Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Ketika halaman gudang kembali sunyi, Elara langsung bersandar pada kereta kuda, memijat pelipisnya.
Tiba-tiba, kepalanya berdenyut sakit. Sebuah teks bercahaya merah muncul di penglihatannya, hanya selama satu detik.
[WARNING: Plot Deviation at 52%. Minor System Correction Applied.]
[Target: Northern Border Famine. Status: Unresolved.]
Elara mengerjapkan mata, dan teks itu hilang. Rasa dingin yang menusuk kembali merambat di tulang belakangnya, membuatnya menggigil.
"Elara?" Lucian segera berada di sampingnya, melepas jubah luarnya dan menyelimuti bahu Elara. "Kau menggigil. Apakah racun Inkuisitor itu masih berefek?"
"Tidak, Yang Mulia," Elara memaksakan diri untuk tersenyum, meski giginya agak beradu. "Hanya... kaget saja. Ternyata mengungkap korupsi itu membakar kalori. Saya lapar."
Lucian menatapnya, matanya menyipit. Ia tahu Elara berbohong. Sejak keluar dari Kuil Matahari, ada sesuatu yang berbeda dari wanita itu. Terkadang, Lucian merasa seperti ada dinding kaca transparan yang memisahkan Elara dari dunia ini. Seolah-olah Elara tahu sesuatu yang tidak diketahui oleh siapa pun.
"Kasurmu akan aman, Elara," ucap Lucian pelan, menarik Elara agar bersandar di dadanya. "Aku berjanji. Tidak ada barbar yang akan membakar Paviliun Matahari Terbit."
Elara memejamkan mata, menikmati kehangatan tubuh Lucian. Rasa dingin di tulang belakangnya perlahan mereda.
"Bagus," gumam Elara. "Tapi Jenderal Kael masih punya masalah. Garis depan masih kelaparan. Mengirim gandum dari ibukota butuh dua puluh hari. Mereka tidak punya waktu selama itu."
Lucian mengernyit. "Aku tahu. Tapi kas negara sedang kosong karena reformasi pajak, dan aset Harris butuh waktu berbulan-bulan untuk dicairkan."
Elara membuka satu matanya. Otak malasnya yang baru saja bekerja keras kini beralih ke mode *crisis management*.
"Yang Mulia," ucap Elara pelan. "Di desa kuno saya, kalau kita tidak punya uang tunai tapi punya aset masa depan, kita melakukan *Securitization* atau Sekuritisasi Hutang."
"Apa itu?"
"Keluarkan surat utang kerajaan," ucap Elara. "Tawarkan pada Guild Pedagang dan Kongsi Tambang. Mereka membeli surat utang itu dengan harga diskon, memberikan kita uang tunai dan gandum darurat sekarang. Sebagai gantinya, kerajaan berjanji akan membayar mereka kembali dalam satu tahun dengan bunga, atau memberikan hak monopoli perdagangan garam selama lima tahun kepada pemenang lelang terbesar."
Lucian terdiam. Ide itu gila. Itu adalah hutang yang dilembagakan. Tapi... itu brilian.
"Kau ingin aku menjual masa depan kerajaan untuk menyelamatkan masa depan pasukan?" tanya Lucian.
"Saya ingin Anda menyelamatkan kasur saya," koreksi Elara. "Dan kalau garis depan runtuh, tidak ada yang bisa memungut pajak tahun depan. Jadi ini bukan hutang. Ini namanya bridge loan atau pinjaman jembatan. Sekarang, tolong antar saya pulang. Saya mau tidur siang. Mengungkap penggelapan kelas amatir sangat melelahkan."
Lucian tersenyum, menggendong Elara masuk ke dalam kereta kuda.
"Kau benar-benar makhluk yang paling aneh di benua ini, Elara von Clervant," bisik Lucian, mencium kening wanita yang sudah setengah tertidur di pelukannya.
***
Elara menatap tumpukan perkamen di hadapannya dengan tatapan yang biasanya ia reserved untuk musuh bebuyutan: tagihan listrik yang membengkak.
“Nira,” gumam Elara, kepalanya tergeletak lemas di atas meja kayu cendana. “Jika aku menulis satu kata lagi tentang ‘Standar Operasional Prosedur Pengiriman Gandum’, otaknya akan bocor keluar dari telingaku.”
