Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.
Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 — Malam yang Tak Sama
Di dalam rumah kontrakan kecil itu, lampu meja menyala remang, menerangi ruangan yang sederhana namun penuh dengan jejak perjuangan. Meloudy duduk di depan layar laptop, jari-jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik, menyunting potongan video rekaman gitarnya tadi malam. Wajahnya tampak serius, matanya menatap tajam ke arah layar, memastikan setiap transisi nada, setiap getaran suara, terangkut dengan sempurna — seolah dengan menyempurnakan video itu, ia juga sedang menyempurnakan bagian dari dirinya yang hancur.
Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Perutnya tiba-tiba berbunyi pelan, lalu sekali lagi — lebih jelas, menuntut perhatian. Ia menyadari bahwa sejak siang tadi, ia belum memasukkan apa pun ke mulutnya. Terlalu sibuk menyelesaikan laporan kantor, lalu langsung merekam dan kini menyunting video, sampai lupa bahwa tubuhnya pun butuh tenaga untuk terus bertahan.
"Ah… baru sadar sudah malam begini," gumamnya pelan sambil menepuk pelan perutnya yang kembali berbunyi.
"Kau ya… sabar sebentar lagi, ya."
Meloudy menghela napas pelan, menutup sejenak berkas penyuntingannya. Berdiri perlahan, ia berjalan menuju dapur kecil yang sempit itu, membuka pintu lemari es dengan harapan tipis — namun yang menyambutnya hanyalah kekosongan. Rak-rak di dalamnya bersih, tak ada selembar roti, tak ada sisa masakan, tak ada apa pun selain botol air minum yang sudah hampir kosong. Lemari itu sama kosongnya dengan dompetnya saat ini.
"Kosong lagi…" bisiknya getir, menatap rak-rak yang tak lagi berisi apa pun.
"Sudah, ya. Sudah aku tahu."
Ia menutup pintu lemari es perlahan, bibirnya tersenyum getir. Tentu saja. Uang sisa gajinya sudah habis untuk membayar sebagian biaya rumah sakit ibunya, dan tagihan-tagihan itu terus datang tanpa henti. Tak ada dana lebih untuk membeli makanan enak. Bahkan membeli nasi bungkus pun harus berpikir dua kali.
Namun perutnya semakin menuntut, dan ia tahu ia tak boleh jatuh sakit. Jika ia lemah, siapa yang akan merawat Ibu? Siapa yang akan melunasi utang itu?
"Tak boleh lemah, Meloudy. Kau harus makan," ucapnya tegas pada dirinya sendiri, berusaha mengumpulkan sisa semangat yang ada.
"Sekalian jalan sebentar, biar pikiran sedikit tenang."
Meloudy mengambil jaket tipis yang tergantung di pintu, memakainya menutupi lengan panjangnya hingga ke pergelangan tangan — memastikan tato itu tertutup rapat, tak boleh ada yang melihatnya. Ia merogoh saku celana, mengeluarkan sejumlah uang kertas yang tak banyak, lalu menghitungnya pelan di bawah cahaya lampu. Cukup untuk membeli sebungkus nasi sederhana, atau sekadar roti dan air minum. Itu saja.
"Cukup untuk satu bungkus nasi. Tak apa. Yang penting kenyang," bisiknya pelan, menyimpannya kembali ke saku.
Dengan langkah pelan, ia keluar dari pintu rumah kontrakan itu, menutupnya rapat di belakangnya. Udara malam terasa sejuk dan lembap, sisa hujan yang turun sejak sore tadi. Jalanan di sekitar tempat tinggalnya sudah mulai sepi, hanya sesekali terdengar suara kendaraan yang melintas di kejauhan. Lampu-lampu jalan berpendar kuning remang, menciptakan bayangan panjang di aspal yang masih basah.
