Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.
Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.
Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Bayangan di Balik Kaca Hitam
Pagi itu, area drop-off dan parkir VVIP Menara Utama Nugroho Group tampak begitu megah di bawah paparan sinar matahari yang mulai terik. Aspal hitam yang mulus, barisan pilar beton yang kokoh, serta kilauan kaca gedung 55 lantai menciptakan suasana yang sangat intimidatif bagi siapa saja yang baru pertama kali bekerja di sana. Arga Dewa Putra berdiri tegap dengan seragam Satpam barunya yang masih kaku. Sepatu pantofel hitamnya mengilap memantulkan cahaya, sementara sabuk besar dengan perlengkapan standar keamanan melingkar rapi di pinggangnya.
Arga menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma udara pagi kota yang bercampur asap kendaraan dan wangi pengharum ruangan yang terhempas dari pintu kaca otomatis di belakangnya. Di tangannya, sebuah tongkat lalu lintas menyala merah redup, siap digunakan untuk mengatur alur kendaraan para eksekutif yang mulai berdatangan.
Di sampingnya, Komandan Bambang berdiri menyilangkan tangan di belakang punggung, memperhatikan setiap gerakan Arga dengan pandangan meneliti.
"Ingat, Arga," suara Komandan Bambang terdengar berat dan dalam, memecah deru mesin kendaraan yang lalu lalang. "Lobi utama dan area VVIP adalah wajah dari Nugroho Group. Di sini, kita tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga memberikan layanan terbaik. Setiap mobil yang masuk ke jalur khusus ini adalah milik jajaran direksi atau tamu penting perusahaan."
"Siap, Komandan! Saya mengerti," sahut Arga tegas, meluruskan pandangannya ke depan.
"Bagus," Komandan Bambang mengangguk pelan. "Satu hal lagi. Sebentar lagi CEO kita akan tiba. Beliau sangat menyukai ketertiban dan ketepatan waktu. Kalau kamu melihat Mercedes-Maybach hitam dengan plat nomor B 1 NGH, langsung buka jalur dan pandu sampai berhenti tepat di depan pintu masuk utama."
"Siap, Komandan. Plat nomor B 1 NGH, Mercedes-Maybach hitam," ulang Arga memfaktakan instruksi tersebut dalam ingatannya.
"Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun. Beliau tidak suka menunggu, dan beliau bisa mengenali ketidakprofesionalan hanya dalam sekali pandang," tambah Komandan Bambang seraya melangkah mundur beberapa tindak untuk memantau area selasar.
Arga menelan ludah. Rasa gugup perlahan merayapi tenggorokannya, tetapi ia segera menepisnya. Bagi Arga, pekerjaan ini adalah kesempatan emas untuk menyambung hidup secara jujur setelah gagal mendapatkan pekerjaan formal lain. Ia harus membuktikan bahwa Yayasan Garuda Mandiri tidak salah merekomendasikannya.
"Fokus, Ga. Ini cuma markir mobil. Dari dulu di panti asuhan juga sering markir kendaraan tamu," gumam Arga pelan pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengilap membelok mulus dari jalan raya menuju area driveway Menara Utama. Kaca mobilnya yang sangat gelap membuat bagian dalamnya tidak terlihat sama sekali dari luar. Grille depan bertuliskan lambang elegan memantulkan kilau yang menandakan status sosial pemiliknya.
Komandan Bambang langsung menepuk pundak Arga dengan cepat. "Arga! Itu mobilnya. Ambil posisi sekarang!"
"Siap, Komandan!"
Arga segera melangkah maju menuju posisi pemandu. Dengan gerakan tubuh yang tegap, fleksibel, dan penuh percaya diri, Arga mengangkat tangannya, memberikan isyarat menghentikan arus kendaraan lain di jalur samping. Ia memutar tongkat lampunya secara teratur, mengarahkan sedan mewah itu masuk ke area parkir khusus VVIP yang berada persis di depan kanopi utama.
"Terus... terus... yak, tahan... luruskan ban... yak, cukup!" instruksi Arga dengan artikulasi jelas dan gestur tangan yang sangat presisi.
