Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Hai Arni, selamat atas pertunangannya yah!"
"Terimakasih!"
Arni tersenyum kala orang-orang yang ia temui pagi itu memberinya ucapan selamat atas pertunangannya dengan Steven. Arni lalu segera menemui managernya lalu ia dibawa ke sebuah ruangan tempat ia dan model-model lain berganti pakaian maupun riasan. Sebelum ia melakukan pemotretan untuk sampul majalah sebuah produk kecantikan itu ia menghubungi Steven lebih dahulu untuk membatalkan pertemuan mereka, sementara itu Steven sudah dalam perjalanan ke rumahnya.
"Hah? Kenapa tidak memberi tahuku sejak awal?" Tanyanya melalui pesan whatsapp.
"Maaf sayang, aku lupa" balas Arni.
Mengetahui kalau Arni tak berada di rumah ia bergegas memutar kemudi ke arah lain menuju kantornya, selang beberapa puluh menit kemudian saat ia tiba di lampu merah ia bertemu dengan Raisa yang tengah berada di salah satu taxi yang terjebak macet itu.
"Raisa!" Panggilnya dari mobil namun Raisa tak menghiraukannya.
Setelah lampu merah berganti, Steven segera mengikuti kearah mana Raisa akan pergi yang ternyata ke arah makan umum di ujung kota. Setelah wanita itu membayar ongkos perjalanannya ia berjalan memasuki kawasan makam membawa sebuah buket bunga bola putih ke makam ayahnya. Steven juga turun dari mobil. Diam-diam ia memperhatikan mantan kekasihnya itu dari jauh agar keberadaannya tak diketahui Raisa.
"Lama tidak bertemu, Ayah" ucap Raisa tersenyum menyapa ayahnya yang sudah lama pergi.
"Ayah dan Ibu pasti sudah bertemu sekarang, apa disana menyenangkan? Aku disini baik-baik saja, badannya. Hatinya tidak baik, hahaha" tawanya diiringi air mata usai ia duduk memeluk kedua makam keramik yang dijadikan satu itu.
"Aku sangat menderita disini, kenapa kalian tidak membawa ku ikut bersama kalian? Aku tidak mai disini"
"Hikkkksss"
"Hikssss"
"Hikssss"
Isak tangisnya mulai terdengar bahkan oleh Steven sendiri, Raisa tersedu-sedu memeluk makam kedua orang tuanya itu untuk mengutarakan semua yang ia rasakan.
"Lihat ini Ayah, Angga dan Mamanya memukuliku setiap hari hingga bekasnya tidak hilang. Laki-laki itu bahkan menyuruhku untuk mencari cincinnya yang sengaja dibuangnya ke laut. Aku hampir kehilangan nyawaku tanpa identitas, aku takut, AKU TAKUT. Ombak itu membawaku jauh, semakin jauh ke tengah lautan, aku terombang-ambing dengan rasa takut, takut hewan buas di dalam air memakan dan menyiksaku hidup-hidup. Aku takut membusuk tanpa nama, aku takutttt!"
Mata Steven membelalak sempurna bahkan ia hampir ikut menangis saat teriakan Raisa terdengar oleh telinganya, apa yang baru saja diucapkan oleh Raisa bahkan ia bayangkan hingga ia ikut merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Raisa. Lelaki ini langsung masuk kedalam mobil lalu berbalik arah menuju rumahnya, perjalanan yang seharusnya memakan waktu lima belas menit itu tiba-tiba berubah menjadi sepuluh menit, ia keluar dari mobil dengan tergesa-gesa dan penuh amarah hingga wajahnya memerah, bahkan ia lupa untuk menutup pintu mobilnya kembali.
"ANGGA!" Pekiknya meneriakkan nama kakak laki-lakinya itu.
Laluna yang tengah memerintah para pembantu rumah tangganya membersihkan lemari-lemari raksasa di ruang tamu segera berjalan menghampiri Steven yang tampak tersulut emosi itu.
"Steven, ada apa?"
"ANGGA DIMANA, MA? AKU PERLU BICARA DENGANNYA!"
"Angga? Kamu bilang Angga? Ada apa Steven? Kamu kenapa?"
"Aaaahkk, Mama minggir dulu, aku harus bicara dengannya"
Kaki jenjangnya melangkah cepat menuju lantai dua diikuti Laluna yang mengejarnya kebingungan.
"Steven, Kakakmu sudah pergi ke kantor. Dia tidak ada disini!" Seru wanita paruh baya itu sebelum Steven membuka pintu kamar Angga.
Laluna segera menghadang langkah anak bungsunya tersebut, melihat wajah Steven memerah ia mengira kalau Arni dan Angga masih memiliki hubungan.
"Jangan bilang kalau Arni dan Angga"
"Bukan, ini tentang Raisa. Aku harus pergi sekarang"
"Tapi, Steven. Tunggu Nak, Steven!" Laluna tak sempat mendengar alasan Steven marah hari ini, namun mengingat lelaki itu menyebut nama Raisa ia memiliki firasat tidak mengenakkan.
Mobil Steven melaju kencang menuju perusahaan milik kakaknya tersebut tanpa menghiraukan rambu-rambu lalu lintas, entah karena didorong oleh rasa kasihan atau rasa sayang ia penuh amarah setelah mengetahui bahwa Angga telah membuat nyawa Raisa dalam bahaya.
"Sialan, pantas saja Raisa begitu marah dan meminta untuk bercerai dengannya, ternyata dia memiliki niat jahat? Tapi apa alasannya?" Ucapnya marah.
