NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Takdir

Terpisah Oleh Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:205
Nilai: 5
Nama Author: Diah Lubis27

Mengisahkan tentang seorang pria yang sudah beristri yang mengalami sebuah kecelakaan hingga mengakibatkan ia kehilangan ingatan dan menikah dengan wanita beda keyakinan.
Akan kah kisah cinta mereka bertahan?
Bagaimana akhir kisah cinta mereka?.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Lubis27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

  Karisa menunduk, matanya sedikit merah seolah menahan tangis.

"Sayang kamu kenapa?" Farhan panik melihat mata Karisa yang tiba-tiba memerah.

"Nggak apa-apa kok mas, aku cuma lagi agak sensitif aja. Mungkin karena sekarang aku ngerasa nggak pantas buat kamu mas." Ucap Karisa.

"Kamu ngomong apa sih? Aku selalu merasa beruntung memiliki kamu, jadi jangan pernah ucapkan kata-kata itu lagi. Bagaimana dengan keperluan untuk pergi besok apa sudah siap semua?" Farhan berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Sudah." Jawab Karisa singkat.

"Astaghfirullahalazdim." Farhan beristighfar karena tiba-tiba ingat sesuatu.

"Ada apa mas?" Karisa bingung melihat wajah kaget suaminya.

"Aku lupa, tadi pak Agus minta tolong untuk menyerahkan KTP milik salah seorang siswa. Tapi karena kejadian tadi aku jadi lupa." Farhan memukul kepalanya sendiri.

"Lalu bagaimana? Kalau mas pergi ngantar sekarang pasti keburu magrib." Tutur Karisa.

"Ya sudahlah nanti saja aku berikan saat kita sudah pulang liburan. Nanti aku kasi tau pak Agus kalau aku lupa untuk menyerahkan KTPnya." Akhirnya Farhan dan Karisa pun melupakan masalah KTP itu.

Keesokan harinya Farhan dan Karisa berangkat berlibur seperti yang telah di rencanakan. Mereka berangkat dengan suka cita, bahkan Karisa tak henti-hentinya tersenyum saat melambaikan tangan kepada kedua mertuanya dan juga ayahnya yang sedang berdiri di halaman rumah untuk melepas kepergian mereka berlibur.

"Semoga setelah kembali nanti Karisa bisa benar-benar ikhlas menjalani takdir hidup yang sudah di gariskan untuknya." Ucap Humaira setelah mobil Farhan dan Karisa sudah tidak terlihat lagi.

"Aamiin." Ucap kiyai Usman dan ustadz Jamal bersamaan.

"Kalau begitu ayo masuk kita kopi dulu di dalam." ustadz Jamal mengajak besannya.

Setelah menempuh perjalanan selama 9 jam dan saat ini adalah jam 8 pagi akhirnya Farhan dan Karisa tiba di kampung halaman ke dua orang tua Farhan. udara segar langsung terasa begitu Karisa dan Farhan turun dari mobilnya. Dan pemandangannya juga begitu memanjakan mata. Setiap halaman rumah penduduk di penuhi dengan bunga-bunga indah membuat betah untuk memandangnya berlama-lama.

"Farhan kalian sudah sampai?" Seorang wanita tua yang masih terlihat sehat datang menghampiri mereka. Ia adalah neneknya Farhan dari abinya.

Wanita tua itu langsung memeluk Farhan, untuk meluapkan kerinduannya kepada cucu laki-lakinya itu.

"Ayo kita masuk, kalian pasti lelah." Ujar wanita tua itu.

"Kakek kemana nek?" Begitu masuk kedalam rumah Farhan memandang ke kiri dan ke kanan namun tidak melihat keberadaan kakeknya.

"Oh kakekmu, begitu mendapat surat dari kedua orang tuamu kalau kalian mau datang dia sangat senang dan pergi ke sawah untuk mengambil ikan gurame yang ada di kolam di pinggir sawah kita itu. Kamu masih ingat kan?" Nenek Farhan tersenyum. Karena kampung ini belum tersentuh oleh internet jadi orang-orang di kampung ini masih menggunakan surat sebagai alat untuk saling berkirim kabar.

Farhan hanya tersenyum menanggapi ucapan neneknya, nenek dan kakek Farhan memang sangat menyayangi Farhan karena ia merupakan cucu laki-laki satu-satunya bagi keluarga mereka.