Mobil mewah itu berhenti dengan sangat mulus tanpa hentakan sedikit pun. Suara halus mesinnya perlahan mati. Keheningan sejenak melingkupi area drop-off. Arga berdiri bersiap dalam posisi hormat beberapa meter dari pintu penumpang belakang, menjalankan prosedur standar operasional sesuai pelatihan singkat dari Komandan Bambang.
Seorang pengawal pribadi bersafari hitam turun dari kursi depan sebelah kiri, berjalan cepat mengitari bagian belakang mobil, lalu membukakan pintu penumpang bagian belakang dengan penuh hormat.
"Selamat pagi, Ibu. Kita sudah sampai di kantor," ucap pengawal pribadi itu dengan nada sangat sopan.
Arga mengarahkan pandangannya ke arah pintu yang terbuka. Dari dalam mobil, melangkah keluar sebuah kaki berbalut sepatu hak tinggi berwarna hitam elegan. Disusul kemudian oleh sosok wanita bermartabat yang mengenakan blazer formal bernuansa abu-abu gelap. Postur tubuhnya tegak, pembawaannya anggun namun memancarkan aura dingin yang membekukan suasana di sekitarnya.
Wanita itu merapikan blazer bagian depannya, lalu menoleh singkat ke arah selasar lobi untuk memeriksa situasi.
Pada detik itulah, pandangan mata Arga jatuh tepat di wajah wanita tersebut.
Jantung Arga seolah berhenti berdetak seketika. Darahnya mendidih dan seluruh otot tubuhnya membeku. Mata Arga melotot lebar saat otaknya memproses profil wajah yang sangat tidak asing itu, garis rahang yang tegas, tatapan mata tajam tanpa kompromi, dan bibir tipis yang terkatup rapat.
Nadia Nugroho!
Suara batin Arga berteriak histeris dalam kepalanya. Senyum dingin wanita yang malam itu menyodorkan Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak 1 Tahun di Kafe Merah mendadak terngiang jelas di telinganya. Ancaman denda puluhan miliar yang akan meremukkan keluarga Bimo kembali membanjiri pikirannya.
"Gila... Nggak mungkin... Ini nggak mungkin!" bisik Arga dengan napas yang mulai tersengal secara tertahan. "Jadi... Nugroho Group yang dimaksud Bimo... gedung 55 lantai ini... ini kantornya Nadia?!"
Mata Nadia mulai bergerak menyapu area sekitar drop-off, bersiap melangkah menuju pintu kaca utama di mana Komandan Bambang dan Arga berdiri. Tatapan matanya yang tajam seolah mampu menembus siapa saja yang menghalangi jalannya.
Insting bertahan hidup Arga langsung menyala dalam skala penuh. Dalam hitungan milidetik sebelum pandangan Nadia mengarah tepat ke posisinya, Arga refleks menurunkan topi pet Satpamnya semaksimal mungkin hingga menutupi sebagian dahi dan matanya.
"Arga? Kamu kenapa?" tanya Komandan Bambang setengah berbisik heran melihat perubahan sikap mendadak anak buah barunya yang tiba-tiba membungkuk kikuk.
"Maaf, Komandan... perut saya mendadak melilit parah. Tolong izinkan saya ke toilet sebentar!" bisik Arga cepat dengan suara agak diubah serak.
Tanpa menunggu balasan Komandan Bambang, Arga memutar badannya dengan cepat, memanfaatkan pilar beton besar di sebelah kiri kanopi sebagai pelindung. Ia berjalan cepat setengah membungkuk, menyusup ke balik bayangan dinding luar, mengikis jarak seawal mungkin agar posisinya berada di luar jangkauan jarak pandang Nadia yang sedang berjalan masuk dikawal ketat oleh para pengawalnya.
Arga menempelkan punggungnya rapat-rapat pada dinding dingin di balik pilar utama, dadanya naik turun menghembuskan napas panik yang tertahan. Dari balik celah kecil pilar, ia melihat bayangan Nadia melintas anggun memasuki lobi utama tanpa menyadari kehadiran Arga yang baru saja berdiri beberapa meter darinya sebagai seorang petugas keamanan.