“Yang Mulia harus sabar,” jawab Nira sambil menuangkan teh hangat ke cangkir Elara. “Kaisar mengatakan dokumen ini adalah kunci untuk menyelamatkan Perbatasan Utara. Dan… para ketua Guild Pedagang sudah menunggu di Paviliun Musim Semi.”
Elara mengerang panjang, suara yang terdengar seperti kucing yang dipaksa mandi.
“Mereka datang lebih awal. Bilang pada mereka aku sedang mengalami koma gula. Atau koma karbohidrat. Apalah.”
“Mereka membawa hadiah, Yang Mulia. Dan… Guild Sutra Emas membawa seekor burung merak putih yang sangat langka.”
Elara langsung mengangkat kepalanya. Matanya yang tadinya sayu kini berbinar sedikit. “Burung merak? Yang bulunya bisa dipakai sebagai kipas?”
“Y-Ya, Yang Mulia.”
“Baiklah. Bantu aku berdiri. Kalau mereka mau menyuapku dengan barang mewah, setidaknya aku harus terlihat anggun saat menolaknya. Atau saat menerimanya.”
***
Paviliun Musim Semi biasanya adalah tempat yang tenang. Namun hari ini, tempat itu dipenuhi oleh lima pria paruh baya dengan pakaian yang begitu mencolok hingga menyakitkan mata.
Ketua Guild Sutra Emas memakai jubah yang seluruhnya dilapisi benang emas. Ketua Kongsi Tambang memakai cincin di setiap jari, termasuk jari kelingkingnya. Mereka adalah orang-orang terkaya di Aethelgard, dan mereka tahu bahwa Kaisar sedang terdesak.
Ketika Elara masuk, didamping oleh Kaisar Lucian yang tampak seperti dewa perang dalam jubah hitamnya, para pedagang itu membungkuk. Namun, senyum di wajah mereka menunjukkan arogansi yang jelas. Mereka tahu isi kas negara sedang kosong. Mereka datang bukan untuk membantu, tapi untuk memeras.
“Yang Mulia Kaisar,” ucap Ketua Guild Sutra, suaranya manis namun licin. “Kami mendengar kerajaan membutuhkan… bantuan logistik. Kami tentu bersedia menyumbang. Tapi seperti Yang Mulia tahu, bisnis kami juga sedang sepi. Mengirim dua puluh ribu ton gandum ke perbatasan dalam waktu sepuluh hari adalah hal yang mustahil. Biaya transportasinya akan memakan seluruh keuntungan kami.”
Lucian menatap mereka dengan tatapan dingin. “Kerajaan tidak meminta sumbangan. Kerajaan menawarkan hak monopoli perdagangan garam di Provinsi Selatan selama lima tahun. Sebagai tukar atas gandum dan daging yang kalian kirim ke perbatasan.”
Para pedagang saling berpandangan. Hak monopoli garam adalah emas cair. Tapi mereka juga tahu bahwa kerajaan sedang putus asa.
“Lima tahun?” Ketua Kongsi Tambang tertawa kecil. “Dengan risiko pengiriman yang sangat tinggi dan biaya yang membengkak, kami rasa… tiga tahun adalah angka yang adil. Dan kami hanya bisa menjamin pengiriman lima ribu ton.”
Lucian hendak berbicara, namun Elara, yang sejak tadi sibuk mengagumi kipas bulu merak putih yang diletakkan di meja, akhirnya mengangkat kepalanya.
“Tiga tahun? Lima ribu ton?” ulang Elara, suaranya terdengar sangat malas. Ia menguap lebar, air mata kecil menggenang di sudut matanya. “Dengar, Tuan-tuan. Saya sedang sakit kepala. Dan saya sangat ingin tidur siang. Jadi mari kita perpendek pertemuan ini.”
Elara mengambil sebuah kuas dan beberapa lembar kertas kosong dari meja.
“Di desa kuno saya, ada permainan bernama Blind Bidding atau Lelang Tertutup. Aturannya sederhana. Kalian tidak akan saling berdebat di sini. Kalian akan kembali ke guild kalian, menghitung berapa banyak gandum dan daging yang bisa kalian kirim dalam sepuluh hari, dan berapa lama hak monopoli yang kalian inginkan.”
Elara membagi kertas itu menjadi lima, memberikannya pada masing-masing ketua guild.
