Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.
Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.
Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Melodi Masa SMA dan Panggilan Baru
Suasana di dalam kamar kontrakan sempit itu masih diliputi keheningan yang mencekat. Asap tebal dari mi instan yang terbengkalai di atas kompor perlahan menipis, menyisakan bau gurih yang memudar. Bimo menyandarkan kepalanya ke dinding tembok yang catnya mulai mengelupas, sementara Arga atau Dewa duduk bersila di atas kasur lipatnya dengan pandangan menerawang jauh menembus kegelapan malam di balik jendela.
"Amsyong banget hidup kita ya, Wa," gumam Bimo parau, memecahkan keheningan dengan tawa hambar yang lebih terdengar seperti helaan napas penderitaan. "Gue berasa lagi mimpi buruk yang enggak bisa bangun-bangun."
Arga mengusap tengkuknya, lalu tersenyum tipis. "Sama. Padahal rasanya baru kemarin kita pusing cuma gara-gara dihukum keliling lapangan sama Pak Dudung gara-gara bolos pelajaran sejarah."
Bimo menoleh pelan, menatap Arga dengan pandangan nostalgia. "Haha, iya juga ya. Kalau dipikir-pikir, dari dulu tiap kali gue kena masalah, lu selalu ikut-ikutan repot."
"Ya gimana enggak repot? Lu kan anak emas yang serba manja dari dulu, Bim. Kalau bukan gue yang jagain lu pas SMA, mungkin lu udah dikerjain anak-anak geng sebelah," sahut Arga sambil terkekeh pelan.
Pikiran kedua pemuda itu perlahan terlempar kembali ke masa enam tahun lalu, saat seragam putih abu-abu masih membungkus tubuh mereka. Pertemuan pertama mereka di SMA Nusantara sama sekali tidak mencerminkan persahabatan erat yang terjalin saat ini.
Saat itu, Arga, anak yatim piatu yang tumbuh di panti asuhan kecil di sudut kota, masuk ke sekolah favorit tersebut melalui jalur beasiswa prestasi olahraga. Postur tubuhnya yang tegap, atletis, dan kemampuannya dalam beladiri membuatnya disegani sekaligus disegani oleh murid-murid lain. Di sisi lain, Bimo adalah putra tunggal dari pengusaha kaya raya yang baru saja menyumbang dana besar untuk pembangunan perpustakaan sekolah.
Namun, tidak seperti anak-anak kaya pada umumnya yang sering memamerkan harta orang tua mereka, Bimo tampil sangat sederhana. Ia lebih suka naik angkutan umum atau menumpang sepeda motor tua teman-temannya daripada diantar mobil mewah ber-AC.
"Lu ingat enggak pertama kali kita ngobrol di kantin belakang sekolah?" tanya Bimo, senyumnya kini tampak lebih lepas.
"Ingat banget lah," jawab Arga seraya menyandarkan punggungnya ke dinding. "Waktu itu lu disuruh anak-anak kelas tiga buat beliin mereka minuman dingin sama gorengan. Lu udah bawa uang seratus ribuan di tangan, tapi muka lu pucat banget kaya orang mau dieksekusi mati."
"Ya gimana enggak pucat, Wa! Badan mereka segede gaban gitu," omel Bimo sambil memagut tangannya. "Gue waktu itu anak baru yang enggak mengerti peta kekuasaan sekolah. Mau nolak, takut dipukulin. Mau nurut, kok rasanya harga diri gue diinjak-injak."
"Makanya waktu itu gue langsung samperin," kekeh Arga. "Gue tarik baju lu dari belakang, terus gue rebut uang seratus ribuan itu dari tangan lu."
"Iya, bangsat banget lu waktu itu!" seru Bimo tertawa lepas. "Gue pikir lu mau ikut-ikutan meras gue! Gue udah pasrah aja pas lu bilang, 'Uang seratus ribu mending buat beli bakso tiga mangkok daripada kasih ke pemalas kaya mereka.'"
"Terus lu ketakutan kan pas gue melotot ke anak-anak kelas tiga itu?" goda Arga.
"Ya iyalah! Lu sendirian, mereka bertiga! Tapi gokilnya, lu malah menantang mereka bertiga tanding basket satu lawan tiga di lapangan belakang," kenang Bimo dengan mata berbinar. "Lu bener-bener gila waktu itu, Arga. Lu babat habis mereka tiga belas poin tanpa balas. Dari situ gue tahu, fisik lu yang atletis itu bukan cuma pajangan."
Arga tertawa pelan mengingat masa-masa berandalan sekolah itu. "Habis tanding kan kita makan bakso bareng pakai uang lu itu. Di situ gue baru tahu kalau lu ternyata anak orang kaya yang kebetulan enggak punya kesombongan sedikit pun."
