Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.
Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.
Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA PULUH EMPAT
"Kalau alokasi dana riset semester ini dipangkas hingga lima belas persen, bagaimana nasib pengadaan reagen untuk laboratorium, Dekan?"
Suara berat dan monoton milik Rektor Universitas Candrakirana bergema lambat di dalam ruang rapat rektorat lantai tiga yang dingin ber-AC. Pencahayaan lampu kristal yang memantul di atas meja kayu mahoni panjang semakin menambah kesan kaku dan menjenuhkan. Di sekeliling meja, para dekanat dari Fakultas Kedokteran dan Farmasi saling melempar berkas, berdebat kusir mengenai efisiensi anggaran tahunan yang tak kunjung menemui titik terang.
Di salah satu sudut meja utama, Profesor Kaellan Zain Alfatih duduk bersedekap tegap. Raut wajahnya tampak sangat kaku dan tak tersentuh, seolah-olah ia sedang menyimak perdebatan itu dengan tingkat konsentrasi penuh.
Namun, kenyataannya terbalik seratus delapan puluh derajat. Di balik tatapan matanya yang tajam menembus kacamata tipis, pikiran Zain melayang jauh meninggalkan ruangan rapat yang membosankan tersebut. Kepalanya nyaris pecah ditumpangi kecemasan yang membakar jiwa. Jemari tangannya di bawah meja mengepal kencang hingga buku-buku jarinya memutih.
Amara... Kamu ada di mana sekarang? Tanganmu yang tersiram asam itu bagaimana? Apa sudah diobati? jerit Zain dalam hatinya, dipenuhi penyesalan mendalam.
Dekan Fakultas Farmasi membentangkan slide presentasi di layar proyektor. "Saya rasa alokasi pengadaan alat uji praktikum untuk mahasiswa masih bisa ditekan, Pak Rektor. Toh, mahasiswa Farmasi bisa berbagi fasilitas dengan Fakultas Kedokteran."
"Saya tidak setuju, Dekan!" potong Dekan Fakultas Kedokteran cepat dengan wajah mengeras. "Fasilitas kami sudah sangat padat dengan jadwal praktikum kedokteran klinis. Jika dipaksa gabung seperti itu, efektivitas belajar mahasiswa akan berkurang!"
Di sebelah kiri Zain, Silvia menggeser duduknya secara halus agar posisinya makin rapat dengan sang profesor. Silvia tersenyum tipis, lalu menyodorkan secangkir kopi hitam hangat dan selembar dokumen pendukung ke dekat siku Zain.
"Profesor Zain, ini berkas evaluasi laboratorium gabungan yang Bapak minta kemarin," bisik Silvia lembut dengan nada suara yang sengaja dibuat semerdu mungkin, berusaha menarik perhatian Zain. "Kopinya diminum dulu, Profesor. Rapat ini sepertinya masih akan berlangsung lama dan sangat menguras pikiran."
Zain bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah Silvia. Pria itu hanya menggeser cangkir kopi tersebut sedikit menjauh dari jangkauannya dengan gerakan dingin yang amat kentara.
"Simpan berkas itu di meja saya nanti, Bu Silvia," sahut Zain datar, nada suaranya begitu dingin dan berjarak, sama sekali tak membiarkan ada celah untuk basa-basi.
Silvia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa malu dan kesal yang tertahan di balik senyum manisnya yang seketika kaku. Meski begitu, Silvia tidak menyerah. Ia kembali merapikan lembaran kertas di depan Zain, sengaja membiarkan jemari tangannya menyenggol lengan kemeja Zain.
"Saya hanya khawatir Profesor kelelahan," tambah Silvia berbisik, memasang raut wajah penuh perhatian. "Apalagi tadi di laboratorium sempat ada insiden mahasiswa yang ceroboh. Kalau Profesor butuh bantuan untuk merekap laporan praktikum hari ini, saya sangat bersedia membantu sampai malam."
Zain memutar kepalanya lambat, mengunci pandangan Silvia dengan sorot mata yang teramat menusuk dan sarat peringatan tajam.
"Fokus pada rapat ini, Bu Silvia," pangkas Zain kaku dengan penekanan yang tak bisa dibantah. "Urusan rekapitulasi praktikum atau pembelajaran adalah wewenang asisten dosen dan saya pribadi. Tidak perlu mencampuri hal yang bukan tugas Anda."
Silvia tertohok, menyandarkan punggungnya kembali ke kursi dengan wajah memerah menahan malu di hadapan beberapa staf dekanat yang sempat melirik ke arah mereka.
Zain kembali mengalihkan pandangannya ke layar ponsel yang ia letakkan telungkup di atas paha. Ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan singkat masuk dari Jaya.
[Profesor, saya sudah menyisir seluruh area taman belakang dan kafetaria, tetapi Amara belum terlihat. Saya sedang menuju ke area gedung organisasi mahasiswa lantai dasar.]
Zain menghembuskan napas berat yang tertahan di tenggorokan. Rasa frustrasi dan cemas membuat ruang rapat yang dingin itu terasa bagaikan oven panas yang membakar dadanya.
Sementara itu, di dalam ruang sekretariat BEM yang sepi dan tenang, Amara duduk bersandar di sofa kain. Punggung tangan kanannya yang diolesi salep sejuk dari Bayu sudah tidak terlalu perih lagi. Namun, rasa bosan mulai menyerang benaknya karena sudah hampir dua jam ia berdiam diri di tempat tersebut tanpa kepastian.
Pintu kayu sekretariat BEM mendadak terdorong terbuka. Sosok Bayu muncul dari balik pintu dengan senyum lebar menghiasi wajah tampannya. Tangan kanannya membawa sebuah kantong plastik bening yang menguarkan aroma kaldu gurih yang sangat menggoda selera.
