NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Ruang rapat di lantai lima belas itu terasa sangat dingin, namun Naya berhasil menyelesaikan presentasinya dengan gemilang. Tepuk tangan dari klien dan persetujuan dari bosnya menjadi validasi bahwa kinerjanya sama sekali tidak terpengaruh oleh prahara kehidupan asmaranya yang baru saja hancur lebur.

Begitu rapat ditutup dan klien meninggalkan ruangan, Naya menjatuhkan dirinya di kursi putarnya dengan helaan napas panjang. Ia mengusap wajahnya, merasakan ketegangan yang sejak pagi bersarang di bahunya perlahan menguap.

"Gila, lo keren banget hari ini, Nay!" puji Mita, rekan kerja sekaligus teman beda divisinya, sambil menepuk bahu Naya saat mereka berjalan kembali menuju kubikel. "Padahal gue denger dari anak-anak lobi soal drama pagi tadi. Lo nggak apa-apa kan?"

Langkah Naya sedikit tersendat. Ia memaksakan sebuah senyum tipis. Berita di kantor memang selalu menyebar lebih cepat daripada api yang menyambar bensin. "Gue nggak apa-apa, Mit. Cuma... ya gitu deh. Reno datang bikin keributan. Tapi udah beres kok."

Mita menyipitkan matanya, menggeser kursinya mendekati meja Naya dengan raut wajah penuh selidik yang sarat akan rasa penasaran. "Udah beres karena superhero tampan lo itu kan? Sumpah, Nay, anak-anak resepsionis sampai mimisan ngelihat cowok yang meluk lo tadi pagi. Katanya auranya kayak mafia di drakor-drakor! Siapa sih? Kok lo nggak pernah cerita punya pacar baru yang kelas kakap begini? Reno mah lewat jauh, ibarat rongsokan dibanding Ferrari!"

Wajah Naya seketika merona. Ia buru-buru menyusun dokumen di mejanya untuk menyembunyikan salah tingkahnya. "Sembarangan. Dia bukan pacar gue, Mit. Dia itu Kafka, adik kandungnya Nessa. Lo tahu Nessa kan, sahabat gue itu? Nah, Kafka ini baru pulang dari London, kebetulan lagi nganterin gue ke kantor."

Mita terbelalak. "Adik? Lo serius? Cowok dengan rahang setajam silet dan tatapan membunuh kayak gitu lo panggil adik?!" Mita tertawa sinis, menggelengkan kepalanya pelan. "Nay, gue mungkin bukan pakar cinta, tapi dari rekaman CCTV lobi yang diam-diam difoto sama anak security, cara cowok itu melingkarkan tangannya di pinggang lo... itu bukan cara seorang 'adik' melindungi teman kakaknya. Itu cara seorang pria menutupi wanitanya dari ancaman laki-laki lain. Posesif banget, gila."

Ucapan Mita bagaikan godam tak kasat mata yang menghantam dada Naya. Naya menelan ludah dengan susah payah. Apa benar begitu? Apakah Kafka benar-benar menatapnya sebagai seorang wanita, bukan sekadar 'Kak Naya' sahabat kakaknya?

Sisa hari itu dihabiskan Naya dengan pikiran yang terbelah dua. Sebelah otaknya sibuk menyusun revisi dokumen proyek, sementara sebelahnya lagi terus-menerus memutar ulang adegan di lobi tadi pagi, aroma cedarwood, dan sentuhan tangan Kafka di rambutnya.

Pukul lima sore tepat, ponsel Naya bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor baru yang belum disimpannya.

[0812-XXXX-XXXX] Aku di lobi bawah. Jangan terburu-buru, hujannya lumayan deras.

Naya menatap layar ponselnya cukup lama. Tidak ada nama pengirim, namun ia tahu pasti siapa pemilik nomor tersebut. Dengan gerakan kaku, ia menyimpan nomor itu dengan nama 'Kafka', mematikan laptopnya, lalu bergegas merapikan barang-barangnya.

Saat lift terbuka di lantai dasar, Naya mendapati lobi gedung sudah mulai sepi karena sebagian besar karyawan menunggu di lobi samping untuk memesan transportasi online akibat hujan yang mengguyur Jakarta dengan lebat. Naya berjalan menuju pintu kaca utama.

