NovelToon NovelToon
Selir Favorit Sang Mafia

Selir Favorit Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja sastrala

Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

Kata "jijik" yang terucap dari bibirku membakar habis sisa-sisa akal sehat Gabriel. Sorot matanya yang dipengaruhi alkohol dan obsesi berubah menjadi kegelapan murni sebuah kegilaan dari seorang penguasa yang tak pernah diabaikan, apalagi direndahkan oleh milik yang paling diagungkannya.

"Jijik?" suara Gabriel bergetar pelan, rendah dan amat mematikan. "Kau bilang kau jijik padaku, Aurora?!"

Tanpa peringatan, tangan besarnya menyambar leherku. Pria itu mencengkeram dan memproyeksikan tubuhku yang masih lemah hingga kepalaku terhentak keras ke sandaran kayu tempat tidur. Napas mendadak tersendak di tenggorokanku. Aku memegangi pergelangan tangannya yang kokoh bagai cengkeraman besi, berusaha mencari udara, namun matanya sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan.

"Aku membunuh untukmu! Aku menghancurkan Dewan Moretti demi menjaga keselamatanmu! Dan kau sebut aku jijik?!" bentaknya tepat di depan wajahku, suaranya menggelegar memecah kesunyian malam.

Gabriel menghempaskan tubuhku kembali ke ranjang secara kasar. Sebelum aku sempat menguasai kesadaranku yang makin kabur, ia mengunci kedua tanganku di atas kepala dengan satu genggaman yang menyakitkan. Rasa sakit fisik dari lebam-lebam lama yang belum sembuh kembali meletup saat berat tubuhnya menindih penuh di atas tubuhku yang terbakar demam.

Malam itu menjadi puncak dari segala kekejaman dan kegelapan seorang Gabriel Moretti.

Dalam kondisi tubuhku yang sangat lemah, menggigil hebat oleh demam tinggi, dan napas yang bersisa di tenggorokan, Gabriel menuntut kepatuhan mutlak. Pria itu menyalurkan seluruh amarah, kecemburuan, dan rasa takut kehilangan yang dipendamnya menjadi tindakan kekerasan dan dominasi tanpa ampun. Ia tidak peduli pada rintihan parau yang keluar dari tenggorokanku, tidak peduli pada air mata dingin yang membasahi bantal, dan tidak memedulikan fakta bahwa tubuh yang sedang ditariknya ke dalam pusaran hasrat gila ini sedang berada di ambang batas kemampuan fisiknya.

Setiap sentuhan dan tekanannya terasa bagai sembilu yang mengoyak kesadaranku, hingga akhirnya rasa sakit yang teramat sangat itu bertransformasi menjadi kegelapan yang menelan segalanya.

---

Saat berkas sinar fajar pertama menerobos masuk melalui celah gorden tebal, suasana kamar utama hening secara mencekam.

Gabriel terbangun, perlahan kesadarannya dari pengaruh alkohol mulai memudar. Pria itu menyipitkan mata saat merasakan getaran yang aneh pada ranjangnya. Tangan besarnya yang terulur ke samping mendadak menyentuh kulitku dan ia langsung tersentak.

Kulit tubuhku tidak lagi sekadar hangat; itu terasa membakar, bagai lahar panas yang memancar di bawah seprai sutra.

"Aurora?" panggil Gabriel, suaranya masih serak khas bangun tidur.

Namun aku tidak menjawab. Tubuhku terbujur kaku dalam posisi miring, dan getaran hebat mulai menguasai seluruh sendiku. Kedua tanganku terangkat kaku di dekat dada, jemariku menekuk kencang saat serangan kejang-kejang melumpuhkan saraf-sarafku secara mendadak. Mataku terbelalak tanpa arah, memantulkan keputusasaan yang mati, sementara napas yang keluar dari bibirku yang memutih terdengar patah-patah dan tersengal hebat.

"Aurora!"

Kepanikan murni menyengat dada Gabriel seketika sebuah rasa takut yang belum pernah dirasakannya sepanjang hidupnya, bahkan di tengah dentuman peluru musuh sekalipun. Wajah sang bos mafia berubah pucat pasi saat melihat tubuh kecilku berguncang hebat di atas peraduan, bertarung melawan demam yang telah melampaui batas kritis.

"Aurora, tatap aku! Aurora!" teriak Gabriel gila, mencengkeram bahuku yang bergetar hebat, mencoba menyadarkanku namun justru kepalaku terkulai kaku dengan kejang yang tak berkurang.

"MARCO! ELENA! PANGGIL DOKTER SEKARANG!" teriakan Gabriel menggelegar melintasi pintu kamar utama, memecah kesunyian seluruh puri dan membuat para pengawal di sepanjang lorong berlari ketakutan.

Gabriel menarik tubuhku ke dalam pelukannya, merengkuhku kencang saat kejang-kejang itu makin memuncak. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun di dunia bawah tanah itu kini memeluk tubuhku yang terkulai panik, membenamkan wajahnya di leherku yang terbakar panas.

"Tidak... tidak... Cara mia, jangan berani-berani kau meninggalkanku!" bisiknya dengan suara bergetar dan panik yang tak lagi bisa disembunyikan.

Di dalam dekapan erat sang iblis yang akhirnya menyadari kerusakan yang dicipakannya sendiri, tubuhku terus menegang di bawah cengkeraman kejang dan demam tinggi membawa takdir di antara kami berdua ke garis batas antara hidup dan mati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!