Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hidup 29
"Sudah merasa lebih baik,"
"Ya, berkat kamu."
Jexen sungguh merasa senang melihat wajah Rinda yang ceria sekarang ini. Memasuki lobi kantor, semua orang karyawan menundukkan kepala sambil menyapa sang pimpinan.
Jexen dan Rinda berjalan beriringan. Di mata para karyawan TBBA, keduanya bak model yang tengah berjalan di atas papan cat walk.
"Kapan sih Pak Jexen tidak ganteng."
"Ho oh, ganteng terus. Mana kalau begitu cocok banget lagi sama Bu Rinda."
"Bener-bener setuju."
Jexen tersenyum tipis mendengar celetukan beberapa karyawan sebelum masuk ke lift. Hanya ada mereka berdua yang masuk ke sana, dimana karyawan yang lain memang memilih untuk menggunakan lift yang sebelahnya.
Saat lift hendak tertutup, seseorang dengan percaya dirinya berteriak. Dia meminta untuk ikut masuk ke sana.
"Tunggu!"
Semua mata mengarah ke orang itu. Tatapan tanya, kening yang berkerut, dan juga bisik-bisik yang cukup berisik langsung muncul.
Pintu lift tertutup. Pecahlah semua pertanyaan dari para karyawan melihat pemandangan yang sangat canggung tadi.
"Teani, masih berani dia menampakkan wajahnya di sini?"
"Iya ih, tidak tahu malu sekali orang itu. Dan lihat aja, dia seperti orang yang tidak bersalah"
"Kok ada yan orang yang bermuka tembok seperti itu."
"Tak tahu lagi harus ngomong apa. Dia benar-benar definisi orang yang tidak tahu diri."
Semua cibiran langsung meledak. Dan arahnya kepada Teani. Ya Teani tadi menahan lift yang dimasuki oleh Rinda dan Jexen. Wanita yang beberapa hari yang lalu menikahi suami adiknya sendiri itu tampaknya sungguh tebal muka. Wajahnya tenang dan tanpa rasa bersalah sama sekali
Para karyawan di sana yang melihat Teani merasa bingung. Apa wanita itu tidak punya pikiran? begitulah isi kepala mereka.
Tak ada raut wajah penyesalan. Dan tak ada juga kata maaf yang terlontar dari bibirnya kepada Rinda.
Teani juga sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah kepada Rinda. Atau setidaknya dia merasa senang karena adiknya kembali. Tapi tidak ada perasaan itu sepertinya. Bahkan sejak kemunculan Rinda, Tatapan Teani seolah menganggap bahwa Rinda adalah sebuah ancaman..
"Aku jadi sangat curiga, apa jangan-jangan ada sangkut pautnya kecelakaan Bu Rinda sama orang itu?"
"Kalau benar, bukannya ngeri sekali ya? Macam berita-berita di tv."
Spekulasi yang sangat menakutkan namun nampaknya seperti sebuah fakta yang mungkin saja tertunda untuk terungkap.
"Mau apa kamu datang?"
Lift terbuka. Tiga orang itu keluar dari lift secara bersamaan. Namun tatapan Rinda langsung begitu tajam ke arah Teani. Tak lagi seperti dulu, Rinda tak memiliki tatapan lembut dan penuh sayang kepada kakak beda ibu tersebut.
"Aku, ya kerja lah. Bukan kah aku juga punya hak di sini?" jawab Teani sengit.
Rinda menyeringai. Wanita yang berdiri di depannya ini benar-benar menunjukkan sifat aslinya sekarang. Ia tak lagi pura-pura sayang kepada Rinda. Teani juga tak lagi berpura-pura menghormati Rinda. Wanita itu jelas menunjukkan permusuhan secara terang-terangan.
"Kamu di pecat!"
"Apa? jangan gila kamu Rinda. Aku berhak ada di perusahaan ini. Aku memiliki saham di~"
"5%, saham milikmu hanya 5%. Jadi jangan merasa memiliki seluruh TBBA. Dan aku adalah pimpinan di sini. Aku bebas memecat siapapun yang aku mau, tanpa terkecuali. Jadi silakan pergi."
Teani mengepalkan tangannya erat. Rahangnya mengeras dan matanya membulat sempurna.
Dia tidak menyangka Rinda akan berkata demikian. Pecat, kata yang sama sekali tak pernah dibayangkan oleh Teani sebelumnya.
