Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
"Ada, Bu. Di dalam." jawab Devan santai, yang langsung disambut langkah lebar Bu Ismi menerobos masuk ke kamar.
"Ooh, bagus ya kamu, Aira! Mentang-mentang statusnya udah jadi pengantin baru, langsung bisa bangun kesiangan? Bukannya bangun pagi bantuin Ibu ngurus rumah! Kamu tau nggak, gara-gara Ibu harus nyuci baju sama bersih-bersih sendiri pagi ini, sarapan sampai sekarang belum ada! Kakak, adik, sama abang iparmu itu mau berangkat kerja. Mau makan apa mereka?!" cerocos Bu Ismi dengan suara melengking yang bikin telinga panas.
"Pengantin baru sih pengantin baru, Mbak, tapi ya nggak gini juga kali. Memangnya semalam masih kurang apa sampai puas banget memadu kasihnya?" cerceh Karin dengan nada menyindir.
Aira cuma bisa mengelus dada menahan sesak. Malam pertama dari hongkong! Kenal sama suaminya aja baru semalam, jangankan mikir ke sana, megang tangan Devan aja Aira masih canggung setengah mati.
Sementara Devan cuma bisa melongo melihat kehebohan keluarga istrinya. Cuma gara-gara urusan sarapan belum siap, seisi rumah bisa mendadak heboh seperti kebakaran jenggot. Padahal mereka semua sudah pada dewasa, punya tangan dan kaki utuh buat bikin makanan sendiri.
"Udah, deh, Ra! Buruan masak! Aku bisa telat ke kantor nih. Kalau nggak bisa masak, ganti rugi dong! Kasih kita uang tambahan buat beli sarapan di luar!" celetuk Siska tanpa beban, gayanya udah mirip preman pasar.
Melihat itu, Devan makin gemas sekaligus kasihan pada Aira. Kakak dan adiknya padahal sudah gede, beres-beres rumah atau sekadar ceplok telur kan bisa sendiri. Kenapa harus semuanya dibebankan ke Aira?
"Maaf sebelumnya, tapi Aira sekarang lagi sakit. Nggak memungkinkan kalau harus dipaksa masak." potong Devan tegas, mencoba membuat kakak dan adik iparnya itu mikir pakai otak.
"Apa? Sakit?! Sakit dari mana?! Orang mukanya aja nggak ada pucat-pucatnya gitu!" semprot Karin tak mau kalah.
"Halah, palingan juga lemas gara-gara capek habis malam pertama." sahut Siska asal ceplos dengan nada nyeleneh.
"Ibu nggak mau tau! Pokoknya kamu kerjakan semua tugas rumah. Sudah siang begini masa satu meja masih kosong melompong!" perintah Bu Ismi tegas, menutup mata dari kondisi Aira.
"Tapi, Bu... Aira beneran sakit. Kaki Aira terkilir gara-gara ketabrak motor semalam. Ini kepala Aira juga masih benjol sama memar." ujar Aira pelan sambil memperlihatkan benjolan di dahi serta kakinya yang memar dan lecet.
Bu Ismi mendadak bungkam begitu melihat luka-luka di tubuh Aira. *'Jadi semalam anak ini beneran ketabrak motor cowok ini? Dia cuma nolongin Aira, tapi malah dituduh macam-macam sama warga?'* batin Bu Ismi mulai sadar.
"Semalam kita sama sekali nggak bohong, Bu. Saya nggak sengaja nabrak Aira yang jalan kurang fokus. Dia sampai pingsan, jadi saya berusaha tolong. Karena cuaca makin mendung dan mau hujan deras, saya bawa berteduh di rumah kosong. Tapi warga malah salah paham." jelas Devan meluruskan semuanya agar Bu Ismi dan saudaranya tak makin asal jeplak.
"Ooh... jadi yang semalam itu beneran? Ibu kira itu cuma alasan kalian berdua aja! Nah, kalau gitu kamu harus ganti rugi dong! Kamu harus tanggung jawab sama anak Ibu! Lihat tuh, Aira sampai luka-luka gara-gara kamu!" omel Bu Ismi mendadak berbalik menyerang Devan. Matanya langsung berbinar melihat peluang dapat keuntungan.
Seharusnya gertakan ganti rugi itu dilayangkan Bu Ismi tadi malam. Namun, melihat penampilan Devan yang semalam tampak lusuh seperti gembel, Bu Ismi justru merasa lega saat Aira langsung dinikahkan di tempat. Entah kenapa, Bu Ismi memang tidak suka kalau Aira mendapatkan pasangan yang mapan. Lagipula, dia sangat takut Aira bakal merusak hubungan Karin dengan Bagas. Makanya, begitu ada kesempatan menyingkirkan putri keduanya lewat pernikahan mendadak ini, Bu Ismi langsung setuju tanpa pikir panjang.
"Nah, bener banget tuh, Bu! Dia wajib tanggung jawab! Ayo sini, kasih uang buat berobat Mbak Aira!" tagih Karin ikut-ikutan menadahkan tangan.
"Oke, saya memang berniat ganti rugi kok. Sekarang juga saya mau bawa Aira ke dokter atau tukang urut." jawab Devan tenang.
Siska langsung meledak tertawa mendengar ucapan Devan. "Ha... ha... ha! Apa kamu bilang? Mau bawa ke dokter? Hello... kamu pikir periksa ke dokter itu murah? Memangnya kamu punya duit buat bayar?!" ejeknya sinis.
"Insyaallah, kalau cuma biaya dokter saya sanggup bayar." sahut Devan santai tanpa terpancing.
