NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 KESABARAN TAK TERBATAS

Gema dari langkah kaki Asmara yang menjauh di koridor kelas masih tertinggal di telinga Wira, berputar-putar seperti kaset rusak yang diputar berulang kali.

Sisa jam istirahat itu dihabiskan Wira dengan duduk mematung di kursinya. Pikirannya kacau balau.

Kalimat terakhir gadis itu—“Karena yang Mas butuhkan saat ini bukan musuh untuk dilawan, tapi teman untuk mendengarkan”—telah merobohkan dinding pertahanan Wira dengan cara yang paling memalukan.

Ketika bel masuk berbunyi dan murid-murid Kelas XI IPS 2 kembali berhamburan ke dalam ruangan, Wira buru-buru memasang kembali topeng angkuhnya. Ia melipat tangan di dada, membuang pandangan ke luar jendela, dan berpura-pura tidak mempedulikan kehadiran Asmara yang kembali duduk di sebelahnya dengan keanggunan yang tak luntur sedikit pun.

Namun, Wira Aji Pratama bukanlah tipe pemuda yang mudah mengibarkan bendera putih.

Rasa gengsi yang mengakar kuat di dadanya menolak untuk tunduk pada analisis psikologis dadakan dari seorang gadis yang baru dikenalnya.

Jika rencana kasarnya hari ini gagal, Wira berjanji pada dirinya sendiri akan menggunakan taktik gerilya. Ia akan menguji batas kesabaran Asmara hingga tetes terakhir.

Dan begitulah...

Hari-hari berikutnya di SMA Budi Bangsa berubah menjadi arena uji nyali sepihak bagi Wira.

🤣🤣🤣🤣🤣

.....

.....

Pada hari Rabu, Wira memulai taktik barunya.

Saat Asmara sedang pergi ke perpustakaan pada jam istirahat, Wira diam-diam mengambil kotak pensil kaleng milik gadis itu dan menyembunyikannya di dalam laci meja bagian paling dalam, tertumpuk di balik buku-buku tebal miliknya sendiri.

Wira duduk santai, menunggu reaksi panik Asmara saat gadis itu kembali dan bersiap mengikuti ulangan harian Sosiologi.

Namun, saat Asmara menyadari kotak pensilnya hilang, tidak ada raut panik di wajahnya. Ia tidak membongkar laci dengan kasar atau bertanya ke sana kemari dengan nada menuduh. Asmara hanya terdiam sejenak, menatap meja yang kosong, lalu tersenyum kecil.

"Sepertinya alat tulis saya sedang ikut istirahat," gumam Asmara pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Gadis itu kemudian menoleh ke belakang, meminjam sebatang pensil dari Nisa dengan sopan. Sepanjang ulangan, Asmara mengerjakan soal dengan tenang menggunakan pensil pinjaman itu.

Wira yang duduk di sebelahnya justru merasa seperti orang bodoh.

Benar-benar merasa semakin bodoh dan goblok.

🤣🤣🤣🤣🤣

Ia merasa sedang meninju ruang hampa.

Rasa bersalah yang aneh merayap di dadanya, memaksanya untuk diam-diam mengembalikan kotak pensil itu ke dalam laci meja Asmara keesokan paginya sebelum gadis itu datang.

.....

.....

Pada hari Kamis, Wira mencoba cara yang lebih kekanak-kanakan.

Saat pelajaran Sejarah yang membosankan sedang berlangsung, Wira sengaja menjulurkan kaki panjangnya di bawah meja hingga sepatunya menyentuh ujung sepatu Asmara.

Bukannya menarik kaki, Wira justru mulai mengetuk-ngetukkan sol sepatunya ke sepatu gadis itu dengan ritme yang mengganggu.

Asmara menunduk, melihat ulah kaki Wira di bawah meja. Wira sudah bersiap mendengar desisan marah atau setidaknya melihat Asmara menggeser kursinya dengan kasar.

Namun, Asmara justru menoleh menatap Wira dengan raut wajah penuh simpati.

Ia merogoh saku roknya, mengeluarkan sebotol kecil minyak kayu putih, lalu meletakkannya di atas meja Wira.

Kedua mata Wira menyipit heran seketika.

"Kaki Mas Wira kram? Kalau pegal atau kesemutan, digosok minyak kayu putih saja, Mas. Mungkin Mas kurang pemanasan waktu olahraga tadi pagi," bisik Asmara dengan nada khawatir yang begitu tulus.

"HAAAAAHHHHH?????" BATIN WIRA.

🤣🤣🤣🤣🤣

Wajah Wira seketika memerah padam, persis seperti kepiting rebus yang tak laku dijual.

Ulah jahilnya sama sekali tidak dianggap sebagai sebuah gangguan, melainkan dianggap sebagai masalah kesehatan!!!

😭😭😭😭😭

Beberapa teman di meja depan yang tak sengaja mendengar bisikan Asmara tampak menahan tawa.

