NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Gendut, Dipilih Menjadi Ibu

Dibuang Karena Gendut, Dipilih Menjadi Ibu

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Romansa pedesaan / Cewek Gendut / Cerai / Tamat
Popularitas:168.3k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.

Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.

Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.

Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.

Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.

Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.

"Kita menikah!"

Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.

Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Perubahan Elden

Arven masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tidak lepas dari Mireya yang sedang mencangkul di kejauhan.

“Jadi selama aku pergi, dia terus melakukan itu?”

Pak Can mengangguk. “Hampir setiap hari, Tuan.”

“Hampir?”

“Kalau hujan terlalu deras, Nyonya biasanya tidak pergi ke kebun. Tetapi selain itu, bahkan ketika matahari bersinar dengan sangat terik, beliau selalu keluar bersama Tuan Muda Elden.”

Arven mengernyit. “Setiap hari?”

“Iya.”

Arven kembali melihat ke arah kebun.

Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat beberapa bagian lahan yang sebelumnya dipenuhi tanaman liar kini sudah jauh lebih rapi.

Ia bahkan tidak menyadari perubahan itu. Selama beberapa minggu terakhir, pikirannya terlalu dipenuhi urusan tanah di provinsi lain.

Namun, ternyata selama ia pergi, rumahnya justru mengalami perubahan yang cukup besar.

“Dia mengerjakan semuanya sendiri?”

“Tepat sekali, Tuan.”

“Kenapa dia tidak meminta pekerja yang ada untuk membantunya?”

Pak Can tersenyum tipis. “Nyonya bilang ingin mengenal tanahnya sendiri terlebih dahulu.”

Arven mengulangnya kembali dalam pikiran.

'Tanahnya sendiri?'

Perkataan itu membuatnya sedikit heran.

Mireya datang ke rumah ini sebagai seseorang yang akan mengurus Elden. Bukan sebagai pengelola perkebunan. Namun, perempuan itu justru malah menghabiskan waktunya di lahan terbengkalai.

"Bagaimana Elden? Tanyanya memastikan keadaan putranya yang setiap hari dibawa keluar di bawah teriknya matahari.

"Dia baik-baik saja, Tuan. Bahkam, sekarang setiap makan, dia begitu lahap. Mungkin karena energinya sudah terkuras seharian main," terang Pak Can.

“Dia tidak mengeluh?”

“Tidak pernah.”

“Tidak pernah?” Arven cukup terkejut mendengar kabar putranya sampai begitu berubah.

"Benar, Tuan. Hanya saja saat ini kulit putra Anda sedikit merah," ucapnya menahan senyum.

"Lalu bagaimana dengan dia?" Arven hanya memberi kode dengan gerakan kepala.

"Nyonya Mireya, Tuan?" tanya Pak Can memastikan.

"Hmmm ..."

“Sesekali Nyonya hanya mengeluh pegal.”

Arven melirik Pak Can. “Pegal? Apa perlu diantar ke dokter?”

Pak Can hampir tersenyum.

“Kalau hanya karena mengeluh pegal dibawa ke dokter, mungkin Nyonya tak akan pernah keluar untuk bekerja lagi, Tuan."

Arven tidak menjawab. Pandangan keduanya kembali tertuju pada kebun. Mireya baru saja berhenti mencangkul.

Ia menyandarkan kedua tangannya pada gagang cangkul sambil menarik napas panjang.

Elden berlari menghampirinya. Anak itu mengatakan sesuatu. Mireya kemudian mengusap kepala Elden.

Beberapa detik kemudian, keduanya tertawa.

Arven memperhatikan pemandangan itu dengan tatapan sulit dibaca.

“Sekarang Elden tampak berbeda sekali,” gumamnya pelan.

Pak Can langsung memahami maksudnya. “Benar sekali, Tuan. Elden sudah jauh berbeda.”

“Seberapa jauh?”

“Anda lihat sendiri bukan? Dulu bahkan dia sulit diajak keluar rumah.”

Arven mengangguk. Ia tahu hal itu. Sudah bertahun-tahun berbagai cara dilakukan untuk membuat Elden mau berinteraksi dengan orang lain.

Namun anak itu selalu menolak.

