NovelToon NovelToon
MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Pagi itu Anyara bangun lebih awal dari biasanya, pikirannya masih dipenuhi deretan nomor rekening yang semalam ia catat diam-diam. Ia duduk di dapur sambil menyeduh kopi, menunggu Juned dan Ratih bangun, sambil sesekali membuka lagi aplikasi notes di ponselnya, membaca ulang catatan transaksi yang mencurigakan itu.

Delapan transaksi dalam empat bulan terakhir, masing-masing dengan nominal antara satu sampai dua juta rupiah, semuanya ditujukan ke rekening yang sama, atas nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya—Melia Kurniawan.

"Melia," gumamnya pelan, mencoba mengingat-ingat apakah nama itu pernah disebut Juned. Tidak ada. Nama itu benar-benar asing baginya.

Ratih muncul dari kamar, masih mengenakan daster tidurnya. "Pagi-pagi udah bengong aja, Anyara. Ada apa?"

Anyara buru-buru mengunci ponselnya, menyembunyikan kegelisahan di balik senyum tipis. "Nggak ada apa-apa, Bu. Mau bikin kopi buat Ibu juga?"

"Boleh, sekalian. Eh, Anyara, kemarin Ibu mikir-mikir lagi soal kejadian selingkuh Juned itu. Ibu jadi penasaran, sebenernya udah berapa lama Juned kayak gitu. Delapan bulan katanya, tapi Ibu jadi curiga, jangan-jangan lebih lama lagi."

Anyara menoleh cepat, terkejut mendengar kecurigaan Ratih yang ternyata sejalan dengan apa yang sedang ia selidiki sendiri. "Kenapa Ibu curiga gitu?"

"Soalnya, dari perilakunya, Juned itu kayak udah kebiasaan banget bohongnya, licin banget. Kalau baru delapan bulan, rasanya kok kayak udah jago banget nyusun alasan."

Anyara mengangguk pelan, tidak menceritakan temuannya soal rekening misterius itu, memilih menyimpannya dulu sampai ia benar-benar yakin dengan apa yang sedang terjadi.

Siang harinya, ketika Juned sedang di kantor, Anyara memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sedikit nekat. Ia menelepon nomor customer service bank tempat rekening bersama mereka terdaftar, berpura-pura sebagai pemilik rekening untuk menanyakan detail lebih lanjut soal salah satu transaksi.

"Selamat siang, dengan customer service Bank Nusantara, ada yang bisa dibantu?"

"Siang, saya mau tanya soal salah satu transaksi keluar dari rekening saya, atas nama Juned Pratama. Ada transfer ke rekening atas nama Melia Kurniawan, saya lupa itu buat keperluan apa."

"Baik, Bu, mohon maaf, untuk keamanan data, kami tidak bisa memberikan informasi detail penerima selain yang sudah tercatat di riwayat transaksi Ibu sendiri. Apakah ada hal lain yang bisa kami bantu?"

Anyara menghela napas, menyadari usahanya tidak membuahkan hasil seperti yang ia harapkan. "Oh, nggak apa-apa, terima kasih infonya."

Ia menutup telepon, merasa sedikit frustrasi. Tapi setidaknya, nama "Melia Kurniawan" yang tertera di rekening penerima sudah cukup jelas—bukan sekadar inisial atau nama panggilan yang bisa disamarkan.

Ia mengetik nama itu di media sosial, mencari dengan berbagai kombinasi kata kunci. Setelah beberapa menit menelusuri, akhirnya ia menemukan sebuah akun dengan nama serupa, fotonya menunjukkan seorang wanita muda dengan rambut pendek—cocok dengan deskripsi yang diberikan Bude Tuti beberapa hari lalu.

Anyara menatap foto-foto di akun itu dengan perasaan campur aduk. Ada beberapa foto yang menunjukkan wanita itu di sebuah kafe, dengan lokasi yang di-tag, tanggalnya bertepatan dengan salah satu tanggal "meeting luar kota" Juned beberapa bulan lalu.

Sore harinya, Anyara menceritakan semua temuan itu kepada Hans, tangannya masih sedikit gemetar saat mengetik pesan panjang menjelaskan detail penemuannya.