Dengan gengsi yang hancur lebur, Wira buru-buru menarik kakinya dan menggeser minyak kayu putih itu kembali ke meja Asmara tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tingkah Wira selalu dimentahkan. Setiap kali ia melemparkan batu kerikil ke arah telaga ketenangan Asmara, batu itu hanya tenggelam tanpa suara, tidak pernah berhasil menciptakan gelombang besar.

.....

.....

Dan seiring berjalannya hari, tanpa disadari oleh Wira, misi mencari perhatian itu perlahan berubah wujud menjadi sebuah obsesi yang membingungkan.

Wira mendapati dirinya menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengamati Asmara daripada memikirkan cara untuk mengganggunya.

Ia mulai hafal kebiasaan-kebiasaan kecil gadis itu.

Ia tahu bahwa Asmara selalu menyelipkan anak rambut ke belakang telinga kanannya setiap kali sedang fokus membaca.

Ia tahu bahwa Asmara tidak pernah meminum air es, melainkan selalu membawa bekal botol minum berisi teh melati hangat yang wanginya selalu menguar setiap kali tutupnya dibuka.

Ia juga tahu bahwa setiap kali Asmara berbicara, nada suaranya tidak pernah naik satu oktaf pun, selalu konstan, menenangkan, dan penuh dengan unggah-ungguh Jawa yang kental.

Frustrasi?

PASTILAH!!!

😆😆😆😆😆

Wira sangat frustrasi karena gagal menghancurkan topeng gadis itu.

Namun di balik rasa frustrasi yang menyiksa ego lelakinya itu, akar-akar ketertarikan mulai tumbuh subur di dalam dadanya.

Ia terpesona.

Sangat terpesona hingga ia merasa muak pada dirinya sendiri.

🤭🤭🤭🤭🤭

Puncak dari kefrustrasian Wira terjadi pada Jumat siang.

Udara Jogja hari itu terasa sangat gerah, seolah matahari berjarak satu jengkal lebih dekat dari bumi. Kipas angin di langit-langit Kelas XI IPS 2 berputar malas, sama sekali tidak membantu mendinginkan suhu ruangan maupun suhu kepala Wira.

Pak Budi sedang menjelaskan materi di depan kelas, namun pikiran Wira melayang entah ke mana.

Wira baru saja kembali dari kantin dengan membawa segelas es teh manis dalam kemasan plastik tebal yang berembun karena dingin. Ia meletakkan gelas plastik itu di atas meja, tepat di garis imajiner yang membatasi wilayah mejanya dan meja Asmara.

Asmara sendiri sedang sibuk menyalin catatan dengan tulisan tegak bersambungnya yang sangat rapi. Buku tulis gadis itu terbuka lebar, hanya berjarak beberapa sentimeter dari gelas es teh Wira.

Otak jahil Wira kembali beroperasi.

Ini adalah kesempatan terakhirnya minggu ini.

Jika minyak kayu putih dan kotak pensil tidak mempan, mari kita lihat bagaimana reaksi gadis ini jika benda miliknya dirusak!

Dengan gerakan yang seolah-olah tidak disengaja, Wira menggeser sikunya dengan keras. Siku itu menabrak gelas plastik berisi es teh penuh tersebut.

Byurrr!!!

Gelas itu terguling. Cairan berwarna cokelat pekat yang dingin dan lengket tumpah ruah, meluncur deras menyeberangi batas meja, mengarah langsung ke buku catatan Asmara yang terbuka.

Wira menahan napas.

"Marah, nggak?! Harus, harus marah!! Lo harus marah sekarang!!" batinnya menuntut.

Namun, refleks Asmara ternyata jauh lebih cepat dari yang Wira duga. Begitu mendengar suara benturan, kedua tangan Asmara dengan sigap menyambar buku catatannya, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara tepat sepersekian detik sebelum genangan es teh itu menyapu tempat bukunya tergeletak.

Buku catatannya selamat tanpa noda setitik pun. Akan tetapi, genangan es teh yang tidak terbendung itu terus mengalir hingga ke tepi meja, lalu tumpah layaknya air terjun kecil ke pangkuan Asmara.

Cairan lengket itu meresap cepat ke dalam kain rok abu-abu seragamnya, meninggalkan noda cokelat yang cukup lebar di atas paha kanannya.

Wira terkesiap.

Matanya membelalak lebar.

Jantungnya tiba-tiba berdetak liar, diserang oleh rasa panik yang tidak pernah ia rencanakan.

Niat awalnya hanya ingin membasahi meja dan membuat gadis itu panik menyelamatkan buku, bukan menumpahkan air lengket ke pakaian gadis itu di tengah jam pelajaran!

"BANGKEEE!!!" umpat Wira pelan, tubuhnya seketika menegang.

Ia sudah bersiap untuk diteriaki, ditampar, atau setidaknya dilaporkan ke guru di depan kelas. Ini adalah kesalahan fatal.

Di sekolah lamanya, menumpahkan minuman ke seragam perempuan adalah tiket menuju pertengkaran hebat yang diwarnai sumpah serapah.