Di sana, di bawah naungan kanopi lobi, berdirilah Kafka.

Pria itu sedang bersandar pada sisi SUV hitamnya. Kemeja hitam yang ia kenakan pagi tadi kini tampak sedikit kusut di bagian lipatan siku, namun entah mengapa hal itu justru menambah kesan maskulin yang berantakan. Kafka sedang berbicara di telepon, sebelah tangannya masuk ke dalam saku celana. Namun begitu sudut matanya menangkap siluet Naya yang berjalan keluar dari pintu putar, Kafka segera mengakhiri panggilannya dan memasukkan ponselnya.

Pria itu menegakkan tubuhnya, meraih sebuah payung besar berwarna hitam dari kursi belakang, lalu membukanya. Kafka berjalan menembus hujan, memangkas jarak di antara mereka.

"Gimana pitching-nya?" tanya Kafka saat ia tiba di hadapan Naya. Suara baritonnya mengalahkan suara rintik hujan yang menabrak payung mereka. Matanya menatap Naya dengan kelembutan yang sangat kontras dengan cuaca dingin sore itu.

"Lancar. Klien suka sama ideku," jawab Naya, tidak bisa menahan senyum bangganya.

Sudut bibir Kafka terangkat, membentuk senyum yang membuat detak jantung Naya kembali melompat dari ritmenya. "Bagus. Ayo masuk, di luar dingin."

Kafka merangkul bahu Naya dengan ringan—sangat ringan hingga Naya hanya merasakan hawa panas dari telapak tangan pria itu—menuntunnya masuk ke dalam mobil agar tidak terkena tempias hujan.

Begitu duduk di dalam kabin mobil yang hangat dan dipenuhi wangi mint serta kayu, Naya merasa seluruh energinya terkuras habis. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi. Kafka masuk ke kursi pengemudi, meletakkan payung, lalu menghidupkan mesin. Bukannya memutar arah menuju kawasan Kemang tempat rumah Nessa berada, mobil itu justru melaju ke arah berlawanan menuju kawasan Senopati.

Naya yang menyadari rute aneh itu langsung menoleh. "Kaf, kita mau ke mana? Rumah Nessa kan ke arah sana."

"Kita mau merayakan keberhasilan pitching-mu, dan hari pertamamu terbebas dari benalu," jawab Kafka santai tanpa menoleh, matanya fokus pada kemacetan jalan raya. "Kau butuh makanan yang layak setelah seharian bekerja keras, Kak."

"Tapi, Kaf, aku belum mandi, bajuku lecek, dan aku..." Naya mencoba mencari alasan, merasa tidak siap untuk menghabiskan lebih banyak waktu berduaan dengan pria ini. Pertahanannya terlalu rapuh hari ini.

"Kau terlihat sempurna, Kak Naya. Selalu," potong Kafka mutlak, membungkam segala bentuk protes Naya.

Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah restoran Jepang premium yang sangat tertutup. Cahaya temaram, interior kayu minimalis, dan bilik-bilik private membuat suasana di sana terasa sangat intim dan eksklusif. Kafka rupanya sudah melakukan reservasi, karena seorang pelayan berpakaian kimono langsung mengantarkan mereka ke sebuah bilik tertutup di sudut ruangan.

Begitu pintu geser bilik itu ditutup, dunia seolah hanya menyisakan mereka berdua. Naya duduk berhadapan dengan Kafka di atas tatami yang nyaman, dibatasi oleh meja kayu panjang.

Kafka memesan beberapa porsi daging Wagyu kualitas terbaik dan berbagai macam sushi. Saat pelayan kembali membawa pesanan mereka dan mulai memanggang daging di atas pemanggang kecil di meja mereka, keheningan menyelimuti Naya dan Kafka.

Setelah pelayan selesai dan undur diri, Kafka mengambil penjepit daging. Alih-alih meletakkan daging itu di piringnya sendiri, Kafka menaruh potongan daging yang paling matang sempurna ke atas piring Naya.

"Makanlah yang banyak," perintah Kafka lembut.

Naya menatap potongan daging itu, lalu menatap Kafka yang kini sibuk memisahkan hiasan paprika dari piring sushi yang hendak ia berikan pada Naya. Gerakan pria itu terhenti.

