NovelToon NovelToon
Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19.Menghilang.

Langkah kaki mereka terdengar pelan di sepanjang lorong belakang yang sepi dan remang. Semakin jauh mereka berjalan, suasana semakin sunyi, aroma bunga dan tanaman hijau perlahan berganti menjadi bau lembap dan debu yang tak terawat. Li Hua memperlambat langkahnya, menatap sekeliling dengan dahi berkerut. Jalan ini bukan menuju ruang tamu utama. Ini jalan menuju gudang tua di bagian paling belakang kediaman — tempat yang jarang dikunjungi siapa pun, tempat yang dulu sempat menjadi tempat tinggal Li Yun sebelum ia pindah ke kamar yang lebih layak.

"Maaf..." panggil Li Hua pelan, berhenti melangkah. "Apakah Ibu benar-benar menyuruhku ke sini? Ini bukan jalan menuju ruang tamu utama."

Pelayan di depannya berhenti, namun tidak menoleh. Ia hanya berdiri diam, punggungnya tegak kaku, tak mengucapkan sepatah kata pun.

Li Hua mundur selangkah, firasat buruk mulai merayap di hatinya. "Kau dengar aku? Katakan padaku, ke mana sebenarnya kita akan pergi?"

Masih tidak ada jawaban. Perlahan pelayan itu berbalik badan. Wajahnya datar, matanya kosong tanpa ekspresi. Tangan kanannya menyembunyikan sesuatu di balik punggung — selembar sapu tangan yang dibasahi cairan berbau menyengat dan tajam.

"Kau..." Li Hua menelan ludah, mundur lagi. "Siapa kau sebenarnya?"

Belum sempat ia berbalik untuk lari, pelayan itu melompat ke arahnya dengan gerakan cepat dan tiba-tiba. Tangan yang memegang sapu tangan itu menekan kuat ke hidung dan mulut Li Hua dari belakang.

"Jangan...!" Li Hua berusaha meronta, mencoba melepaskan diri. Ia menendang ke belakang, mencakar tangan yang menahannya, namun kekuatannya perlahan menguap. Kepalanya terasa berat, pandangannya kabur, napasnya terasa panas dan lambat. "Tolong... siapa...?"

Suara di telinganya terdengar semakin jauh, tubuhnya terasa melayang, lalu akhirnya ia terkulai lemas di pelukan wanita itu.

Pelayan itu melepaskan sapu tangan, menyeka keringat di keningnya, lalu bersiul pelan. Tiba-tiba dari balik tumpukan kayu tua muncul tiga orang pria bertubuh kekar, wajahnya tertutup kain, berjalan mendekat tanpa suara.

"Bawa dia pergi," perintah pelayan itu singkat. "Jangan sampai ada yang melihat. Sesuai rencana."

Mereka mengangguk, mengangkat tubuh Li Hua yang tak sadarkan diri, lalu menghilang ke arah gerbang samping yang sepi — seolah-olah gadis itu tidak pernah ada di sana.

Di halaman depan kediaman, Qiao'er berjalan mondar-mandir dengan gelisah, sesekali menatap ke arah pintu masuk. Di beranda, Li Yun duduk diam, pandangannya tak lepas dari jalan setapak yang menuju ke luar. Piring berisi makanan hangat khas Negeri Tang Liang masih tertutup rapat, uapnya perlahan lenyap.

"Sudah lama sekali Nona pergi..." gumam Li Yun pelan, suaranya menyiratkan kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. "Biasanya tidak selama ini..."

Qiao'er mendekat, wajahnya tampak cemas. "Benar, Pangeran. Sudah cukup lama. Izinkan saya mencari tahu ke mana Nona pergi."

"Pergilah," jawab Li Yun cepat, berdiri dari tempat duduknya. "Jika terjadi sesuatu segera lapor pada ku. "

Qiao'er berlari secepat kilat menuju kediaman utama Nyonya Besar. Napasnya memburu, jantungnya berdebar kencang. Belum sampai di gerbang utama, ia berpapasan dengan Bibi Niang — pelayan senior yang sudah puluhan tahun melayani Keluarga Zhang, wanita yang tahu segala hal yang terjadi di dalam kediaman ini.

