuanya pada terluka dan kelelahan gara-gara amukan gurita koral raksasa di arena! Mereka semua lagi diistirahatkan total di barak medis! Berarti ini si ikan purba super angkuh kudu by one sendirian lawan penyusup es Utara?! Apes banget nasibku!")
Penyusup berdarah es itu terkekeh rendah, suara gesekan sisiknya terdengar begitu memilukan telinga. Ia melompat cepat, mengibaskan cakar-cakar es tajam yang sanggup membekukan aliran air di sekitarnya.
"Nataniel! Serahkan manusia murni itu!" gertak sang penyusup dengan suara bergetar dingin.
"Kau terlalu lancang menginjakkan kaki di kamarku, Bangkai Utara!" geram Nataniel rendah.
Nataniel tidak memberi ampun sedikit pun. Pertarungan satu lawan satu meletus secara sengit di dalam Kamar Utama yang luas. Nataniel bergerak cepat bagaikan kilat keemasan. Sihir gravitasinya meledak-ledak, memilin tekanan air dan melipat gravitasi ruangan untuk menjepit tubuh penyusup es tersebut. Tebasan pedangnya beradu keras dengan cakar es, menciptakan percikan api purba yang saling berbenturan di udara.
Setiap kali Nataniel mengayunkan pedangnya, ledakan daya hancur gravitasinya menghancurkan bongkahan es yang terus bermunculan dari tubuh penyusup. Namun, dari sudut tempat tidur, aku dapat melihat dengan sangat jelas betapa beratnya pertarungan ini bagi sang Pangeran Iblis.
Napas Nataniel makin lama makin memburu secara tidak wajar. Keringat dingin bercampur bercak darah kehitaman mulai menetes dari pelipisnya. Otot-otot dadanya tegang luar biasa, dan sisik keemasan di rusuknya menyala merah membara!
("Waduh, berabe ini!") batinku menjerit frustrasi. ("Sihir gravitasinya emang gila banget hancurin musuh, tapi efek sampingnya bikin organ dalamnya makin kebakar parah! Itu dadanya sampai kelihatan membara kayak arang sate!")
Dengan satu sabetan mematikan penuh daya gravitasi mutlak, Nataniel berhasil menebas leher penyusup es tersebut hingga tubuhnya hancur menjadi debu es yang menguap musnah. Pertarungan by one itu dimenangkan secara mutlak oleh sang Penguasa Samudra.
Namun, begitu musuh tewas, situasi bukannya membaik, malah berubah menjadi mimpi buruk yang seratus kali lebih mengerikan!
Nataniel terhuyung jatuh berlutut di atas lantai kristal. Pedang gravitasinya terlepas dan berdenting keras. Pria itu mencengkeram dadanya sendiri, meraung rendah dengan suara dahsyat yang sarat akan rasa sakit membakar. Iris keemasannya hilang dipenuhi warna merah membara yang liar dan tidak terkontrol!
Kutukan Darah Kerajaan telah membakar organ dalamnya hingga ke titik puncak! Pangeran Nataniel sepenuhnya kehilangan kendali atas kesadarannya!
Ia menoleh perlahan ke arahku. Pandangannya bukan lagi pandangan seorang pangeran angkuh, melainkan pandangan seekor monster buas yang kelaparan dan kehausan di tengah padang pasir membara!
"P-paduka...?" bisikku gemetaran, perlahan mundur hingga punggungku menabrak dinding karang ranjang.
("Mampus! Ini ikan purba udah hilang ingatan! Pandangannya kayak mau melahap sate manusia lengkap sama bumbu kacangnya!")
Dalam satu kejapan mata, Nataniel melesat! Ia memburu ke arah ranjang bagaikan kilat, meremukkan pertahananku dan mencengkeram kedua pergelangan tanganku ke atas kepala! Tubuh besarnya yang membara menindih tubuhku dengan sangat kasar!
"Pangeran! Lepas! Sadar, Paduka yang Maha Perkasa!" jeritku histeris.
Nataniel tidak mendengarkan sedikit pun. Bau manis darah Mutiara Laut Dalam yang mengalir di pembuluh darahku makin menyulut dahaga gilanya. Tanpa peringatan, Nataniel memiringkan kepalanya dan taring tajam Siren-nya langsung menancap kasar tepat di perpotongan leher dan bahu kiriku!
*CRASSST!*
"AAAAAHHHH!"
Jeritan kesakitan luar biasa meluncur bebas dari tenggorokanku! Rasa sakitnya begitu tajam, seolah-olah kulit dan dagingku dirobek hidup-hidup oleh taring binatang purba! Air mata refleks menetes deras membasahi pipiku.
"Lepas... h-mohon berhenti... Nataniel! sakit!" pintaku merintih histeris, berusaha menendang dan menghentakkan tubuhku di bawah kungkungan ketatnya.
Namun Nataniel sama sekali tidak bergeming. Ia justru menjilati darah segar yang merembes dari bekas gigitannya dengan begitu gila dan liar. Lidahnya yang hangat menjilat ceruk leherku yang terluka, menyapu setiap tetes darah manisku hingga bersih, menikmati sensasi dingin Mutiara Laut Dalam yang langsung meredakan pembakaran hebat di dalam organ dalamnya.