"Wajahnya cemberut begitu, pasti bosan ya menunggu di sini?" sapa Bayu ramah, melangkah mendekat dan meletakkan kantong plastik itu di atas meja kayu di depan Amara.
Amara tersenyum tipis, memperbaiki posisi duduknya. "Sedikit, Kak Bayu. Tapi tidak apa-apa, daripada aku bingung mau ke mana lagi di kampus ini."
Bayu mengeluarkan semangkuk bakso hangat lengkap dengan kuah bening yang beruap, dua buah baso, tauge, mie, dan irisan seledri dari dalam kantong. Ia menyodorkan mangkuk sterofom itu ke hadapan Amara beserta sepasang sendok plastik.
"Nih, makan siang dulu," kata Bayu ceria. "Aku bingung mau belikan makanan apa di kantin tadi. Karena tidak tahu makanan favoritmu apa, jadi aku belikan bakso saja. Anak-anak kampus biasanya suka bakso Pak Man di seberang gerbang."
Amara tertegun menatap mangkuk bakso di hadapannya. Hatinya mendadak berdesir halus. Bayu yang notabene hanya senior di BEM begitu perhatian dan tulus merawatnya, sangat berlawanan dengan sikap Zain yang selalu terkesan ketus dan memarahinya di depan umum.
"Aduh, Kak Bayu... Jadi merepotkan begini," sahut Amara canggung namun tersentuh. "Terima kasih banyak ya, Kak. Nanti uangnya aku ganti."
"Hus! Jangan bikin malu ah," potong Bayu seraya tertawa pelan, mendudukkan dirinya di kursi kayu depan meja. "Siapa juga yang minta diganti? Ini murni bentuk perhatian senior kepada adiknya yang sedang musibah. Makan saja sampai habis, biar energimu pulih lagi."
Amara menyendok kuah bakso itu perlahan, meresapi rasa gurih yang hangat menelusuri tenggorokannya. "Enak banget, Kak. Pas sekali karena perutku memang dari tadi sudah berbunyi."
Bayu menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap Amara yang sedang menikmati makanannya dengan pandangan yang amat teduh dan penuh kehangatan. "Lain kali kalau praktikum bahan kimia, harus lebih berhati-hati, Mara. Jangan melamun atau melamunkan hal lain. Untung cuma percikan kecil, coba kalau tumpah satu botol?"
Amara menghentikan sendoknya sejenak, menghela napas tipis. "Iya, Kak Bayu... Tadi aku memang sedikit tidak fokus."
"Ada masalah di kelas? Atau ada hal lainnya yang mengganggu?" tanya Bayu hati-hati, berusaha membaca raut wajah Amara.
"Ah, tidak kok!" sahut Amara cepat dengan senyum yang dipaksakan. "Cuma kecerobohanku sendiri saja."
Bayu tersenyum lembut, mengangguk paham tanpa berniat mendesak Amara lebih jauh. "Ya sudah, selesaikan makanmu. Nanti kalau sudah selesai, aku antar pulang ke tempat kosmu atau ke mana kamu mau."
"Tidak usah, Kak, nanti aku pulang sendiri saja kebetulan aku bawa kendaraan pribadi," tolak Amara halus.
"Tidak ada penolakan, Amara," kekeh Bayu hangat. "Tanganmu sedang sakit begitu, mana tega aku membiarkanmu pulang sendirian."
Di luar gedung sekretariat BEM, keheningan lorong koridor terasa mencekam.
Di balik sebuah pilar beton berukuran besar yang berdiri tak jauh dari pintu sekretariat BEM yang sedikit terbuka, seorang mahasiswi berdiri mematung. Matanya yang tajam menatap lurus ke dalam ruangan melalui celah jendela kaca.
Gadis itu adalah Tari, mahasiswi tingkat tiga dari Fakultas Hukum yang selama dua tahun terakhir secara terang-terangan menaruh hati dan mengejar-ngejar perhatian Bayu.
Tari mencengkeram tali tas kulitnya hingga jemarinya memutih. Dadanya bergemuruh hebat ditumpangi gelombang cemburu dan amarah yang membakar seluruh jalan pikirannya. Sudah hampir satu jam lebih Tari berdiri di sana, mengamati dari jauh bagaimana Bayu merawat tangan Amara dengan teramat lembut, menyuapkan rasa cemas yang tak pernah pemuda itu tunjukkan pada wanita lain, hingga rela berlari ke seberang gerbang kampus hanya demi membelikan semangkuk bakso hangat.
"Kurang ajar..." desis Tari tajam dengan napas memburu, gigi-giginya bertaut rapat menahan geram. "Siapa cewek centil itu? Kenapa Kak Bayu bisa se-perhatian itu sama dia?"
Tari mengepalkan tangannya kencang-kencang saat menyaksikan Bayu tertawa ramah membalas senyuman Amara di dalam sana. Rasa iri dan benci memuncak hingga ke ubun-ubunnya.
"Dasar mahasiswi murahan tidak tahu diri!" gerutu Tari berbisik penuh dendam di balik pilar. "Berani-beraninya kamu mendekati dan memanfaatkan kebaikan Kak Bayu seperti itu! Kamu belum tahu siapa aku di kampus ini..."
Tari menarik napas dalam-dalam, mengukir senyuman sinis yang teramat beracun di sudut bibirnya. Tatapan matanya memancarkan niat jahat yang membara.
"Lihat saja nanti, Amara..." bisik Tari penuh nada ancaman yang dingin. "Aku bakal bikin kamu menyesal setengah mati karena sudah berani mengusik pria milikku!"