"Bokap gue dari kecil selalu ngajarin, harta itu punya orang tua, bukan punya gue," pangkas Bimo serius. "Makanya gue paling malas pamer. Dan pas tahu lu anak panti asuhan yang berjuang sendiri buat sekolah, gue bener-bener kagum sama lu, Wa."
Persahabatan mereka berkembang sangat cepat sejak hari itu. Bimo tidak pernah canggung bermain ke panti asuhan tempat Arga tinggal, bahkan kerap membawa paket makanan lezat dan buku-buku bekas untuk adik-adik panti. Sebaliknya, Arga selalu menjadi benteng pelindung Bimo dari marabahaya gertakan murid-murid nakal atau preman di luar sekolah.
Di sekolah, Arga punya satu kebiasaan unik yang sangat dihafal oleh seluruh teman seangkatannya. Setiap kali jam istirahat atau saat piket kelas selesai, Arga akan duduk di atas meja kayu depan kelas sambil memetik gitar tua milik ruang seni.
"Lu inget enggak lagu apa yang paling sering lu nyanyiin pas kita nongkrong di atap sekolah?" tanya Bimo tiba-tiba, matanya menatap Arga dengan pandangan jenaka.
"Lagu-lagu klasik lah. Kan gue dari dulu paling demen sama musik-musik berkelas," sahut Arga membanggakan diri.
"Halah! Berkelas matamu!" cibir Bimo sambil tertawa. "Lu itu tiap hari enggak ada bosan-bosannya menyanyikan lagu-lagu grup musik Dewa 19! Dari lagu Kangen, Separuh Nafas, sampai Pupus, semuanya lu sikat sampai suara lu serak!"
"Ya elah, lagu-lagu Ahmad Dhani itu liriknya dalam, Bim. Cocok banget sama jiwa penikmat seni kaya gue," seloroh Arga membela diri.
"Seni dari mana? Suara lu itu pas-pasan, tapi pedenya setinggi langit!" ejek Bimo. "Tiap kali kita nongkrong sama anak-anak panti atau di warung Pak Kumis, kalau lu udah pegang gitar, pasti yang keluar lagu Dewa 19 lagi, Dewa 19 lagi. Anak-anak panti aja sampai hapal di luar kepala gara-gara dengerin lu nyanyi tiap malam."
"Tapi lu ikut nyanyi juga kan pas bagian reff-nya?" goda Arga menyenggol kaki Bimo dengan ujung jempol kakinya.
"Ya terpaksa, daripada dengerin suara solo lu yang bikin telinga pengang!" jawab Bimo terbahak.
Kenangan manis masa SMA itu sejenak mengikis aura tegang dan keputusasaan yang menggelayuti kontrakan mereka. Kekompakan dua pemuda dari latar belakang sosial yang bertolak belakang itu telah teruji oleh waktu dan berbagai rintangan kecil masa remaja.
Bimo menatap wajah Arga yang masih mempertahankan senyum tipisnya. Ia teringat betapa Arga selalu dipanggil dengan nama aslinya, Arga, oleh guru-guru dan pengurus panti. Namun, bagi Bimo dan anak-anak seangkatannya di SMA, Arga punya panggilan kesayangan tersendiri yang akhirnya melekat hingga sekarang.
"Makanya, semenjak lu enggak berhenti-henti nyanyiin lagu mereka sepanjang kelas dua SMA, gue kan yang pertama kali nyeletuk memanggil lu dengan sebutan itu?" ujar Bimo pelan sambil tersenyum hangat.
Arga menatap Bimo, lalu mengangguk pelan. "Iya. Lu yang pertama kali manggil gue 'Dewa'."
"Iya dong," celetuk Bimo seraya menepuk bahu sahabatnya itu. "Nama asli lu kan Arga. Tapi gara-gara lu terobsesi banget sama Dewa 19, gue bilang ke anak-anak, 'Mulai sekarang panggil aja si Arga ini Dewa!' Eh, malah ketagihan sampai semua orang di panti sama di tempat kerja lu sekarang ikut-ikutan manggil lu Dewa."
Arga menghembuskan napas panjang, menatap langit-langit kontrakan dengan sorot mata penuh arti. Panggilan 'Dewa' bukan sekadar nama julukan konyol semasa SMA, melainkan simbol persahabatan erat dan rasa saling percaya yang mendalam antara dirinya dan Bimo. Namun malam ini, nama julukan itu justru menjadi saksi bisu dari takdir rumit yang siap menyeret kehidupan mereka berdua ke dalam masalah yang jauh lebih besar.