Namun, di meja itu, dunia kembali berjalan dengan aturan yang tidak masuk akal bagi Wira.

Asmara perlahan meletakkan buku catatannya yang selamat ke tempat yang kering. Ia kemudian menunduk, menatap noda teh yang basah dan lengket di rok abu-abunya.

Gadis itu menghela napas, namun itu bukanlah helaan napas amarah.

Dengan gerakan yang sangat tenang, Asmara merogoh saku seragamnya, mengeluarkan sebungkus tisu wajah. Ia menarik beberapa helai, lalu mulai menepuk-nepuk roknya yang basah untuk menyerap kelebihan air.

Tidak ada ringisan kesal.

Tidak ada gerutuan.

SAMA SEKALI NGGAK ADA!!!

Asmara kemudian menarik beberapa helai tisu lagi, dan bukannya membersihkan mejanya sendiri, gadis itu justru menyodorkan tisu tersebut kepada Wira.

"Tangan Mas Wira tidak kena tehnya, kan?" tanya Asmara pelan, memecah keheningan di antara mereka berdua.

Wira membeku.

Ia menatap tisu di tangan Asmara, lalu menatap wajah gadis itu.

Sepasang mata teduh itu memandangnya tanpa setitik pun aura kebencian atau rasa dendam. Yang ada hanyalah raut kepedulian yang membunuh nurani Wira perlahan-lahan.

"Ro-rok lo... ko-kotor itu..." suara Wira keluar dengan serak, nyaris terdengar seperti cicitan tikus tanah yang terjepit pintu.

Jemarinya yang bergetar kecil mengambil tisu dari tangan Asmara.

"Iya, basah sedikit. Nanti dicuci juga hilang noda tehnya," jawab Asmara dengan senyum yang sangat menenangkan. Ia lalu mulai membersihkan genangan teh di atas meja menggunakan sisa tisu yang ada. "Bantu saya mengeringkan mejanya ya, Mas. Kasihan kalau tehnya sampai menetes ke lantai, nanti bisa lengket dan dihinggapi semut."

Pemandangan itu...

Adalah pukulan terberat yang pernah diterima Wira sepanjang tujuh belas tahun hidupnya.

Ia, si jagoan tawuran, si penguasa kantin Bogor, si penentang aturan yang tidak pernah takut pada apa pun, kini duduk tak berdaya.

Ia merasa dirinya begitu kerdil, begitu jahat, dan begitu menyedihkan di hadapan kemuliaan hati gadis ini.

Wira secara mekanis mengelapkan tisu ke atas genangan teh di mejanya, matanya tak bisa lepas dari sosok Asmara.

Di bawah cahaya matahari sore yang menembus jendela kaca, Wira memperhatikan wajah Asmara dari jarak dekat. Ia melihat helaian rambut yang menempel di pipi gadis itu akibat keringat siang hari.

Ia melihat bulu mata lentik yang menaungi sepasang mata paling damai yang pernah diciptakan Tuhan.

Dan di tengah rasa bersalahnya yang membuncah, aroma teh manis itu bercampur dengan wangi melati yang menguar dari tubuh Asmara, mengunci indra penciuman Wira.

Dinding pertahanan terakhir Wira akhirnya runtuh tak bersisa.

Gengsinya menguap di udara panas kelas itu.

Ia tidak lagi frustrasi karena gagal membuat Asmara marah. Wira justru frustrasi karena ia baru saja menyadari sebuah kenyataan yang mengerikan: ia telah jatuh, tenggelam begitu dalam ke dalam telaga ketenangan gadis ini.

"Si Matahari" pemberontak dari kota hujan itu akhirnya menyerah, terpesona habis-habisan oleh gravitasi "sang Bulan" dari keraton Jogja.

"Ma-maaf..." bisik Wira.

Hanya satu kata.

Sangat pelan, namun mengandung ketulusan yang belum pernah ia keluarkan seumur hidupnya. "Gue... beneran minta maaf."

Asmara menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengelap meja.

Gadis itu menoleh, mempertemukan pandangannya dengan mata Wira yang kini tampak sangat rapuh.

Perlahan, senyum paling manis dan paling hangat yang pernah Asmara berikan, merekah sempurna di bibirnya.

"Dimaafkan, Mas Wira..." jawab Asmara lembut. "Sangat dimaafkan..."

Dan pada detik itu, saat Asmara tersenyum padanya, jantung Wira Aji Pratama berdetak dengan ritme yang baru.

Sebuah ritme asing yang berbahaya, yang menandakan bahwa masa lalunya sebagai pemuda begajulan telah berakhir, dan kisah asmaranya yang paling gila di kota ini, baru saja dimulai.

🤭🤭🤭🤭🤭

1
Kesya Ohilitean
aku senang sekali kerana novel mau membantu aku untuk mehilakan sertes
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Kesya... 😍😍😍

Semoga Kakak selalu sehat, ya... Selalu bahagia juga buat Kak Kesya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!