DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Perangkap Tanpa Suara
Pagi di SMA Nusa Bangsa selalu diwarnai oleh riuhnya obrolan para siswa di lorong-lorong kelas. Namun bagi Aira, koridor sekolah terasa tak ubahnya labirin yang penuh tebakan menakutkan. Setiap pasang mata yang menatapnya selalu diiringi bisikan samar—kebanyakan adalah dampak dari gosip yang disebarkan oleh Caren dan teman-temannya.
Aira berjalan cepat menuju kelasnya sambil memeluk erat buku paket Matematika yang tebal. Begitu sampai di depan pintu kelas dua belas IPA 2, langkahnya terhenti.
Meja belajarnya yang berada di sudut belakang tampak penuh dengan coretan spidol hitam. Tulisan-tulisan seperti "Cewek Numpang", "Babu Bertopeng Tunangan", dan "Tahu Diri Dong!" mengotori permukaan mejanya yang putih.
Beberapa siswi yang duduk di barisan depan saling berbisik sambil melirik Aira dengan senyum ejekan. Caren, yang kebetulan sedang duduk di atas meja guru sambil mengikir kuku jarinya, menatap Aira dengan pandangan menang.
"Aduh, kasihan banget ya mejanya kotor begitu," celoteh Caren dengan suara berpura-pura prihatin yang dibuat-buat. "Siapa sih yang iseng banget? Tapi ya... daripada kotor di hati, mending kotor di meja, kan?"
Aira hanya bisa berdiri mematung di samping mejanya. Tenggorokannya terasa tersumbat, matanya mulai memanas menahan air mata yang hendak menetes. Sifat penakut dan mudah diintimidasi membuat Aira tak sanggup mengeluarkan satu kata pun untuk membela diri. Ia meremas pinggiran rok seragamnya, menunduk dalam-dalam sambil mengambil kain lap lusuh dari tasnya untuk membersihkan coretan itu sendiri.
"Ada yang merasa lucu dengan bercandaan murahan seperti ini?"
Suara berat, tenang, dan tegas tiba-tiba menggema dari arah pintu kelas.
Seluruh isi kelas seketika hening. Caren yang tadinya tersenyum tinggi langsung menghentikan kegiatannya mengikir kuku. Darel berdiri di ambang pintu dengan postur tubuh yang tegap dan wajah tanpa ekspresi ramah yang biasanya ia tampilkan.
Darel melangkah masuk, mengabaikan tatapan terpesona beberapa siswi lain. Ia berjalan lurus menuju meja Aira, lalu merebut kain lap lusuh dari tangan Aira yang gemetar.
"Kak Darel..." bisik Aira terkejut, matanya yang basah mendongak menatap Darel.
Darel tidak menjawab Aira terlebih dahulu. Ia berbalik, menatap Caren dan seluruh penghuni kelas dengan pandangan yang dingin dan penuh intimidasi yang halus.
"Siapa pun yang bikin coretan ini, gue kasih waktu sampai istirahat pertama buat bersihkan sampai mengilap," kata Darel datar, suaranya tidak keras namun punya penekanan yang membuat suasana kelas mendadak mencekam. "Kalau enggak ada yang mengaku, gue sendiri yang bakal minta CCTV koridor diputar di ruang Kepala Sekolah jam sepuluh nanti."
Mendengar ancaman CCTV dari Darel, wajah dua orang siswi teman geng Caren seketika pucat pasasi. Caren sendiri melipat tangannya di dada, mendengus kesal meski matanya menyiratkan rasa takut terungkap.
Darel lalu menarik kursi Aira dengan sangat sopan. "Aira, kamu ikut saya ke perpustakaan. Kita belajar di sana saja sampai bel masuk."
"Tapi Kak... tas aku—"
"Biar saya yang bawakan," potong Darel halus. Tanpa ragu, Darel mengambil tas sekolah Aira, menyampirkannya di bahunya sendiri, lalu menuntun Aira keluar dari kelas yang hening itu.
Di taman belakang sekolah dekat bangunan perpustakaan yang sepi, Darel mendudukkan Aira di salah satu bangku kayu di bawah pohon rindang. Pria itu menyodorkan sebotol air mineral dan selembar tisu bersih untuk Aira.