Ia lalu tiba di halaman perusahaan, Angga yang sedang membaca berkas-berkas diatas mejanya tak menyadari kalau saat ini Steven tengah menuju ruangannya dengan tergesa-gesa disertai amarah di dalam dirinya.
"Pagi Pak Steven!" Sapa beberapa karyawan namun ia tak menghiraukan melainkan terus berjalan lebih cepat dari sebelumnya membuat para karyawan berdiri karena penasaran sebab Steven terlihat kesal.
Brakkk
Bunyi pintu yang terbuat dari kaca itu membuat lelaki di balik ruangan itu terlonjak kaget.
"Steven!"
Bhug
"Bajingan kamu!"
Angga memegangi sudut bibirnya yang baru saja mengeluarkan darah segar, keningnya mengerut tak percaya pada apa yang baru saja ia rasakan, adik semata wayangnya yang terkenal begitu lembut dan sopan padanya kini melayangkan tinjunya begitu saja bahkan meneriakkan kata-kata yang kurang mengenakkan sampai terdengar oleh karyawan mereka.
"Steven, apa yang kau lakukan?" Angga yang tak ingin memperkeruh suasana masih berbicara dengan tenang.
"Kamu menyuruh Raisa melompat ke laut? Iya kan? Kenapa? Kenapa kamu melakukan itu? Setidaknya kalau memang kamu tidak menyukainya, jangan lukai dia, segera ceraikan dia agar dia tak menderita lagi bersamamu" jawab lelaki ini tanpa banyak berbasa-basi.
Keduanya saling menatap satu sama lain dengan tatapan kesal, lelaki di kursi roda itu kembali mengingat kejadian tadi pagi saat Raisa terburu-buru pergi dari rumah dengan alasan ingin membeli ponsel baru.
"Owhhh!" Serunya tersenyum menaikkan salah satu sudut bibirnya.
Bhuggg
"Masih berani tertawa kamu?" Pekik Steven kembali memukul kakaknya bahkan kali ini Angga sampai terjatuh dari kursi rodanya.
"Bangun kamu, katakan apa alasanmu ingin membunuhnya!"
"Aku tak melakukan hal itu"
"Jangan mengelak lagi, aku mendengar dengan telingaku sendiri kalau kamu menyuruhnya untuk melompat ke laut untuk mencari cincin, cincin apa?" Tanya Steven lagi, ia lalu menarik lengan baju Angga dan memeriksa setiap jarinya.
"Dimana cincin pernikahanmu? Dimana?"
Angga mengoba mendorong Steven menjauh tapi ia malah mendapatkan pukulan dari adiknya tersebut. Namun karena kakinya tak dapat ia gerakkan ia tak dapat membalas pukulan Steven, yang bisa ia lakukan hanyalah menangkis serangan Steven hingga sopir pribadi Angga datang melerai keduanya.
"Pak, tolong tenang Pak. Para karyawan dapat merekam perkelahian kalian dan reputasi perusahaan ini bisa hancur jika itu terjadi" ucap sopir itu membuat Steven menarik kembali tangannya dari Angga.
Beberapa menit setelah sopir itu meredakan suasana didalam ruangan tersebut dan berhasil membujuk kedua lelaki itu untuk duduk berbicara dengan kepala dingin ia keluar agar keduanya berbicara empat mata.
"Aku penasaran kemana Raisa terburu-buru pergi dari rumah pagi ini, ternyata untuk menemuimu? Dimana kalian bertemu?" Angga bertanya namun disertai senyum menyebalkan yang membuat Steven mengusap kasar rambutnya, ia yang duduk tepat dihadapan Angga membuat matanya menangkap jelas setiap ekspresi yang dikeluarkan oleh lelaki itu.
"Sudah mengaku saja, ahhh atau jangan-jangan Raisa meminta bercerai karena kamu memberi dia akses untuk masuk kembali di kehidupanmu? Iya?" lanjutnya lagi membuat adiknya itu kembali mengepal kedua tangannya dengan marah.
Bhuggg
Tranggggg
Bunyi meja kaca yang berada tepat diantara keduanya, suara pecahan itu bahkan terdengar oleh para pekerja yang bekerja di depan ruangan Angga. Ruangan itu kini begitu berantakan, Angga mencium aroma darah segar dan mendapati tangan Steven mengeluarkan tetesan darah segar.
"Kamu benar-benar seorang lelaki manipulatif, kamu menyalahkan orang lain atas kesalahan mu, apa kamu masih pantas disebut manusia? Apa perlu aku menjadwalkan pemeriksaan kejiwaan untukmu?"
"Apa maksudmu? Bicara yang jelas, Steven!" Serunya dingin namun peduli dengan luka ditangan adiknya itu, meskipun suasana sedang memanas ia berbalik membuka laci lemari dibelakangnya lalu mengeluarkan kotak p3k dari sana. Dilemparnya kotak itu pada Steven dan laki-laki itu menangkapnya dengan mantap.
"Aku mengikuti Raisa ke makam ayah dan ibunya tadi, aku mendengar dia menangis memberi tahu mereka kalau dia menderita menikah dengan mu, dia bilang kau memukulinya dan menyuruh dia mencari cincin kelaut. Cincin apa? Apa kau membuang cincin pernikahan kalian dan menyuruhnya melompat kelaut untuk mengambilnya?" tanyanya sembari membalut tangannya dengan perban di dalam kotak diatas kakinya kini.
Angga terdiam untuk beberapa saat, seolah lidahnya tengah menempel begitu erat di antara langit-langit mulutnya ia tak dapat menjawab pertanyaan adiknya tersebut.