Suara tegukan dan jilatan basahnya bergetar tepat di leherku, menciptakan adegan horor yang sangat mengerikan sekaligus mencekam di dalam Kamar Utama yang berantakan.
Setelah pendarahan luka gigitan berhenti, pendaran merah liar di mata Nataniel perlahan memudar, berganti menjadi pendaran keemasan yang jernih kembali. Kesadarannya telah pulih sepenuhnya akibat darah murni ku sebagai penawar kutukan.
Nataniel tersentak, perlahan mengangkat kepalanya dari leherku. Ia menatap bekas hasil karya gigitannya, lalu beralih menatap wajahku yang pucat pasrah dengan mata berair.
Melihat Pangeran Iblis itu tertegun dan melonggarkan cengkeramannya, otak bertahan hidupku yang panik langsung memanfaatkan celah tersebut!
("Sekarang atau mati dijadiin prasmanan!")
Dengan sisa tenagaku, aku mendorong dada Nataniel sekuat tenaga, berguling keluar dari ranjang, dan berlari kencang menuju pintu keluar Kamar Utama untuk kabur! Persetan dengan sikap penjilat! Yang penting leherku tidak bolong lagi!
Namun, melarikan diri dari seorang Penguasa Samudra dalam balutan bikini laknat yang minim adalah sebuah kebodohan besar.
Belum sempat jemariku menyentuh selot pintu batu, sebuah tekanan gravitasi dahsyat mendadak tak kasat mata menarik tubuhku ke belakang dengan sangat cepat!
*THUMP!*
Tubuhku terlempar dan terdesak kuat menabrak dinding karang hitam Kamar Utama!
Sebelum aku sempat memproses rasa pening di kepalaku, Nataniel sudah berada tepat di hadapanku. Kedua lengan kekar dan panjangnya terkunci rapat di kiri dan kanan kepalaku, menempelkan tubuh tegapnya yang panas membara tepat di atas tubuhku yang minim kain!
"Mau lari ke mana, Serangga?" bisik Nataniel rendah, suaranya kini tidak lagi sarat akan kegilaan, melainkan dipenuhi oleh dominasi berbahaya yang teramat pekat.
Posisinya begitu rapat! Dadanya yang telanjang menempel ketat pada dada dan perutku yang terekspos bebas dalam balutan bikini. Hawa panas dari tubuhnya yang habis terbakar sihir menyengat kulitku, bercampur dengan hawa dingin sisa es di dalam ruangan.
Tangannya yang bebas perlahan terangkat, jemari panjangnya yang tegas mengusap lembut sisa darah di leherku, lalu menyapu bibir bawahku yang bergetar.
Jarak wajah kami hanya tersisa beberapa milimeter! Hembusan napasnya yang sarat akan aroma darahku sendiri berhembus langsung di atas bibirku. Suasana di antara kami yang semula horor mendadak berubah secara drastis menjadi sangat panas, intimidatif, intim, dan menyiksa!
"P-Paduka..." cicitku terbata-bata, napasku memburu cepat akibat rasa takut bercampur sengatan aneh yang menjalar ke seluruh saraf tubuhku.
("Ya Tuhan... ini kenapa atmosfernya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat begini?!") jerit batinku yang makin korslet parah. ("Tadi mau dimakan hidup-hidup, sekarang malah dipojokkan di dinding karang dengan posisi rapat tanpa jarak begini! Mana pakaian cuma bikini laknat tipis begini! Ini kenapa tatapan matanya makin liar dan intens banget sih?! Tolonggg, ini jantungku mau meledak beneran!")
Nataniel mendekatkan bibirnya ke telingaku, memberikan gigitan halus pada cuping telingaku yang membuat seluruh tubuhku gemetaran hebat.
"Darahmu... sudah menyelamatkan nyawaku," bisik Nataniel dengan tawa rendah yang sangat memikat nan berbahaya. "Dan sebagai imbalannya, kau pikir aku akan melepasmu begitu saja setelah kau memancing gairah dan dahagaku sampai sejauh ini?"
Jemarinya yang dingin perlahan bergerak turun dari leherku, menelusuri garis bikini di dadaku, lalu merambat turun menuju pinggangku yang terekspos, menarik tubuhku makin rapat menempel pada tubuh tegapnya tanpa menyisakan celah sedikit pun!
Mataku membelalak lebar, menatap iris keemasan Nataniel yang menyala penuh pendaran gairah membara yang siap melahapku habis-habisan malam ini juga!
⭐ ⭐⭐⭐⭐
SITUASI MAKIN PANAS DAN TIDAK TERKENDALI!! 😱🔥 Nataniel udah sadar tapi bukannya ngelepasin Alessia, malah makin memojokkan Alessia di dinding karang dengan aura yang teramat intim dan membara!
Gimana nasib Alessia yang cuma pakai bikini laknat di bawah kungkungan gila sang Pangeran Iblis? Siap-siap tahan napas ya, Kiravers! Yuk gass lanjut ke Bab 28 buat terbakar bersama adegan selanjutnya! ✨