"Karisa menurut kamu bagaimana dengan kampung ini?" Nenek Melia menarik tangan Karisa dan mengajaknya duduk di bangku yang terbuat dari bambu yang berada di teras rumah itu.

"Desa ini sangat indah nek, udara sejuk dan halaman rumah-rumah di sini di penuhi dengan bunga-bunga yang sangat indah benar-benar memanjakan mata. pantas banyak wisatawan yang ingin berkunjung ke desa ini. Apalagi saat dalam perjalanan menuju ke rumah nenek tadi kami melewati air terjun di pinggir jalan, walaupun rendah tapi sangat indah, airnya juga jernih."

Karisa begitu bersemangat saat berbicara dengan nek Melia.

"Syukurlah kalau kamu suka berada di sini, kalau begitu bersantai lah dulu nenek akan masakan sesuatu untuk makan siang kita nanti."

"Biar aku bantu nek!" Karisa ingin bangkit dari duduknya dan menyusul nek Melia ke dapur namun di hentikan oleh nek Melia.

"Tidak usah, istirahat saja dulu kamu pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh."

Nek Melia ingin melangkah pergi namun ia berhenti sejenak lalu kembali menoleh ke arah Karisa.

"Kalau bosan kamu bisa menyusul Farhan di halaman belakang, sepertinya dia sedang memetik beberapa buah-buahan."

Nenek Melia pun melanjutkan niatnya untuk memasak.

Mendengar kalau Farhan sedang memetik buah-buahan Karisa jadi penasaran dan ingin melihat buah apa saja yang di petik oleh Farhan.

Begitu sampai di halaman belakang rumah, mulut Karisa sedikit ternganga karena kaget, ia melihat Farhan sedang duduk santai di atas pohon rambutan dan memakan buah rambutan itu langsung di atas pohon dan di bawah sudah terlihat kulit rambutan yang lumayan banyak berserakan.

"Ya ampun kok aku baru tau ternyata mas Farhan bisa seperti ini juga." Batin Karisa.

"Mas Farhan !!!" Teriak Karisa dari bawah pohon rambutan.

"Eh sayang kamu ke sini?" Farhan buru-buru turun dari pohon rambutan sambil memengang beberapa tangkai buah rambutan.

"Ni buat Kamu" Farhan menyodorkan buah rambutan yang baru di petik nya itu kepada Karisa.

"Aku pikir Kamu tidur karena kecapekan." Ucap Farhan sambil nyengir.

"Wah....!" Karisa tidak memperdulikan ucapan Farhan matanya malah tertuju pada pohon melon yang berbaris rapi dengan buah yang sudah siap untuk di panen."

"Mas banyak sekali melonnya." Ucap Karisa.

"Itu belum seberapa, tu lihat" Farhan menunjuk kearah kanan dari pohon melon yang berbaris rapi itu. Di sana terlihat pula barisan pohon stroberi dengan buah yang berwarna merah menggoda.

"Wah....!!!" Karisa kegirangan.

"Mas boleh aku petik?"

"Tentu saja kamu boleh petik sepuasnya, bisa di bilang kita lagi beruntung berkunjung ke sini sekarang, Karena saat ini kampung ini lagi musim buah-buahan di ladang yang di dekat sungai ada lebih banyak lagi jenis buah-buahan yang sedang berbuah termasuk durian. Kamu pasti suka." Farhan mengusap kepala Karisa.

"Terimakasih ya mas!" Karisa langsung memeluk Farhan.

"Ayo kita pulang, nanti nenek nyariin kita."

Farhan dan Karisa kembali kedalam rumah sambil membawa seikat rambutan beberapa buah stroberi, dan juga melon.

"Kalian sudah pulang, ayo sini kita makan. Nenek sudah masak ikan yang baru di tangkap kakek dari kolam." Nenek Melia meletakkan ikan yang baru saja selesai di masaknya ke atas meja makan.

"Kakek sudah pulang? Lewat mana kok tadi pas aku di belakang nggak kelihatan?" Farhan keheranan.

"Ya nggak kelihatan, wong kamu lagi nongkrong di atas pohon kayak ketek." Kakek Danu terkekeh.

"He..he..he." Farhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Kemudian langsung mendekat dan menyalami Kakeknya itu dan di ikuti oleh Karisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!