"Pak Hans, saya nemu namanya. Melia Kurniawan. Fotonya di media sosial juga kelihatan pernah di lokasi yang sama kayak salah satu 'meeting luar kota' Mas Juned."

"Astaga, Mbak. Ini beneran ada dua orang yang berbeda ya, bukan Dinda?"

"Kayaknya gitu, Pak. Rambutnya juga beda kayak yang Bude cerita."

"Ini serius banget, Mbak. Kalau bener ada dua, itu artinya Mas Juned emang punya pola yang udah lama, bukan cuma khilaf sesaat kayak yang dia bilang."

Anyara menatap layar itu, dadanya terasa semakin berat. Semua "perubahan sikap" Juned belakangan ini—uang bulanan yang lebih besar, perhatian yang tiba-tiba muncul—terasa semakin seperti topeng belaka, menutupi kebusukan yang jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan.

"Saya harus gimana sekarang, Pak? Rasanya udah terlalu banyak buat saya tanggung sendirian."

"Mbak nggak perlu nanggung sendirian. Kalau Mbak butuh, saya bisa bantu cariin pengacara buat konsultasi, siapa tau Mbak butuh langkah hukum ke depannya. Tapi soal kapan waktu yang tepat buat konfrontasi, itu tetep keputusan Mbak."

Anyara membaca tawaran itu dengan perasaan haru. Ada seseorang yang benar-benar siap membantu tanpa pamrih, sesuatu yang jarang sekali ia rasakan sepanjang hidupnya.

"Terima kasih banyak, Pak. Saya masih mau kumpulin bukti lebih lengkap dulu sebelum ambil langkah apa pun."

"Saya ngerti, Mbak. Pelan-pelan aja, yang penting Mbak tetep aman dan nggak buru-buru diambil keuntungan lagi sama siapa pun."

Malam itu, saat makan malam bersama, suasana kembali terasa hangat seperti beberapa hari terakhir—Juned bercerita soal proyek kantornya, Ratih menimpali dengan semangat, dan sesekali tertawa bersama. Tapi bagi Anyara, kehangatan itu kini terasa seperti sandiwara yang sudah ia ketahui skripnya, membuat setiap tawa dan senyum Juned terasa semakin hambar di matanya.

"Ra, kamu kok diem aja dari tadi?" tanya Juned, menyadari sikap istrinya yang lebih pendiam dari biasanya.

"Nggak apa-apa, Mas, lagi capek aja," jawab Anyara, menyembunyikan gejolak di balik senyum tipis.

Selesai makan malam, ketika Juned sedang menonton televisi di ruang tengah, Anyara memutuskan untuk sedikit memancing, mencoba melihat reaksi suaminya.

"Mas, kamu kenal nggak orang namanya Melia?"

Wajah Juned seketika berubah, meski ia berusaha menyembunyikannya dengan cepat. "Melia siapa? Kok tiba-tiba nanya?"

"Nggak, cuma denger nama itu doang dari temen. Katanya kerja di perusahaan yang sama kayak Mas."

"Oh, mungkin ada, tapi aku nggak terlalu kenal. Perusahaan kan banyak banget karyawannya," jawab Juned, matanya kembali fokus ke televisi, meski tangannya yang memegang remote terlihat sedikit gemetar.

Anyara menatap suaminya, semakin yakin bahwa kebohongan itu masih terus berlanjut, jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Tapi ia memilih untuk tidak menunjukkan kecurigaannya secara langsung, menyimpan semua bukti dan kesabarannya untuk saat yang benar-benar tepat—saat di mana tidak ada lagi celah bagi Juned untuk berkelit dari kenyataan yang sesungguhnya.

Malam itu, sebelum tidur, ia menatap langit-langit kamar, merasakan beban yang semakin berat di dadanya, tapi juga tekad yang semakin kuat untuk tidak lagi membiarkan dirinya terus-menerus dibohongi tanpa perlawanan yang berarti.

1
Heny
Apa anyana gk punya tlp orang kantor bisa di tanya kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!