Qiao'er berhenti, memberi hormat dengan tangan gemetar. "Bibi Niang..."

Bibi Niang menatapnya, mengerutkan kening melihat wajah gadis itu yang pucat dan berkeringat. "Ada apa, Qiao'er? Mengapa kau terlihat begitu panik?"

"Saya mencari Nona Kedua, Bibi," jawab Qiao'er cepat. "Katanya Nyonya Besar memanggilnya ke sini. Apakah Nona sudah bertemu dengan Ibu?"

Bibi Niang menggeleng pelan, matanya melebar terkejut. "Nyonya Besar tidak memanggil siapa-siapa. Beliau dan Tuan Besar sudah keluar sejak pagi tadi untuk menghadiri undangan Menteri Wang. Mereka belum pulang."

Darah seakan menguap dari wajah Qiao'er. Lututnya terasa lemas. "Tapi... tapi ada pelayan yang datang menjemput Nona, bilang Nyonya Besar bertemu dengan nya sekarang..."

"Nyonya sudah pergi dari pagi, lalu atas perintah siapa pelayan itu memanggil nona kedua?" Bibi Niang mendekat, suaranya menegang."Apa kamu tahu pelayan itu?. "

"Saat itu saya disuruh nona keluar, Bibi..." Qiao'er menahan tangis. "Kata pangeran,nona pergi mengikutinya."

Bibi Niang menarik napas panjang, berusaha tetap tenang meski matanya memancarkan kekhawatiran. "Tenanglah dulu, Qiao'er. Kembalilah ke tempatmu. Aku akan memeriksa semua orang di kediaman ini, mencari tahu siapa yang berani melakukan hal ini. Nona kedua pasti baik-baik saja."

Qiao'er mengangguk, namun kakinya berlari lebih cepat dari sebelumnya. Ia tahu — hanya ada satu orang yang bisa mencari Li Hua sekarang, seseorang yang memiliki kekuatan yang tidak diketahui banyak orang.

Ia kembali ke halaman belakang, di mana Li Yun masih berdiri menunggu dengan wajah yang semakin gelisah.

"Pangeran..." Qiao'er terengah-engah, berlutut di depannya. "Nona menghilang,nyonya besar dan tuan sudah pergi dari pagi. "

Li Yun menegang, matanya menyala tajam, suasananya seketika berubah dingin dan mengerikan. "Bangun, Qiao'er. Jangan berlutut." Ia meraih bahu gadis itu, memaksanya berdiri. "Tetaplah di sini. Jangan ke mana-mana. Bibi Niang akan datang membawa kabar. Aku akan mencarinya dengan cara ku."

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berjalan cepat menuju halaman depan yang luas. Di sana, di bawah sinar matahari yang mulai condong ke barat, ia berhenti sejenak, lalu mengangkat kepalanya dan bersiul — suara yang jernih, melengking tinggi, terdengar seperti kicauan burung namun memiliki irama rahasia yang tak diketahui orang biasa.

Hening menyelimuti halaman itu sejenak. Kemudian, dari atap, dari balik dinding tinggi, dari bayang-bayang pohon tua, muncul sosok-sosok berpakaian hitam pekat. Enam orang, bergerak tanpa suara, turun dan berlutut serentak di depan Li Yun, kepala mereka menunduk hormat.

"Menunggu perintah, Pangeran," ucap salah satu dari mereka, suaranya rendah namun tegas.

Li Yun menatap mereka, matanya dingin dan penuh ketegasan. "Cari keberadaan Li Hua. Sekarang juga. Aku ingin tahu di mana dia, dengan siapa, dan apa yang terjadi padanya. Segera!"

"Siap, Pangeran!"

Enam sosok itu lenyap seketika, seakan tersapu angin, meninggalkan halaman yang kembali sepi. Li Yun berdiri sendirian, tangan terkepal erat di sisi tubuhnya, menatap ke arah gerbang utama. Li Hua... Aku akan menemukanmu.

Di tempat yang jauh, di ruangan sempit dan gelap yang berbau arak kental dan kayu lembap, Li Hua perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa berdenyut sakit, tubuhnya terasa berat. Ia mencoba menggerakkan tangan — terikat kuat di belakang punggungnya. Kakinya juga terikat, dan mulutnya tersumpal kain kasar yang membuatnya sulit bernapas dengan nyaman.

