Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 DURI DI BALIK GERBANG
Gerbang kayu jati tua berukir klasik di kawasan Ciumbuleuit itu berderit pelan ketika Raka Ardian mendorongnya masuk pada pagi menjelang siang. Di balik gerbang tersebut, terbentang halaman luas yang dipenuhi rimbunnya tanaman bunga soka, pohon kamboja tua, dan sebuah rumah utama berarsitektur peninggalan kolonial Belanda dengan pilar-pilar putih tinggi yang megah. Di bagian belakang halaman, berdiri sebuah pendopo kayu kecil yang asri—tempat tinggal baru Raka sesuai permintaan Tuan Wiratman.
Namun, belum sempat Raka menurunkan ransel dari bahunya, pintu utama rumah besar itu terbuka dengan entakan keras. Seorang gadis muda berambut panjang yang diikat ekor kuda dengan balutan kemeja flanel longgar dan celana jins belel melangkah keluar dengan langkah menghentak. Wajahnya tampak kusut, sorot matanya menyiratkan kejengkelan tingkat tinggi, dan bibirnya mengerucut tajam.
"Hei! Kau siapa? Kenapa tiba-tiba masuk ke halaman rumah orang tanpa izin?!" sergah gadis itu dengan suara tinggi, menatap Raka dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik yang penuh rasa curiga dan meremehkan.
Raka menghentikan langkahnya, menatap tenang gadis di hadapannya. Ia tahu seketika bahwa gadis ini pastilah Nadia, keponakan Tuan Wiratman yang harus ia jaga.
"Nama saya Raka," jawab Raka sopan. "Saya diutus oleh Tuan Wiratman dan Bu Sinta untuk tinggal di pendopo belakang dan..."
"Oh, jadi kau pengawal baru yang dikirim paman dan bibiku itu?" potong Nadia cepat dengan nada ketus, melipat kedua tangannya di dada. Ia mendengus sinis. "Dengar ya, Tuan Pengawal Desa, aku tidak butuh pengawal, apalagi anak muda sok pahlawan yang dikirim untuk memata-matai gerak-gerikku! Aku bisa menjaga diriku sendiri. Silakan ambil ranselmu dan pergi dari sini sebelum aku panggilkan keamanan kompleks!"
Raka menghela napas panjang, merasakan urut di pelipisnya mulai berdenyut. Selama hidup di Desa Ciherang hingga merantau ke Bandung, ia sudah menghadapi berbagai macam orang galak, preman jalanan, hingga koruptor licik. Tapi menghadapi gadis keras kepala dan angkuh seperti Nadia benar-benar ujian kesabaran tingkat baru yang menguras emosi.
"Saya diperintah langsung oleh pamanmu untuk memastikan keamananmu dari incaran Prabu Baskara, Nona Nadia," ucap Raka dengan nada sabar yang tertahan. "Bukan untuk memata-mataimu."
"Aku tidak peduli!" tukas Nadia tajam. "Aku benci diatur, aku benci dikawal, dan aku paling benci orang asing yang tiba-tiba tinggal di halaman belakang rumahku! Anggap saja kau tidak pernah datang ke sini."
Tanpa menunggu jawaban Raka, Nadia berbalik badan dengan kibasan rambutnya yang dramatis dan membanting pintu rumah utama dengan suara keras.
Hari-hari berikutnya di Ciumbuleuit berjalan dengan penuh drama bagi Raka. Nadia terbukti benar-benar gadis yang keras kepala, mandiri secara berlebihan, dan hobi meremehkan orang lain. Setiap kali Raka mencoba membawakan sarapan buatan bibinya atau sekadar mengingatkan Nadia untuk tidak berjalan sendirian di luar galeri seni malam-malam, Nadia selalu menanggapinya dengan sindiran pedas atau tatapan sinis.
"Dia benar-benar seperti duri mawar yang cantik tapi penuh duri tajam," batin Raka sering kali mengelus dada sambil merapikan halaman pendoponya.
Namun, benteng keangkuhan Nadia perlahan-lahan mulai runtuh seiring berjalannya waktu melalui rentetan insiden tak terduga.
Puncaknya terjadi pada suatu sore ketika hujan badai melanda kawasan Ciumbuleuit. Nadia sedang sendirian di dalam galeri seni miliknya di bagian depan rumah ketika tiba-tiba saluran pipa air utama mendadak pecah akibat sambaran petir, memuntahkan air deras yang membanjiri lantai galeri dan mengancam puluhan lukisan kanvas mahal miliknya yang diletakkan di rak bawah.
Nadia panik setengah mati. Ia berteriak-teriak meminta tolong sambil berusaha menyelamatkan lukisan-lukisannya seorang diri hingga terpeleset jatuh di lantai yang licin.
Mendengar teriakan panik dari rumah utama, Raka berlari kencang menerobos hujan lebat tanpa payung. Begitu mendobrak pintu galeri yang macet, ia melihat Nadia terduduk di lantai basah sambil menangis histeris karena beberapa lukisan kesayangannya terendam air kotor.
Tanpa membuang waktu, Raka bertindak cekatan. Dengan tenaga dalamnya, ia menutup keran saluran utama di dinding luar dalam hitungan detik, lalu bergerak cepat mengangkat seluruh kanvas lukisan ke tempat yang lebih tinggi sebelum air merusaknya lebih parah. Setelah itu, ia menghampiri Nadia yang masih shock dan mendapati pergelangan kaki gadis itu terkilir cukup parah.
"Jangan banyak bergerak," suara Raka terdengar tegas namun menenangkan saat ia berlutut di hadapan Nadia.
Nadia, yang biasanya selalu membentak dan menolak bantuan, kali ini hanya bisa terdiam kelu. Air matanya bercampur dengan sisa air hujan di pipinya. Sambil menahan malu, ia membiarkan Raka memijat lembut pergelangan kakinya yang bengkak menggunakan teknik penyembuhan tradisional yang menenangkan. Dalam beberapa menit saja, rasa sakit di kaki Nadia berangsur lenyap.
Malam itu, di dalam ruang galeri yang temaram, untuk pertama kalinya Nadia menatap Raka tanpa ada kilatan arogansi di matanya. Bibirnya yang biasa melontarkan kata-kata pedas kini terbuka perlahan, mengucapkan kalimat yang hampir mustahil keluar dari mulutnya: "Terima kasih, Raka... dan... maafkan aku selama ini."
Raka tersenyum tipis, menyodorkan segelas air hangat kepada gadis di hadapannya. Di balik benteng keras kepala dan sifat angkuhnya, Nadia ternyata menyimpan kerapuhan seorang gadis muda yang ketakutan. Dan malam itu, di bawah atap yang sama, jarak di antara mereka terpangkas jauh, merajut benih-benih kedekatan yang tulus di tengah badai ancaman yang mengintai.