Satu malam penuh gairah dengan pria asing bak dewa Yunani mengubah hidup Lara selamanya. Gadis yatim piatu yang polos itu terbangun keesokan paginya—ditinggalkan, dengan setumpuk uang dan sebuah nota. Yang tak ia sadari: dari malam itu, ia mengandung benih seorang penguasa dunia bawah tanah.
Nikolai Pushkin, Don Bratva paling ditakuti di Rusia, tak pernah bisa melupakan "malaikat"-nya. Tiga tahun ia dihantui aroma dan bayang perempuan yang merenggut kendali dirinya—sampai takdir mempertemukan mereka kembali, dan Nikolai menemukan kenyataan yang mengguncang: ia punya seorang putra. Pewaris yang tak pernah ia duga.
Namun mencintai seorang raja mafia berarti masuk ke sarang serigala. Tunangan yang terobsesi, aliansi politik yang mematikan, dan musuh dari masa lalu yang paling kelam siap menghancurkan segalanya. Nikolai bersumpah akan melawan langit dan bumi demi keluarganya—bahkan jika itu berarti melepaskan takhtanya.
Sanggupkah cinta yang lahir dari satu malam bertahan di dunia yang dibangun di atas darah, kuasa, dan pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jessilane Santos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
POV Lara
Setelah mertuaku pulang, aku bermain dengan Gael di ruang bermain yang Nikolai siapkan untuk anak kami. Kuambil bola dan kuserahkan padanya. Setelah puas bermain, aku menyuapi si kecil makan siang. Nikolai mengabari bahwa ia sedang rapat dan baru pulang malam. Kuambil satu sendok penuh nasi dengan potongan daging kecil-kecil dan kusuapkan padanya. Setelah anakku kenyang, giliranku makan. Gael bermain mobil-mobilan di kursi makannya sementara aku makan siang. Kursi itu benda terbaik yang dibeli Nikolai, aku tak ragu soal itu.
"Kita mandi, yuk?"
"Iyaaa!" seru Gael.
"Kita ambil bebek-bebekannya?"
"Manusa Laba-laba," ucapnya.
"Iya, sama Spider-Man juga, Sayang."
"Nembak jaling," katanya.
Aku tertawa. Gael suka para pahlawan super—Spider-Man, Hulk, dan Iron Man adalah favoritnya, dan tentu saja dinosaurus juga. Kugendong pangeranku dan kami pergi mandi. Kubawa mainan-mainan baru pemberian kakek-neneknya ke bak mandi. Kuisi air hanya setinggi empat jari, sebatas pinggangnya, dan kumasukkan bebek-bebek yang bisa berenang serta para pahlawan super. Gael memekik-mekik dan bermain dengan mereka. Ketika kulihat ia mulai kedinginan, kuangkat dan kupakaikan celana santai serta kaus lengan panjang, lalu kutidurkan sambil ia memeluk T-Rex-nya. Beberapa menit kemudian ia tertidur. Kupasang alat pemantau bayi lalu ke kamarku untuk mandi, sebab Gael membuatku basah kuyup. Setelah mandi yang menyegarkan, aku keluar kamar mandi dan menemukan kekasihku duduk di ranjang hanya mengenakan celana bahan.
"Kukira kau baru pulang malam," ucapku.
"Aku rindu! Aku tak akan tahan sampai malam."
"Aku akan pura-pura percaya."
Aku berkata menggoda, dan ia bangkit.
"Aku keluar dari rapat cuma untuk bersama kalian."
"Kau tak boleh begitu, Sayang."
"Aku bosnya, Sayang, aku bisa melakukan apa saja."
Ia berkata sambil tertawa.
"Kau konyol."
"Aku mampir ke kamar anak kita dan melihatnya tidur."
"Aku selalu menidurkannya sebentar setelah makan siang, itu sudah jadi kebiasaannya."
"Aku khawatir."
Ia berkata serius, dan aku tertawa.
"Anak kita baik-baik saja, Sayang, jangan khawatir."
"Bisakah kau menunjukkan foto-fotonya waktu bayi?"
Ia berkata dengan suara pelan, tapi masih bisa kudengar. Aku tak menjawab, masuk ke lemari, dan berpakaian. Kupakai gaun longgar lalu ke kamar Gael dan mengambil album yang kubuat sejak ia masih dalam kandungan. Aku duduk di sisi Nikolai dan menyerahkannya.
"Ada foto dari usia kandungan tujuh bulan sampai sekarang. Foto terakhirnya saat ia genap dua tahun."
Kulihat tangannya gemetar. Ia mengambil album itu dan meletakkannya di pangkuannya. Ia menatap foto perut hamilku, dan kulihat air mata mengalir di wajahnya.
"Aku tak bisa membayangkan apa yang harus kaulewati untuk sampai di sini, tapi aku berjanji, tak ada apa pun di dunia ini yang akan memisahkan kita, Sayang, tak ada."
Aku menyeka air matanya.
"Itu bukan salahmu, kau tak menelantarkan kami, Nikolai, kau tak perlu begini."
"Seandainya aku mengikuti kata hatiku dan membawamu—walau dengan paksa—saat pertama kali kita bertemu, aku takkan kehilangan semua ini."
Ia terisak, dan kupeluk ia. Ia mengelus wajah mungil Gael di foto saat ia baru berusia lima hari, dan kudekap ia.
"Kau akan mengalami semua ini, Gael baru dua tahun. Kenangan yang akan ia miliki adalah tentang ayah yang hadir, dan itulah yang penting. Sekarang kau bersamanya, memberinya cinta dan kasih sayang, akan mengajarinya bermain bola, naik sepeda! Dan soal masa lalu, itu takkan bisa kembali, tapi kau akan punya kesempatan mendampingi kehamilanku untuk anak-anak kita berikutnya."
Ia menatapku dengan wajah bersimbah air mata dan memelukku.
"Aku mencintaimu, malaikatku."
"Aku mencintaimu."
Aku mencium bibirnya, dan ia tersenyum. Melihatnya begitu hancur menghancurkanku juga. Kami tak bersalah atas masa lalu! Kami bersama sekarang, dan kami akan melewati semua yang telah terjadi.