"Kau tidak suka paprika, kan?" tanya Kafka retoris, menyadari tatapan Naya.

Naya tertegun. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali ia menyebutkan hal itu di depan Kafka. Mungkin saat Kafka masih SMP dan mereka makan piza bersama di rumah Nessa bertahun-tahun yang lalu?

"Kamu... masih ingat?" suara Naya nyaris terdengar seperti bisikan takjub. Bahkan Reno, pria yang bersamanya selama tiga tahun, selalu lupa dan harus diingatkan setiap kali memesan makanan.

Kafka meletakkan penjepit dagingnya. Ia menumpukan kedua sikunya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga wajah mereka hanya terpisah sejengkal jarak melintasi meja. Cahaya lampu gantung yang temaram memantul di mata hitam legam Kafka, menciptakan ilusi lautan malam yang siap menenggelamkan Naya.

"Aku selalu mengingat apa pun yang menyangkut dirimu, Kak Naya. Hal sekecil apa pun," jawab Kafka perlahan. Setiap suku katanya diucapkan dengan penekanan yang sarat akan makna tersembunyi.

Naya menelan ludah. Udara di dalam bilik itu mendadak menipis. Ini tidak benar. Arah pembicaraan ini terlalu berbahaya. Naya harus membangun kembali tembok pembatas di antara mereka sebelum ia benar-benar kehilangan akal sehatnya.

"Kaf," Naya memanggil dengan nada yang dibuat setegas mungkin, memaksakan dirinya menatap lurus ke mata pria itu. "Kamu nggak perlu melakukan ini semua. Nganterin aku, ngehajar Reno, beliin makan malam... kamu nggak berutang budi apa pun sama aku. Aku teman kakakmu, dan kamu—"

"Dan aku adalah adik dari temanmu," potong Kafka, menyambung kalimat Naya dengan nada yang sedikit lebih dingin, seolah ia sangat membenci fakta tersebut. "Itu yang mau Kakak bilang?"

Naya mengangguk pelan, jemarinya meremas kain celana kulotnya di bawah meja. "Ya. Kita beda empat tahun, Kaf. Di mataku, kamu masih sama seperti anak laki-laki yang dulu sering aku bantu kerjain tugas PR matematikanya."

Sebuah senyum miring, berbahaya, dan memabukkan terbit di bibir Kafka. Pria itu tidak terlihat marah, melainkan terlihat tertantang.

Kafka perlahan mengangkat tangan kanannya melintasi meja. Naya membeku saat ibu jari Kafka yang hangat mendarat di sudut bibirnya. Gerakan ibu jari itu begitu pelan, menghapus setitik noda saus teriyaki yang entah sejak kapan menempel di sana. Sentuhan itu ringan, namun efeknya menjalar bagaikan aliran listrik yang menghanguskan kewarasan Naya.

Bukannya segera menarik tangannya, ibu jari Kafka justru sengaja berlama-lama di sana, mengusap sudut bibir Naya dengan gerakan konstan yang membuat napas Naya tertahan di tenggorokan.

"Umur hanyalah sekumpulan angka kalender, Kak Naya," bisik Kafka, suaranya kini berubah serak dan dalam, menggetarkan gendang telinga Naya. "Dan statusku sebagai adik temanmu sama sekali tidak mengubah fakta biologi yang paling mendasar."

Mata Kafka turun, menatap bibir Naya yang sedikit terbuka, lalu kembali naik menatap sepasang mata Naya yang membulat panik.

"Fakta bahwa aku adalah seorang pria dewasa, dan kau... adalah wanita yang kuinginkan."

Bumi seolah berhenti berputar. Naya berhenti bernapas. Jantungnya berdebar sangat keras hingga ia yakin Kafka bisa mendengarnya. Kalimat itu diucapkan tanpa keraguan, sebuah deklarasi mutlak yang menghancurkan semua skenario penyangkalan yang sudah Naya susun susah payah sejak pagi tadi.

Kafka menarik tangannya menjauh, menyisakan jejak panas di kulit Naya yang seolah terbakar. Pria itu kembali duduk bersandar, kembali menjadi sosok elegan dan tenang seolah ia tidak baru saja menjatuhkan bom atom di tengah acara makan malam mereka.