Ia berjalan kaki menuju warung kecil di ujung jalan — satu-satunya tempat yang masih buka dan harganya terjangkau. Langkahnya pelan, kepalanya tertunduk sedikit, tangan kanannya terus memeluk lengan kirinya erat-erat, kebiasaan yang tak pernah ia hilangkan. Di jalanan yang sepi itu, ia seolah menyatu dengan kegelapan — seorang wanita yang memikul beban dunia di pundaknya, namun berjalan dengan tenang, berusaha tak membiarkan siapa pun melihat betapa rapuhnya ia sebenarnya.
Sesampainya di sana, bapak penjual warung itu sedang menyeka meja kayu, lalu tersenyum ramah saat melihatnya mendekat.
"Malam, Nona. Mau beli apa?"
Meloudy tersenyum tipis, menatap deretan lauk yang terbatas di etalase kaca itu.
"Malam, Pak. Beli nasi bungkus satu saja. Cukup sama sayur saja ya pak sama tempe goreng."
"Baik, Nona." Bapak itu segera mengambil nasi, menyendok sedikit sayur dan tempe goreng.
"Ini, silakan. 10 ribu rupiah saja."
Meloudy mengeluarkan uang dari sakunya, memberikannya dengan hati-hati.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama. Hati-hati pulangnya."
Saat menerima bungkusan itu, ia mengangguk pelan.
"Semoga cukup mengenyangkan," bisiknya pelan, lalu berjalan perlahan menuju bangku kayu di pinggir jalan tak jauh dari sana.
Di sana, ia duduk sejenak sendirian. Mengeluarkan bungkus rokok sisa dari saku jaketnya — isinya tinggal dua batang lagi. Ia menghela napas panjang, lalu mengambil satu batang, menyalakannya dengan tangan yang sedikit gemetar. Asap tipis mengepul pelan di udara malam yang sejuk, mengikuti hembusan napasnya yang berat, seolah bersama asap itu, ia turut melepaskan sebagian beban yang menumpuk di dadanya.
"Dua batang lagi…" bisiknya pelan menatap sisa bungkusan itu.
"Hati-hati, Meloudy. Hemat."
Ia mengisap perlahan, membiarkan keheningan malam memeluknya. Hanya ada suara jangkrik di kejauhan dan deru kendaraan yang sesekali melintas. Untuk sesaat, ia membiarkan pikirannya kosong — tak memikirkan tagihan, tak memikirkan utang, tak memikirkan apa pun. Hanya duduk, bernapas, bertahan.
Namun tiba-tiba, pandangannya tertuju ke seberang jalan.
Di sana, di bawah cahaya lampu yang berkilauan, sebuah mobil mewah berhenti halus. Pintu terbuka, dan sosok pria yang tak asing baginya melangkah keluar — tegap, berjas hitam yang selalu rapi, wajahnya dingin dan datar. Itu Vano. Atasannya.
Dan di sampingnya, menyandarkan tangan di lengan pria itu, berdiri seorang wanita cantik bergaun merah anggur yang tersenyum lebar, begitu dekat, begitu akrab. Vano tidak menolak, tidak menjauh — ia berdiri diam, membiarkan wanita itu merangkulnya, lalu keduanya melangkah masuk bersama-sama ke dalam klub yang berpendar cahaya itu.
Meloudy menatapnya sekilas, tanpa berkedip, tanpa bergerak. Rokok di jarinya perlahan terbakar, memanjang abunya. Kesadaran yang tenang namun pahit, sejuk seperti udara malam di sekelilingnya.
Dunia mereka memang jauh berbeda, pikirnya pelan, lalu mengalihkan pandangan kembali ke ujung rokok yang menyala itu.
Terserah... Bukan urusanku.
Ia menghabiskan sisa rokoknya dalam diam, mematikannya pelan di tanah, lalu berdiri. Mengambil bungkusan nasi di sampingnya, merapikan jaketnya, dan melangkah pulang — tak menoleh lagi ke arah seberang jalan itu. Biarlah mereka dengan kemewahan dan dunia mereka; ia punya rumah kecil, ibunya yang menanti, dan jalan hidupnya sendiri yang harus ia jalani, sekuat tenaga, seorang diri
^^^Bersambung...^^^
ah cowok kan emang begitu