“Tulis jumlah ton gandum yang kalian janjikan, dan berapa tahun hak monopoli yang kalian minta. Masukkan ke dalam amplop ini, segel dengan lilin kalian, dan berikan pada pengawalku. Kalian punya waktu lima menit.”
Para pedagang itu bingung. “Tapi… bagaimana kami tahu siapa yang menang? Bagaimana jika kami menawarkan terlalu banyak?”
“Pemenangnya adalah yang menawarkan jumlah gandum terbanyak dengan permintaan tahun monopoli paling sedikit,” Elara menjelaskan dengan nada seorang guru TK yang sedang menjelaskan aturan main kepada anak-anak yang lambat paham. “Kalau kalian serakah dan meminta lima tahun tapi cuma kirim seribu ton, kalian kalah. Kalau kalian mau menang, kalian harus saling mengalahkan penawaran teman kalian di amplop ini.”
Elara menyandarkan punggungnya, memejamkan mata. “Sekarang, tulis. Atau saya akan menjual hak monopoli ini pada pedagang dari Kekaisaran Utara yang kebetulan sedang mampir.”
Ancaman itu bekerja. Wajah para pedagang langsung pucat. Mereka saling melirik dengan curiga, lalu dengan cepat menulis di atas kertas, memasukkan ke dalam amplop, dan menyegelnya dengan lilin.
Lima menit kemudian, lima amplop terkumpul di tangan Elara.
Dengan malas, Elara membuka amplop pertama. “Guild Sutra: 8.000 ton, minta 4 tahun.”
Amplop kedua. “Kongsi Tambang: 6.000 ton, minta 4,5 tahun.”
Amplop ketiga. “Asosiasi Rempah: 12.000 ton, minta 3 tahun.”
Elara berhenti. Ia menatap amplop ketiga. “Dua belas ribu ton? Dengan permintaan tiga tahun? Siapa yang menulis ini?”
Ketua Asosiasi Rempah, seorang pria kurus dengan kacamata tebal, maju dengan gugup. “I-itu hamba, Yang Mulia.”
Elara menatapnya. “Kamu tahu kalau kamu baru saja memenangkan lelang ini, kan? Kamu bisa saja meminta 2 tahun dan tetap menang.”
Pria itu berkeringat. “Hamba… hamba menghitung. Jika kami mengirim dua belas ribu ton, kami bisa menggunakan jalur sungai yang biasanya tidak kami pakai karena terlalu berisiko. Dan… hamba mendengar bahwa Selir Elara tidak suka orang yang serakah. Jadi hamba mencoba untuk… efisien.”
Elara menatap pria itu lama. Lalu, ia tersenyum. Senyum yang tulus, karena akhirnya ada satu orang di ruangan ini yang mengerti konsep margin of safety.
“Bagus,” ucap Elara. “Kamu menang. Asosiasi Rempah mendapatkan hak monopoli garam selama tiga tahun. Tapi ingat, dua belas ribu ton harus tiba di Perbatasan Utara dalam sepuluh hari. Kalau kurang satu kilogram pun, hak monopoli itu hangus, dan depositmu menjadi milik negara.”
Pria itu membungkuk dalam-dalam, wajahnya bersinar karena kemenangan. “Hamba mengerti, Yang Mulia! Hamba akan memastikan setiap biji gandum tiba tepat waktu!”
Lucian menatap Elara dengan tatapan yang sangat rumit. Ia baru saja menyaksikan wanita di sampingnya memanipulasi lima orang paling serakah di benua ini untuk memberikan dua belas ribu ton makanan gratis atau hampir gratis hanya dengan menggunakan lima lembar kertas dan amplop.
“Kau…” Lucian memulai, suaranya terdengar sedikit parau. “Kau baru saja menyelamatkan Perbatasan Utara tanpa mengeluarkan satu keping emas pun dari kas negara.”
“Saya tidak menyelamatkan apa-apa, Yang Mulia,” Elara mengoreksi sambil meraih kembali kipas bulu merak putihnya. Ia mengipas-ngipaskan wajahnya dengan malas. “Saya hanya membiarkan keserakahan mereka bekerja untuk kita. Di desa kuno saya, ini namanya Market Competition atau Persaingan Pasar. Sekarang, permisi. Saya mau pulang dan tidur siang. Menghadapi orang serakah membuatku alergi.”