"Udah, gini aja! Biar Aira jadi urusan Ibu. Kamu tinggal kasih uang cash 2 juta ke Ibu." potong Bu Ismi cepat. Rencananya, Aira cukup dibawa ke tukang urut langganan yang tarifnya murah meriah, lalu sisa uangnya bisa langsung masuk kantong pribadinya.
"Apa?! Dua juta, Bu? Nggak usah, Bu! Aira nggak apa-apa kok, nanti Aira bisa pergi ke tukang urut sendiri." sela Aira cepat. Hatinya meringis melihat sang ibu terang-terangan memanfaatkan Devan.
"Aduh, Bu... mana ada dia duit dua juta! Penampilannya aja miskin gitu." cibir Karin sambil melirik Devan remeh.
"Ya ampun, Aira... Kasihan banget sih kamu dapat suami miskin gini. Contoh dong kayak aku, bisa dapet suami yang punya posisi bagus di kantor." tambah Siska penuh kebanggaan memamerkan Beni.
Padahal, kenyataannya bikin elus dada. Walau Siska dan suaminya membanggakan karier mereka, ujung-ujungnya mereka masih menumpang hidup di rumah orang tua. Baik Siska maupun Karin yang berpenghasilan lumayan dari kerja kantoran dan pabrik, nyatanya sangat pelit pada ibu sendiri. Bukannya membalas budi orang tua, selama ini justru Aira yang terus-menerus dituntut mencukupi kebutuhan dapur dan operasional rumah dari hasil jualan kue yang untungnya tak seberapa.
"Sudah cukup, Karin, Mbak Siska! Kalian jangan menghina Mas Devan terus! Lagian biaya tukang urut juga nggak sampai dua juta!" tebas Aira akhirnya, tak tahan lagi mendengar ocehan saudara-saudaranya yang berpendidikan tinggi tapi mulutnya tak beretika.
"Halah, sok-sokan mau ke dokter segala, paling uangnya juga hasil ngutang." cibir Bu Ismi pedas. "Ya udah, cepat bawa dia ke tukang urut! Habis itu, Aira harus langsung beresin semua pekerjaan rumah!" pangkas Bu Ismi seraya melenggang pergi dari kamar, diikuti Karin dan Siska yang mengekor di belakang.
"Mas Devan... maafin Ibu sama saudara-saudaraku, ya. Mereka memang bicaranya suka pedas, tapi sebenarnya mereka orang baik kok." bisik Aira merasa sangat tidak enak hati.
"Kamu nggak perlu minta maaf, Aira. Kamu nggak salah sama sekali. Ya sudah, ayo kita periksakan kaki kamu sekarang. Aku yang nabrak kamu, jadi aku yang harus tanggung jawab sampai kamu sembuh."
"Nggak perlu ke dokter, Mas... cukup ke tukang urut aja." tolak Aira halus. Dalam hatinya, dia benar-benar khawatir merogoh kocek Devan yang dalam bayangannya pasti sangat terbatas.
"Tapi luka-luka kamu harus diperiksa medis, Ra."
"Ini udah diobati semalam kok, nanti juga sembuh sendiri." Aira tetap bersikeras. Dia sungguh tidak tega jika harus menyusahkan Devan yang tampak berpenghasilan pas-pasan.
Tanpa banyak berdebat lagi, Devan langsung sigap merangkul bahu Aira dan memapahnya pelan keluar kamar. Dekapan hangat dan perlakuan lembut Devan membuat dada Aira mendadak berdesir aneh.
*'Ya Tuhan... semoga suamiku ini memang orang yang baik.'* doa Aira dalam hati, mencoba menetralkan rasa canggung yang menjalar di sekujur tubuhnya saat berdekatan dengan Devan.
Devan memapah Aira menuju garasi untuk mengambil motornya terlebih dahulu. Kebetulan, motor tua Devan terparkir paling depan sehingga menutupi jalan mobil milik Karin dan mobil Beni yang hendak keluar.
"Woy, minggirin motor lu! Gue mau lewat nih! Motor butut kayak gitu masih aja dipelihara!" teriak Karin tajam dari dalam mobil saat melihat Devan menuntun motornya dan berusaha meng-engkol mesin.
"Ssssh... husss! Cepat minggir! Nanti gue tabrak baru tau rasa!" timpal Siska dari balik jendela mobil Beni, merasa gemas karena Devan dianggap lambat menyingkirkan motornya. Beni yang duduk di kursi pengemudi malah ikut terkekeh meremehkan.
"Cocok banget ya mereka berdua... sama-sama kucel, pas banget naik motor butut." celoteh Beni yang langsung disetujui Siska dengan tawa renyah.
Lantaran tempat kerja Siska dan suaminya searah, Siska bisa menumpang di mobil Beni. Sementara Karin berangkat ke kantor menaiki mobil pribadinya sendiri, mobil yang baru dibeli beberapa bulan lalu secara kredit.
"Eh, motor rongsokan kayak gitu mending dibuang aja ke kali! Punya mobil dong kayak kita, masa hari gini masih keluyuran naik motor butut?" ejek Siska lagi tanpa henti.
"Iya nih, kasihan banget Mbak Aira dapet suami miskin begini. Kalau hidup begitu terus, kapan mau majunya?" tambah Karin menimpalinya seraya menyalakan mesin mobil.
Aira cuma bisa mengelus dada mendengar rentetan cibiran itu. Sementara Devan tetap tenang tanpa merespons sepatah kata pun. Dia enggan melayani provokasi murah dari saudara-saudara iparnya yang haus validasi.
**(Bersambung)**