“Sekarang?” Pak Can menunjuk ke arah kebun. “Sekarang Elden bangun pagi hanya untuk mengajak Nyonya berkebun.”

Wajah Arven kembali mengernyit. “Setiap pagi?”

“Bahkan kalau Nyonya masih di kamar mandi, Tuan Muda akan menunggu di depan pintu.”

Alis Arven sedikit terangkat. “Menunggu?”

“Iya.” Pak Can menahan tawa ketika mengingatnya.

“Pernah suatu pagi Nyonya sedang mandi agak lama. Tuan Muda duduk di depan kamar sambil membawa boneka gajahnya.”

Arven menatapnya. “Lalu?”

“Katanya, ‘Ibu lama sekali.’”

Arven sedikit mengembuskan napas. Entah kenapa, mendengar cerita itu membuatnya merasa sedikit aneh.

Dulu Elden hanya mencarinya. Sekarang anak itu justru menunggu Mireya.

“Selain berkebun, apa yang mereka lakukan?”

“Banyak.”

“Contohnya?”

Pak Can mulai menghitung dengan jari. “Bermain di kebun. Mencari serangga. Mengumpulkan batu. Menanam bibit. Kadang Nyonya membacakan cerita.”

Arven mengangguk pelan.

Pak Can tersenyum melihat reaksi Arven. "Tidak hanya itu, Tuan. Sekarang Elden pun sudah mau mencoba makan sayur meskipun sedikit."

“Kok bisa?”

“Soalnya, Nyonya sangat keras soal sayur.”

Arven menatap Pak Can. “Keras? Apa yang dia lakukan pada anakku?”

*bersambung*

Siapa yang nggak bakalan pangling coba?

1
Erna Masliana
tamat... bagus ceritanya
Erna Masliana
ya tujuanmu apa .. awalnya kan anak.. kenapa tiba-tiba serakah.. balik lagi cuman anak aja jangan ganggu rumah tangga orang gak baik
Erna Masliana
Pendem terus sampe bisulan
Erna Masliana
kamu pernah menikah juga bedanya kamu beneran putus hubungan dg mantan.. yang ini mantan serakah ingin merebut posisimu.. jadi kamu harus lebih pintar
Erna Masliana
baguslah Mireya mulai pinter
Erna Masliana
s serakahnya
Erna Masliana
Nindy pengangguran apa lagi cuti
Erna Masliana
kamu jebak Arven biar sampe hamil punya anak berharap jadi nyonya tapi hasilnya tak sesuai ekspektasi mu gitu... kenapa tidak move on..
Erna Masliana
dari sekian banyak murid..aneh banget bisa semuanya terpengaruh.. padahal anak anak tuh biasanya ngeyel loh
Erna Masliana
mamvus... kalo mau bertemu anak ..ya baik baik bertamu dg benar.. ini mah niatnya udah bukan anak lagi tapi keserakahan
Erna Masliana
maksa.. inti na mah..teu bogoh..teu hayang..bogohna ka Mireya
Erna Masliana
ganggu bae s Mireya
Erna Masliana
heh..jauh y
Erna Masliana
Pak Can bijak 👍
Erna Masliana
salahkan dirimu sendiri tidak mau jujur
Erna Masliana
tinggal bilang apa susahnya.. palingan jadi majikan lagi.. jangan buat orang yang menampung dan membela mu kelihatan bego di mata mantan keluarga bejatmu
Erna Masliana
jujur aku gak ngerti..masa Iddah itu di hitung setelah ketok palu atau kata talak?? terus yang namanya sidang perceraian setauku tidak ada yang sehari beres..sepupuku aja perlu 6bulan 3 kali sidang sampe ketok palu..kalo dalam Islam ya dihitung dari kata talaknya suami bukan dari ketok palu deh kayaknya
SoVay: boleh dbaca sampai selesai y kak, ceritanya udah tamat 🙏🍅
total 1 replies
Erna Masliana
ih hayang nga geplak s Mireya.. bertele tele..aku orangnya gak sabaran 😛
Erna Masliana
ya banyak.. karena kamu gak cari tau..gak nanya dg benar..kamu juga punya rahasia... jangan marah
Erna Masliana
greget ih...Mireya terlalu lemah.. sampe harus di bela anak kecil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!