Di mana aku? batinnya, menatap sekeliling yang gelap dan asing. Gudang? Tempat penyimpanan arak?

Ia berusaha bangkit, namun tubuhnya terasa lemah. Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka dari luar — cahaya samar masuk, disertai suara tawa gadis, musik yang riuh, dan obrolan pria yang terdengar dari kejauhan. Pintu tertutup kembali dengan bunyi dentuman yang keras, dan kegelapan menyelimutinya lagi.

Langkah kaki mendekat. Cahaya lilin yang digenggam seseorang menerangi ruangan itu. Di depan pintu berdiri seorang wanita berpakaian mencolok, riasan tebal di wajahnya, perhiasan berkilau di leher dan jemarinya. Di belakangnya berdiri dua pria bertubuh besar, tatapan mereka tajam dan mengintimidasi.

Wanita itu melangkah mendekat, menatap Li Hua dari atas ke bawah dengan tatapan menilai. Ia memberi isyarat dengan jari.

"Lepaskan sumpalan mulutnya," perintahnya.

Salah satu pria itu maju, menarik kain itu dengan kasar. Li Hua menghela napas panjang, menatap wanita itu tanpa takut sedikit pun.

"Siapa kalian?" tanyanya tenang, suaranya sedikit serak namun mantap. "Mengapa menculikku? Apa yang kalian inginkan?"

Wanita itu tersenyum tipis, duduk di atas peti kayu di sudut ruangan. "Perkenalkan, Nona cantik. Orang-orang memanggilku Nyonya Li. Aku pemilik tempat ini — rumah yang selalu penuh tawa dan tamu." Ia berhenti sejenak, menatap reaksi gadis itu. "Pelayan di kediamanmu... dia menjualmu kepadaku. Seratus tael. Katanya pelayan yang sudah berbuat salah dengan majikan."

Li Hua tertawa kecil, suara itu tenang dan tak tergoyahkan. "Seratus tael? Itu terlalu murah. Kalau mereka tahu siapa aku sebenarnya, harta seluruh tempat ini pun belum cukup untuk membeliku."

Nyonya Li tertawa, namun matanya tetap menatap tajam. "Aku suka gadis yang berani seperti kau. Tidak seperti gadis lain yang menjerit atau pingsan begitu melihatku." Ia berdiri, memberi isyarat pada pengawalnya. "Bawa dia ke kamarku dulu. Aku ingin bicara dengannya lebih lanjut."

Saat mereka berjalan keluar dari gudang itu, cahaya lampu minyak yang terang benderang menyambutnya. Suara musik kecapi dan seruling terdengar meriah, tawa pria dan gadis berbaur di udara yang harum akan dupa dan bunga. Para tamu berjalan lalu lalang, wajah mereka tampak gembira dan riang. Li Hua menatap sekeliling, perlahan menyadari di mana ia berada.

Ini bukan sekadar bangunan biasa. Ini rumah bordil — tempat di mana wanita dijual dan dibeli, tempat di mana kebahagiaan dibayar dengan uang dan kepalsuan.

Namun anehnya, tidak ada ketakutan yang melumpuhkan di hatinya. Ia menarik napas panjang, menatap langit malam yang terlihat dari celah atap, lalu tersenyum tipis. Baiklah... batinnya. Ternyata ini yang mereka rencanakan. Tapi mereka salah memilih sasaran. Aku bukan gadis yang mudah dihancurkan.

Di sampingnya, Nyonya Li memperhatikan ekspresi gadis itu dengan takjub. Tidak ada air mata, tidak ada kepasrahan. Justru ada ketenangan yang membuat bulu kuduknya meremang. Nyonya Li menyadari satu hal — ia mungkin telah membeli seseorang yang jauh lebih berharga daripada yang ia bayangkan. Dan entah mengapa, ia merasa seolah-olah bukan ia yang memegang kendali di sini.

 ​

1
lin sya
msih menunggu li hua membalas shi yin krn dijual dirmh bordil sayangnya li hua cerdas, tp beruntung li yun perduli smpai nyari kemana mana, klo li hua balik kkluarganya bikin shi yin dijual juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!