"Tidak, aku tidak mau. Aku akan tetap bekerja di sini," tolak Teani. Dia tidak bisa meninggalkan tempat ini. Dalam pikiran Teani, jika dia melangkahkan kakinya keluar, pasti dirinya tak akan bisa masuk lagi.
"Bekerja di sini? Atas dasar? Tidak ada kemampuan mu yang bisa dipakai di sini, Teani. Dan sejujurnya kamu sama sekali tidak memiliki kemampuan apapun. Kamu hanya mendompleng nama ku. Semau yang kamu lakukan hanyalah kerusuhan, dan kamu selalu menimbulkan masalah. Jadi, tak ada dalam dirimu yang bisa bermanfaat untuk perusahaan ini. Ah ada, boleh saja jika kamu mau tetap berada di sini, jadilah office girl. Maka aku akan membiarkan mu tetap di TBBA>"
"Bangsat, beraninya kamu."
Greb!
Jexen dengan cepat menangkap tangan Teani yang mengayun hendak menampar Rinda. Ia lalu menghempaskan tangan itu dengan sedikit tenaga sehingga Teani meringis kesakitan.
"Brengsek, hanya asisten saja kamu berani melakukan ini padaku!" pekik Teani tepat di depan wajah Jexen.
"Mundur, mulut mu bau. Dan itu menjijikkan," sahut Jexen cepat. Dia mendorong Teani ke belakang, agar tubuh mereka memiliki jarak.
"Rinda, aku tidak terima ini."
"Lantas, kamu mau apa hmmm? Mau mengadu ke dinas ketenagakerjaan? Silakan, aku sama sekali tidak takut. Aku punya alasan yang sangat kuat untuk memecat mu dan mengusir mu dari sini."
Degh!
Teani terjingkat. Nafasnya memburu dengan cepat disertai debaran dada yang begitu hebat.
"A-apa maksud mu?"
"Kamu pikir semua masalah yang kamu buat, tidak aku simpan hmmm? Semua kesalahan selama kamu menjabat sebagai direktur, sangat cukup untuk membuat mu keluar dari perusahan ini."
Degh!
Teani terkejut bukan main. Tubuhnya sampai terhuyung hingga membentur tembok.
Wajah Teani yang panik itu cukup menyenangkan. Jexen menyeringai, sedangkan Rinda tersenyum lebar.
"Satu lagi Teani, aku juga tahu kamu memindahkan dana perusahaan ke rekening pribadi mu. Tidak banyak memang, hanya sekitar 5 juta. Namun kamu melakukan itu setiap bulan dan sudah berlangsung bertahun-tahun," ucap Rinda.
Wajah Teani semakin pucat. Jantungnya berdegup sangat kencang, nafasnya menjadi tidak teratur.
"Kenapa takut?" tanya Rinda. Dia menikmati setiap ketakutan di wajah kakaknya itu.
"Jadi, angkat kaki dari sini sekarang juga. Sebelum aku meminta polisi untuk membawamu pergi."
Tanpa bicara apa-apa lagi, Teani langsung pergi begitu saja. Dia bahkan sama sekali tidak menoleh ke belakang. Teani juga tak menunggu lift, dia turun melalui tangga darurat.
"Kamu tahu Mbak, kenapa kamu diam saja?" tanya Jexen setelah Teani tak lagi terlihat. Keningnya berkerut. Dia sangat heran dengan diamnya Rinda melihat banyaknya kesalahan yang sudah Teani lakukan.
"Ku pikir dengan aku membiarkannya, ia akan berubah. Dia keluargaku. Aku menganggapnya begitu. Tapi ternyata dia tidak menganggap ku sama. Dan mungkin sejak dulu aku tak pernah jadi keluarganya. Untungnya, aku menyimpan semua bukti tersebut. Jadi, semau kesalahan Teani bisa ku jadikan senjata jika dia berani macam-macam."
Rinda berkata dengan senyum. Namun Jexen tahu, senyum itu penuh dengan kepahitan dan kesulitan serta rasa sakit yang amat dalam.
"Bu Rinda?"
"Ah pas sekali Aina. Tolong buat surat pemecatan secara tidak hormat kepada Teani Nadisyah. Alasannya adalah tidak melaksanakan tugasnya dengan benar."
"Siap."
TBC