"Makan dagingmu sebelum dingin, Kak," ucap Kafka santai sambil meraih gelas ocha-nya.

Sisa makan malam itu dihabiskan Naya dalam keadaan setengah sadar. Ia mengunyah daging Wagyu mahal itu tanpa bisa mencecap rasanya. Pikirannya melayang, terjebak di antara sisa sentuhan di bibirnya dan pengakuan Kafka yang telanjang dan jujur.

Ketika mereka akhirnya kembali ke dalam mobil untuk pulang, hujan di luar telah reda, menyisakan rintik-rintik kecil yang menempel di kaca. Suasana di dalam mobil terasa sangat kaku dan berat oleh ketegangan romantis yang belum terselesaikan.

Naya menyandarkan kepalanya ke kaca, memejamkan mata, berpura-pura tidur agar tidak perlu menghadapi kecanggungan ini. Namun, ia bisa merasakan tatapan Kafka sesekali menyapu wajahnya saat mobil berhenti di lampu merah.

Perjalanan yang biasanya memakan waktu lama terasa sangat singkat. Mobil SUV itu akhirnya berbelok memasuki garasi rumah Nessa yang terang benderang. Mesin dimatikan. Namun, Kafka tidak langsung membuka kunci pintu mobil.

Naya membuka matanya, menoleh menatap Kafka dengan jantung yang kembali berpacu. Di dalam garasi yang sunyi itu, suara napas Kafka terdengar sangat jelas.

Kafka melepaskan sabuk pengamannya. Pria itu memutar tubuhnya menghadap Naya, menumpukan sebelah sikunya di setir mobil. Jarak di antara mereka kembali menipis.

"Kaf, pintunya..." cicit Naya, suaranya bergetar.

"Jangan menghindariku, Kak Naya," Kafka memotong dengan suara yang nyaris terdengar seperti permohonan, namun dengan dominasi yang kental.

Kafka mengulurkan tangannya, menyelipkan jari-jarinya di sela-sela rambut Naya di tengkuk wanita itu. Sentuhan hangat itu membuat Naya memejamkan mata, membiarkan tubuhnya bersandar pada telapak tangan besar Kafka yang menopang kepalanya.

"Aku tahu Kakak baru saja terluka. Aku tahu ini terlalu cepat," bisik Kafka, mencondongkan wajahnya hingga Naya bisa merasakan embusan napas pria itu yang beraroma mint menerpa wajahnya. "Aku tidak memintamu untuk langsung membalas perasaanku hari ini. Tapi tolong..."

Hidung Kafka nyaris bersentuhan dengan hidung Naya. Bibir pria itu berada hanya beberapa milimeter dari bibir Naya, memancarkan ketegangan yang sangat menyiksa, menggoda Naya untuk menepis jarak yang tersisa.

"...tolong berhenti melihatku sebagai adik sahabatmu. Lihat aku sebagai seorang pria yang sedang berusaha memenangkan hatimu."

Kafka tidak menciumnya. Pria itu berhenti di titik puncak ketegangan, membiarkan hasrat dan kebingungan mendidih di dalam dada Naya. Dengan gerakan yang sangat lambat dan menyiksa, Kafka mengecup pelan kening Naya—sebuah kecupan hangat yang dipenuhi perlindungan dan janji yang tak terucapkan, lalu menarik tubuhnya menjauh.

Bunyi klik terdengar, kunci pintu mobil terbuka.

Kafka tersenyum lembut. "Ayo masuk, Kak Nessa pasti sudah menunggu."

Naya nyaris meloncat keluar dari mobil dengan kaki yang gemetar hebat. Pipinya terbakar hebat, napasnya tersengal seolah ia baru saja berlari maraton. Saat ia melangkah masuk ke dalam rumah menyusul punggung Kafka yang lebar, Naya akhirnya menyerah pada kenyataan. Ia tidak akan pernah bisa melarikan diri dari pesona adik sahabatnya ini. Pria itu baru saja mengibarkan bendera perang, dan Naya tahu, ia sudah kalah bahkan sebelum peperangan itu dimulai.

1
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!