"Jangan menangis, Aira. Kamu enggak pantas merendahkan diri cuma karena kelakuan orang-orang dangkal seperti mereka," tutur Darel lembut, duduk tepat di samping Aira. Tangannya terangkat, mengusap bekas air mata di pipi Aira dengan sangat lembut menggunakan tisu.
Aira tertegun. Jantungnya berdegup kencang karena kehangatan yang Darel berikan. "Makasih banyak ya, Kak Darel... Kalau enggak ada Kakak, aku pasti udah dipojokkan terus..."
Darel tersenyum sangat manis, namun tatapan matanya begitu dalam dan memenjarakan.
"Aira, kamu tahu kenapa mereka tega memperlakukan kamu seperti itu?" tanya Darel pelan, suaranya bernada seperti seorang penasihat yang sangat peduli.
Aira menggelengkan kepala polos. "Karena... karena aku miskin, Kak? Karena keluarga aku bangkrut?"
Darel menggeleng pelan. "Bukan. Itu semua karena Vino."
Nama Vino yang disebut mendadak membuat Aira menegang.
"Vino yang membiarkan kamu diinjak-injak, Aira," lanjut Darel, menanamkan doktrin halus ke dalam pikiran cewek yang rapuh itu. "Vino pacaran sama Caren di depan umum, memamerkan kemesraan mereka, dan membiarkan Caren merasa punya hak buat menindas kamu. Vino sama sekali enggak pernah menghargai kamu. Bagi Vino, kamu cuma jaminan utang yang bisa dia suruh-suruh sesuka hati."
Aira menunduk dalam-dalam. Setiap kalimat yang diucapkan Darel terasa seperti kebenaran pahit yang memang ia rasakan setiap hari. Rasa sakit dan kecewa pada Vino makin menancap dalam di dadanya.
"Di dunia ini, enggak ada orang yang bisa kamu percaya di rumah itu selain saya, Aira," bisik Darel makin mendekatkan posisinya, meraih kedua telapak tangan Aira yang dingin lalu menggenggamnya erat. "Teman-teman di sekolah ini cuma memanfaatkan kekurangan kamu. Vino cuma menganggap kamu benalu. Tapi saya... saya beda. Saya di sini buat lindungi kamu."
Aira menatap mata Darel dengan kepolosan penuh. Rasa takut yang selama ini menghimpitnya seolah sirna setiap kali ia berada di dekat Darel. "Kak Darel beneran enggak akan ninggalin aku?"
"Gak akan pernah," jawab Darel mantap, diselingi senyuman hangat yang sangat memikat. "Tapi kamu harus janji sama saya. Kalau ada apa-apa, kalau Vino jahat lagi sama kamu, kamu harus cerita ke saya duluan. Jangan simpan sendiri, dan jangan pernah percaya kalau tiba-tiba Vino pura-pura baik sama kamu. Paham?"
Aira mengangguk pelan tanpa ragu. "Iya, Kak. Aku janji."
Dari balik dinding lorong perpustakaan yang tak jauh dari sana, berdiri seorang cowok dengan seragam yang dikeluarkan dan tangan yang mengepal di dalam saku celananya.
Vino.
Vino sebenarnya bermaksud menyusul Aira setelah mendengar kabar dari teman kembarnya bahwa Darel mengamuk di kelas Aira gara-gara meja yang dicoret-coret. Niat awal Vino adalah untuk mengomeli Aira karena lagi-lagi membuat drama di sekolah.
Namun, langkah kaki Vino terhenti begitu melihat pemandangan di bawah pohon: Darel yang sedang menggenggam erat kedua tangan Aira, dan Aira yang menatap Darel dengan binar penuh rasa percaya—sebuah tatapan yang belum pernah Aira berikan padanya.
Vino mengepalkan tangannya rapat-rapat sampai buku jarinya memutih. Rasa panas yang membakar dadanya semalam di supermarket kembali hadir, bahkan jauh lebih bergejolak. Rasa gengsinya tersenggol hebat.
Cewek tolol, batin Vino menggeram tajam, matanya menatap sengit ke arah Aira. Lu mikir Darel itu pahlawan lu?! Lu gak tahu aja siapa dia sebenarnya!
Vino memutar badannya dengan kasar, menendang kaleng minuman bekas di lantai koridor hingga menimbulkan bunyi nyaring, lalu berjalan menjauh dengan amarah yang mendidih tanpa ia pahami sebabnya.